Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Mertua Rasa Orang Tua



...Memiliki mertua rasa orang tua memang sesuatu yang luar biasa. Itu adalah salah satu hikmah paling indah yang aku dapatkan di dunia....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


"Assalamualaikum, Ummi," sapa Almeera saat panggilan itu tersambung. 


Ummi Mira terlihat begitu tegang di seberang sana. Bahkan perempuan itu terlihat berjalan dengan cepat.


"Jangan menutupi apapun lagi, Ummi. Almeera sudah tahu," kata Bara yang mengejutkan ibunya.


Tatapan mata Ummi langsung tertuju pada menantunya. Almeera meneteskan air mata saat melihat raut lelah dari wajah mertuanya itu.


"Kenapa Ummi mau menyembunyikan keadaan Abi dari Meera?" tanya ibu hamil itu kembali menangis. "Apa Ummi ingin Almeera menyesal karena baru tau kondisi Abi?"


"Bukan seperti itu, Nak!" balas Ummi Mira dengan menggeleng. "Ummi hanya tak mau kamu banyak pikiran." 


"Tapi seperti ini juga menjadi beban pikiran buat Almeera, Ummi. Meera merasa tak dianggap oleh kalian berdua." 


"Hey, Nak!" sela Ummi Mira dengan cepat. "Kamu tetap anak perempuan kami, Sayang." 


"Jadi, kalau Ummi sudah anggap Meera sebagai anak. Jangan menutupi apapun lagi dari Meera. Bagaimanapun, Meera sangat menyayangi Abi dan Ummi dan sama seperti pada Papa Darren dan Mama Tari." 


"Meera juga mau ikut memantau kondisi Abi dan Ummi. Apa boleh?" 


Ummi Mira menatap menantunya penuh haru. Hal inilah yang membuat ibu dari sosok Bara sangat menyayangi Almeera sepenuh hati. Wanita itu tak pernah membedakannya hanya karena mertua.


Baik pada orang tua Bara maupun orang tuanya sendiri, Almeera selalu bersikap adil. 


"Ummi sehat?" 


"Alhamdulillah sehat, Nak. Kamu sendiri?" tanya Ummi Mira dengan tersenyum.


"Alhamdulillah. Almeera dan dua calon cucu Ummi juga sehat," kata Almeera dengan antusias.


"Dua calon cucu?" Mata Ummi Mira membulat penuh. 


Dia seakan sedang memikirkan perkataan menantunya. 


"Ya Allah. Masya allah. Jangan bilang kalau putri Ummi ini sedang…" 


"Ya. Almeera sedang hamil, Ummi," sahut Bara tak kalah antusias.


Almeera bisa melihat ibu mertuanya begitu bersyukur dan bahagia. Bahkan kedua mata Ummi Mira meneteskan air mata karena terlalu bahagianya.


Dia tak malu menangis di depan menantu dan putranya. Karena ini bukan tangisan kesedihan. Melainkan luapan karena kabar bahagia yang sangat membahagiakan.


"Ya Allah. Selamat, Nak. Terima kasih sudah memberikan cucu yang banyak pada Ummi dan Abi," ujar Ummi Mira dengan antusias. "Ummi doakan semoga kamu sehat terus. Kedua anak kalian selamat dan lancar sampai proses melahirkan." 


"Aamiin," jawab Almeera dan Bara serentak.


"Meera ingin Abi dan Ummi menemani proses kelahiran si kembar," ujar Almeera penuh harap. 


Ummi Mira menganggukkan kepalanya seperti terpaksa. Dia sendiri pun sudah pasrah akan hidup suaminya. Semua dia serahkan pada Tuhan karena tak mau memberatkan keberadaan suaminya sendiri. 


Ya, Ummi Mira sering membisikkan pada telinga suaminya ketika jadwal menjenguk bila ia ikhlas ditinggalkan. Ummi Mira tak mau suaminya bertahan karena kepikiran akan hidupnya. 


Namun, tetap saja. Bila Abi Hafiz memang ingin bertahan. Maka Ummi sangat menunggu waktu itu tiba. Waktu dimana suaminya kembali sadar dari komanya. 


"Doain Abi dan Ummi dari sana ya, Nak. Ummi dan Abi juga ingin menemani kelahiran anak kalian yang ketiga dan keempat," ucap Ummi Mira penuh harap. 


"Pasti," sahut Bara dengan antusias.


"Abi dimana, Ummi?" tanya Almeera yang sangat merindukan sosok ayah kedua dalam hidupnya.


Kepala Almeera mengangguk. Dia memang ingin melihat kondisi mertuanya itu. Dirinya tak ingin dibohongi lagi. Almeera ingin memantau kondisi Abi Hafiz juga.


Akhirnya Ummi Mira berjalan menuju sebuah ruangan. Ruang ICU dimana tubuh suaminya terbaring lemah di sana. 


"Sebelum melihat kondisi Abi. Kamu harus janji gak bakal memikirkan hal-hal berat tentang Abi. Janji?" ujar Ummi Mira penuh perhatian.


Almeera mengangguk. Dia berjanji akan mencoba menerima semuanya. Dia akan mencoba memahami keadaan dan tak membuat kedua anak dalam kandungannya menjadi stress.


Terlihat Ummi Mira seperti berbicara pada seorang perawat. Hingga perawat itu pergi dan kemudian ponsel yang tadinya menampilkan wajah Ummi Mira. Mulai berganti dengan sebuah kaca. Namun, yang menjadi fokus Almeera bukan itu. Melainkan dibalik kaca pembatas tersebut. Dia bisa melihat sosok mertuanya terbaring lemah di atas brankar.


Almeera sampai menutup mulutnya tak percaya dengan kondisi mertuanya itu. Bahkan mata itu sampai meneteskan air matanya deras sehingga membuat Bara segera memeluk istrinya dengan erat. 


"Ayo! Janji Meera mana?" tagih Ummi Mira saat mendengar isakan menantunya. "Almeera gak lupa, 'kan? Kalau kamu menangis maka si kembar akan ikut sedih juga." 


Almeera mencoba menarik nafasnya begitu dalam. Dia mencoba menerima takdir tentang mertuanya dan berdamai dengan keadaan.


Dia tak boleh lemah. Dia tak boleh mengesampingkan keadaan kandungannya. Bagaimanapun dia harus memikirkan kondisi si kembar dalam perutnya.


"Sejak kapan Abi seperti itu, Mi?" 


"Sudah hampir dua minggu," sahut Ummi dengan lesu.


Almeera menunduk. Dia menarik nafasnya begitu dalam. Namun, wanita yang merupakan istri Baru itu seakan memiliki beban berat dalam hatinya saat mengingat keadaan mertuanya sekarang.


"Maafkan Meera yang tak bisa kesana, Ummi. Meera harus menunggu kondisi kehamilan Meera bisa dibawa terbang," ujarnya penuh sesal. 


Kepala Ummi Mira menggeleng. Dia membuat gerakan menghapus air mata dengan senyuman yang terkesan dipaksakan. 


"Abi hanya butuh doamu, Sayang. Doakan Abi dari sana penuh ketulusan, Nak. Doakan apapun kondisi Abi terbaiknya," kata Ummi Mira dengan tulus. "Jangan memaksa diri kalian untuk datang kesini. Abi juga pasti marah jika tau Almeera sedang hamil tapi memaksa untuk datang menjenguknya." 


Almeera mengangguk dengan lesu. Apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya memang benar. Abi Hafiz termasuk ayah yang protektif. Dia juga pernah marah pada Bara karena membawa Almeera yang sedang hamil Bia besar ke rumah orang tua Bara.


Abi Hafiz mengomel bukan karena tak mau dikunjungi. Namun, ayah Bara itu tak mau menantunya kecapekan dan membuat calon cucunya kenapa-kenapa.


"Tapi Meera ingin ketemu Abi." 


"Pasti. Kalian pasti ketemu. Doakan saja Abi sembuh dan bisa segera pulang," kata Ummi Mira dengan yakin.


"Aamiin. Almeera pasti doain kesehatan Abi dan Ummi. Ummi juga jangan telat makan. Jaga kondisi Ummi, okey?" ujar Almeera penuh perhatian. 


"Pasti, Nak. Ummi juga harus kuat biar bisa jaga Abi dengan baik." 


Bara menatap interaksi istri dan ibunya penuh haru. Dia tak menyangka dua wanita yang sangat dia sayangi dan cintai saling menyayangi dan mengasihi seperti ini. 


Tak ada perbedaan apapun di antara keduanya. Tak terlihat jika hubungan keduanya sebatas mertua dan menantu. Terlalu eratnya hubungan keduanya, Bara yang notabenenya anak kandungnya sendiri seperti tersingkir karena sosok istrinya.


"Ummi lebih sayang ke Meera daripada Bara yah!" ujar Bara pura-pura merajuk.


"Cemburu?" goda Almeera yang menimpali candaan suaminya.


Istri Bara itu peka jika suaminya ingin mencairkan suasana yang sejak tadi sedih dan tegang.


"Iya lah. Ummi sejak ada Almeera. Kasih sayangnya padaku berkurang," ujar Bara bercerita. 


"Kamu ini. Anak mau empat masih aja berpikir seperti itu," kata Ummi Mira geleng-geleng kepala.


"Ya, 'kan emang aslinya begitu?"


"Kamu salah!" sahut Ummi dengan cepat. "Tak ada yang Ummi bedakan. Baik Bara maupun Almeera. Kalian berdua sangat Ummi sayangi. Teruslah akur dan tentram seperti ini, Nak. Jangan hancurkan lagi keluarga kalian. Doa Ummi yang terbaik untuk kalian selalu menyertai." 


~Bersambung


Punya mertua macem Ummi Mira, syukurnya ngelebihin punya duit. Bener gak?


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Gak nyangka detik-detik otw bab ke 200 loh. Masya allah, kalian luar biasa.