
...Aku memang mencintaimu tapi uang membuatku mencari sosok yang bisa menopang kehidupanku dengan baik....
...~Narumi Alkhansa...
...🌴🌴🌴...
Kepergian Bara yang tak memperdulikan dirinya tentu membuat perempuan itu murka. Wajah Narumi begitu memerah karena menahan segala amarah yang berkobar. Dirinya tak percaya jika suaminya itu dengan sengaja tak mendengar teriakannya. Bahkan dia sampai tak peduli menjadi bahan tontonan semua orang agar suaminya berbalik.
Namun, sepertinya suaminya itu benar-benar tak takut. Pria itu membuatnya malu bukan kepalang. Akhirnya dia memilih beranjak pergi dari sana. Dia berjalan keluar dari mall sambil meraih ponsel yang ada di dalam tasnya.
Dirinya benar-benar ingin melampiaskan segalanya. Dia sudah muak dengan tingkah laku Bara. Ditambah pria itu selama beberapa hari ini juga lebih banyak diam.
Sesaat Narumi menghentikan langkahnya. Dia mendekatkan ponselnya di telinga. Suara dering telepon tentu terdengar sampai deringan ketiga akhirnya tersambung.
"Jemput aku, sekarang!"Â
...🌴🌴🌴...
Setelah menunggu hampir tiga puluh menit. Akhirnya sebuah mobil berhenti di dekat posisi Narumi. Wanita itu lekas memasuki kendaraan yang sangat dia hafal betul siapa pemiliknya.
"Hy, Sayang. I miss you," sapa seseorang yang duduk di kursi kemudi.
Narumi tersenyum. Dia memeluk raga itu dan memberikan kecupan singkat di pipinya.
"Miss you too," sapanya dengan memaksakan senyuman.
"Kenapa wajahmu suntuk begitu?" tanya orang itu dengan menjalankan mobilnya secara perlahan.
"Bara meninggalkanku di mall sendirian karena mendapatkan telepon tentang kabar anaknya. Ini gak bisa di biarkan," seru Narumi sambil melempar tasnya di kursi tengah.
Pengemudi itu terkekeh. Dia mengulurkan tangannya dan mengelus kepala Narumi yang sedang mengeluarkan cacian dan makian dari mulutnya.
"Bukankah kamu sudah mendapatkan dirinya lagi, Sayang. Dia tak akan meninggalkanmu," katanya dengan melirik Narumi sekilas lalu kembali fokus ke depan.
Narumi hanya mendengus. Dia melipat kedua tangannya di depan dada lalu menyandarkan punggungnya.Â
"Lebih baik kita bahas di apartemen," seru Narumi dengan ketus.
"Siap, Kekasihku."Â
Narumi, sosok yang menjadi istri kedua Bara memiliki seseorang di belakangnya. Lebih tepatnya beginilah tingkah wanita itu sebenarnya. Sesuatu yang selama ini ditutupinya dari Bara adalah suatu hal besar.
Banyak rahasia dan trik yang dia lakukan dibelakang Bara karena dia memiliki tujuan. Ditambah tujuan itu didukung oleh kekasihnya dan membuatnya semakin bersemangat untuk mendekati Bara.Â
Saat mereka baru saja masuk ke dalam apartemen. Narumi sudah mendorong tubuh pria itu sampai menempel di dinding. Dia melempar tas miliknya ke lantai dan tak memperdulikan apapun. Saat ini dia lebih menginginkan menikmati bibir milik kekasihnya itu daripada apapun.
"Wow, Sayang. Bersabarlah! Kenapa kamu liar begini," tanya pria itu gelagapan sambil mendorong bahu kekasihnya.
"****! Diamlah, Adnan. Aku sangat merindukanmu."Â
Adnan hanya bisa pasrah. Dia membiarkan kekasih yang sudah lama tak dijumpai memimpin permainan ini. Narumi bahkan memberikan pelayanan terbaik setelah beberapa bulan tak bertemu.
Mata yang saling menatap penuh cinta itu, membuat bibir keduanya tersenyum. Kegiatan yang selama ini mereka tak lakukan akhirnya bisa dilampiaskan tanpa mengenal lelah. Bahkan baik Narumi ataupun Adnan, keduanya sama-sama menggila.
Wanita itu seakan melupakan jika dirinya adalah seorang istri dari Gibran Bara Alkahfi. Dia sudah tak peduli apapun. Yang terpenting saat ini, hanya ada Adnan, Adnan dan Adnan.
Pria yang begitu dia cintai selama ini hanya Adnan. Namun, karena keadaan yang membuat keduanya terpaksa. Adnan hanyalah seorang dokter, pria itu tak begitu cukup untuk menghidupi gaya hidup Narumi yang heddon.
"Kenapa kamu keluarkan di dalam?" sembur Narumi dengan terkejut.Â
"Memangnya kenapa? Bukankah selama ini aku selalu mengeluarkannya di dalam?" tanya Adnan dengan heran.Â
"Kenapa, Rum?" seru Adnan tak sabaran.
"Aku sedang program hamil. Aku ingin hamil anak Bara!" pekik Barumi kesal.
"Oh." Adnan hanya menanggapinya tak acuh. Lalu dia kembali membaringkan kepalanya di ranjang.Â
"Adnan!"Â
"Apalagi?" sahut Adnan dengan malas. "Biarkan saja anakku yang berkembang. Toh kamu mencintaiku, 'kan?"Â
"Kamu tau itu! Tapi saat ini aku masih menjadi istri sah Bara. Kalau dia tau aku hamil anakmu, maka tamat riwayat kita berdua," seru Narumi dengan pusing.
"Apa maksudmu?"Â
"Bara tak mau menghamiliku, Adnan. Dia selalu mengeluarkannya di luar," sembur Narumi dengan kesal. "Kalau aku hamil, semuanya akan terbongkar."Â
Adnan menghela nafas lelah. Dia segera turun dari ranjang dan berjalan menuju kotak obat yang berada di kamarnya. Pria itu mulai mengobrak abrik isi di dalamnya sampai dia melemparkan sebuah obat ke arah Narumi.
"Minum itu!" seru Adnan lalu kembali ke ranjang.
"Terima kasih, Sayang." Narumi mencium bibir kekasihnya lalu mulai minum pil itu. "Setelah semuanya selesai. Aku mau hamil anakmu."Â
"Aku tau." Adnan tersenyum.
Dia mengelus kepala kekasihnya dengan lembut dan memberikan senyuman terbaik. Jujur Adnan dan Narumi berada di hubungan toxic. Sejak dulu pria itu tak bisa lepas dengan wanita di dekatnya ini.
Adnan benar-benar sudah menjadi pria bucin di hadapan Narumi. Pria itu bahkan selalu mendukung apa yang dilakukan kekasihnya. Walaupun itu menyakiti hatinya, dia terima.Â
"Bersabarlah sedikit. Kalau aku sudah mendapatkan semuanya. Maka kita akan pergi jauh dari sini," kata Narumi dengan mata menatap kekasihnya.Â
"Aku percaya padamu," sahut Adnan begitu tulus.Â
Terlalu cinta bisa membutakan segalanya. Itulah hal yang dilakukan oleh Adnan. Cintanya yang besar membuat pria itu mengizinkan apa yang dilakukan Narumi. Apapun selama kekasihnya bisa bahagia. Dia rela melakukannya.Â
"Sayang," panggil Adnan membuat Narumi yang sedang menatap jendela apartemen lekas menoleh. "Apakah Bara belum tahu, jika yang mengambil perawanmu adalah aku, bukan dia?"Â
"Tidak tau dan jangan sampai tau," ucap Narumi dengan ketakutan yang besar.
Matanya terpejam. Dirinya benar-benar mengingat apa yang dulu ia rencanakan bersama Adnan. Menjebak Bara hingga memaksa pria itu menikahinya. Langkah awal yang memang dilakukan dua orang itu agar bisa masuk di kehidupan Bara yang mewah.Â
"Kalau Bara sampai tau, aku yakin permainan yang selama ini kita lakukan akan selesai. Atm berjalan kita akan pergi dan kita bisa masuk penjara."Â
Itulah yang selama ini membuat hati istri kedua Bara menjadi resah. Dia takut rencananya terbongkar dan membuat hidup keduanya kembali sengsara.Â
"Buat dia tak bisa melepaskanmu," ujar Adnan dengan lugas.
Kedua mata itu saling menatap. Tujuan mereka hanyalah mencari kebahagiaan untuk keduanya di masa depan. Entah langkah apa yang Narumi dan Adnan lakukan. Yang terpenting untuk saat ini adalah keuangan keduanya semakin bertambah banyak.Â
"Aku akan melakukan segalanya. Aku akan buat Bara tak bisa pergi dari hidup seorang Narumi."Â
~Bersambung
Hmm ada yang terkejut, 'gak?
Masih ada rahasia lagi loh. Bahkan Narumi ini bisa dibilang persis pelakor dunia nyata. Licik dan pandai melakukan drama.
Mas Bara sini peluk. Kasihan kamu korban kegilaan mereka berdua.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat bongkar misteri di novel ini.