Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Bara Pergi



...Walau sulit dan begitu tak terbiasa, aku berusaha menerimanya karena apa yang dia lakukan untuk kehidupanku dan anak-anak kami. ...


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Tak terasa waktu terus berputar dengan cepat. Kehamilan yang terus membesar membuat Almeera sedikit kesusahan. Dia benar-benar menjelma menjadi ibu hamil yang posesif dengan perut membuncit yang selalu terlihat menggemaskan. 


Semakin hari perubahan dalam diri ibu hamil itu terlihat jelas. Almeera yang tak bisa jauh dari sang suami. Sikap manja dan super ngambeknya semakin membuat Bara tak bisa melakukan apapun. 


Namun, dia tetap menikmati masa-masa itu. Masa dimana puncak semester kehamilan istrinya. Kehamilan yang sudah memasuki usia sembilan bulan tentu membuatnya sudah begitu antusias. 


Antusias dan tak sabar menyambut hari kelahiran personil baru di keluarga mereka. Kelahiran dua bayi yang akan meramaikan rumahnya bersama Bia dan Abraham. Waktu yang di nantinya akan berakhir sebentar lagi.


Hari ini, seperti biasa. Setiap pagi akan ada drama berangkat ke kantor. Almeera selalu ingin ikut kemanapun suaminya berada. Namun, hari ini Bara sedikit menolak. 


Dia merasa kasihan pada istrinya yang harus jalan kaki mengikutinya ke kantor. Dia ingin Almeera banyak istirahat dan olahraga di rumah untuk menyambut kelahiran anak-anak mereka. 


"Tapi aku mau ikut, Mas!" ucapnya begitu manja. 


Matanya sudah berkaca-kaca. Dia memegang tangan Bara begitu erat seakan takut ditinggalkan. 


"Suamimu bekerja, Nak. Biarkan Bara ke kantor sebentar setelah itu dia akan kembali," Bujuk Mama Tari pada putrinya. 


"Tapi…"


"Sayang. Hanya sebentar. Aku janji setelah itu aku akan pulang," Kata Bara dengan tatapan seriusnya. 


Dia tak akan pergi ke kantor dan meninggalkan istrinya jika urusannya tak terlalu penting. Namun, ini perihal kerjasama yang sangat besar. Ia harus bersikap profesional untuk menjaga nama baiknya di depan klien. 


Bagaimanapun pekerjaan ini adalah sumber utama dia menghasilkan uang untuk istri dan anak-anak nya. Dia tak boleh malas. Sebentar lagi anaknya akan bertambah yang menjadi tanda bahwa kebutuhan rumah tangganya akan bertambah juga. 


Namun, Bara tak pernah takut akan apapun. Dia sangat tahu porsi yang sudah Allah takar untuk para hambanya. Dirinya juga percaya bahwa setiap anak sudah memiliki alur rejekinya masing-masing. 


"Beneran gak lama yah?" kata Almeera yang mulai melepas ikatan tangannya pada lengan Bara.   


"Iya, Sayang. Hanya sebentar kok. Bertemu klien besar terus deal lalu aku akan pulang."


"Baiklah. Boleh," ujar Almeera pada akhirnya. 


Mama Tari dan Papa Darren sama-sama bernafas lega. Akhirnya putri mereka mengerti jika keselamatan anak-anaknya juga sangat penting daripada rasa egoisnya. 


"Aku berangkat dulu yah, " Pamit Bara lalu mensejajarkan dirinya dengan perut sang istri. "Kalian jagain Mama. Jangan nakal-nakal. Papa sama Mama menunggu kehadiran kalian." 


Setelah mengatakan itu. Bara mencium perut istrinya. Dia tak peduli walau ada dua mertuanya disana. Toh baik Mama Tari ataupun Papa Darren sudah sangat tahu akan kelakuan dirinya. 


"Jangan lupa olahraga ya, Sayang. Aku berangkat." Bara lalu mencium dahi istrinya dan melambaikan tangan. 


Dia selalu merasa berat jika meninggalkan Almeera di rumah. Namun, dia tak mau memikirkan dirinya sendiri. Bagaimanapun keselamatan istrinya adalah hal utama yang menjadi prioritasnya. 


Sepeninggal Bara. Mama Tari langsung mengajak putrinya masuk. Dia bisa melihat raut wajah sedih dan tak rela melalui ekspresi anaknya itu.


Tapi mau bagaimana lagi. Suka tak suka. Mau tak mau. Almeera harus paham bahwa ia sudah tak boleh bepergian jauh-jauh. Waktu kelahiran sudah di depan mata yang membuatnya harus banyak istirahat.


"Mau sarapan?" tawar Mama Tari sambil melingkarkan tangannya di bahu sang istri. 


"Iya, Ma. Almeera mau sarapan nasi goreng buatan, Mama," katanya dengan manja.


"Baiklah. Mama akan memasak khusus untuk putri dan calon cucu Mama ini." 


Almeera tersenyum. Dia memberikan ciuman ringan di pipi ibunya yang membuat hati Mama Tari menghangat.


Semua anaknya sangat tahu berterima kasih. Tahu akan apa yang harus mereka lakukan pada orang tuanya. Atas didikan mereka, keduanya berhasil menghasilkan anak-anak yang sukses dan santun. 


...🌴🌴🌴...


Janji adalah hutang. Sesuai dengan perkataan dan janjinya tadi pagi. Bara berhasil pulang ke rumahnya tepat pukul setengah sebelas siang. Pria itu pulang dengan wajah lelahnya. 


Namun, entah kenapa Almeera merasa ada hal yang berbeda dari wajah suaminya. Ada sesuatu yang sedang ditutupi dan membuat ibu hamil itu penasaran. 


"Mas mandi dulu yah," kata Bara dengan wajah lesunya. 


"Iya, Mas," jawabnya dengan kepala mengangguk.


Setelah suaminya masuk ke dalam kamar mandi. Almeera membereskan jas, kaos kaki dan tas kerja Bara. Suaminya itu benar-benar sangat bergantung kepadanya. Namun, Bara termasuk pria yang mau membantu urusan pekerjaan istrinya. 


Tak peduli ada pelayan di rumahnya. Dia selalu ingin ikut meringankan pekerjaan yang istrinya lakukan di rumah. 


Hampir dua puluh menit Bara mandi. Dia akhirnya keluar dengan wajah yang lebih segar. Bibirnya sedikit tersenyum tatkala melihat istrinya yang dengan sabar menunggunya di sofa kamar mereka sambil membaca buku.


"Sayang!" panggil Bara dan datang lalu menelusupkan wajahnya di leher Almeera.


"Ada apa, hmm?" tanya Almeera dengan suara lembutnya.


Dia sangat tahu jika seperti ini, pasti ada yang mengusik pikiran suaminya itu.


"Aku…" Bara menjeda. Sepertinya dia kesusahan untuk memulai darimana pembicaraan ini.


"Tarik nafas dulu lalu buang," kata Almeera menenangkan. "Jangan terburu-buru. Kalau belum siap, jangan cerita, Mas." 


Bara menggeleng. Dia tak bisa menunda apapun. Berita ini sangat penting. Mau tak mau, siap gak siap dia harus mengatakannya pada sang istri. 


"Meeting tadi…" ujarnya terbata dengan elusan tangan Almeera yang mengusap punggung Bara.


Bisa Almeera rasakan keraguan dalam ucapan suaminya. Seakan Bara merasa berat akan permasalahan mereka kali ini. 


"Ya. Kenapa sama meeting tadi, Sayang?" 


"Aku harus berangkat meninjau lokasi cafe terbaru yang akan buka cabang di Singapura." 


Jantung Almeera berdebar kencang. Namun, dia berusaha lebih tenang karena tahu jika suaminya juga sama takut kepadanya. 


Dari gerak gerik Bara sudah terlihat pria itu juga sedang merasa berat. Berat dalam memikirkan pekerjaan dan keputusan hasil meeting tadi. 


"Terus?" 


"Besok aku harus berangkat, Sayang. Bersama klien penting aku tadi. Tapi aku tak mau meninggalkan kalian," kata Bara dengan suara beratnya.


Hasil meeting tadi tentu membuatnya tertekan. Namun, Bara tak bisa melakukan apapun. Bagaimanapun ini hasil musyawarah bersama demi kesuksesan usaha cafenya yang semakin melebarkan sayap.


"Berangkatlah, Mas!" kata Almeera tiba-tiba yang mengejutkan Bara. 


Pria itu segera menjauhkan dirinya dari sang istri. Menatap mata Almeera yang sedang menatapnya juga.


"Jangan bersikap tidak profesional karena aku dan anakmu, Mas. Ini pekerjaan penting dan kamu harus ada di sana," kata Almeera mengusap rahang suaminya.


"Tapi aku takut anak-anak kita akan lahir, Sayang. Bukankah Dokter bilang kalau bisa maju dan mundur?" kata Bara yang ingat nasehat dokter kandungan Almeera. "Aku ingin ada didekatmu saat kamu mau melahirkan." 


Almeera tersenyum. Dia sangat tahu betul apa yang dirasakan suaminya saat ini. Namun, ia tak boleh egois. Bara bekerja juga untuk kepentingan dirinya dan anak-anaknya. 


"Aku akan menghubungimu jika memang ingin melahirkan, Mas. Aku yakin anak-anak akan menunggumu pulang." 


~Bersambung


Lalala Mas Bar hati-hati yah. Cepet balik jan nyasar.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.