Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Lebih Baik Aku Mati!



...Tak ada namanya terlambat untuk berubah. Selagi kamu masih bisa bernafas, maka kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik. ...


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Di sebuah rumah, terlihat sebuah keluarga kecil tengah menikmati indahnya langit sore di belakang rumahnya. Mereka tengah duduk tenang di atas karpet yang digelar di taman belakang rumah. 


Wajah bahagia mereka tentu saja terlihat. Bahkan sang ayah dan anak pertama tengah berusaha membuat adik atau anak keduanya kembali ceria.


Tak ayal, ayah dan anak itu bekerja sama dengan berjoget kesana kemari. Bergerak dengan leluasa dan membuat candaan hingga sebuah tawa walau tak lebar terlihat jelas di bibir anak itu.


"Yey berhasil...berhasil," kata Abraham dan Bara bersamaan.


Mereka bertos ria. Lalu segera menghampiri kedua wanita kesayangannya yang sedang menuangkan jus jeruk kedalam gelas dan menyerahkan kepada mereka berdua.


"Terima kasih, Ma," kata Bara dan Abraham bersamaan.


"Sama-sama." 


"Bia mau?" tawar Abraham menyodorkan gelas tersebut.


Anak itu tak menolak. Dia segera mengambil milik sang abang dan menyesapnya secara perlahan. 


Rasa jeruk nan segar dan dingin tentu membuat tenggorokannya terasa sangat segar sekali. Hingga tanpa sadar, kesegaran yang tercipta disana, membuat anak itu tak mau berhenti meminumnya.


"Doyan?" ejek Abraham dengan mengedipkan matanya.


Bia menutup mulutnya karena mengingat dirinya yang sangat kehausan. Bahkan matanya melihat jika air berwarna orange itu sudah tandas setengahnya. Hal itu tentu menjadi pertanda bahwa dia meminumnya lebih banyak.


"Maaf, Bang," ucap Bia dengan pelan. "Bia…"


"Kenapa minta maaf?" tanya Abraham dengan cepat.


Perlahan dia duduk di samping mamanya. Lalu segera mengusap kepala adiknya yang duduk dipangkuan Almeera dengan lembut. 


"Abang ikhlas," sela Abraham dengan cepat. "Toh jus jeruknya memang sangat enak." 


Almeera dan Bara yang melihat saling tersenyum. Pria itu mengambil duduk di belakang sang istri lalu memeluknya dari belakang. Pemandangan sore yang menyejukkan semakin membuat mereka tak mau meninggalkan halaman belakang. 


Keadaan ini tentu membuat mereka menjadi betah. Apalagi keharmonisan yang dulunya hilang bisa kembali mereka rasakan. Suatu hal yang sangat luar biasa memang.


Rasa tabah, sabar dan ikhlas berperan utama di cerita ini. Semua itu tentu tak akan terjadi jika tak mendapatkan campur tangan Tuhan. 


"Terima kasih, Ra. Terima kasih sudah mau kembali kepadaku," bisik Bara lalu mencium leher istrinya.


Almeera menegang. Leher adalah area sensitif dirinya. Ketika area itu disentuh, maka akan terasa seperti tersengat aliran listrik. 


"Mas!" lirih Almeera menutupi lehernya dengan telapak tangan kiri. 


Dia menggeleng memberitahu bahwa suaminya jangan mencium tengkuk lehernya. Bisa bahaya jika ia tanpa sengaja mendesah disana. 


Perhatian keduanya beralih, saat Abraham mengajak adiknya beranjak berdiri. Keduanya segera berjalan menuju bunga dan sayuran yang ditanami di sana. 


Istri Bara memang senang berkebun. Almeera menghabiskan waktunya disini sambil menunggu laporan dari perusahaan melalui email. Dia tak bisa kembali bekerja beberapa hari terakhir ini.


Almeera ingin fokus pada keluarga dan anak-anaknya. Dia tak mau Bia merasa sendiri dan rasa trauma itu semakin mendalam. Kesehatan mental anaknya adalah hal yang terpenting. Dia tak peduli jika harus libur terlalu panjang. Almeera menyerahkan semua urusan kantor kepada kakakny, Jonathan.


"Lihatlah anak-anak kita, Ra." Tunjuk Bara pada Abraham dan Bia yang sepertinya sedang mengobrol sambil menatap hamparan bunga di taman. 


Wajah anak remaja itu terlihat sangat menyayangi adiknya. Bahkan bagaimana Abraham bersikap dengan baik, selalu menyayangi Bia, semakin membuatnya merasa sangat bangga.


"Kenapa, Mas?" tanya Almeera dengan pelan.


"Mas!" lirih Almeera memperingati.


Mendengar suara helaan nafas berat di bibir Bara serta tangan itu yang melingkar erat di perutnya, membuat Almeera tersadar jika suaminya sedang sangat ingin. 


Bara menjauhkan dirinya. Dia menghela nafas kasar sebelum memilih duduk di samping Almeera. Dirinya benar-benar tak kuasa menahan segala keinginan untuk menggauli istrinya. Namun, tetap saja, Bara tetap akan bertahan sampai istrinya memberikan izin.


"Maafkan Mas, Ra," lirih Bara dengan wajah menatap ke depan penuh kekosongan. 


"Jangan mengatakan itu lagi, Mas," kata Almeera ketika Bara duduk di samping ruangannya. "Seharusnya aku yang meminta maaf." 


"Maafkan aku yang belum bisa memberikan nafkah batin untukmu, Mas. Aku masih trauma dan takut."


Apa yang dikatakan Almeera adalah kejujuran. Dia benar-benar belum bisa menyatu dengan Bara. Entah kenapa saat dia mencoba mencium suaminya. Bayangan tentang Narumi kembali berkelebat. 


Sedangkan Bara, pria itu hanya menyugar rambutnya ke belakang. Dia tak bisa melakukan apapun sekarang. Menahan dirinya sendiri, mengontrol hasratnya yang menggebu demi menghargai istrinya seorang. 


Dia tak akan memaksa apapun. Dia akan menunggu. Bara sangat mengerti betul apa alasan istrinya bisa seperti ini kepadanya. Apalagi jika bukan dirinya lah alasan terbesar dari semua ini.


"Jangan diem terus, Mas," bujuk Almeera sambil memeluk lengan Bara. "Beri aku waktu sebentar lagi. Aku betul-betul belum siap." 


Bara menghembuskan nafasnya kasar. Jujur dia tak marah pada istrinya. Hanya saja, dia kecewa pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa istri baik dan sempurna seperti Almeera, dia sakiti begitu dalam hanya karena seorang Narumi. 


Dia menyesal sangat amat menyesal sekali!


"Mas tahu, Sayang. Mas akan menunggu sampai kamu siap lahir batin," ujar Bara dengan tatapan teduhnya. "Sampai waktunya tiba, kamu akan Mas hamili sampai memiliki anak kembar."


...🌴🌴🌴...


Sedangkan di tempat lain. Lebih tepatnya di sebuah ruangan serba putih. Terlihat seorang perempuan memakai pakaian seragam kerjanya tengah memasuki ruangan itu dengan membawa nampan yang berisi buah dan pisau di atasnya.


Terlihat seorang perempuan buta dan tanpa kaki tengah terbaring lemah di atas ranjang. Dia benar-benar sudah sangat lelah dengan semuanya. 


"Selamat sore, Mbak Narumi," sapa perawat RSJ dengan ramah.


Narumi tak menjawab. Perempuan itu hanya diam sampai perawat mendudukkan dirinya dengan tenang di hadapannya.


"Kamu mau buah apa?"


"Apel," sahut Narumi dengan telinga mendengar setiap apa yang berbunyi disana.


Akhirnya perawat itu segera mengupas buah berwarna merah tersebut. Dia melakukannya dengan cekatan hingga tak membutuhkan waktu lama. 


"Ayo buka mulutnya, Mbak!" katanya setengah memaksa.


Narumi menggeleng. Dia benar-benar tak selera makan. Hingga hal itu membuat perawat tak memaksa. Namun, tak lama suara seseorang yang memanggil nama perawat itu membuatnya lekas beranjak berdiri. 


"Mbak Narumi diam dulu yah. Saya mau lihat teman saya dulu di sebelah," katanya sambil meletakkan piring berisi buah dan pisau itu di nakas samping brankar.


Sepeninggal perawat. Telinga Narumi masih sangat tajam. Dia sangat mengenal begitu dimana benda itu diletakkan. Hingga tangannya mulai menebar kemana-mana.


Dapat! 


Narumi menggenggam pisau itu. Dia benar-benar tak memiliki siapapun sekarang. Lelaki yang ia anggap akan membawanya pergi dari kehidupan ini ternyata harus merasakan dinginnya jeruji besi.


Ditambah sosok yang sangat mencintainya yaitu, Adnan. Pria itu juga sudah pergi meninggalkannya. 


"Lebih baik aku mati daripada harus menanggung semuanya sendiri."


~Bersambung


Hualah, kok menyesal sih mbak. Mbok ya tobat unu loh!