Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Diskusi Jumlah Anak



...Mungkin hari ini adalah hari terakhir kita bertemu sebagai sepasang kekasih. Pertemuan selanjutnya status kita akan berganti dengan sepasang suami istri. ...


...~Adeeva Khumaira...


...🌴🌴🌴...


Perjalanan menuju butik tempat dimana Almeera dulu memesan gaun pernikahannya berjalan dengan lancar. Mereka semua segera turun dari kendaraan yang dikendarai oleh Reno sendiri.


Saat ini mereka memang hanya bertiga. Bia tak mau ikut mamanya dan memilih bersama papanya. Lalu Bara juga memberikan izin sahabatnya untuk menemani Adeeva membeli gaun khusus hari ini. Sungguh ayah dua anak itu sangat pengertian dan ikut antusias dalam rencana pernikahan sahabatnya.


Saat ketiganya mulai masuk ke dalam butik. Sang pemilik yang sudah diberitahu atas kedatangan Almeera tentu langsung menyambut mereka. 


"Selamat datang, Nona Almeera," kata pemilik butik itu dengan ramah.


Almeera membalas pelukan wanita paruh baya di depannya ini dengan hangat. Dia sangat mengenal betul wanita yang ada di pelukannya ini karena butik ini sudah menjadi toko langganan Mama dan keluarganya. 


"Jangan seperti itu, Tante. Panggil seperti biasa aja," kata Almeera mencebik.


Wanita sang pemilik butik itu hanya terkekeh. Dia mengangguk lalu segera membawa semua tamunya masuk ke dalam ruang kerjanya. 


"Katakan pada Tante Lita, Va. Gaun seperti apa yang kamu inginkan," ucap Almeera pada sahabatnya.


Wanita bernama Tante Lita segera mengeluarkan buku yang berisi contoh desain gaun rancangannya. Dia memberikannya pada Adeeva dan gadis itu segera menerimanya dan mendekati sosok Reno.


"Bagaimana kabar Mamamu, Sayang?" tanya Tante Lita dengan akrab.


"Baik, Tante. Alhamdulillah. Tante main-main ke rumah," kata Almeera mengajak. "Kata Mama, Tante udah lama gak kesana, 'kan?" 


Tante Lita mengangguk. Dia tak menyangkal karena memang jadwal pesanan dan fashion yang dia ikuti begitu banyak.


"Mungkin lusa, Tante bisa kesana tapi gak janji. Soalnya Tante banyak sekali jahitan gaun." 


Almeera mengangguk. Dia lekas menoleh saat sahabatnya menarik lengannya dengan pelan. 


"Kenapa?" 


"Bagaimana menurutmu?" tanya Adeeva menunjukkan sebuah gaun dengan aksen sederhana.


Dibagian pinggang sangat amat membentuk tubuh. Lalu di bagian pundak terbuka tapi bagian depannya tak terlalu rendah.


"Pilihan yang tepat. Itu desain terbaru dari butik ini, Sayang," kata Tante Lita mengacungkan jempolnya. 


"Kira-kira berapa lama ini selesai, Tante?" tanya Almeera menatap buku desain di tangannya.


Memang desainnya sederhana. Namun, sebagai pembeli dan pengguna, Almeera ataupun Adeeva tak mau membuat Tante Lita terburu-buru.


"Kapan pernikahannya diselenggarakan?"


"Satu minggu lagi, Tante," sahut Adeeva dengan apa adanya.


"Baiklah. Tante usahakan gaun ini selesai tepat waktu." 


Akhirnya Adeeva dan Reno setuju. Mereka tak memiliki pilihan yang lain karena memang apa yang dipilih oleh Adeeva benar-benar kemauan calon pasangan baru itu.


"Kalian boleh membayarnya setelah gaun selesai."


Adeeva menatap tak percaya. Dia menoleh ke arah Almeera yang tersenyum.


"Tenanglah," ujar Almeera pada sahabatnya. "Tante Lita selalu seperti itu karena takutnya nanti ada revisi di beberapa bagian tau tidak." 


Akhirnya mereka segera keluar dari ruangan Tante Lita. Namun, bukannya pulang. Almeera meminta sahabatnya menunggu karena ia juga akan membeli gaun untuk pernikahan Adeeva. 


"Meera cari gaun yang seperti biasanya, Tante," kata Almeera pada Tante Lita.


Wanita paruh baya itu sudah sangat tahu bagaimana keinginannya. Bahkan beberapa model serta desain, Tante Lita sampai sangat hafal sekali.


"Kembar dengan si kecil?" 


"Tentu, Tante. Kalau tidak, Bia pasti akan ngambek," celetuk Almeera yang dijawab kekehan oleh Tante Lita.


Dengan penuh semangat, Tante Lita mengajak Almeera ke deretan bagian gaun tertutup. Gaun yang bisa dipadukan oleh hijab dan begitu sederhana tapi terkesan mewah. 


Sebuah gaun berwarna putih dengan aksen bunga-bunga dan permata di beberapa bagian semakin memperlihatkan desainnya yang elegan. Bagian perut yang tak membentuk tentu menjadi pilihan utama seorang Almeera.


"Aku pilih ini saja, Tante." 


"Oke." 


...🌴🌴🌴...


"Ingat, jangan aneh-aneh. Belum muhrim!" ancam Almeera saat kendaraan Reno berhenti di depan perusahaan Bara.


Perempuan itu memang meminta calon pengantin mengantarnya di perusahaan. Dia ingin menjemput putrinya karena ia yakin jika Bara pasti tak bisa fokus bekerja. 


"Iya-iya, Bu Haji. Bawel banget sih!" sahut Adeeva mentoel pipi Almeera dengan pelan.


"Ishh! Kalian itu udah kayak cacing kepanasan. Sama-sama kebelet," celetuk Almeera yang membuat Adeeva dan Reno mendelik tak suka.


"Sembarangan!" 


Almeera hanya menjulurkan lidahnya. Perempuan itu segera melambaikan tangannya meninggalkan Reno dan Adeeva yang mencebik menatap kepergiannya.


Setelah sosok Almeera tak terlihat. Adeeva segera menatap calon suaminya.


"Kita mau kemana?" 


"Ke suatu tempat," kata Reno lalu segera melajukan kendaraannya. 


Adeeva hanya menatap jalanan yang dilaluinya. Hingga keningnya berkerut saat dia sangat tahu betul jalan yang sedang mereka lewati ini.


"Kenapa kita kesini?" tanya Adeeva pada Reno.


"Aku ingin kamu bertemu dengan ayah dan ibuku," sahut Reno yang membuat Adeeva tak mengerti.


Kendaraan roda empat itu segera memasuki halaman rumah Reno. Lebih tepatnya bangunan yang berdiri tepat di sebelah rumah Almeera yang ia tinggali sementara.


Reno segera meraih tangan kekasihnya. Menggenggamnya dengan erat dan menariknya agar berjalan memasuki rumah yang tak pernah Adeeva masuki.


Jujur ini untuk pertama kalinya Adeeva menapakkan kakinya di rumah Reno. Walau mereka bertetangga. Namun, Adeeva tak pernah sedikitpun datang kesini.


Mata itu mengedar. Banyak sekali potret keluarga yang dia lihat dari jauh. Hingga tatapan matanya berhenti di sebuah foto keluarga yang ada di ruang tengah. Begitu besar, hingga Adeeva bisa melihat wajah-wajah orang yang menghadirkan Reno di dunia ini.


"Itu ayah dan ibuku," kata Reno mengenalkan. 


"Jadi kamu anak tunggal?" tanya Adeeva menatap Reno hingga tubuh keduanya berhadapan.


Reno mengangguk. Dia meraih pinggang Adeeva hingga tubuh keduanya berdekatan.


"Ya. Aku anak tunggal," sahut Reno menatap Adeeva penuh cinta. "Kamu juga tunggal, 'kan?" 


Adeeva mengangguk. 


"Jadi, memperbaiki keturunan. Aku ingin memiliki anak banyak dari rahimmu," bisik Reno mengelus perut Adeeva dengan lembut.


Mata sahabat Almeera itu membulat penuh. Dia memukul perut kekasihnya itu hingga membuat Reno mengaduh. 


"Kamu kira kucing. Bisa banyak anak?" 


"Ya nanti kita program bayi kembar aja," celetuk Reno dengan entengnya. "Hamil 3 kali dan kembar semua kan cukup jadi tim futsal," ujarnya yang membuat Adeeva membulatkan matanya. 


"Kalau sebanyak itu. Ya kamu saja yang hamil. Bagaimana?" 


"Aku mana bisa, Sayang. Aku bisanya cuma menembak benih… Aww." Reno mengelus lengannya yang dicubit oleh Adeeva.


"Kenapa dicubit?" 


"Ya kamu mesum sekali, astaga!" Adeeva geleng-geleng kepala.


Dia benar-benar tak habis pikir dengan calon suaminya ini. Sepertinya apa yang dikatakan oleh Almeera dan Bara ada benarnya. Bahwa kekasihnya ini sudah kebelet kawin.


"Mesum sama calon istri mah gapapa. Yang penting kan, gak sama yang lain."


"Coba aja kalau berani sama yang lain. Aku pastikan selingkuhanmu itu langsung tinggal nama."


~Bersambung


Kalau Mbak Meera kan Bulungnya di potong. Kalau Adeeva ngerinya beda. Ceweknya yang di wassalam, hahaha.


Maaf telat update yah. Kondisiku benar-benar lagi turun. Pilek, batuk, tenggorokan sakit bener-bener nyiksa. Jadi aku updatenya pelan-pelan.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat updatenya.