Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Bantuan Kayla



...Perjuangan seorang ibu itu begitu besar. Tak dapat dinilai dan dibalas hanya menggunakan uang. Mereka dengan suka rela menyerahkan nyawanya untuk kepentingan anak-anaknya....


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


Waktu mulai beranjak naik. Bara berjalan menuju ruang bayi seorang diri. Entah kenapa ia merindukan kedua anaknya ini. Anak yang ikut membantunya untuk membangunkan Almeera dari sebuah takdir yang akan memisahkan keduanya. 


Pria itu memilih berdiri di dekat jendela ruang bayi. Posisi si kembar yang ada di dekat pembatas membuat Bara dengan mudah menatap kondisi kedua anaknya.


Bibirnya tersenyum tatkala melihat betapa lucunya mereka berdua. Betapa menggemaskannya kedua anak yang sangat dinanti kelahirannya itu.


"Terima kasih, Nak. Terima kasih sudah bantu Papa buat bikin Mama kalian kembali," ujar Bara dengan mengusap kaca itu dan membayangkan sedang mengusap wajah bayinya sendiri. 


Bara tak tahu harus mengatakan apa lagi jika istrinya tadi tak selamat. Mungkin kehidupannya tak lagi berwarna. Mungkin dirinya akan menjadi pria yang paling menyesal di dunia ini.


Kelahiran buah hatinya yang seharusnya ada bersamanya. Kelahiran yang sangat dinanti Almeera dan Bara. Akhirnya harus berakhir seperti ini. 


Keterdiaman Bara yang hanya berdiri disana sambil menatap wajah anaknya akhirnya terpecah saat anak perempuannya menangis. Bocah mungil itu menggeliat dengan tubuh bergerak aktif. 


Suaranya yang kencang tentu menarik perhatian saudara kembarnya. Si pria mungil itu ikut menangis yang membuat kedua sudut bibir Bara tertarik ke atas.


Penampakan ini sangat luar biasa menurut Bara. Jika yang satu menangis maka yang lain ikut menangis. Bila ada istrinya, pasti wanita itu sama terkekehnya melihat tingkah anak mereka.


Namun, saat kedua bayinya sudah digendong oleh perawat yang bertugas tangisannya tidak lekas berhenti. Bara segera berjalan menuju pintu dimana dia bisa masuk ke dalam ruang bayi. 


"Ada apa dengan bayi saya, Sus?" tanya Bara yang khawatir dengan kondisi kedua anaknya.


"Dua bayi Anda kehausan, Pak. Asi dalam rumah rumah sakit ini barusan di cek kosong," kata suster itu dengan wajah yang sama bingungnya. 


"Sebentar. Jika ibu menyusui bayi yang baru beberapa bulan melahirkan. Apa bisa?" tanya Bara yang mengingat kakak iparnya.


"Bisa, Pak." 


Akhirnya Bara segera meninggalkan ruangan bayi dengan hati yang tak tenang. Tangisan anaknya masih terdengar jelas di tangannya dan membuat hati dari ayah empat orang anak itu tak tega.


Bara tak bisa menyalahkan istrinya. Almeera sudah sejauh ini berusaha dan berjuang untuk kembali kepadanya. Pria itu tak mau memaksa istrinya untuk bangun. 


Dia akan setia menunggu Almeera sampai melewati masa-masa pasca operasi.


"Ada apa, Bara? Kenapa kamu berlari?" tanya Mama Tari yang saat itu duduk di depan ruang ICU.


Bara perlahan menjelaskan kondisi yang terjadi pada kedua anaknya. Hal itu membuat mata Mama Tari terbelalak. Wanita paruh baya itu hampir melupakan cucunya yang masih membutuhkan asi.


Namun, perlahan ide yang diberikan Bara membuat Mama Tari dan Papa Darren mengangguk. Keduanya sama-sama tak menyangka jika Bara seingat itu pada Kayla.


"Hubungi Kayla, Pa. Katakan padanya jika si kembar membutuhkan asi," kata Mama Tari pada suaminya.


"Papa bakalan hubungi Jonathan," ujar Papa Darren dengan tindakan yang tanggap. 


Hati Bara masih resah. Dia tak akan tenang sampai anak-anaknya mendapatkan asi untuk kebutuhan mereka.


Bara sangat amat ketakutan tadi. Dia tak bisa membayangkan bila tak memiliki ipar yang kelahirannya hanya berjarak sedikit dengan istrinya. Bara juga tak bisa memikirkan nasib kedua anaknya yang akan menangis seperti ini terus.


...🌴🌴🌴...


Kedatangan Kayla seperti pahlawan dengan sejuta pertolongannya. Semua orang segera menuju ke ruangan bayi mengikuti langkah pasangan suami istri yang merupakan kakak ipar dari Bara dan Almeera.


Kayla yang membawa kantong plastik berisi stok asi segera berbicara dengan suster penjaga. Entah apa yang dibicarakan kemudian muncullah dokter kandungan yang menangani operasi Almeera.


Kayla diberi pertanyaan apapun. Hingga stok asinya mulai diambil dilihat oleh dokter tersebut. Kepala perempuan yang memakai jas putih itu mengangguk. Menerima asi yang dibawa Kayla setelah berbicara panjang lebar.


"Asi Anda sangat bagus, Bu," kata Dokter itu dengan tersenyum.


"Terima kasih, Dok. Untuk anak dan kedua ponakan saya. Apapun akan saya lakukan." 


Akhirnya dokter tersebut pamit untuk masuk ke dalam. Bara, Mama Tari, Papa Darren, Kayla dan Jonathan berdiri di dekat jendela pembatas antara area luar dan dalam ruang bayi.


Mereka bisa mendengar tangisan si kembar yang mulai tak sekencang tadi. Namun, tetap saja. Keduanya masih kehausan karena memang belum minum asi apapun. 


Semua orang menunggu dengan sabar. Mereka takut si kembar tak mau minum asi Kayla. Namun, ternyata dugaannya salah. Suster yang menggendong si kembar mendekat ke area kaca pembatas dan memperlihatkan bagaimana kuatnya si kembar menyusu. 


Mata Bara berair. Entah kenapa dia jadi mudah menangis jika menyangkut anak dan istrinya. Dia seakan melupakan dirinya yang terkenal pendiam dan cuek.


Bara benar-benar sosok idaman semua wanita. Dia akan bersikap hangat dengan istrinya dan mau belajar dari masa lalu. 


"Lihatlah, Pa! Cucu kita sangat lahap minumnya," ujar Mama Tari mengusap usap kaca itu membayangkan jika wajah cucunya lah yang dia elus.


"Dia sangat mirip Bara, Ma. Lihat! Wajahnya duplikat sekali," kata Papa Darren menunjuk bayi laki-laki yang sangat kuat minumnya. 


Hingga tak lama, bayi perempuan itu melepas botol susunya. Dia menggerakkan tangannya seakan sudah merasa kenyangnya. 


Suster masih menunjukkan sosok bayi perempuan itu. Hingga sebuah senyuman bayi itu berikan yang membuat semua keluarga jadi ikut tersenyum.


"Lihat, Sayang. Dia bahagia minum asi kamu," kata Jonathan yang gemas akan aksi keponakannya.


"Kamu benar, Sayang. Dia seperti Baby Ane. Selalu tersenyum setelah diberi minum." 


Melihat bayi itu mulai tenang, suster membawanya kembali ke box bayinya. Sedangkan bayi laki-laki yang masih menyusu masih di dekatkan di area kaca pembatas. Bagaimanapun suster di dalam sana sudah berpengalaman. Mereka sangat mengerti jika semua keluarga sangat ingin menyentuh dan berada di dekat bayi-bayi ini.


Setelah menghabiskan satu botol asi itu. Bara dan semua keluarga mengucapkan terima kasih pada dokter walau hanya dari gerakan badan.


Mereka segera pergi meninggalkan ruangan itu menuju ruang ICU. Perasaan semua orang menghangat ketika melihat bayi kembar Bara dan Almeera begitu sehat dan aktif. 


Pemikiran mereka hanya tertuju pada kesehatan Almeera. Semua keluarga berharap semoga Almeera segera sadar dan bisa berkumpul bersama mereka. 


Saat semua orang baru saja sampai. Muncullah dokter yang menangani kepala Almeera dan membuat Bara yang hendak duduk mengurungkan niatnya. 


Dia lekas berjalan mendekati dokter tersebut dan ingin mendengar kabar apa lagi yang pria itu bawa untuknya dan keluarga.


"Alhamdulillah, Pak. Istri Anda sudah sadar dan keadaannya sangat stabil."


~Bersambung


Wahaha seneng banget godain pembaca yah. Hihi belum tamat kok. Tinggal beberapa bab lagi. Sabar nungguin yah sambil nunggu gimana kisah syakir dan humai yang belum dapet balasan email dari editor ntun.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.