Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Buka Puasa?



...Menjadi orang tua yang baik bukan belajar selama satu hari atau dua hari. Namun, setiap harinya mereka harus belajar dari sikap anak-anaknya sendiri....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Suara tawa kencang diiringi ledekan terdengar di sebuah ruang kerja. Disana terdapat dua orang papaable yang saling menceritakan kesusahan dan apa yang terjadi hari kemarin di rumahnya.


Keduanya bukan bermaksud mengeluh. Namun, mereka hanya ingin sharing dan belajar satu dengan yang lain. Terutama untuk Reno pemula akut. Dia belajar banyak dari Bara bagaimana ketika menghadapi bayi yang menangis.


Banyak macem bayi yang sikap dan sifatnya berbeda-beda. Hingga hal itu membuat setiap orang tua harus benar cara memperlakukan mereka sesuai tipikal mereka masing-masing.


"Jadi Lo mandi malem-malem?" tanya Bara menahan tawanya sekuat tenaga.


"Sialan, Lo! Temen susah malah diketawain," serunya dengan marah.


Bara terkekeh. Dia merasa lucu akan cerita sahabatnya itu. 11 12 dengan dulu ketika Bia kecil masih bayi. Bocah itu selalu lengket dengan papanya hingga membuatnya serba papa.


Dari sana juga, Bara belajar banyak tentang membersihkan pup bayi, menyuapi makan dan begadang. Bia benar-benar selalu ingin bersama  Bara. Kemanapun itu, Almeera hanya dijadikan tempat ketika ia haus. 


"Makanya lain kali, Lo siapin popok kain yang gak dipakai," kata Bara menjelaskan.


Kening Reno berkerut. "Untuk apa?" 


"Ya kalau dia pup, Lo tutupi burungnya dengan kain itu. Biar kalau pipis gak kena baju dan muka Lo, Bodoh!" 


Reno memutar matanya malas. Namun, yang dikatakan sahabat sekaligus bosnya adalah kebenaran. Kenapa ia tak memikirkan itu sejak dulu. 


"Popok kainnya?" 


"Kalau istriku dapet dari mertua. Dulu bekas sarung gak dipake terus digunting-gunting."


Reno mengangguk. Dia tidak menyangka walau hidup Bara dan keluarganya bisa dibilang kaya raya. Namun, tingkah mereka sangat sederhana.


Tak pernah mereka hidup dengan heddon. Bahkan jalan-jalan jauh saja, keduanya menjadwalkan dengan baik. Hal itu tentu membuat Reno selalu berkaca dan berusaha seperti pasangan Bara dan Almeera.


Bukan perihal sahabatnya yang pernah menyakiti Almeera. Namun, sikap pria itu yang mau belajar berubah. Menjadi sosok yang jauh lebih baik seperti sekarang adalah hal yang patut dicontoh.


Kita tidak bisa melihat masa lalu setiap pendosa. Mereka sudah berusaha menjadi sosok yang lebih baik dari masa lalu hingga muncullah kehidupan yang baru bagi sahabat sekaligus istri sahabatnya. 


"Keknya gue juga mau kek gitu, Bar. Gue bakalan gunting sarung gue deh! Biar anak gue gak nyerang gue lagi," kata Reno dengan tekad yang kuat.


Bara hanya tertawa dengan kepala menggeleng. Dia tidak menyangka sahabatnya akan dikencingi oleh putranya sendiri.


"Namanya anak sendiri ya harus biasa, Gila. Mereka anak-anakmu jadi wajar lah!"


"Wajar mah wajar. Tapi ini malem-malem, Bar. Untung gak kena muka!" 


"Gue sumpahin semoga kena muka Lo!" seru Bara dengan jahat.


"Dasar teman laknat! Sialan Lo!" sahut Reno sambil melempar pulpen ke tubuh bosnya. 


...🌴🌴🌴...


Akhirnya semua yang diberitahu oleh Bara membuat Reno berada disini. Di ruang ganti dengan gunting berada di tangannya. Dia mencari sarungnya yang sudah lama sekali tak ia pakai. Hingga wajahnya berubah begitu sumringah saat dia menemukan sarung yang sudah lama tak ia pakai.


"Kamu penyelamatku! Kamu harus digunting dan dibentuk sekecil popok," ujarnya dengan senang.


Saat Reno hendak menggunting kain itu. Bersamaan dengan Adeeva yang masuk ke ruang ganti. Wanita itu membulatkan matanya dengan apa yang hendak dilakukan suaminya.


Pria itu mendongak. Dia tersenyum saat istrinya ada di dekatnya.  


"Ini mau aku jadikan popok, Sayang. Aku dapat saran dari Bara biar nanti kalau Reyn pup, burungnya ditutupi sama ini." 


Adeeva tersenyum. Dia tidak menyangka bila suaminya gak kapok dengan tingkah anaknya. Bahkan pria itu rela banyak bertanya pada bos sekaligus sahabatnya yang memiliki pengalaman lebih banyak dalam mengurus anak. 


Begitupun Adeeva sendiri. Selama ini ia juga banyak bertanya pada Almeera. Bagaimana mengurus Reyn ketika rewel. Apa yang harus dilakukan jika anak terus merengek tiada henti. Semua itu dia lakukan karena Adeeva masih minim ilmu.


Dia tak pernah lelah untuk terus belajar demi merawat anak-anaknya seorang diri. 


"Ayo aku bantu!" 


Akhirnya pasangan suami istri itu duduk di lantai. Adeeva mengambil gunting itu dari tangan suaminya lalu mulai melipat sarung itu dan membayangkan akan sebesar apa popok yang akan dipakai oleh anak mereka. 


"Kemana Reyn, Sayang?" tanya Reno yang bergerak mendekati istrinya.


Pria itu berpindah ke belakang Adeeva dan memeluknya dari belakang.


"Lagi sama Ibu, Mas," kata Adeeva yang seperti angin segar di telinga Reno.


Pria itu menelusupkan wajahnya di leher sang istri. Memberikan kecupan-kecupan disana yang membuat Adeeva merinding.


"Mas!" pekiknya terkejut saat suaminya menggigit lehernya dengan tangan nakal yang memijat bukit kembarnya.


"Jangan dipencet nanti asinya keluar!" kata Adeeva mengingatkan.  


Dua tubuh itu saling terbakar hebat. Mereka benar-benar sekuat tenaga menahan karena Adeeva masih masa-masa nifas. Reno benar-benar tak tahan lagi.


Dia sudah begitu jengkel karena masa-masa setelah melahirkan lama sekali menurutnya.


"Mas Ren!" ujar Adeeva saat suaminya dengan pandai bermain di tubuh bagian atasnya.


Tubuh wanita itu menegang kaku. Adeeva benar-benar tak tahan. Namun, dia juga merasa kasihan kepada suaminya.


Reno yang semakin gencar membuat Adeeva tak bisa berkutik. Ibu satu anak itu berbalik dan mendorong suaminya sampai tertidur di lantai. Adeeva langsung menindih tubuh Reni lalu keduanya kembali berciuman.


Tubuh mereka saling menginginkan. Namun, baik Reno maupun Adeeva masih sadar bahwa mereka tak boleh melakukan hal yang lebih dari ini. 


Mereka masih bisa bertahan sekuat tenaga. Bahkan ketika Adeeva menaik turunkan miliknya tepat di atas milik Reno yang mulai membesar di balik celananya. Mampu membuat keduanya mengerang.


Hingga akhirnya Adeeva sadar. Jika mereka berhenti disini. Maka suaminya akan merasakan sakit kepala. Akhirnya dia menurunkan tubuhnya.


Dengan tangan yang sama-sama membuka celana boxer suaminya hingga menampilkan ninja yang sangat lincah sudah berdiri siap.


Adeeva menelan ludahnya paksa. Ninja itu terlihat begitu gagah. Tangannya perlahan terulur dan mulai memijatnya dengan pelan.


Reno hanya mampu menggeliat. Dia tak menyangka istrinya ini mau membantunya. Selama ini pria itu menahan hasrat dirinya karena sadar Adeeva lelah mengurus putranya. Maka dari itu jika Reno sedang ingin. Dia akan berusaha sendiri.


Namun, kali ini sepertinya takdir baru dan bahagia untuk Reno. Pria merasa melayang ke langit ketujuh saat miliknya tertelan di mulut sang istri. Adeeva memanjakannya dengan baik. Membuatnya seakan menjadi pria yang paling bahagia hingga Reno akhirnya meledakkan ninjanya.


Nafasnya naik turun. Dia menarik kepala istrinya yang bibirnya belepotan. Dia segera memberikan kecupan dengan lembut di bibir Adeeva saat istrinya malah memberikan tatapan genit.


"Terima kasih, Sayang. Setidaknya ini obat untukku selama kamu belum selesai nifas."


~Bersambung


Kelakuan kalau istri masa nifas. Semua suami sama. Curi kesempatan!