
...Aku hanya ingin membuat kakakku sadar. Bahwa ada seorang perempuan yang setia menunggu kabar darinya....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Almeera lekas memasuki rumahnya dengan langkah cepat. Dia hanya ingin segera menemui kedua orang tuanya yang tak tahu sedang ada dimana. Kepalanya memutar, mencoba mendengar suara kedua anaknya yang ia tinggalkan bersama Papa Darren dan Mama Tari di rumahnya ini.Â
"Papa!" teriak Almeera dengan suara yang lumayan tinggi.
"Papa dibelakang!" balas seorang pria tua yang terdengar dari pintu penghubung rumah dengan taman.
"Sayang! Ingat kamu sedang hamil," kata Bara menarik tangan istrinya.
Bara benar-benar khawatir dengan kondisi emosi istrinya itu. Sejak tadi Almeera seperti menahan emosinya yang meledak. Dia ingin sekali menelpon kakak keduanya dan memarahinya disana. Namun, melihat bagaimana keadaan Zelia, membuatnya sekuat tenaga menahan.
Menahan amarah yang sudah sangat ingin dia keluarkan di depan kakaknya itu.Â
"Aku ingin segera menghubungi Kak Jim, Mas. Dia benar-benar udah kelewatan," pekik Almeera kesal setengah mati.
"Tapi kamu jangan grusa grusu begini," sahut Bara tak kalah tegas. "Apa kamu ingin membahayakan mereka karena keegoisan kamu?"Â
Bara menyentuh perut istrinya hingga membuat Almeera tersadar. Sadar akan apa yang ia lakukan bisa membahayakan anak kembarnya yang sedang ia kandung.
Emosinya pada sang kakak membuatnya lupa bahwa si kembar juga bisa merasakan apa yang ia rasakan kali ini.Â
"Maafkan Mama, Nak. Mama benar-benar kesal dan ingin memarahi Om mu itu," ujar Almeera sambil menghela nafas begitu dalam.
"Jangan pernah lupakan keberadaan mereka lagi, oke?"Â
Almeera menatap sosok suaminya. Bara benar-benar selalu ada dan memberikan pengertian kepadanya. Bara seorang suami yang tanggap dan selalu menjaga kedua anak yang sedang ada di dalam perutnya ketika Almeera sedang khilaf.
"Iya," sahut Almeera dengan mengangguk. "Ayo sekarang kita ke Papa, Mas."Â
Akhirnya ibu hamil itu berjalan bergandengan tangan menuju taman belakang. Benar saja, disana terlihat kedua anaknya yang berlari mengejar kelinci-kelinci kecil yang dibawa oleh papanya menggunakan kandangnya.
Papanya itu benar-benar melakukan apapun yang penting kedua cucunya bahagia. Meski dia harus repot dengan kandang kelinci yang ia bawa. Namun, Papa Darren tak pernah sekalipun mengeluh.
Pria tua itu selalu melakukan apapun yang membuat Bia dan Abraham bahagia. Pasti akan ia lakukan.
"Kenapa kamu berteriak, Sayang?" tanya Mama Tari yang sedang menyuapi kedua cucunya untuk makan.
"Apa Papa membawa ponsel sekarang?"Â
Papa Darren mengerutkan keningnya. Namun, kepalanya mengangguk menjawab pertanyaan putri kesayangannya ini.
"Bawa. Memangnya ada apa, Sayang?"Â
"Boleh Almeera pinjam?" tanya Almeera dengan tatapan penuh harap.Â
"Memangnya untuk apa kamu meminjam ponsel Papa?"Â
Papa Darren benar-benar penasaran dengan apa yang hendak dilakukan putrinya dengan ponselnya. Sebenarnya Papa Darren tahu jika putrinya tak akan melakukan apapun yang mengecewakannya. Namun, dia tahu jika sepertinya putrinya itu sedang ada masalah.
"Aku ingin menghubungi Kak Jim, Pa!" seru Almeera dengan kekesalan yang tak mampu ditutupi.
"Kakakmu sedang kerja. Dia tak akan mengangkat teleponnya," ujar Papa Darren dengan jujur.
"Maka dari itu, aku pinjam ponsel Papa untuk menhubungi komandannya dan memberikan teleponnya pada Kakak," kata Almeera dengan kekeh. "Meera harus bicara sama Kak Jim, Pa. Pliss!"Â
Wajah Almeera benar-benar penuh harapan. Bahkan dia sampai menyatukan kedua tangannya di depan dada memohon agar ayahnya mengizinkannya. Almeera hanya ingin kakaknya pulang.
Memberikan waktunya sedikit saja untuk Zelia. Dia ingin kakaknya ada di samping Zelia saat wanita itu berada di titik terendah seperti saat ini.Â
"Baiklah. Papa akan menelpon kakakmu."Â
Apa yang tidak bisa Papa Darren tolak dari putrinya? Melihat bagaimana Almeera memohon, tentu membuat hatinya yang selalu tulus pada anak-anaknya menjadi tak tega. Dia segera menghubungi atasan anak keduanya itu dan mulai berbicara ketika panggilan itu terhubung.Â
Almeera benar-benar duduk di samping papanya. Dia mendengar apapun yang sedang dibicarakan oleh papanya itu. Hingga tak lama suara seorang pria yang sangat ia ingin caci maki mulai terdengar.
"Apa kabar, Nak?" Tanya Papa Darren dengan suara penuh kerinduan.
"Alhamdulillah. Jimmy sehat, Pa," sahut pria itu dari seberang telepon. "Ada apa Papa menghubungi Jimmy?"
"Adikmu ingin berbicara denganmu," kata Papa Darren lalu memberikan ponselnya kepada Almeera.
"Apa kabar, Ra? Bagaimana kandungan kamu?" Tanya Jimmy perhatian pada adiknya.
"Apa Kakak masih mengingatku?" Tanya Almeera balik tanpa berniat menjawab pertanyaan Jimmy.Â
"Apa maksud kamu, Ra? Kakak selalu merindukan kalian."
"Bullshit!" Umpat Almeera dengan mata mulai berkaca-kaca.
Entah kenapa melihat wajah kakaknya ini membuatnya terbayang bagaimana rapuhnya sang sahabatnya. Bagaimana Zelia berusaha kuat demi orang tuanya dengan keadaan hati yang khawatir pada kakaknya ini.
Sedangkan Jimmy, dia terperangah dengan jawaban adiknya. Pria itu bisa melihat ekspresi Almeera yang tak mengenakkan. Bahkan terdapat kemarahan di sana.Â
"Ada apa, Ra? Kenapa kamu marah sama Kakak?" tanya Jimmy dengan nada rendah.Â
Jujur baru kali ini Jimmy melihat Almeera begitu marah kepadanya. Bahkan tatapan matanya begitu memancarkan kebencian.
"Kenapa Kakak tak memberikan kabar satupun pada Zelia?"Â
Jimmy mematung. Dia bahkan merasa seperti tertampar dengan pertanyaan adiknya. Dia baru menyadari hal itu.Â
Banyaknya pekerjaan membuatnya lupa bahwa ada seseorang yang menunggu kabar darinya. Janji untuk selalu mengirimkan kabar ternyata ia khianati sendiri.Â
"Kakak…"Â
"Apa Kakak tau! Mama Zelia masuk rumah sakit. Mamanya menderita kanker rahim stadium empat."Â
"Apa!"Â
Jantung Jimmy seakan berhenti berdetak. Dia seperti kesusahan untuk berbicara lagi. Seakan apa yang disampaikan oleh adiknya membuatnya menyesal tiada henti.
Kekasih macam apa dirinya ini?
Disaat kekasihnya membutuhkan support. Dia malah menghilang. Hanya terfokus pada pekerjaannya dan bisa membuatnya lupa pada janjinya sendiri.Â
"Kakak gak bakal tau, 'kan? Kakak pasti terkejut, 'kan?" tanya Almeera melampiaskan kemarahannya.Â
"Kakak belum memberikan kabar pada Zelia sedikitpun, Ra. Pekerjaan Kakak banyak disini."
"Hanya satu pesan, Kak. Satu pesan saja. Hidupkan ponselmu dan balas pesan Zelia. Gak bisa?" tanya Almeera dengan tak percaya. "Dia setia menunggumu meski tak ada kabar satupun darimu, Kak."Â
Jimmy menunduk. Dia merasa malu pada dirinya sendiri. Kemana sikap menghargai wanita dalam dirinya?
Dulu dia menjunjung tinggi sikap itu kepada mama dan adiknya. Lalu sekarang, bisa-bisanya dia menyakiti hati wanita yang mencintainya begitu tulus.
Cinta pertamanya yang mampu membuat hatinya bergetar. Cinta yang mampu membuat hatinya hidup setelah lama tak digunakan. Namun, ternyata saat ini dia menyakitinya.Â
"Kakak akan mengirimkan pesan kepadanya sekarang!"Â
"Percuma!" sela Almeera dengan cepat. "Zelia mulai menyerah dengan, Kakak."Â
"Nggak. Itu nggak mungkin."Â
"Kenapa nggak mungkin? Kakak saja bisa mengabaikan kehadiran dirinya!"Â
Telak!
Jimmy tak bisa membela diri. Dia yang salah maka dia hanya bisa diam.
"Kalau Kakak memang mencintai Zelia. Pulang! Temani dia di rumah sakit sekarang. Keadaan Zelia benar-benar buruk!"Â
~Bersambung
Bang Jim udah kek Bang Toyib. Gak pulang-pulang.
Pulang gak, Bang? Kalau gak pulang aku sunat loh yah! kesel banget deh.
Jangan lupa ya. Klik like, komen dan vote. Biar author semangat.
Satu lagi, SYARAT DAN KETENTUAN GIVE AWAY DENGAN HADIAH UTAMA MINI GOLD UDAH DI POST DI FEED INSTAGRAM AKU #MYNAME_JBLACK
YUK IKUTAN!