
...Harapan yang ku lambungkan tinggi ternyata harus dihempaskan ke dasar dan sangat membuatku sakit....
...~Adeeva Khumaira...
...🌴🌴🌴...
"Jadi apa kita sudah sah berpacaran?" tanya Reno menggoda dengan menaikkan salah satu alisnya.
Adeeva tersipu malu. Dia menunduk dengan wajah memerah. Namun, Reno yang sangat menyukai kemerahan itu menahan dagu kekasih barunya hingga tatapan mata mereka saling bertemu lagi.Â
"Kita akan belajar bersama-sama dalam memahami perasaaan kita dan saling memberi. Aku dan kamu, kita tak berpengalaman. Namun, aku yakin bahwa kamu adalah jodoh yang sudah disiapkan oleh Tuhan untukku."Â
"Gombal." Adeeva melepaskan tangan Reno di janggutnya.
Dia segera beranjak berdiri lalu diikuti oleh Reno.
"Mau kemana?" tanya Reno dengan senyuman di bibirnya.
Tangan mereka kembali bertaut. Mereka saling menyalurkan perasaan itu melalui hangatnya genggaman kulit mereka.Â
"Pulang. Entah kenapa aku malah kepikiran ibu sekarang," kata Adeeva dengan jujur.
Akhirnya Reno segera mengendarai mobil Adeeva dengan cepat. Mereka memang jalan-jalan menggunakan mobil wanita itu karena Reno beralasan keesokan harinya dia bisa naik grab.Â
Sepanjang perjalanan, perasaan Adeeva sangat khawatir. Dia berusaha menelpon ibunya tapi panggilan itu tak diangkat. Entah kenapa bayang-bayang kekejaman ayahnya kembali hadir hingga membuat mata Adeeva terpejam dan mengepalkan kedua tangannya.Â
"Hey, Deeva!" panggil Reno khawatir.
Dia segera menggenggam tangan yang terkepal itu. Berusaha membagi fokusnya dengan menyetir dan menenangkan kekasih barunya.Â
Bisa Reno rasakan jika kulit telapak tangan Adeeva terasa dingin dan membuat pria itu semakin khawatir.
"Tenanglah, Sayang. Aku disini," bisik Reno saat lampu lalu lintas berwarna merah.
Adeeva spontan menoleh. Dia menatap mata Reno dengan perasaan kacau dan bayang-bayang ayahnya lagi.
"Kamu gak sendirian. Berbagilah denganku disini."Â
Tanpa kata, Adeeva memeluk Reno sejenak. Berusaha menenangkan jantungnya yang terus berdetak kencang. Dia berusaha yakin dan berpikiran jika ibunya mungkin sedang tidur.
Namun, apa yang dia harapkan ternyata berbalik. Apa yang ditakutkan benar-benar terjadi. Disana, di depan rumah Adeeva. Terlihat sebuah mobil yang sangat Adeeva tahu siapa pemiliknya.
Tanpa berbicara pada Reno, gadis itu turun dengan cepat. Air matanya kembali merembes ketika mendengar suara teriakan mamanya.Â
"Kau memang wanita tak tahu diri!" seru Ayah Adeeva dengan mencekik leher ibu Adeeva sampai perempuan itu menyandar di dinding. "Kau menjebakku dan kebenarannya jika ADEEVA BUKAN ANAK KANDUNGKU!"Â
Tubuh Adeeva tiba-tiba limbung. Telinganya tentu sangat amat mendengar apa yang dikatakan oleh pria yang ia anggap ayahnya sendiri.
"Deeva!" Tubuhnya hampir jatuh jika Reno tak menahannya dari belakang.Â
Teriakan pria itu tentu membuat ibu dan ayah Adeeva menoleh.
Pria itu menyeringai saat melihat bagaimana terkejutnya Adeeva mendengar kenyataan ini.Â
"Ah apa kau sudah mendengar semuanya, Anak Haram?" seru Ayah Adeeva dengan mata berkilat marah. "Kau sudah tahu, 'kan! Kenapa aku membencimu?"Â
Ayah Adeeva menunjuk wajah Adeeva dengan tangannya. Pria itu menyeringai tanpa dosa saat mata gadis itu mulai berkaca-kaca.
"Jangan katakan kebohongan, Ayah. Aku anak Ayah, 'kan?"Â
Ayah Adeeva terkekeh. Dia tersenyum miring dengan diiringi gelengan kepala.
"Sayangnya itu bukan kebohongan! Ibumu ini hamil duluan dan dengan berani mengatakan bahwa itu anakku!" seru Ayah Adeeva membongkar semuanya. "Karena itulah aku sangat membenci ibumu dan, Kau!"Â
Adeeva benar-benar lemah. Gadis itu sampai jatuh merosot dengan Reno yang menahannya. Pria itu sama kagetnya dengan Adeeva. Kebenaran yang baru saja ia dengar membuat Reno tak bisa membantu kekasih barunya itu.Â
"Ah apakah ini mangsamu, Anak Haram?" tanya Ayah Adeeva menatap Reno yang mengepalkan tangannya tak terima. "Apa dia bosmu yang kau jerat dengan tubuhmu itu?"Â
Adeeva tak menjawab. Tubuhnya sudah lelah dengan kenyataan yang baru saja ia dengar. Dirinya tak memiliki semangat hidup lagi. Serasa apa yang dia dengar hari ini, mampu meruntuhkan segala kekuatan yang ia bangun selama ini.Â
"Aku tau! Ibu dan Anak, tingkahnya akan sama. Menjerat pria kaya hanya untuk uang."
"Wohoo! Apa kau ingin menjadi jagoan?" ujar Ayah Deeva dengan senyum meledek. "Seharusnya sekarang kau berhati-hati saja. Aku yakin sebentar lagi kau akan dijerat oleh Anak ****** itu dan diminta menikahinya."Â
Tangan Reno sudah terangkat untuk memukul. Namun, cengkraman di kakinya membuat Reno perlahan menurunkan kepalan tangannya.
"Kenapa tak jadi? Apa yang dikatakan olehku benar, 'kan?"Â
"Ya, benar. Ayah memang benar. Aku hanya anak ******, anak haram dan selalu mempermalukanmu, Ayah."Â
Adeeva berusaha berani melawan ayahnya. Dia menatap pria paruh baya itu dengan mata bengkak.Â
"Kau mengakuinya he! Lihatlah!" Ayah Adeeva berjalan mendekati Ibu Adeeva. "Anakmu sama sepertimu?"Â
Ibu Adeeva tak bisa menjawab. Bahkan wanita paruh baya itu menunduk karena bingung harus menceritakannya darimana.Â
"Ah karena drama sudah selesai. Aku akan pergi!" seru Ayah Adeeva tanpa tahu malu. "Oh iya, Aku mentalakmu hari ini dan kita bukan suami istri lagi."
Degup jantung Adeeva mencelos. Dia tak menyangka jika ayahnya menceraikan ibunya secepat ini. Namun, gadis itu hanya bisa menatap ibunya yang dengan cepat mengangguk. Â
"Ya. Aku akan mengurus surat cerai kita secepatnya!"Â
Akhirnya Ayah Adeeva pergi dengan kekacauan yang sudah dia lakukan. Hal itu membuat Ibu Adeeva berjalan menuju putrinya yang sangat terlihat hancur dan shock.Â
"Jangan dekati aku dulu, Bu! Aku ingin sendirian."Â
Tanpa kata, Adeeva segera berlari menuju kamarnya. Dia menutup pintu itu dan menguncinya dari dalam.
Reno yang hendak menahan kalah cepat. Dia hanya bisa berdiri di balik pintu kamar sang kekasih dengan perasaan khawatirnya.
"Deeva!"Â
"Pergi!" teriak Deeva dari dalam.Â
"Plis buka pintunya!"Â
Dugh!
Entah suara apa itu. Namun, Reno yakin jika itu adalah barang yang dilempar oleh kekasihnya sendiri.Â
"Sayang!"Â
"Pergilah, Ren! Beri aku waktu untuk sendiri."Â
Permintaan lemah itu membuat hati Reno tersentuh. Dia tak bisa memaksakan apapun pada kekasihnya. Reno hanya bisa berdiri dan mulai berbalik.
"Ibu!" sapa Reno saat Ibu Adeeva menatapnya.Â
"Kemarilah!"Â
Akhirnya Reno mengikuti langkah wanita paruh baya di depannya ini. Ibu Adeeva membawa pria yang ia yakini menjalin hubungan dengan putrinya.
"Ada apa, Ibu?"Â
Ibu Adeeva menghela nafas berat. Berusaha memutar ingatannya lagi tentang kejadian di masa lalu. Setiap mengingat kejadian itu, entah kenapa selalu membuat dadanya terasa nyeri.
Dia selalu tak sanggup mengingat kejadian saat itu. Kejadian dimana ia harus kehilangan kehormatannya karena diperkosa.Â
"Adeeva bukanlah anak haram!" kata Ibu Adeeva memulai. "Dia adalah anak hasil hubungan terlarang."
"Apa maksud, Ibu?" tanya Reno yang tak paham.Â
"Adeeva murni anak kandungku dan ayahnya. Dulu aku diperkosa saat dia mabuk dan dirinya tak ingat apapun. Namun, kedua mertuaku tahu jika anaknya lah yang mengambil keperawananku. Hingga aku hamil dan dia diminta bertanggung jawab."Â
"Ayah Adeeva yang keras dan tak ingat kejadian malam itu. Terus marah kepadaku! Dia bahkan mengatakan bahwa aku menjebaknya. Padahal sedikitpun aku tak menjebaknya dan kunci alasan utamaku tak ada, kunciku yaitu kedua orang tua ayah Adeeva harus pergi dipanggil oleh Tuhan terlebih dahulu."Â
~Bersambung
Peluk buat Mbak Deeva hiks.Â
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.Â