Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Kecupan Mesra Jimmy



...Pertama kali mencoba membuka hati. Ternyata aku harus menerima takdir bahwa hubungan jarak jauh yang akan kita lalui setelah ini....


...~Azzelia Qaireen...


...🌴🌴🌴...


Saat enam orang itu baru keluar dari bioskop. Wajah-wajah puas terlihat begitu kentara. Bahkan di antara mereka, dua anak itu saling menceritakan kehebatan aksi-aksi Tom Holland yang sangat luar biasa.


Tak ada raut wajah takut apapun dalam diri Bia. Anak itu memang sangat menyukai alur dan genre cerita dari film seperti spiderman dan marvel. Ditambah papa dan abangnya pecinta, Tom Holland dan Tony Stark tentu membuatnya semakin ada kawan untuk menonton. 


"Mama, Bia lapar," katanya dengan mengelus perutnya. 


Almeera mengangguk. Dia segera menepuk pundak sang suami yang sedang mengobrol dengan kakaknya.


"Ada apa?" tanya Bara mendekati istri dan anaknya. 


"Bia lapar, Mas," kata Almeera menunjuk anaknya yang sudah memelas.


"Ah putri Papa. Lapar, 'yah?" tanya Bara dengan lembut. 


"Iya, Papa."


"Ayo kita cari makan!" ajak Bara lalu menggandeng tangan anaknya.


Mereka segera berjalan menuju lantai dimana tempat makanan berada. Mata mereka saling memandang jeli melihat makanan dan minuman apa yang ingin disantapnya.


"Nasi goreng aja, Ma," kata Bia dengan antusias.


"Oke." 


Zelia yang mendengar permintaan anak sahabatnya hanya mampu tertawa. Ternyata kesukaan mama dan anak bisa menurun. Kebiasaan dirinya dan Almeera yang sangat doyan nasi goreng, diikuti oleh Bia si bocil cantik.


"Apa Bia suka nasi goreng?" tanya Zelia saat mereka sudah duduk tenang di salah satu resto yang ada di mall.


"Suka banget, Tante. Kalau Tante?" 


"Sama. Nasi goreng itu makanan favorit Tante sama Mama kamu," ujar Zelia menjelaskan.


"Serius?" tanya Bia menatap Zelia tak percaya.


"Iya. Kemanapun Tante sama Mama kamu main. Pasti makannya ya nasi goreng," ucap Zelia yang membuat Almeera mengangguk sambil terkekeh.


Tak khayal dua orang itu disebut manusia nasi goreng. Entah dulu ketika sekolah, kuliah ataupun main. Baik itu bekal ataupun apapun pasti yang dibawa ya nasi goreng.


"Minum apa?" tanya Jimmy saat pelayan mendekat. 


"Es jeruk," sahut Zelia dan Almeera bebarengan.


Dua wanita itu geleng-geleng kepala. Kebiasaan mereka masih tetap sama. Bahkan tak ada kata membosankan jika sudah berhadapan dengan makanan dan minuman sederhana ini.


"Kapan Kakak balik ke markas?" tanya Bara pada kaki iparnya.


"Sepertinya lusa," sahut Jimmy dengan santai.


Namun, berbeda dengan wanita yang duduk di hadapannya. Matanya membulat penuh. Menatap sang kekasih tak percaya. 


Apa katanya, lusa?


Itu pertanda bahwa mereka akan LDR an setelah ini!


"Kenapa Kak Jim tak bilang?" tanya Zelia dengan pandangan sendu.


Spontan Jimmy menoleh. Dia melupakan dirinya yang sudah memiliki kekasih. Berita penting ini dia dapatkan sebelum menembak Zelia hingga hal ini lupa ia sampaikan.


"Maaf. Aku baru saja mengingatnya," kata Jimmy tak peka.


Zelia menunduk. Dia menarik nafasnya begitu dalam untuk menahan air mata yang ingin turun. Dadanya kembang kempis saat dirinya mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya akan pergi tugas.


Sebuah usapan lembut di lengannya membuat Zelia lekas menepis air mata yang mengalir. 


"Hmm?" gumam Zelia melirik sahabatnya.


"Konsekuensi menjadi kekasih kakakku ya itu. Kamu harus siap ditinggal," lirih Almeera yang semakin membuat hati Zelia tersentil.


Perempuan itu hampir melupakan kenyataan ini. Kenyataan bahwa ia bukan berhubungan dengan pria biasa. Melainkan berpacaran dengan seorang agen. Dirinya harus dituntut siap ketika sang kekasih hilang tanpa kabar.


Zelia mengangguk. Bagaimanapun dirinya. Siap tak siap, dia sudah menjatuhkan hatinya pada seorang Jimmy Harrison. Pria yang tak mudah ditebak dan memiliki sikap cuek sekaligus dingin. Pria yang tak romantis tapi menunjukkan perhatian dengan caranya sendiri. 


"Aku harus siap, bukan?" tanya Zelia menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca.


Untung saja Bia dan Abraham sedang sibuk dengan ipadnya. Jadi keduanya tak mendengar dan abai akan percakapan para orang dewasa. 


"Ya," sahut Almeera dengan ikut merasakan sedih.


Sebagai adik dari Jimmy saja. Dia sering menahan rindu pada kakak keduanya. Kakaknya yang lebih memilih hidup di luar dan jauh dari keluarga, membuat Almeera selalu menahan rasa rindunya. 


Dia juga sangat kesulitan menghubungi Jimmy jika sudah bertugas. Hal itu yang membuatnya sangat memahami sahabatnya, Zelia.


Pasti perempuan itu sedang mencoba bersabar. Menerima takdir bahwa dia akan menjalani hubungan jarak jauh. Rasa percaya dan komunikasi merekalah yang menjadi kunci hubungan keduanya. 


Akhirnya mereka makan dalam diam. Zelia seperti tak kuasa untuk menyuap nasi itu ke dalam perutnya. Hatinya sedang kalut dan dirinya merasa belum siap.


Namun, tak mau memgecewakan mereka semua. Akhirnya dengan sulit Zelia menghabiskan makanan itu meski terkesan memaksa.


"Baiklah. Kita berpisah disini, Kak," kata Bara saat mereka sudah ada di area parkir mall.


Mereka mengangguk. Bia tak lupa melambaikan tangannya saat keduanya masuk ke dalam mobil masing-masing. 


...🌴🌴🌴...


Tak ada pembicaraan apapun di dalam mobil. Zelia hanya menatap ke jalan raya. Pandangannya kosong seakan dirinya sedang memikirkan sesuatu yang berat.


Baru kali ini ia mencoba jatuh cinta, membuka hati lalu menerima seseorang. Kenapa langsung diberikan sosok yang bagai tak kasat mata?


LDR untuk kaum pemula memang menakutkan. Hubungan jarak jauh tak semudah orang mengatakan mudah. Membutuhkan rasa percaya diri yang tinggi. Kepercayaan antar pasangan yang kuat. Serta komunikasi yang harus terjaga.


"Lia," panggil Jimmy yang membuyarkan lamunannya.


Zelia menoleh dengan ekspresi yang tak mudah terbaca.


"Kenapa?" 


Masih tanya kenapa? Aku takut ditinggal olehmu, jeritnya dalam hati. 


"Gapapa." 


Zelia kembali berpaling. Dirinya benar-benar tak memiliki semangat untuk berbicara. Seakan apa yang ia dengar tentang kepergian kekasihnya, membuat bahagia yang baru saja diraih langsung terhempas.


Saat mobil Jimmy mulai memasuki pelataran rumah Zelia. Gadis itu segera membuka seat belt. Dia meraih tas miliknya. Namun, saat dirinya hendak keluar. Sebuah tarikan ditangannya membuat ia menoleh.


"Apa?" tanya Zelia dengan lemah.


"Katakan apa yang salah padaku?" kata Jimmy menatap kekasihnya.


Wajah pria itu ya seperti biasa. Datar dengan suaranya yang dingin. Benar-benar pria tidak peka bukan?


"Gapapa." 


"Sayang," panggil Jimmy dengan lembut.


"Aku baik-baik aja. Cuma capek," kata Zelia berkilah. "Lepaskan tanganku. Pulanglah, dan aku akan istirahat." 


Jimmy masih diam. Dia membiarkan kekasihnya mengatakan apapun. Yang membuat hatinya tercubit saat Zelia menangis.


Seakan dia merasa seperti laki-laki brengsek, yang membuat perempuannya menangis karena dia. 


"Lepaskan…" 


Cup.


Mata Zelia membulat penuh. Saat dirinya merasakan benda kenyal menempel di pipinya dengan lembut. Nafasnya begitu sesak seakan oksigen di sana mulai menipis.


"Maaf." 


~Bersambung


Aaaa, jantungku gak kuat, Bang. Hiks makin ngadi-ngadi tingkah Jimmy.


Gigit bantal doang gue, Bang!


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.