Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Hal Gila Bara dan Almeera



...Berusaha memberikan yang terbaik untuk menutupi cela orang ketiga kembali hadir. Membuat keduanya semakin menggila....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Reno kembali dengan perasaan sama khawatirnya. Namun, dia tak bisa melakukan apapun. Adeeva yang keras kepala tak mau membukakan pintu untuknya. Bahkan saat Reno berpamitan, tak ada jawaban apapun yang membuat ia yakin jika kekasihnya benar-benar shock dengan kenyataan yang di dengar.


"Aku tak akan membuatmu menangis, Deeva. Aku berjanji akan hal itu!" gumam Reno dengan tangan terkepal kuat. "Cukup ayahmu saja yang menyakitimu sedalam ini. Aku akan berusaha untuk membahagiakanmu dengan caraku sendiri." 


...🌴🌴🌴...


Di Tumpang, Malang.


Terlihat seorang perempuan tengah melambaikan tangannya pada seseorang yang ada di layar ponselnya. Kedua wajah itu menampakkan rasa kerinduan yang mendalam. Mereka sudah berapa hari tidak berkomunikasi semenjak keberangkatan kakaknya ke markas.


"Gimana?" tanya Almeera dengan senyum-senyum sendiri.


"Emm, Not Bad lah. Tapi sering kangen," sahut sahabat Almeera yang tak lain adalah Zelia.


"Tapi Kakak sering hubungi kamu, 'kan?" tanya Almeera yang penasaran.


"Iya. Dia masih hubungi aku. Meski gak tiap hari juga." 


Almeera mengangguk. Dia sangat amat paham apa yang dirasakan sahabatnya itu. Karena memang bukan hanya Zelia saja. Almeera dulu juga begitu.


Ia sering menelpon kakaknya, Jimmy. Namun, pria itu jarang sekali mengangkatnya. Jika dirinya mengirim pesan pun, tak jarang langsung dibalas. Terkadang bisa sehari kemudian atau dua hari kemudian baru di balas.


"Sabar yah. Percayalah! Kakakku pasti setia padamu," kata Almeera meyakinkan sahabatnya.


"Aamiin, Ra. Aku sudah menambatkan hatiku untuknya. Jika dia berani berkhianat, mungkin aku sudah pasrah dengan kehidupanku." 


Apa yang dikatakan Zelia memang benar. Dia menaruh harapan besar pada Jimmy. Perempuan itu benar-benar percaya pada kekasihnya yang sedang bekerja. 


Dia yakin jika Jimmy adalah tipe yang setia. Pria itu tak mungkin menyakitinya karena pemikiran Jimmy jauh lebih dewasa daripada dirinya. 


"Jangan katakan hal seperti itu!" seru Almeera menggeleng. "Pasrahkan semuanya pada Tuhan. Jika kalian berjodoh, pasti akan lancar sampai ke ikatan halal." 


Zelia mengangguk. "Kemana Adeeva, Ra? Kenapa dia tak bisa dihubungi?" 


Almeera akhirnya mencoba lagi. Sejak tadi memang keduanya sudah saling video call. Namun, ini adalah panggilan ke lima kalinya yang tak mendapatkan jawaban dari sahabatnya.


"Tetap. Apa dia bekerja?" tanya Zelia penuh khawatir.


"Gak mungkin. Semalam ini dia pasti sudah selesai."


Almeera yang sangat mengenal sahabatnya mulai menebak-nebak. Tak mau dilanda rasa penasaran. Akhirnya dia meminjam ponsel milik suaminya dan mengirimkan pesan pada kakaknya, Jonathan.


Entah kenapa perasaan dua sahabat itu sama-sama khawatir pada Adeeva. Seakan ikatan batin antara mereka sama-sama kuat. 


"Bagaimana?"


"Adeeva sudah pulang duluan tadi. Kakakku menyuruhnya pulang karena dia tak fokus bekerja," ujar Almeera menunjukkan chatnya.


"Tapi kenapa gak diangkat?" seru Zelia bingung. "Apa dia sudah tidur?" 


"Mungkin." 


Saat Almeera terlalu fokus pada ponselnya. Tiba-tiba sebuah elusan di pahanya membuat wanita itu menoleh.


Disana, dia melihat suaminya yang mulai menidurkan kepalanya di atas pangkuan Almeera. Bara memang menyingkirkan bantal dan menggantinya dengan kepalanya.


Kemudian dengan pelan, pria itu menyingkap sedikit baju sang istri hingga menampakkan area kulit perutnya yang halus.


Tubuh Almeera merinding. Dia bahkan sampai kesusahan menelan ludahnya saat merasakan sebuah kecupan mendarat di perutnya. Belum lagi, Bara mulai menjulurkan lidahnya dan menyapu area perut itu sampai basah.


"Mas!" ancam Almeera tanpa suara. 


"Ra...Ra!" seru Zelia saat melihat sahabatnya tak fokus.


"Hah, yah?" Almeera tersentak kaget. 


Dia memaksakan senyum berusaha menutupi ketegangannya.


"Kamu sampai kapan di Malang?" 


"Gak tau juga. Emm…" Almeera mulai tak fokus.


"Sepuluh hari. Ya mungkin sepuluh hari," jawab Almeera sambil mengangguk.


Jantung Almeera berdegup kencang. Apalagi ketika tangan itu mulai menarik segitiga miliknya hingga dengan pasrah Meera mengangkat sedikit tubuhnya agar segitiga itu bisa lolos dari dirinya.


"Kamu jalan kemana saja? Malang recomended, 'gak? Kalau rekom, aku mau kesana," kata Zelia dengan antusias.


"Ya. Emm disini…" jeda Almeera dengan mata terbelalak.


Dirinya terkejut bukan main saat tangan Bara tiba-tiba masuk. Hal itu membuat tubuhnya gelisah dan memanas.


"Kenapa, Ra? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Zelia menatap sahabatnya curiga.


"Emmm udah dulu yah. Aku mules banget sekarang. Nanti aku hubungi, bye!" 


Almeera melempar ponselnya ke bagian sisi ranjang yang lain. Dia melihat Bara yang tengah mengorek sisi lembah miliknya dengan menggunakan jari dan lidahnya serta tersenyum genit.


"Bisa-bisanya kamu, Mas. Kalau Zelia lihat bagaimana?" 


"Kamu gak bakal kasih izin siapapun liat aku." 


"Jelas!" seru Almeera sambil memejamkan matanya. "Tubuhmu ini punya aku." 


"Iya, Sayang. Ini punyamu." Bara mulai beranjak.


Dia mengusap bibirnya dengan lidahnya sendiri. Setelah itu, Bara segera menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang dan membiarkan Almeera mulai bergerak di atasnya.


"Bergeraklah, Sayang! Aku ingin menyirami lembahku lagi dengan calon anak-anak kita."


Almeera tertawa. Dia memagut bibir suaminya dengan mesra sambil menggerakkan miliknya menggoda suaminya dengan hanya bergerak di atasnya.


Bara menggeram. Hal seperti ini selalu membuatnya menyerah.


"Masukkan, Sayang!" .


"Apanya yang dimasukkan?" goda Almeera dengan tersenyum genit.  


"Nagaku!" 


Bersamaan dengan jawaban Bara. Almeera mulai memasukkan naga hebat itu ke dalam lembah nikmat miliknya. Suatu sensasi yang sangat amat panas mulai terasa di antara keduanya.


Baik Bara dan Meera mulai saling bergerak. Keduanya sama-sama mencari puncak nirwana kenikmatan dengan saling berusaha mengejarnya.


Melihat istrinya mulai kelelahan. Bara mulai mengangkat tubuh Almeera dan membaringkannya. Hal itu tentu tanpa melakukan pelepasan di antara penyatuan mereka.


Bara benar-benar ahli jika sudah menyenangkan istrinya. Almeera juga begitu. Dia selalu belajar dan belajar variasi yang bisa membuat ranjang keduanya terasa lebih muda meski umur pernikahan mereka sudah tua.


Percayalah!


Badai yang kemarin sempat menerpa. Membuat Almeera dan Bara jauh lebih panas kali ini. Keduanya akan saling berusaha untuk memuaskan satu dengan yang lain, agar kejadian seperti kemarin tak akan terulang. 


Apalagi mereka juga tak bisa dilepaskan lagi. Baik Bara pun, dia kan mengajak istrinya kemanapun jika ada pekerjaan di luar kota. Begitu pula sebaliknya. Almeera selalu mau diajak kemanapun oleh suaminya.


"Mas Bara!"


"Meera!" 


Keduanya memanggil nama pasangan mereka. Tubuh mereka menegang dengan bersamaan keluarnya calon anak-anak mereka di dalam tempat yang semestinya.


Nafas keduanya terengah-engah. Bara belum mau beranjak dari atas tubuh istrinya dan melepaskan penyatuan mereka. 


Pria itu menghapus keringat yang ada di dahi istrinya. Lalu menjatuhkan kecupannya dengan lembut. 


"Kamu selalu terpanas," bisik Bara yang membuat pipi Almeera memanas. 


"Mas!" 


"Semoga disini," jeda Bara mengelus perut istrinya. "Segera tumbuh anak-anak kita." 


~Bersambung


Aamiin. Semoga cepet hamilun Mbak Meera yah, hahaha


Biar tim Bara Meera banyak, hehe.


BTW yang cari pasangan Syakir dan Humaira. Pasti rilis di NT yah. Tunggu HTS selesai karena novel "Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova" bakalan aku ikutin event juga.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.