Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Kencan Setelah Menikah



...Berjalan bersamamu dan saling bergandengan tangan membuatku selalu merasa nyaman dan tenang....


...~Adeeva Khumairah...


...🌴🌴🌴...


"Sayang. Ayo!" seru Reno sudah kesekian kalinya.


Pria itu memijat pelipisnya tatkala dia sudah menunggu terlalu lama tapi istrinya tak kunjung datang. Reno benar-benar tak menyangka jika perkataan sahabat sekaligus bosnya itu memang benar. Jika perempuan akan terlalu lama hanya untuk berdandan.


Pria itu bahkan sampai menyandarkan punggungnya di sofa dengan lesu. Dia benar-benar tak menyangka bila Adeeva bisa seperti wanita lain. Tak tahan, Reno akhirnya mulai beranjak berdiri.


Tatkala dia mulai mendongak dan siap berjalan. Dari tangga muncullah sosok istrinya. 


Mata Reno tak berkedip sedikitpun. Adeeva benar-benar terlihat sangat amat luas biasa. Memakai pakaian yang diberikan oleh Reno untuk lamaran sekaligus sepatu dan tasnya juga.


"Terima kasih, Ayank. Bajunya, tasnya, sepatunya benar-benar bagus. Style aku banget," ucap Adeeva menyadarkan Reno dari lamunannya.


"Cantik," ucap Reno langsung menatap istrinya.


Pipi Adeeva bersemu merah. Dia memukul pelan lengan suaminya lalu segera melingkarkan tangannya di lengan Reno.


"Ayo berangkat!" ajak Adeeva tapi Reno tak beranjak.


"Ayo, Ayank!" 


"Beri aku satu ciuman lalu kita berangkat kencan," bujuk Reno sambil menunjuk bibirnya.


Adeeva mencebik tapi dia tak menolak. Daripada rencana mereka batal maka lebih baik Adeeva saja yang mengalah. Akhirnya gadis itu segera mencium bibir Reno setelah memastikan tak ada siapapun disana. 


"Gitu dong, Istri Cantikku," ujar Reno lalu melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


Akhirnya mereka segera memasuki mobil Reno. Lalu pria itu menghidupkan mesinnya dan segera meninggalkan rumah. 


Jalanan Jakarta sore hari terlihat lumayan ramai. Adeeva menatap luar mobil dengan melihat barisan banyaknya warung dan pedagang kaki lima yang begitu menggiurkan.


Jangan lupakan!


Almeera, Adeeva dan Zelia adalah tiga sahabat yang selalu makan apapun. Tak memandang itu warung ataupun cafe. Mereka makan dimana yang mereka anggap enak.


Apalagi jika mendengar kata diskon atau promo, ohh tiga orang ini adalah ratunya. Adeeva dan Almeera memang terlahir dari keluarga kaya. Sedangkan Adeeva, setelah bekerja ini hidupnya lebih terjamin. Namun, apa yang mereka punya sekarang, tak membuat Adeeva, Almeera maupun Zelia lupa diri.


Mereka tak pernah memilih makanan. Apalagi memilih tempat. Dimana langganan mereka pasti ketiganya akan datang kembali.


"Kita mau kemana, Sayang?" tanya Reno sambil fokus menyetir. 


"Terserah kamu, Mas. Aku ngikut kamu saja," sahut Adeeva pasrah.


Reno akhirnya tak bertanya lagi. Jika sudah begini berarti istrinya pasrah mau diajak kemanapun. Toh memang sore ini, yang mengajak keluar adalah Reno. Pria itu ingin menghabiskan waktu mereka berdua saja.


"Loh, ngapain kita kesini, Mas?" tanya Adeeva saat kendaraan Reno mulai memasuki pelataran hotel.


Wanita itu menatap suaminya yang dengan lihainya memarkirkan mobil di tempat ini. Dia benar-benar bingung dengan tingkah pria itu.


"Malam ini kita akan menginap di hotel," kata Reno yang membuat Adeeva membulatkan matanya.


"Hah? Terus Ibu bagaimana?" tanya Adeeva dengan bingung.


"Aku udah pamit ke Ibu dan bilang kita mau bikinin Ibu cucu yang banyak," ujar Reno dengan santai.


"Apa!" 


Saat Adeeva hendak mengajak suaminya berdebat. Reno sudah lebih dulu turun dan membuat wanita itu mau tak mau ikut turun juga. Dia segera mengikuti langkah suaminya yang sedang membuka bagasi belakang.


"Ya Tuhan!" Almeera menatap terkejut. "Kamu kapan beresin semua ini?" 


"Tadi, Sayang. Waktu kamu keluar sama temen-temen kamu." 


Dia yakin bisa menikmati Jakarta dari balkon hotel kamarnya. 


"Ah sejuk sekali," gumam Adeeva setelah membuka pembatas balkon dengan kamar.


Wanita itu merentangkan kedua tangannya dan memejamkan mata. Hingga tak lama sebuah lilitan tangan dari belakang membuat Adeeva tersenyum.


"Terima kasih kejutannya, Ayank," ujar Adeeva dengan tulus. "Kamu yang terbaik." 


"Tapi ini semua tak gratis," bisik Reno lalu menjilat tengkuk Adeeva yang membuat gadis itu merinding. 


"Ayank!" 


"Nanti malam kamu siapkan rawa-rawamu ini, Sayang," bisik Reno sambil mengelus segitigas Adeeva.


Bukannya malu, perempuan itu malah semakin melebarkan kakinya mempermudah Reno memasukkan tangannya ke dalam segitiga dan mengelus rawa-rawanya secara langsung.


"Aww, Sayang!" pekik Adeeva terkejut saat dua jari Reno masuk ke dalam rawanya.


"Aku sudah sangat ingin menggeluti ini tapi aku yakin kamu masih capek," kata Reno dengan penuh perhatian. "Lebih baik kita jalan-jalan saja, Sayang. Nanti aku akan lanjutkan!" 


...🌴🌴🌴...


Tangan itu saling bergenggaman tangan saat mereka menghabiskan malam di jalanan. Sejak tadi bibir keduanya tak habis itu mengunyah. Semua penjual kaki lima ataupun angkringan menjadi tempat pemberhentian keduanya. 


"Kesana yuk!" ajak Adeeva menarik lengan suaminya. 


Mata wanita itu berbinar saat melihat penjual pentol bakar di pinggir jalan. Reno benar-benar bangga dan takjub pada istrinya itu. Sebenarnya gaji keduanya bisa dibuat membeli di restoran mewah. Namun, lihatlah bagaimana Adeeva aslinya!


Perempuan itu benar-benar hanya memakan di penjual pinggiran jalan. Bahkan harga yang sangat amat murah meriah dan semakin membuat Reno geleng-geleng kepala.


"Bang, mau sepuluh ribu yah!" kata Adeeva kepada abang penjual.


"Siap, Neng. Duduk aja dulu sambil nungguin," kata Abang Penjual dengan ramah.


Setelah keduanya duduk dibawah. Reno terus menatap Adeeva dengan lekat yang hal itu tentu membuatnya penasaran.


"Kenapa lihatin aku kayak gitu?" tanya Adeeva menatap sang suami.


"Kamu adalah wanita pertama yang kukenal dan sangat sederhana," kata Reno penuh cinta. "Uang kita dibuat beli ke restoran mahal, gak bakal habis, Sayang. Tapi ini…! 


"Memangnya kenapa kalau kita punya uang banyak, hmm?" balas Adeeva dengan apa adanya. "Makan di pinggiran ini aman kok, Sayang. Gak bakal sakit perut!" 


"Aku tau, Sayang," sahut Reno dengan cepat. "Tapi aku cuma pengen kamu makan enak di balik hasil gajian kamu." 


Adeeva tersenyum. Dia mengusap pipi Reno lalu mendekatkan bibirnya di telinga sang suami. 


"Kita bakalan makan enak kalau aku sudah hamil." 


Mata Reno membulat. Dia menatap istrinya tak percaya. Pemikiran wanita itu tentu membuatnya tak bisa menebak. Adeeva benar-benar wanita yang mampu membuat suaminya bahagia.


"Itu nunggu lama, Sayang. Aku maunya sekarang!" ajak Reno dengan cepat.


Adeeva menggeleng. Dia akhirnya mencuri satu ciuman di pipi Reno agar pria itu mulai tenang.


"Apa sudah cukup untuk membuatmu menurut padaku?" tanya Adeeva dengan kedipan manjah.


Reno melebarkan senyumannya. Dia tersenyum jahil saat ide terlintas di kepalanya. Pria itu perlahan mendekati Adeeva dan duduk di sampingnya.


"Aku akan diam setelah menjilat rawa-rawa manismu itu, Cintah!" 


~Bersambung


Ah Kabor. Rawa-rawa manis yuhuu haha.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author aemangat ngetiknya.