Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Partner Baru untuk Reno



...Aku tak menyangka jika ditempatkan bersama seorang wanita yang menurutku pasti membuat kesusahan....


...~Reno Akmal alfayyadh...


...🌴🌴🌴...


Di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah ruangan meeting perusahaan Bara. Terlihat beberapa orang berkumpul disana. Mereka adalah orang-orang yang ditugaskan oleh suami Almeera untuk membereskan semua kekacauan yang dilakukan oleh Ilham.


Dari pengembalian uang yang diambil oleh pria gila itu. Lalu memilih bagian keuangan sebagai pengganti Ilham sementara. Semua orang benar-benar sedang diperas otaknya oleh Bara. 


Mereka semua terlihat begitu lelah bahkan sampai tak menyadari jika waktu sudah beranjak malam. Beberapa orang terlihat saling meregangkan otot-ototnya. Bibirnya ada yang menguap dengan wajah lusuh dan pakaian berantakan.


Jujur mereka ingin sekali mengeluh. Namun, melihat bagaimana seorang Bara yang juga ikut dengan mereka dalam hal bekerja. Membuat mereka selalu kagum pada kinerja seorang Gibran Bara Alkahfi.


Sebuah julukan workaholic memang cocok untuk pria itu. Sejak Bara datang di ruangan ini, dia belum beranjak dari kursinya sedikitpun. Bahkan matanya terus menatap ke arah laptop dan berkas-berkas yang ada di hadapannya. 


Hingga suara pintu yang terbuka, membuat perhatian semua orang tertuju pada sosok yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Disana, muncul tangan kanan Bara, yaitu Reno dengan istri serta dua anak dari bosnya.


Ditambah, tentengan di kedua tangan mereka membuat para karyawan menatap berbinar. Dari logo yang ada di kantung itu, sudah terlihat jika itu adalah makanan yang pasti ditujukan untuk mereka semua.


"Selamat malam," sapa Almeera yang mengejutkan Bara. 


Pria itu lekas menghentikan pekerjaannya. Dia menoleh dan menatap terbelalak melihat kedatangan istri dan anak-anaknya.


"Papa," lirih Bia yang wajahnya sudah terlihat begitu segar. "Papa lama."


Bara menatap anaknya penuh haru. Matanya berkaca-kaca saat melihat putrinya jauh lebih baik saat ini. 


"Maaf, Sayang," kata Bara meraih anaknya di atas pangkuan. "Papa banyak pekerjaan."


"Apa masih banyak, Mas?" tanya Almeera berjalan mendekati suami dan anaknya.


Bara lekas mengalihkan tatapannya pada sang istri. Dia mengangguk dengan wajah begitu lelah. 


"Lebih baik Mas dan karyawan yang lain makan dulu. Pasti karyawan Mas juga belum makan, 'kan?" kata Almeera sambil menunjuk semua orang yang sedang menatap interaksi mereka.


"Iya, Bu. Kami lapar," celetuk salah satu karyawan Bara menatap Almeera penuh harap.


"Baiklah. Reno, bagikan makanan itu pada mereka dan berikan waktu untuk istirahat." 


"Yey." Semua karyawan beranjak dengan wajah bahagia.


Mereka segera menutup laptopnya lalu berbaris untuk mengambil kotak yang berisi makanan. Setelah mendapatkannya, mereka segera pamit keluar untuk makan. Almeera mengizinkan, hingga tinggallah keluarga kecil Bara dan Reno.


"Papa makan aja dulu," kata Abraham memberikan kotak nasi pada papanya.


Bara mengangguk. Lalu dia menatap Bia yang sejak tadi hanya diam.


"Kenapa diam, Sayang?" 


Bia menggeleng. Namun, mata itu terus menatap awas ke seluruh ruangan. Hal itu tentu membuat Bara dan Almeera saling tatap. Mereka tahu jika putri mereka pasti sedang khawatir atau cemas berada di ruangan ini. 


Jujur menghilangkan rasa trauma itu tak bisa dengan mudah semudah membalikkan tangan. Butuh beberapa kali konsultasi dengan psikiater dan waktu yang lumayan lama.


"Disini gak ada siapapun, Sayang," bisik Bara lalu mencium pucuk kepala anaknya.


Bia lekas menoleh. Dia memandang wajah papanya seakan melihat apakah Bara berkata jujur atau tidak.


"Percayalah pada Papa. Papa akan berusaha untuk menjaga Bia sampai kapanpun." 


"Terima kasih, Pa. Aku sayang, Papa." 


"Papa juga sayang, Bia." 


Almeera tersenyum penuh tulus. Dia meraih pundak putranya dan merangkulnya dengan erat. Akhirnya setelah badai menghadang, hikmah mulai mereka petik.


Kebahagiaan keluarga mereka akan dirajut dari sini. Penyesalan dan ujian yang Allah berikan, tentu tak bisa dilupakan dengan mudah. Tapi bukankah memberikan kesempatan pada seorang pendosa yang sudah menyesal dan berniat berubah menjadi lebih baik adalah sesuatu yang sangat luar biasa?


Tak selamanya pendosa akan berakhir menjadi pendosa.


Dan tak selamanya yang baik, tak akan berbuat khilaf.


Hingga sebagai seorang manusia, janganlah kita memandang satu sisi di mata kalian.


"Ayo, sekarang kita makan!" ajak Almeera yang langsung mendapatkan anggukan dari suami dan anak-anaknya. "Ren, ayo!" 


"Aku makan diluar aja, Ra," tolak Reno tak enak hati. 


"Apaan sih, Ren! Kayak sama siapa aja. Ayo makan disini!" 


Akhirnya Reno menyerah. Dia terpaksa mendudukkan dirinya di samping Abraham dan mulai membuka kotak berisi makanan.


Sebenarnya dia menolak ajakan Almeera untuk makan disini bukan karena merasa sungkan. Namun, dia menyelamatkan matanya dari kebucinan sahabatnya itu yang selalu mampu membuat hatinya merasa iri.


Ya perlu ingatkan! Reno itu jomblo akut. Yang harus dicarikan jodohnya, haha.


...🌴🌴🌴...


Setelah acara makan malam itu selesai. Bara segera meminta semua karyawannya pulang. Dia juga meminta maaf karena membuat mereka semua kerja lembur. 


Namun, bagaimanapun tak ada karyawan yang mengeluh dengan pekerjaannya. Gaji yang diberikan oleh Bara, fasilitas perusahaan juga tak main-main. Suami Almeera itu benar-benar mensejahterakan karyawannya. Maka tak ayal, jika mereka semua saling membantu tanpa ada rasa iri. 


"Lo pulang aja, Ren! Wajah Lo kusut banget," ejek Bara menatap temannya dengan remeh. 


Reno mendengus. Dia melemparkan bolpoin yang ada di tangannya ke kepala Bara.


"Lo tu kalau gila kerja, jangan ngajak orang-orang! bikin pusing aja!" sembur Reno yang membuat Almeera terkekeh. 


Persahabatan dua lelaki itu memang tak bisa diragukan. Keduanya tak pernah ada kata berkhianat antara satu dengan yang lain. Baik Reno, Bara dan juga Syakir, ketiganya selalu saling membantu.


"Kalau Lo gak kerja, perusahaan bisa tetap kacau dan bangkrut. Setelah itu Lo bakalan gak kerja dan mati kelaparan," seru Bara balas menyembur ucapan pedas sahabatnya. "Emang Lo mau hidup kek gitu?"


"He.. Tu mulut pedes amat!" seru Reno dengan memutar matanya malas. "Gue itu capek, Bar. Coba aja ada temen kerjanya pasti gue seneng."


"Temen?" ulang Bara menaikkan alisnya. "Lo mau kerja sama Narumi?" 


"Hee," sahut Reno dengan cepat. "Sembarangan!" 


Bara, Almeera dan Abraham tertawa. Melihat wajah Reno yang seperti jijik saat mendengar nama Narumi, membuat ketiganya tahu jika pria itu tak menyukai mantan istri kedua Bara. 


"Yaya. Bentar gue cariin temen buat, Lo!"


Perlahan Bara mulai meraih ponsel yang ada di saku celananya. Dia mengotak atik lalu mendekatkan benda pipih itu di telinganya.


"Halo, Kak," ujar Bara saat panggilan itu terhubung.


"Ya, ada apa, Bar?" sahut suara pria dari seberang sana. "Tumben sekali nelpon malem-malem?"


"Sebenarnya aku ingin meminta bantuan, Kak Jo."


Kening Reno berkerut. Dia menatap sahabatnya itu dengan pikiran yang bingung. Kenapa pria itu menghubungi kakak iparnya hanya untuk mencari teman kerja untuknya.


"Apa aku bisa meminjam sekretaris Kakak untuk membantu Reno?" tanya Bara dengan tegas. "Hanya sementara waktu." 


"Boleh." 


"Baiklah. Makasih, Kak. Besok Adeeva langsung menuju ke perusahaanku, yah!"


Mata Reno membulat penuh. Dia tak menyangka jika seseorang yang diperintah untuk menjadi partner kerjanya adalah seorang wanita. Padahal Bara tahu sendiri, jika sejak dulu, Reno adalah pria yang tak suka dengan kinerja seorang perempuan.


Menurutnya, wanita itu selalu merepotkan. Belum lagi keleletan dan kecerewetannya semakin menambah kepalanya pusing.


Ini namanya bukan untung tapi buntung. Berharap dapet partner laki yang gercep malah dapet partner cewek yang ribet, gumamnya dalam hati dengan kekesalan yang mendalam.


~Bersambung


Yakin, Bang?


Adeeva ribet?


Entar malah dag dig dug loh! Jangan benci-benci amat, haha.


BTW di caption bab sebelumnya aku salah masukin. Lah partnya Bang Jim malah masukin Reno. Seharusnya Reno di bab hari ini. Efek ngantuk.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya. Gak nyangka udah 100 bab lebih masya allah.