
...Aku adalah wanita yang paling bahagia malam ini. Bisa memiliki kekasih yang bertanggung jawab sepertimu dan begitu memiliki tujuan hidup....
...~Adeeva Khumairah ...
...🌴🌴🌴...
Adeeva menutup mulutnya tak percaya. Apalagi ketika kekasihnya itu berjongkok di depannya dengan ditangannya terdapat kotak beludru berwarna merah yang berisi sebuah cincin.
Entah kotak itu berasal darimana. Namun, Adeeva benar-benar tak menyangka jika kekasihnya melamarnya dalam keadaan yang sangat amat berbeda dengan lamarna lainnya.
Mereka berada di dapur saat ini dengan tangan Adeeva berlumuran sabun karena kegiatannya belum selesai. Namun, meski begitu. Entah kenapa hati dan jantung Adeeva terus berdegup kencang. Dia merasa bahagia saat kekasihnya melamarnya tanpa sepengetahuannya.
"Deeva! Maukah kamu menjadi istriku? Istri dari seorang pria yang biasa saja tapi aku berjanji akan terus membahagiakanmu sebisaku," katanya lagi dengan tatapan penuh yakin.
Apa yang Reno katakan memang bukan karena paksaan siapapun. Dia memang sudah menyiapkan semuanya. Cincin itu dirinya siapkan saat menunggu hasil Tes DNA keluar.
Dia berjanji pada dirinya sendiri ketika tes itu keluar dan pria tua itu sudah mengetahui kebenarannya. Ia ingin menikahi Adeeva agar bisa melindunginya. Dia tak akan membiarkan Ayah Adeeva mendekati dua wanita ini.
Dia tak mau mereka kembali disakiti oleh pria yang toxic. Mulutnya yang pedas dan otaknya yang dangkal sangat amat meninggalkan bekas luka dalam diri Adeeva dan ibu kekasihnya.
Adeeva menghapus air mata harunya. Dia menganggukkan kepalanya dengan wajah bahagia. Tak ada alasan untuknya menolak. Dia benar-benar sudah percaya pada Reno bahwa pria itu pasti pria terbaik yang diberikan oleh Tuhan untuknya.
Pria yang ditugaskan untuk menjaganya. Membawa kebahagiaan dalam dirinya dan menyelamatkannya dari kekejaman ayahnya sendiri.
Apa yang terjadi hari ini adalah salah satu bukti bahwa Reno memang pria yang tepat untuknya.
"Apa kamu bilang? Coba katakan lagi!" kata Reno dengan tak percaya.
"Aku mau, Ren. Aku mau jadi istrimu."
Reno lekas beranjak berdiri. Pasangan kekasih itu saling berpelukan dengan erat. Melupakan tangan Adeeva yang kotor dan yang terpenting mereka saat ini saling melampiaskan rasa bahagianya.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah percaya kepadaku dan menerimaku menjadi calon imammu," ucap Reno sambil mencium puncak kepala kekasihnya itu.
Pelukan itu akhirnya terlepas. Saat Reno mau memakaikan cincin itu di jari Adeeva. Gadis manis itu mengangkat jarinya ke depan.
"Biarkan aku membersihkan busa ini dulu yah."
Adeeva segera berbalik. Dia menghidupkan kran air dan segera membersihkan tangannya sampai sebersih mungkin. Setelah itu ia mengeringkan dengan lap lalu mulai menyodorkan jarinya di hadapan kekasih tercintanya ini.
"Apa kamu beneran menerimaku?" tanya Reno sekali lagi. "Karena jika cincin ini sudah masuk ke dalam jarimu. Kamu tak akan bisa pergi dari sisiku lagi!"
Reno benar-benar yakin dengan perkataannya. Dia tak akan melepaskan Adeeva apapun alasannya. Pria itu sudah menjatuhkan hati dan pilihannya hingga membuat Reno benar-benar menjadi pria bucin.
"Aku yakin dan serius, Ren! Aku menerimamu dengan ikhlas dan ingin melanjutkan hidupku denganmu sampai Tuhan sendiri yang akan memisahkan."
Reno akhirnya mulai memakaikan cincin itu di jari Adeeva. Sebuah cincin yang memiliki satu permata indah hasil dari pilihan Reno sendiri.
Di bagian cincinnya juga ada sebuah nama ukiran Reno yang sudah pria itu siapkan.
"Cincin ini sangat indah."
"Tapi lebih indah bola matamu, Sayang," kata Reno menatap wajah kekasihnya yang begitu berbinar.
"Apa kamu sedang menggombal, Sayang?"
"Ya. Apa kamu berdebar?" tanya Reno dengan wajah jahil.
Adeeva terkekeh. Dia melingkarkan kedua tangannya di leher sang kekasih hingga wajah mereka berdekatan.
"Bukan berdebar saja tapi ada sesuatu dalam diriku yang sudah bergetar kuat karena sikapmu yang sangat romantis."
"Bibir ini, manis sekali. Bolehkah aku menciumnya?" tanya Reno dengan mengusap bibir Adeeva dengan ibu jarinya.
Akhirnya pertemuan yang tidak sengaja, pertengkaran antara keduanya bisa mereka lewati dengan langkah panjang. Hari ini, malam ini langkah baru akan mereka jejaki bersama.
Sebuah langkah menuju indahnya kehidupan rumah tangga dan bagaimana mengalahkan ego dan menyatukan dua pikiran dalam ikatan halal.
...🌴🌴🌴...
Waktu yang sudah beranjak naik ternyata tak membuat tiga wanita ini memutuskan panggilan di antara mereka.
Ya, Adeeva langsung menghubungi Almeera dan Zelia saat itu juga. Dia ingin membagi kabar bahagia ini dengan orang-orang yang sangat dia sayangi.
"Ah aku gak bisa bayangin gimana muka Reno si manusia jutek itu pas lagi ngelamar kamu, Va," celetuk Almeera membayangkan.
"Sama, Ra. Dia romantis gak?" tanya Zelia tak kalah heboh.
Adeeva senyum-senyum sendiri. Hal itu semakin membuat sahabatnya yang lain semakin penasaran.
"Ceritakan, Va! Jangan senyum terus seperti orang gila!" ujar Zelia yang tak sabar.
"Ish!" Adeeva mendengus. Namun, kepalanya menggeleng yang membuat dua sahabatnya tak mengerti.
"Geleng-geleng kepala apaan, Va? Gak jelas banget sih!"
"Ya, Reno gak romantis sih. Orang dia pas ngelamar aku. Tanganku lagi banyak sabun cucinya. Kan aku lagi bersihin piring memang pas itu," ceritanya yang membuat tawa Almeera dan Zelia pecah.
Mereka tak menyangka jika kegiatan sahabatnya itu begitu berbeda sekali. Namun, mereka ikut merasa bahagia saat mengetahui sahabatnya juga bahagia dengan ada di sisi Reno.
"Tapi gitu aja udah bikin baper. Gak perlu pake drama ini dan itu langsung dilamar," kata Almeera menanggapi.
"Nah bener. Aku aja jadi IRI," jerit Zelia menangkup wajahnya sendiri.
Almeera terkekeh. Dia sangat tahu betul perasaan sahabatnya itu.
"Sabar yah. Tunggu Kak Jim selesai tugas. Dia pasti bakalan nikahin kamu," hibur Almeera dengan harapan yang sama.
Dia tak akan memaksa hubungan kakaknya dan sahabatnya harus berakhir dalam ikatan halal. Bagaimanapun jodoh itu sudah urusan Tuhan. Kisah mereka nanti ke depan bagaimana, Almeera akan menjadi pihak netral.
Dia tak akan mendukung kakaknya saja karena Jimmy kakak kandungnya. Dia akan mendukung keduanya sampai mereka meresmikan hubungan mereka.
"Ah aku doain kamu segera menyusul, Sayang!" kata Deeva pada Zelia.
"Aamiin. Aku juga berharap begitu," ujar Zelia penuh harap.
"Lalu kapan kalian menikah?" tanya Almeera yang sangat penasaran.
"Secepatnya."
"Secepatnya itu kapan?" tanya Zelia yang sama-sama penasaran.
"Kata Reno, meski menikah besok pun, dia sudah sangat siap."
"Apa!" pekik Almeera dan Zelia bersamaan.
Mulut mereka menganga tak percaya dengan kepala saling menggeleng. Keduanya tak menyangka jika tingkah Adeeva dan Reno sama-sama persis.
"Kalian sama-sama gila!"
~Bersambung
Ah akhirnya kan, pada senyum-senyum kan kalian mereka udah mau nikah, haha.
Kalau ada typo komen yah. Belum aku revisi soalnya.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.