
...Tak ada yang tahu takdir kita di masa depan akan berakhir seperti apa. Namun, percayalah rencana Tuhan jauh lebih sempurna untuk kebahagiaan kita berdua. ...
...~Jimmy Harrison...
...🌴🌴🌴...
Sepasang kekasih itu benar-benar dimabuk cinta. Dimanapun mereka berada, maka keduanya akan selalu saling menempel. Dimana ada Jimmy maka disitu ada Zelia.
Kali ini, keduanya sedang berada di rumah Papa Darren dan Mama Tari. Mereka mengantarkan Bia dan Abraham yang mulai lelah. Keduanya segera pergi ke kamar masing-masing meninggalkan Zelia dan Jimmy yang berjalan menuju ruang tamu dimana disana terdapat Bara dan Almeera yang sedang bermain dengan si kembar.
"Gak mau tidur yah?" tanya Zelia sambil duduk di samping sahabatnya.
Gadis itu mengambil hand sanitizer lalu menyemprotkan ke tangannya. Bagaimanapun menyentuh bayi harus dengan tangan bersih. Mereka rentan akan penyakit yang ada di luar rumah.
"Iya, Tante. Thaya sama Thalla pengen main," kata Almeera menjawab dengan suara anak kecil.
Zelia terkekeh. Dia memegang tangan Athalla lalu menggerakkannya. Kulit lembut nan wangi bak anak bayi tercium di hidungnya.
Zelia merasa ketenangan dan kenyamanan dengan harum bayi kembar ini. Seakan melihat bagaimana lincahnya mereka dan celotehannya membuat hatinya merasa bahagia.
"Kalian dari mana?" tanya Bara pada Zelia dan Jimmy.
"Gak ada. Kita cuma ke taman kota," sahut Jimmy dengan mencubit pipi keponakan imutnya.
"Ih, Kak. Cuci tangan dulu!" ujar Zelia menepuk tangan kekasihnya.
"Tanganku bersih, Sayang," katanya menunjukkan kedua tangannya.
"Tapi sama aja," omel Zelia lalu menarik tangan Jimmy.
Gadis itu menyemprotkan hand sanitizer ke tangan kekasihnya dan menggosoknya dengan benar. Zelia benar-benar melakukannya dengan tulus. Lalu dia melepaskan tangan kekasihnya setelah tangan Jimmy sudah bersih.
"Dengerin Ibu Negara, Kak! Jangan membantah!" ejek Bara sambil menjulurkan lidahnya.
Jimmy mendelik kesal. Biasanya kata-kata itu digunakan untuk mengejek Bara ketika diomeli Almeera. Namun, sekarang kata-kata itu dibuat untuk menyerang dirinya sendiri.
"Awas kau!" seru Jimmy tanpa suara.
Pria itu akhirnya menarik pinggang Zelia agar lebih dekat dengannya. Pria itu meletakkan dagunya di pundak sang kekasih tanpa tahu malu dengan sosok adik dan adik iparnya.
"Gak panas! Aku juga punya!" seru Bara dengan memeluk istrinya juga.
Pipi Zelia benar-benar sudah memerah malu. Dia tak percaya jika kekasihnya sudah sangat mencair. Tak merasa malu menutupi keromantisannya di hadapan sahabat dan suami sahabatnya.
"Sayang!" rengek Jimmy yang menyadarkan Zelia.
"Malu, Kak!" bisik Zelia yang masih bisa didengar oleh Almeera.
Ibu empat anak itu terkekeh. Dia bergeser lalu mendorong kepala Jimmy agar menjauh.
"Gak boleh deket-deket! Belum halal," seru Almeera menunjuk kakaknya.
"Iya nanti juga Kakak halalin, 'kan? Tunggu pekerjaan Kakak selesai."
Entah kenapa perkataan Jimmy seakan menusuk hati Zelia. Wanita itu menekan sesuatu yang entah kenapa terasa perih. Seakan kekasihnya ini menggampangkan hubungan keduanya.
Zelia tahu jika dia tak bisa memaksa Jimmy. Hubungan ini pun terjalin atas nama mereka berdua. Maka apapun yang terjadi, dia berusaha menerima semua itu entah berakhirnya akan seperti apa.
"Awas aja gak dihalalin. Aku jauhin Zelia dari Kakak!" ancam Almeera dengan mata melotot.
Jimmy mendengus. Dia memeluk Zelia dari belakang lalu meletakkan kepalanya di belakang kepala sang kekasih. Wangi rambut pujaan hatinya sangat menenangkan hati.
Entah kenapa Jimmy selalu merasa tenang jika ada di dekat gadis itu.
"Jangan diambil hati perkataanku, Sayang. Aku benar-benar sedang berusaha menyelesaikan semuanya agar kita segera menikah."
...🌴🌴🌴...
Keduanya hendak menuju ke sebuah tempat yang direkomendasikan oleh Jimmy. Pria itu ingin mengajak kekasihnya menuju ke sebuah tempat yang bisa melihat pemandangan Kota Jakarta yang sangat indah di malam hari.
Sepanjang perjalanan Zelia menatap keluar. Kerlap kerlip lampu serta lalu lalang kendaraan menjadi bukti bahwa malam ini keadaan jalanan lumayan padat.
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Zelia menatap kekasihnya.
Jimmy menoleh sekilas. Lalu dia mengusap kepala kekasihnya dengan sayang.
"Jalan-jalan," balas Jimmy dengan ambigu.
Pria itu meraih tangan kekasihnya dan menggenggamnya dengan erat. Seakan Jimmy tak mau melepaskan hangatnya sentuhan kulit keduanya.
Perasaan Zelia menghangat. Melihat bagaimana pria yang dulu ia kenal cuek dan galak. Kini berubah menjadi manis dan perhatian. Belum lagi tingkah manjanya yang mengalahkan bayi mungil sungguh membuatnya gemas bukan main.
"Tunggu!" kata Zelia yang mulia mengenali jalan yang mereka lewati saat ini. "Ini, 'kan, arah mau ke bukit?"
Senyuman Jimmy melebar. Dia tidak menyangka kekasihnya sudah tahu hendak kemana mereka.
"Kamu kok tau?"
"Dulu tempat ini jadi tempat favorit aku, kalau lagi banyak masalah," kata Zelia dengan jujur.
Gadis itu mengatakan semua apa adanya. Memang tempat ini dulu menjadi tempat healingnya. Ketika dia banyak pekerjaan, atau menghadapi sesuatu yang sulit. Maka Zelia akan datang kesini sendiri.
Berteriak dengan puas. Mencaci dan mengeluarkan segala unek-unek yang ada di pikiran dan otaknya.
Akhirnya perjalanan mereka berakhir. Zelia keluar dengan tangan direntangkan lebar. Wanita itu memejamkan matanya dengan menghirup udara yang sangat segar dan menenangkan pikirannya.
"Ini benar-benar sangat luar biasa," kata Zelia dengan pelan.
Dia merasa tenang. Sunyi sepi dan dingin. Benar-benar suasana yang sangat membuatnya tentram dan damai. Hingga sebuah pelukan dari belakang serta hembusan nafas di belakang lehernya membuatnya tahu siapa yang berbuat ulah.
"Kamu gak pakai jaket, Sayang. Disini dingin," bisik Jimmy dengan pelan.
Zelia tersenyum dia menurunkan kedua tangannya lalu memeluk tangan Jimmy yang melingkar di perutnya. Dia merasa hangat serta bahagia di posisi seperti ini.
Keduanya sama-sama diam. Seakan menikmati suasana yang sedang terjadi saat ini. Semilir angin semakin membuat keduanya mengeratkan pelukannya.
"Bagaimana jika kita tak berjodoh?" tanya Zelia yang entah darimana keberanian itu mengatakan pada Jimmy.
Tubuh Kakak Almeera itu menegang. Dia memutar tubuh kekasihnya dan mengangkat dagu Zelia.
Kedua mata mereka saling memandang. Bisa Jimmy lihat ada kesedihan di sana.
"Kenapa kamu tanya seperti itu?"
"Aku hanya tanya, Kak. Bagaimana jika kita tak berjodoh?" tanya Zelia lagi dengan pelan.
"Aku akan berusaha agar Allah menjodohkan kita!"
Zelia tersenyum. Dia menggelengkan kepalanya lalu memeluk kekasihnya dari depan. Kepalanya ia letakkan di atas jantung Jimmy hingga perempuan itu bisa mendengar degup jantung kekasihnya.
"Itu kehendak Tuhan, Kak," kata Zelia dengan mengeratkan pelukannya.
Dia meresapi harum maskulin dari tubuh kekasihnya dengan perasaan lega. Dia tak tertekan dalam mengatakan ini. Bagaimanapun Zelia sadar bahwa semua yang akan terjadi kembali pada ketetapan Tuhan.
"Jika Tuhan tidak menjodohkan kita berdua. Aku berharap jangan pernah menjauh atau memusuhiku, Kak. Aku tak mau hubungan pertemanan kita hancur hanya karena hubungan percintaan kita berakhir."
~Bersambung
Udah dibilang Bang Jim ama Lia ada novelnya sendiri. Malah minta ending mereka disini..Hiks..Macem mana bisa minta disini.
Maaf ya baru update. Aku tadi masih garap cover bang jim.