Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Zelia Menyerah



...Hubungan itu seperti kupu-kupu dan bunga. Saling menguntungkan satu dengan yang lain. Saling membahagiakan satu dengan yang lain. Jika hubungan yang dijalin tak ada kebahagiaan maka hubungan keduanya mulai tidak sehat. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Zelia hanya mampu menatap tubuh mamanya yang sudah terbaring lemah di ruang VIP, dimana papanya meminta mamanya dirawat di ruangan ini. Gadis itu sudah tak lagi menangis. Namun, matanya yang terlalu bengkak dengan kantung mata menghitam menandakan bahwa dia benar-benar sedih dengan keadaan mamanya yang seperti ini.


Kepala Zelia menoleh. Dia melihat sosok papanya yang sedang tertidur di ranjang samping brankar mamanya, dimana ranjang itu memang diperuntukkan untuk keluarga pasien yang menginap.


Dua orang di depannya ini adalah pahlawan hidupnya. Pahlawan yang membuatnya bisa ada disini dengan penuh perjuangan dan pengorbanan. Namun, dengan keadaan mamanya yang sekarang, membuat Zelia sedih karena ia belum bisa membalas perjuangan mama dan papanya sedikitpun.


"Maafkan aku, Ma, Pa. Yang berkali-kali mengecewakan kalian," lirih Zelia dengan menunduk.


Dia menghapus air matanya yang mengalir tanpa permisi. Berapa kali pun dia berusaha menahannya. Sebanyak apapun dia menangis dan lelah. Ternyata air mata itu tetap saja bisa keluar dengan sendirinya.


"Aku berjanji akan menuruti permintaan Papa dan Mama. Jika hal itu mampu membuat kalian berdua bahagia." 


Tak lama, suara ketukan di pintu ruangan mamanya membuat Zelia mendongak. Dia berjalan mendekati pintu itu dan membukanya dengan pelan.


"Meera," seru Zelia lalu memeluk sahabatnya tanpa pamit.


Ternyata pelaku yang mengetuk pintu ruangan mamanya adalah dua sahabat yang sangat Zelia sayangi. Ya, disana terdapat Almeera dan Adeeva yang hadir berdua tanpa Zelia duga.


Sebenarnya Zelia tak berharap sahabatnya datang. Dia memberitahu kondisi mamanya pada Almeera, karena memang perempuan hamil itu menanyakan keberadaan dirinya.


Almeera dan Adeeva yang melihat Papa Zelia sedang tertidur, memilih menarik Zelia untuk duduk di depan ruangan mamanya.


"Aku tau gimana perasaanmu, Li. Yang sabar," kata Adeeva pelan mengusap punggung sahabatnya yang bergetar. 


"Aku takut. Aku takut Mama pergi ninggalin aku dan Papa," lirih Zelia menangis di pelukan Almeera.


"Ustt. Jangan mendahului takdir," kata Almeera menasehati. "Percayalah pada Tuhan. Takdir dan rencana yang dia berikan tak akan melebihi batas kemampuan hambanya." 


Zelia menarik nafasnya begitu lega. Berada di antara sahabatnya, kehadiran Almeera dan Adeeva benar-benar mampu mengusir rasa gelisah dalam pikirannya.


Dia memang sempat kalut, takut dan down parah. Apalagi mengingat diagnosa dokter yang belum keluar tentang sakit mamanya. Semakin membuat gadis itu takut bukan main.


"Tapi aku takut rencanaku dan rencana Tuhan berbeda, Ra," ucap Zelia melepaskan pelukannya.


"Sebaik-baiknya rencana manusia. Rencana Tuhan jauh lebih baik," kata Almeera menatap iba kondisi sahabatnya.


Zelia benar-benar terlihat berantakan. Mata bengkak, hidung memerah, kantung mata hitam membuat penampilan gadis itu terlihat kacau sekali.


"Aku berharap semoga apa yang kuminta pada Tuhan, tak diambil." 


"Aamiin," sahut Almeera dan Adeeva bersamaan. 


"Apa kalian hanya berdua disini?" tanya Zelia menatap dua sahabatnya.


Gadis itu tak melihat suami-suami sahabatnya ini. Hingga pikirannya berpikir apakah Almeera dan Adeeva ke rumah sakit sendiri. 


"Nggak. Tadi kami diantar Mas Bara dan Reno. Terus mereka nunggu dibawah," ujar Almeera dengan jujur.


"Kenapa gak diajak masuk sekalian, Ra?" tanya Zelia terkejut.


"Mereka gak mau ganggu waktu kita," sahut Adeeva dengan cepat


"Ya, Mas Bara bilang. Pasti kamu bakalan canggung kalau ada mereka berdua," lanjut Almeera menambahkan.


Zelia tertawa kecil. Dia tak menyangka suami sahabatnya sangat peduli kepadanya. Entah kenapa melihat seberapa pedulinya Bara dan Reno, membuat pikirannya tertuju pada Jimmy.


Kemana pria itu selama ini?


Ada rasa sedih, takut dan cemburu dalam diri Zelia. Dia sedih karena tak ada kabar apapun dari kekasihnya. Dia takut dengan kondisi mamanya yang belum diketahui ia dan papanya. Lalu dia juga cemburu melihat bagaimana sahabatnya mendapatkan lelaki yang baik.


Lelaki yang sat set sat set tanpa memberikan kegantungan hubungan. Apalagi melihat bagaimana kehidupan Adeeva yang jauh berubah setelah menikah. Membuat sudut hatinya semakin sakit.


Dia tak iri dengan kebahagiaan yang sahabatnya dapatkan. Zelia hanya iri kenapa hubungannya tak seperti mereka. 


Hanya itu saja!


Dia hanya iri karena kekasihnya tak bisa memberikannya kepastian yang pasti. Bahkan sampai mamanya seperti ini, Jimmy tak tahu bagaimana kabar dan dia ada dimana. 


"Kamu baik-baik saja, 'kan, Li?" tanya Almeera menyentuh lengan sahabatnya.


Almeera dan Adeeva menatap Zelia khawatir. Melihat wanita itu yang diam saja sejak tadi, membuat keduanya takut. Takut bila perkataan mereka menyinggung atau ada sesuatu yang dipikirkan oleh Zelia. 


"Aku gak baik-baik saja," jawab Zelia dengan jujur. "Kondisi ini adalah kondisi diriku yang paling lemah." 


Almeera dan Adeeva tak mampu mengatakan apapun. Keduanya juga akan merasakan hal yang sama bilang itu terjadi pada mama mereka. 


"Mama sakit dan kekasihku hilang tanpa kabar. Miris sekali hidupku, 'kan?" tanya Zelia tertawa lirih.


Tawa itu bukan tawa bahagia. Tapi tawa menyedihkan yang menertawakan keadaannya yang sekarang.


Cinta yang menggebu dengan rasa rindu yang menyelimuti. Ternyata mampu membawanya sakit seperti ini. Memiliki kekasih seperti wanita lain, ternyata tak sebahagia yang Zelia bayangkan.


Dulu ketika dia masih sendiri. Kehidupannya jauh lebih tenang. Tak ada sakit, tak ada resah, tak ada tangisan dan kegelisahan. Namun, semua itu kini ada setelah ia memiliki cinta yang besar pada pasangannya. 


"Aku kira memiliki pasangan, hidupku bakalan jauh lebih bahagia. Ternyata…" jeda Zelia sambil menundukkan pandangannya. "Jauh lebih bahagia ketika aku hidup sendiri tanpa pasangan." 


Almeera tak mampu mengatakan apapun. Dia hanya bisa menarik tubuh sahabatnya ke dalam pelukan.


Istri Bara itu tahu sekali bagaimana fanatiknya Jimmy jika bekerja. Bukan hanya pada Zelia. Pada keluarga pun, pria itu sering abai. Hal itulah yang terkadang membuat Papa Darren kepikiran dengan nasib putra keduanya.


Jimmy ini ambisius. Dia juga totalitas jika bekerja. Apa yang dia tekuni, maka ia selesaikan sampai habis. Ditambah kehidupannya yang dulu tak pernah mengenal cinta dan memiliki pasangan.


Pasti membuatnya sedikit susah membedakan dengan waktunya yang sekarang ketika memiliki kekasih. Pria tak berpengalaman dalam hal percintaan pasti sama merasakan kebingungan dengan keadaan baru.


Jalan kehidupan dua manusia yang berbeda dengan satu hubungan yang terjalin. Entah takdir mana yang akan membawa hubungan keduanya nanti. Apakah mereka akan saling bertahan atau menyerah dengan keadaan ini.


Mereka sama-sama berada diambang batas. Jika sang pria berusaha menyelesaikan pekerjaannya tanpa memikirkan dampak apa yang dia bawa ketika menghilang tanpa kabar. Maka berbanding terbalik dengan sang wanita.


Kondisi orang tua dan tak adanya support dari sang kekasih membuat pikiran buruk datang menghinggapi. Ketakutan dan kesedihan semakin menyelimuti hatinya hingga ia benar-benar lelah.


"Aku menyerah, Ra. Aku menyerah!" .


~Bersambung


Yang gak terima sama ending Zelia dan Jimmy disini. Elus dada dulu, okey.


Bang Jim belum kelihatan hilalnya, haha.


Hari ini aku libur kerja. Insya allah pengumuman GIVE AWAY di BAB SIANG JAM 14.00 yah.


Jadi jangan lupa baca bab siang. Biar kalian tau give away apa.


Aku kasih bocoran hadiah give awaynya deh.



Jadi jangan lupa cek bab siang nanti yah.


Klik like dulu, vote dan komen. Biar author semangat ngetiknya. Hari ini author libur kerja. Anak sama Bapak sama-sama masih demam. Jadi nungguin anak dirumah.