
...Jatuh cinta dengan orang yang tepat tentu menjadi sebuah hal yang sangat luar biasa di hidup kita. ...
...~Jimmy Harrison...
...🌴🌴🌴...
"Jangan menangis karenaku, Lia," kata Jimmy dengan serius.
Matanya terus memandang wajah Zelia yang sembab. Dia menghapus air mata wanita itu dengan pelan.
"Aku tak sebaik itu untuk mendapatkan air matamu," lanjutnya yang semakin membuat Zelia ingin terbang ke langit ketujuh.
Ah kenapa kekasihnya tak pernah sadar, jika apa yang dia lakukan bisa membuatnya segera hadir ke dokter jantung.
"Aku…" Zelia seakan bingung untuk merangkai kata apa yang pas.
Dirinya memang lagi galau, bimbang dan bingung. Namun, kecupan mesra yang diberikan kekasihnya masih berbekas dan bisa ia rasakan.
"Aku benar-benar lupa mengatakan tentang kapan aku kembali ke markas. Berita itu aku dapatkan sebelum kita jadian," kata Jimmy melupakan dirinya sendiri.
Pria yang biasanya cuek dan bodo amat pada sekitarnya. Sekarang berubah menjadi sedikit berperasaan. Apalagi melihat Zelia menangis, tentu membuat hatinya tersentuh.
Sejak dulu Jimmy adalah sosok yang paling tak suka jika Mama Tari dan Adiknya, Almeera menangis. Pria itu selalu melindungi keduanya dengan baik. Lalu sekarang, ketika melihat kekasihnya sendiri menangis, dirinya merasa gagal menjadi seorang pria.
"Lia. Katakan sesuatu!" kata Jimmy saat Zelia hanya diam.
Jujur wanita itu tak tahu harus mengatakan apa. Dirinya bingung sekaligus terkejut. Kecupan itu masih membekas tapi hatinya kembali gundah saat Jimmy membahas perpisahan mereka.
Perpisahan yang entah berapa lama. Sampai kapan Jimmy kembali. Semua itu berputar bak kaset rusak dan membuat matanya kembali memanas siap menumpahkan air mata.
"Aku takut, Kak. Aku takut kamu pergi ninggalin aku," lirihnya sambil menunduk. "Aku bener-bener belum siap."
"Aku tak akan meninggalkanmu, Lia," ujar Jimmy dengan yakin. "Aku bekerja bukan main-main."
"Aku tau," sahut Zelia dengan cepat. "Tapi baru kali ini aku jatuh cinta lalu memiliki hubungan. Terus langsung dipertemukan sama Kakak yang kerjanya jauh?"
"Itu bener-bener berat buat aku," lanjutnya dengan menghapus air matanya secara kasar.
Jimmy tak tahu harus melakukan apa. Dia menyandarkan punggungnya dengan kepala yang mulai pusing.
Maklum saja, hal seperti ini adalah kejadian pertama kali untuknya. Jimmy biasanya jika ingin berangkat, ya berangkat saja. Mungkin yang menangisi ya Almeera ataupun Mama Tari.
Tapi sekarang, bertambah satu orang yang ada di list penting hidupnya. Sosok yang akan menjadi pasangannya. Sosok yang akan selalu mensupport dirinya tentang apa yang dia lakukan.
"Terus kamu mau apa, Lia?" tanya Jimmy menghadapkan dirinya pada sang kekasih.
Dia meraih kedua tangan Zelia. Menggenggamnya dengan erat hingga pandangan keduanya bertemu.
"Jangan berangkat dulu. Berikan aku sedikit waktu untuk bisa menghabiskan waktu berdua sama kamu, Kak. Apa boleh?"
Zelia hanya ingin sedikit egois. Dia benar-benar ingin merajut kenangan manis sebelum ditinggalkan. Setidaknya masih ada waktu untuk pria itu mengajaknya berkencan.
"Apa kamu ingin aku tetap tinggal? Disini untuk sementara?"
"Ya." Zelia mengangguk antusias. "Apa boleh?!
Dia menatap penuh harap. Mencoba meminta sedikit waktu sang kekasih agar mau memberikan waktunya sedikit untuk mereka yang baru saja merajut kasih.
"Aku usahakan. Aku akan meminta izin pada Komandan. Apa kamu bersedia menunggu?"
"Tentu," sahut Zelia dengan tersenyum.
"Sekarang, jangan menangis lagi."
"Iya. Aku tak akan menangis."
"Bagus. Sekarang ayo masuk!" kata Jimmy lalu segera turun dari mobil.
Dia membukakan pintu untuk Zelia. Menerima uluran tangan itu lalu keduanya berjalan sampai di depan pintu rumah Zelia.
"Langsung bersih-bersih terus lekas tidur," kata Jimmy saat keduanya berhenti di depan pintu.
"Iya," sahut Zelia menurut. "Makasih udah ajak aku jalan-jalan."
"Hati-hati pulangnya, Sayang. Jangan mengebut. Kabari aku jika sampai rumah."
Saat Jimmy hendak menjawab. Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di pipinya membuat dirinya terkejut bukan main.
Dia menatap tak percaya ke arah Zelia yang sudah menghilang di balik pintu. Pria itu memegang bekas kecupan itu dengan jantung yang berdebar.
Benar-benar kejadian langka dan baru pertama kali Jimmy rasakan. Sebuah kecupan mesra di pipi yang biasa mamanya berikan kini ditambah kekasihnya. Bibirnya tertarik melengkung ke atas. Dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Zelia bisa membuatku gila! Kecupan ini rasanya memanas, jeritnya dalam hati sebelum masuk ke dalam mobil.
...🌴🌴🌴...
Saat mendengar suara kendaraan menjauh. Zelia menyandarkan punggungnya di pintu rumah. Jantungnya sama dengan Jimmy. Tak karuan dan menggila.
Dia bisa merasakan degupan yang sangat kencang saat menempelkan telapak tangannya disini. Meresapi setiap anggota tubuhnya yang selalu berdebar ketika bersama Jimmy.
Zelia juga memukul kepalanya saat mengingat tingkah gilanya. Hal nekat dirinya yang dengan berani mendaratkan bibirnya di pipi Jimmy.
Kecupan pertamanya diambil oleh Jimmy. Walau hanya di pipi, tapi tingkat kebaperan dan dag dig dug nya sangat amat luar biasa.
Bagaimana jika bibir yang mendarat di bibir?
Aku yakin para readers udah teriak sambil gigit jari, 'kan?
Lebih parahnya mereka mengaku kekasihku kekasih mereka semua, haha.
Saat Zelia membayangkan tingkahnya tadi. Bunyi saklar diiringi lampu ruangan yang menyala membuatnya terkejut.
Matanya menyipit saat sinar itu sangat menyilaukan mata.
"Kapan pesawat ke Planet Mars berangkat, Pa? sepertinya kita di bumi ini cuma numpang," ucap suara perempuan yang tengah berdiri di dekat jendela.
Tubuh Zelia mematung. Matanya membulat dan segera menoleh ke samping.
Disana, terlihat Mama dan Papanya tengah berdiri dengan melipat tangan didepan dada. Wajah keduanya begitu sumringah yang membuat Zelia menelan ludahnya paksa.
Jangan katakan jika dua orang tuanya ini mengintip apa yang tadi dia lakukan. Jika itu terjadi, ia yakin Mama dan Papanya akan terus meledeknya.
"Dari mana saja?" tanya Papa Zelia dengan memasang wajah pura-pura garang. "Anak gadis kok pulangnya jam segini?"
Zelia spontan menatap jam dinding yang jarumnya menunjuk angka 8 malam.
"Ini masih sore, Papa."
"Tapi buat kamu yang masih sakit. Ini sudah malam," kata Papa Zelia menahan senyum saat putrinya menunduk.
"Biasa anak muda, Pa. Kalau udah bucin, jam muter aja dikira cepet banget," sindir Mama Zelia dengan terkekeh.
Wajah Zelia memerah. Dirinya merasa panas dan yakin mama dan papanya sedang menggodanya.
"Lain kali, Jimmy suruh masuk dulu. Main catur sama, Papa," kata Papa Zelia yang membuat kepala Zelia mendongak.
"Jadi Papa gak marah?"
"Papa nggak marah. Papa percaya Jimmy itu anak baik. Cuma, Papa itu khawatir sama luka kamu."
"Maafkan Lia, Pa. Lia janji akan minum obat biar lukanya cepat kering," kata Zelia dengan serius.
"Bagus," sahut Mama dan Papa Zelia.
"Sana tidur, Nak! Udah malem," kata Papa Zelia yang membuat Zelia mengangguk.
Saat Zelia sudah berbalik dan hendak menaiki tangga. Suara candaan dari Mamanya semakin membuat wajahnya memerah.
"Jangan dibasuh bibirnya itu, Lia. Biar masih bau kulit pipinya Jimmy."
~Bersambung
Whahaha kepergok, 'kan jadinya? Siapa yang degdegan kek author?
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.