Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Panas Yang Tertunda



...Kebahagiaan anak adalah satu hal yang membuat seluruh lelah di hati orang tua terhempas....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Bara kembali menyerang istrinya. Namun, yang sekarang dia lebih menuntut. Ciuman mereka semakin membuat keduanya panas bukan main. Suasana yang diciptakan oleh Bara membuat tubuh Almeera tak setegang tadi. 


Tangan lihai Bara mulai bergerak. Mengelus bongkahan daging mulus itu yang membuat tubuh Almeera menggeliat tak karuan. Apalagi paha adalah salah satu area sensitif wanita itu yang membuat ibu dua anak itu semakin tak bisa menolak pemanasan ini. 


Tangan Bara terus merayap. Menuju area terlarang yang sudah sangat lembab dan hangat. Suami Almeera itu bahkan dengan lihainya mulai menyelip dan mengelus area basah yang sangat dirindukan.


Ciuman itu terlepas. Almeera bahkan semakin mencengkram sprei ranjang saat jari Bara masuk dan menembus pertahanannya. 


"Mas!" jeritnya tertahan. 


Mata Almeera terbuka lebar. Dia menatap Bara yang menyeringai dengan tangan mulai digerakkan lebih masuk.


Sejak dulu Almeera tak pernah meragukan kelihaian Bara. Suaminya itu selalu bisa membuatnya bertekuk lutut dengan suasana yang diciptakan. 


"Jangan berhenti!" pinta Almeera saat tubuhnya mulai menegang kembali. 


Kali ini bukan karena takut. Melainkan Almeera hendak mencapai puncak kenikmatan yang membuat dirinya ingin meledak dengan hebat.


"Ya disitu, Mas!" 


"Sesuai permintaanmu, Sayang." Setelah mengatakan itu, Bara mendekatkan kepalanya di dada Almeera.


Pakaian istrinya itu sudah terkoyak. Tangan Bara tak berhenti membuat Almeera melayang. Dirinya benar-benar menyerang dua titik lemah Almeera secara langsung. 


Hingga akhirnya, ledakan itu tak bisa dielakkan lagi. Tubuh Almeera melengkung ke atas dengan diiringi jeritan indah yang membuat Bara tersenyum puas.


Akhirnya istrinya itu bisa merasakan keindahan hangatnya mereka lagi. Akhirnya istrinya itu mampu melewati ketakutannya sendiri. Yang membuat Bara benar-benar bersyukur.


Nafas Almeera terengah-engah. Bahkan dadanya sampai naik turun saat cairan itu terasa merembes keluar sangat banyak. 


"Bagaimana, Sayang?" bisik Bara di telinga istrinya. 


"Ini luar biasa, Mas," sahutnya dengan pipi bersemu merah.


Bara tersenyum lebar. Dia memberikan kecupan ringan di pipi Meera lalu menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh sang istri. 


Hal itu tentu membuat Almeera terkejut. Dia segera memiringkan tubuhnya dan menjangkau wajah suaminya.


"Apa Mas tak mau?" tanya Almeera dengan nada begitu sedih.


Spontan Bara menggeleng. Dia mengusap punggung Almeera dengan pelan. 


"Malam ini cukup seperti itu, Sayang," kata Bara menatap wajah Almeera.


"Kenapa?" tanya Almeera menuntut. 


"Karena waktu kita masih banyak," ujar Bara dan mengelus kepala Almeera. "Tubuh kamu butuh penyesuaian, Sayang. Mas tadi bisa merasakan bagaimana tegangnya kamu."


Almeera menunduk. Dia menjatuhkan kepalanya di dada Bara hingga membuatnya bisa merasakan degupan jantung suaminya itu. 


"Jangan khawatir. Aku bisa menahannya sedikit lagi, Sayang." 


"Aku percaya padamu, Mas."


Bibir Bara melengkung ke atas. Dia sangat bahagia malam ini. Mampu membantu istrinya melewati traumanya itu. Namun, kembali lagi ia tak mau terburu-buru. Biarlah ia menunggu sampai minggu depan.


Sampai istrinya benar-benar siap dan mampu membuat mereka sama-sama senang ketika saling memanjakan.


...🌴🌴🌴...


Keesokan harinya, sebuah langkah kaki terlihat memasuki kamar orang tuanya. Dia melihat mama dan papanya saling memeluk yang membuat mata anak itu menatap berbinar.


Bia, bocah itu segera menaiki ranjang Almeera dan Bara. Lalu segera menyelinap di antara mereka yang membuat Almeera mulai terganggu tidurnya.


Ibu dua anak itu tentu lekas membuka matanya.


"Selamat pagi, Mama," bisiknya pelan takut membangunkan Bara.


Wajah bantal Almeera begitu terlihat. Namun, ucapan selamat pagi dari putrinya membuat wanita itu tersenyum bahagia. 


"Pagi, Sayang," balas Almeera lalu memeluk putrinya itu. "Kenapa pagi-pagi sudah bangun?" 


"Ini sudah siang, Ma," ujar Bia yang membuat Almeera membuka matanya lebar.


Dia mengedarkan pandangannya sampai baru menyadari jika di luar sudah sangat terang. Matanya menoleh, dia menatap jam dinding yang ada di sudut kamarnya. 


Ternyata tidur di pelukan Bara membuatnya sangat lelap. Apalagi momen semalam membuat keduanya benar-benar melepas segala masalah yang pernah hadir di hati mereka.


Keduanya sudah bertekad memulai semuanya sejak hari ini. Melupakan segala hal dan merajut mimpi-mimpi mereka lagi. 


"Kenapa gak bangunin Mama mulai tadi?" tanya Almeera menjatuhkan kepalanya di atas bantal dengan lelah.


Mau bagaimana lagi. Waktu sudah beranjak siang. Mengganggu suaminya agar ke kantor juga tak mungkin. 


"Kata Kakek sama Nenek, Bia gak boleh kesini karena Mama sama Papa pasti capek abis bikin adik buat Bia." 


"Astaga!" Bia menepuk keningnya.


Dia tak percaya jika orang tuanya meracuni kepala putrinya ini.


"Emang bikin adik buat Bia, susah ya, Ma? Sampai-sampai Mama sama Papa bangun siang?" 


Anak itu menatap polos ke arah mamanya. Anak seumuran dengan Bia, adalah masa-masa mereka sangat aktif bertanya sampai tuntas.


"Hmm itu." Almeera menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Dia bingung harus menjawab apa tentang putrinya. Tak mungkin kan ia menjelaskan hal gila itu yang membuat pikiran Bia teracuni.


"Selamat pagi, Princess," kata Bara yang berniat mengalihkan perhatian anaknya.


Bara tentu merasa terusik tidurnya saat mendengar suara anaknya yang membuat ia terbangun. Namun, ia pura-pura tidur untuk mendengar apa yang dibicarakan oleh istri dan anaknya. 


Hingga pertanyaan yang muncul di bibir Bia membuat pria itu tentu tahu betul jika istrinya kebingungan. 


"Papa," ujar Bia senang lalu membalikkan tubuhnya.


Anak itu memeluk tubuh papanya yang langsung dibalas oleh Bara dengan sayang.


"Udah mandi?" 


"Belum," sahut Bia menatap papanya. 


"Kenapa belum mandi? Katanya sudah siang," ujar Bara yang membuat anak keduanya itu duduk.


"Sebenarnya Bia datang kesini itu…" jedanya yang membuat Bara tersenyum.


Dia sangat tahu betul sikap anak keduanya ini. Bia adalah anak yang tak mudah masuk kamar orang tua sebelum pamit. Kecuali jika memang ada sesuatu yang diinginkan membuat anak itu bisa masuk dengan berani.


"Kenapa?" tanya Bara mendudukkan Bia di atas perutnya. "Cerita sama Papa dan Mama. Bia mau apa?" 


Almeera menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Dia menunggu apa yang diminta putrinya itu kali ini 


"Tapi Papa jangan marah yah?"


"Papa gak bakal marah, Nak," kata Bara dengan yakin. "Katakan!"


"Bia pengen berenang sama Mama, Papa dan Abang," ujar anak lima tahun itu dengan takut-takut. 


Kepalanya menunduk. Bia benar-benar merindukan momen berenang bersama keluarganya. Kejadian yang terjadi membuat anak itu sudah lama sekali vakum dari dunia air.


"Jadi Bia pengen renang yah." 


"Iya, Papa," sahutnya dengan antusias.


"Baiklah. Ayo kita berenang!" 


Bia menggeleng. Hal itu tentu membuat dua orang itu saling menatap dengan bingung.


"Apalagi, Nak?" 


"Bia gak mau berenang disini."


Jika seperti ini. Bara mengerti apa yang dimaksud anaknya itu. Dia yakin apa yang ada dalam pikirannya sama dengan putrinya.


"Baiklah. Ayo kita liburan ke Jogja dan berenang disana!" 


"Yey!" Bia meloncat bahagia.


Anak itu benar-benar senang papanya selalu peka padanya.


"Lets Go!" 


~Bersambung


Panas-panasnya terpotong deh, haha. Belum waktunya woy. Kaburrr.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.