
...Aku memang membutuhkan kepastian. Namun, aku tak akan memaksa jika kamu tak bisa memberikannya....
...~Zelia Qaireen...
...🌴🌴🌴...
"Ada apa, Kak?" tanya Zelia yang melihat perubahan dalam diri kekasihnya. "Kenapa Kak Jim banyak diam?"Â
Sosok yang dipanggil namanya tentu lekas menoleh. Dia menatap penuh lekat ke arah sang kekasih di depannya ini. Perempuan pertama yang mampu membuat jantungnya berdetak kencang.
Perempuan pertama yang mampu membuatnya merasakan jatuh cinta. Pertemuan pertama yang sikapnya sangat jauh darinya tapi bisa mendobrak hati yang mati menjadi hangat.
"Kenapa?" tanya Zelia dengan suara lebih rendah.
Perempuan itu menggenggam tangan Jimmy. Menyalurkan kehangatan dalam dirinya dengan tak lupa memberikan pancaran senyuman penuh ketulusan.
Bisa Jimmy lihat tak ada yang berubah dalam diri kekasihnya. Walau kemarin ia sempat hilang. Namun, tatapan penuh cinta dari mata Zelia sangat terlihat jelas.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Jimmy pelan dengan jantung yang berdebar kencang.
"Ya. Aku mencintai, Kakak," sahut Zelia tanpa ragu.
"Jika kamu dijodohkan oleh pria lain. Apa kamu menerimanya?"Â
"Maksudnya?" tanya Zelia dengan kening berkerut.Â
"Jika Mama dan Papa menjodohkan kamu dengan pria lain. Apa kamu setuju?" tanya Jimmy dengan perasaan campur aduk.Â
"Nggak," sahut Zelia tanpa ragu.Â
"Kenapa?"Â
"Karena aku sudah memiliki kekasih," ujar Zelia apa adanya. "Lalu untuk apa aku menerima pinangan pria lain jika pinangan yang kutunggu hanya dari, Kak Jim."Â
Entah kenapa walau jawaban Zelia membuatnya senang. Ada perasaan takut dalam dirinya. Perkataan Mama Zelia terus terngiang di kepalanya.
Jimmy masih mengingat pembicaraan mereka tadi yang hanya empat mata. Pembicaraan antara seorang ibu yang menuntut kepastian anaknya sendiri.
"Kalau kamu gak bisa kasih kepastian pada Zelia. Berikan dia kejelasan hubungan, Nak. Tinggalkan putri Mama agar dia bisa menikah dengan pria lain."Â
"Tapi Jimmy sangat mencintai Lia, Ma," ujar Jimmy dengan tatapan serius.
"Cinta saja tak cukup dalam sebuah hubungan. Bagaimanapun hubungan yang terjadi di antara kalian belum sah dan masih bisa dipisahkan."Â
Ucapan Mama Zelia yang baru saja terdengar mampu mengusik hatinya. Dia merasa tertusuk hatinya seakan ketakutannya mulai terlihat.Â
"Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku, Ma. Mama tau sendiri bagaimana pekerjaanku yang sangat berbahaya. Aku tak mau suatu saat nanti, Zelia dan anak-anakku dalam bahaya."Â
Menjadi seorang agen rahasia memang sebuah tanggung jawab besar. Namanya yang dirahasiakan tak menutup kemungkinan para musuh akan mencari identitas mereka dengan cepat.Â
Untuk para penjahat kelas kakap atau musuh negara mencari identitas seperti agen rahasia mampu dibobol dengan mudah menggunakan uang. Hal itulah yang menjadi ketakutan dalam diri Jimmy selama ini.Â
Alasan ia tak pernah pulang ke rumahnya dalam waktu yang lama. Jarang menghidupkan ponsel yang ia bawa karena takut keberadaan keluarga yang sangat dia cintai akan terusik.
Semua yang ia lakukan demi keselamatan orang yang sangat ia sayangi!
"Mama tau, Nak. Maka dari itu, tolong berikan kepastian pada Zelia. Dia sudah tak lagi muda. Umur Mama juga sudah tak bertahan lama. Mama hanya ingin melihat Zelia menikah sebelum Mama meninggal."Â
"Sayang!" panggil Zelia menyadarkan kekasihnya yang sejak tadi hanya diam.
"Katakan apa yang membuat Kakak resah," pinta Zelia dengan mengusap tangan Jimmy yang ada di genggaman.Â
Zelia tersenyum. Dia tak tahu apa yang membuat kekasihnya resah. Namun, melihat wajah Jimmy saja membuat wanita itu tahu jika ada sesuatu yang mengusik pikiran Jimmy.
Ada sesuatu masalah yang sedang pria itu pikirkan hingga membuatnya sejak tadi hanya diam.
"Kakak gak perlu takut. Selagi Kakak benar-benar bisa menjaga komunikasi kita. Tak lagi menghilang seperti kemarin. Aku yakin bisa mempertahankan hubungan kita berdua," ujar Zelia dengan yakin.Â
"Jika itu paksaan dari orang tuamu sekalipun. Kamu bisa?"Â
Mendengar pertanyaan Jimmy, membuat Zelia bungkam. Jika menyangkut orang tuanya, dia sendiri tak tahu bisa menolaknya atau tidak.
Sejak dulu Zelia selalu patuh dan taat pada orang tuanya. Permintaan apapun selalu ia turuti jika itu menyangkut kebahagiaan mama dan papanya.
Hal utama yang selalu ada dalam list hidupnya sejak dulu adalah menuruti keinginan mama dan papanya. Kebahagiaan mereka selalu membuat hatinya merasa tenang. Zelia juga selalu mengingat jika membahagiakan orang tua maka ia akan mendapatkan kemudahan dalam urusan dunia.
"Lia," ujar Jimmy pelan. "Bagaimana?"Â
"Jika itu, aku tak bisa menjawabnya," jawab Zelia dengan menunduk.Â
"Jadi kamu akan meninggalkanku?"Â
Zelia spontan mendongak. Tatapan keduanya saling bersitatap hingga Zelia bisa melihat kesedihan di mata Jimmy.
"Aku…" Zelia menelan ludahnya paksa.
Matanya berkaca-kaca memikirkan ucapan kekasihnya. Dia berada di ambang kebingungan. Di satu sisi orang tuanya adalah prioritas hidupnya. Namun, disisi lain, hatinya bahagia dengan Jimmy.
Dia mencintai pria ini, bahagia bisa menjalin hubungannya bersama Jimmy dengan keunikan yang pria itu punya. Bahkan pria itulah yang mampu membuatnya jatuh cinta dan menggetarkan hatinya.Â
"Kita bisa berjuang bersama." Akhirnya kata itulah yang keluar dari bibir Zelia. "Kita bisa meyakinkan Mama dan Papa untuk hubungan kita berdua."Â
Jimmy yang semula menunduk perlahan mendongak. Dia menatap kekasihnya dengan serius.Â
"Jadi?"Â
"Ya. Aku akan berusaha menolak siapapun yang mendekatiku, Kak. Aku juga berusaha menolak perjodohan dari Mama dan Papa jika itu benar-benar ada. Tapi, syaratnya…"Â
Zelia masih diam. Dia menatap Jimmy yang sama menunggu jawaban kekasihnya.Â
"Kakak harus bisa menjaga hubungan ini. Jangan pernah mengecewakanku. Terutama mengkhianati hubungan ini."Â
Jimmy mengangguk. Dia sendiri tak memiliki alasan untuk berkhianat. Hubungan Almeera dan Bara membuat cermin untuk dirinya bahwa menyakiti seorang wanita adalah kesalahan yang fatal.
"Aku berusaha dan akan membuktikan bahwa aku tak akan mengkhianatimu, Li," ujar Jimmy dengan yakin.
Bibir Zelia tersenyum. Dia mencium tangan Jimmy pelan dengan perasaan yang mulai tenang. Dia tak ragu jika Jimmy akan mengkhianatinya.
Melihat bagaimana Jimmy yang membantu permasalahan sahabatnya yaitu Almeera. Membuat Zelia yakin jika Jimmy mampu menjaga perasaannya karena tahu perasaan Almeera dulu ketika diduakan.Â
"Aku tak akan memaksa Kakak untuk memberikan kepastian. Aku juga tak akan meminta kita menikah secepatnya," jeda Zelia pelan menatap kekasihnya. "Pernikahan itu bukan paksaan. Aku mau Kakak memberikan kepastian, dengan ikhlas dengan keinginan Kakak sendiri."Â
"Nikah bukan candaan. Nikah juga bukan ajang siapa cepat dia menikah. Tapi menikah itu menunggu kesiapan antara aku dan Kakak. Jadi bila Kakak belum bisa memberikannya, maka aku bisa menebak jika Kakak belum siap menjalin hubungan yang lebih serius di antara kita."Â
~Bersambung
Kalau ada yang gak suka sama ending kisah mereka disini. Aku minta maaf. Ending ini aku buat udah semaksimal mungkin. Aku bakalan lanjut kisah mereka juga di novel baru.
Kalau tanya kapan rilis? Kisah mereka masih aku ajuin ke editor sebelah. Jadi mohon bersabar.
Aku juga mau tamatin novel HTS sampai akhir bulan ini.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.