
...Kehangatan itu memang keduanya rindukan dan sekarang mereka berusaha menghidupkan lagi kehangatan yang sempat meredup....
...~Gibran Bara Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya setelah acara makan malam selesai. Bara dan Almeera segera kembali ke kamar. Namun, sebelum itu, seorang perempuan yang menyandang ibu dari dua anak itu mengantar putrinya ke kamar.
Dia membantu Bia untuk membersihkan dirinya. Mengganti pakaiannya dengan piyama lalu mulai menemaninya tidur.Â
Almeera tak pernah meninggalkan anaknya sendirian di kamar. Dirinya selalu meminta pengasuh putrinya datang ketika Bia sudah terlelap. Entah kenapa istri Bara itu masih takut bila anaknya terjadi sesuatu lagi.Â
"Ma," panggil Bia pelan yang membuat Almeera menunduk.
"Ya?" sahut Almeera dengan lembut.
"Apa Papa benar-benar sudah berubah?" tanya Bia tiba-tiba yang membuat Almeera mengerutkan keningnya.
"Maksudnya, Nak?"Â
"Papa gak bakal ketemu sama Tante jahat lagi, 'kan, Ma? Papa gak bakal nyakitin Mama lagi, 'kan?"
Pertanyaan Bia entah kenapa membuat perasaan Almeera terusik. Dia menatap putrinya lamat-lamat mencoba melihat apa yang sedang Bia pikirkan.
"Kenapa Bia tanya itu?" tanya Almeera dengan pelan.Â
"Bia takut kalau Papa akan menyakiti kita lagi, Ma."Â
Bibir Almeera tersenyum tipis. Dia sangat tahu betul jika putrinya khawatir papanya akan pergi meninggalkannya. Kedekatan keduanya, tentu membuat Almeera tahu betul bagaimana perasaan putrinya itu ketika bersama papanya.Â
"Papa sudah berubah, Sayang. Papa gak bakal nyakitin kita lagi," kata Almeera dengan pelan.
Dia mengelus punggung Bia yang tangannya melingkar di perutnya.Â
"Dulu Papa memang pernah nyakitin kita tapi sekarang, Papa sudah sadar bahwa Bia, Abang dan Mama, sangat penting untuk dirinya."Â
Bia menatap mamanya dengan lekat. Mencoba mencari kebenaran di sana.Â
Bagaimanapun dia hanya anak lima tahun. Ketakutan dalam dirinya jika ayahnya kembali berulah pasti berputar di ingatannya. Namun, Almeera tak menyalahkan siapapun.
Dia akan memberikan pengertian pada putrinya agar Bia tak khawatir lagi pada papanya.Â
"Percaya sama Mama. Lihatkan Papa yang sekarang bagaimana sama Bia, Abang dan Mama?"Â
Kepala Bia mengangguk. Dia sendiri yang melihat bagaimana papanya yang sangat posesif sekarang. Bara yang dulu sudah kembali lagi pada dirinya.Â
"Jadi, Bia tak perlu khawatir. Mama janji apapun yang terjadi, Mama akan terus membuat Papa ingat bahwa keluarga itu sangat penting."Â
Hanya keheningan yang terjadi di sana. Almeera menundukkan pandangannya dan ternyata putrinya itu sudah terlelap.Â
Pemandangan seperti ini selalu menjadi hal favorit untuk Almeera. Entah kenapa melihat anak-anaknya sudah tertidur dengan tenang, membuat hati ibu dua anak itu bahagia.Â
Akhirnya Almeera mulai turun dengan pelan. Lalu dia segera keluar dari sana setelah memastikan pengasuh anaknya datang menggantikannya.Â
Berjalan lurus, Almeera mengetuk pintu kamar putranya. Ia yakin jika Abraham pasti belum tidur.
"Ya. Masuk!" teriak putra pertamanya yang membuat Almeera lekas mendorong pintu kayu itu.
"Abang belum tidur?" tanya Almeera melongokkan kepalanya masuk.
"Belum, Ma," sahut Abraham yang sedang duduk di depan komputer.Â
"Apa ada tugas, Sayang?"Â Almeera mendekati anaknya. dia berdiri di samping Abraham yang sangat fokus dengan komputernya.
"Iya, Ma. Abraham hampir lupa tadi," ujarnya yang membuat Almeera mengelus kepala putranya dengan sayang.Â
"Kalau mengantuk, jangan dipaksa oke."
"Iya, Ma." Abraham mengangguk. "Lebih baik Mama kembalilah ke kamar. Abraham gak mau Papa merengek kayak anak kecil."Â
Almeera terkekeh. Dia benar-benar tahu maksud putranya mengatakan itu. Setiap mau tidur, Almeera selalu mengecek dan menemani kedua anaknya sebelum tidur.
Kegiatan yang selalu ia lakukan semenjak anak mereka lahir terbawa sampai menjadi kebiasaan.Â
"Bayi besar sangat manja," celetuk Almeera yang membuat Abraham ikut terkekeh.
"Mama yang bilang yah. Bukan Abra," ujarnya semakin membuat ibu dan anak itu tertawa kencang.
Hingga tanpa keduanya sadari, ada seseorang yang baru saja masuk ke kamar Abraham dan mengerutkan keningnya melihat istri dan anaknya begitu bahagia.Â
"Kalian sedang membahas apa?"Â
"Bener, 'kan, Ma? Papa gak bakal bisa jauh-jauh dari Mama," bisik Abra yang masih bisa di dengar oleh Bara.Â
"Wah ada yang gosipin Papa nih!" kata Bara mendekat lalu pura-pura menerkam putranya dari belakang.
"Hahaha. Ampun, Pa!" Abraham menggeliat.Â
Pinggangnya digelitik oleh Papanya yang membuat ketiganya berakhir tertawa bahagia.
"Ampun, Pa. Sudah sudah!" Abraham terengah-engah.
Dia benar-benar lelah dengan aksi papanya itu.Â
"Bawa Papa pergi, Ma! Aku yakin Papa akan menjadi bayi besar."Â
"Biarin!" ujar Bara menarik pinggang Almeera dan merapatkan pada tubuhnya.
"Ah jangan menodai mata anak empat belas tahun ini, Bapak Negara!" ujar Abraham menutup matanya. "Ayo keluar!"
Bara dan Almeera terkekeh. Lalu mereka segera berjalan menuju pintu kamar putranya setelah pamit untuk pergi.Â
"Jangan lupa buatin Abra adik lagi ya, Ma. Kembar juga gak apa-apa!"Â
Bara yang mendengar permintaan putranya akhirnya hanya bisa melebarkan senyumannya. Dia semakin menarik istrinya mendekat saat pintu kamar putranya sudah mereka tutup.
"Mama denger, 'kan? Abra meminta adik kembar. Jadi bisa dong, Mas nyicil sedikit sedikit."Â
"Mas!" Almeera mendengus geli. "Mesum banget sih!"Â
"Mesum sama istri sendiri apa salahnya."
Saat Almeera hendak menyahut. Suara pekikan terkejut keluar dari mulutnya saat tubuhnya tiba-tiba melayang dan membuat ia melingkarkan tangannya di leher Bara.
"Turunin! Mama berat."Â
"Mama pas kok digendongan Papa," bisik Bara pelan dan menatap mata indah istrinya.Â
"Papa!" Almeera bersemu merah.
Saat tatapan keduanya tanpa sengaja bertemu dan Ibu dua anak itu bisa melihat kilat gairah di sana. Almeera yakin jika suaminya itu pasti meminta dirinya malam ini.Â
...🌴🌴🌴...
Bara segera menjatuhkan tubuh istrinya di ranjang. Dia merebahkan Almeera dengan pelan dan membuat istrinya itu menelan ludahnya.
Tatapan singa kelaparan tentu membuat Almeera gugup bukan main. Keduanya tentu sudah lama sekali tak saling menggauli satu dengan yang lain.
Kejadian yang terjadi ternyata mampu membuat ranjang mereka tak ada kehangatan lagi setelahnya. Namun, malam ini, sepertinya mereka akan memulai menghangatkannya lagi.Â
"Mas!" lirih Almeera saat Bara hanya menatapnya saja.Â
"Hm?" sahut Bara sambil tersenyum.
"Ayo!"Â
Bara melebarkan senyumannya. Dia mencondongkan kepalanya lalu memberikan kecupan ringan di dahi Almeera.Â
"Waktu kita masih panjang, Sayang. Mas masih bisa menahannya sampai pertemuan kedua dengan psikiater?"Â
Saat Bara hendak beranjak. Tiba-tiba Almeera melingkarkan tangannya di leher sang suami yang membuat pria itu tak siap dan akhirnya jatuh di atas tubuh istrinya.
Bara menelan ludahnya paksa. Dia bisa merasakan sesuatu benda kenyal di area dada bidangnya. Sebuah tempat favoritnya setiap kali mencumbu Almeera dan menggodanya
"Kita bisa mencobanya untuk pemanasan!" bisik Almeera lalu segera menarik kepala suaminya hingga bibir keduanya bertemu.Â
Kedua mata itu saling tertutup. Almeera mulai menggerakkan bibirnya agar suaminya itu terpancing.
Jujur tubuh Almeera kembali menegang. Hal itu tentu dirasakan oleh Bara. Saat dia ingin menjauhkan tubuhnya. Kedua kaki Almeera melingkar sempurna di tubuhnya dan mengunci pergerakan pria itu. Almeera terus menyesap bibir Bara. Menerobos dengan lidahnya hingga membelit milik Bara.Â
Akhirnya pertahanan Bara mulai goyah. Dirinya tak bisa menahan godaan besar ini. Ini terlalu panas untuk ia sia-siakan.Â
Hingga akhirnya Bara membalas lilitan lidah itu dan menyelipkan tangannya di tengkuk sang istri agar ciuman mereka semakin menuntut.
"Mas!" lirih Almeera yang seperti mendayu menggoda Bara saat ciuman mereka terlepas.
"Tak ada kata mundur lagi, Sayang. Kamu sudah membangunkan singa lapar."Â
~Bersambung
Next Bab langsung keesokan harinya yah, hahaha.
Vote dulu yok, biar tak kasih hiya-hiya kalau ada. Kaburrr.