
...Sebagai seorang pasangan. Janganlah meminta untuk selalu diberi tapi kamu juga harus memberi apa yang pasanganmu butuhkan. Jika ia memberikan cinta maka balaslah dengan cinta yang sama. Agar hubungan kalian bisa berakhir dengan bahagia. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Penutupan hari ini adalah dengan mengunjungi alun-alun Kota Batu. Bara sengaja mengajak istri dan anak-anaknya kesini karena banyak jajanan street food yang dijual bermacam-macam.
Bara adalah tipe orang tua yang tak pernah melarang anaknya makan di pinggir jalan. Meski mereka memiliki uang banyak, baik Bara maupun Almeera selalu mengajarkan jika kita membeli makanan pada orang di pinggiran itu sama saja kita membantu mereka untuk mencari rezeki.
Hal itulah yang selalu diterapkan oleh sepasang suami istri itu agar anak-anaknya tak tumbuh menjadi anak yang manja dan selalu hidup glamour.
Suasana malam di alun-alun pada hari libur tentu menjadi momen indah banyaknya muda mudi dan para keluarga quality time bersama. Banyak orang-orang yang berjalan bersama, berdiri di pinggir jalan, bercengkrama dan duduk di kursi yang tersedia hingga tawa anak-anak yang memenuhi pendengaran mereka.
Bia terus melingkarkan tangannya di leher sang Papa. Kali ini ia digendong oleh Bara, karena pria itu takut anaknya kelelahan.
"Kamu ingin makan apa, Sayang?" tanya Bara pada Almeera dan kedua anaknya.
Saat ini mereka sudah ada di tempat jajaran makanan pinggir jalan. Banyak macam-macam makanan disana. Dari makanan basah sampai kering pun dijual disana.
"Bia mau crepes, Pa," kata anak itu melihat pedagang crepes yang berjarak dua gerobak dengan posisi mereka.
"Oke." Bara akhirnya mengantarkan anak keduanya itu.
Diikuti oleh Abraham dan Almeera yang menatap ke kanan dan ke kiri mencari makanan apa yang mereka inginkan.
Terlalu banyak macam dan model, membuat keduanya kebingungan.
"Mama sama Abang mau makan apa?"
"Nggak tau, Mas," sahut Almeera yang menelan ludahnya melihat makanan yang tersaji di depannya sama-sama menggiurkan.
"Kalau bingung, beli aja semua," ujar Bara setenang mungkin.
Almeera menatap suaminya tak percaya. Dia memukul lengan Bara yang mengatakan hal-hal aneh dengan seenaknya.
"Sembarangan! Kamu kira perutku karet gitu? Bisa melar dan makan semua?"
Bara terkekeh. Dia mengusap kepala istrinya yang memakai jilbab sedang memanyunkan bibirnya.
"Jangan manyun disini!" bisik Bara yang membuat Almeera merinding
Wanita itu melototkan matanya. Dia tak percaya jika otak mesum suaminya benar-benar sudah tak tahu tempat.
"Abraham pengen gurita itu, Ma. Itu gurita bakar, 'kan?" tanya Abraham menunjuk gurita yang dipajang.
"Iya kayaknya. Ayok sama Mama kesana!"
Almeera mulai menjulurkan lidahnya pada Bara. Merasa terbebas dari godaan sang suami dengan bantuan putra pertamanya. Bara yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
Meski usia mereka tak lagi muda. Namun, jiwa keduanya masih bisa dianggap muda. Mereka tak pernah menolak tua tapi apa yang mereka rasakan tanpa sadar selalu membuat wajah mereka terlihat lebih muda.
Apalagi ditambah, kebahagiaan yang saat ini mereka rangkai berempat. Semakin membuat wajah Almeera dan Bara terlihat begitu bersinar.
Akhirnya Almeera yang tergoda dengan makanan yang dipesan putranya ikut memesan juga. Keempatnya dengan santai memakan makanan itu dengan duduk di kursi yang ada di sana.
"Gimana perasaan kalian?" tanya Almeera pada kedua anaknya.
"Seneng, Ma. Seneng banget malah," ujar Abraham jujur.
"Bia juga, Ma."
"Apa kalian gak merasa sakit lagi hatinya tau kepikiran hal-hal lain?"
Spontan Bia dan Abraham menggeleng. Mereka kali ini benar-benar menjawabnya dengan jujur. Melihat sikap papanya yang berubah sekali. Bagaimana papanya berjuang untuk membuat mereka bahagia, membuat ingatan tentang masa lalu yang dibuat oleh Bara mulai terganti dengan banyaknya kebahagiaan.
"Terima kasih udah mau maafin Papa yang banyak salah sama kalian. Papa akan berusaha selalu wujudkan apa yang kalian mau. Selagi Papa bisa bernafas dan diberi umur panjang."
...🌴🌴🌴...
Mereka menghabiskan waktu bersama-sama sepulang bekerja. Keduanya benar-benar menumpahkan segala perasaan yang selama ini mereka pendam.
Adeeva benar-benar berusaha melawan rasa traumanya. Dia mendoktrin pikirannya bila Reno bukan seperti ayah kandungnya sendiri.
"Kenapa lihatin aku terus?" tanya Adeeva yang salah tingkah.
Saat ini mereka tengah memakan sebuah es krim dengan duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Keduanya memang berhadapan. Namun, perhatian Reno terus tertuju pada Adeeva.
"Seperti mimpi saja," celetuknya dengan raut tak percaya.
Adeeva terkekeh. Dia menarik hidung Reno hingga pria itu mengaduh kesakitan.
"Sakit, 'kan?" tanya Adeeva yang dihadiahi anggukan kepala oleh Reno. "Jadi ini nyata bukan mimpi."
Reno tak percaya jika apa yang dia rasakan ternyata juga dirasakan oleh Adeeva. Rasa yang bermula dari benci dan kesal bisa menjadi suka dan cinta.
Pertemuan yang buruk dan tidak disengaja ternyata mampu membuat keduanya terjebak dalam pertemuan-pertemuan yang selalu berakhir dengan pertengkaran. Namun, ternyata dari setiap pertemuan itu mampu membuat keduanya sama-sama merasa membutuhkan satu dengan yang lain.
Keduanya memang sama-sama tegas. Sama-sama keras kepala. Hal itulah yang membuat hubungan keduanya berbeda dari pasangan bucin yang lain.
"Kenapa?"
"Apanya kenapa?" tanya Adeeva dengan bingung.
Wanita itu mengerutkan keningnya dan membalas tatapan mata Reno.
"Kenapa kamu rindu padaku?" tanya Reno yang sudah sangat penasaran.
Dengan sengaja pria itu memang tidak bertanya lebih dalam tadi sore. Dia takut jika Adeeva merasa malu atau bingung.
"Aku…" Adeeva menelan ludahnya paksa.
Dia juga bingung harus mengatakannya dari mana. Dirinya saja belum bisa menyatakan apakah ini perasaan cinta atau hanya ketertarikan.
Trauma yang ditinggalkan ayahnya memang membuat ia tak tahu dan tak mengerti apa yang dia butuhkan dan dirasakan. Seakan selama ini ia dipaksa menerima dan melihat apa yang ayahnya lakukan pada ibunya.
"Deeva," panggil Reno menyentuh lengah wanita itu.
Adeeva menghela nafas berat. Membuang pemikiran tentang ayahnya lagi agar bisa memulai melangkah ke depan.
Dia tak mau berdiam sendirian dalam rasa traumanya. Dia tak mau terbelenggu pada kesakitan yang ayahnya berikan.
"Aku tak tahu, Ren," ujar Deeva dengan jujur. "Entah perasaan apa yang aku rasakan ketika bersamamu. Apa ini cinta atau hanya tertarik saja."
"Sejak dulu aku tak mengerti apa itu cinta dan kasih sayang. Papaku yang seharusnya cinta pertama dalam hidupku adalah salah satu perusak mentalku sendiri. Sosok yang seharusnya menjagaku ternyata adalah alasan pertama hidupku tak bahagia."
Adeeva menatap ke langit. Dia mencoba menghalau air mata yang hendak menetes. Hal itu membuat Reno tak tega. Dia segera menarik tubuh wanita itu dan memeluknya dengan erat.
"Jangan berbicara apapun jika itu menyakitimu," ujar Reno dengan menahan air mata yang ingin mengalir.
Dia melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Adeeva.
"Berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku tak seperti ayahmu, Deeva. Aku akan berusaha membahagiakanmu dengan caraku sendiri. Apa kamu mau?"
Adeeva bisa melihat kesungguhan di mata pria itu dan dia berusaha yakin bahwa Reno memang benar pria yang tepat untuk merubah cara pandangnya.
"Ya. Aku mau."
~Bersambung
Woo Semangat Mbak Deeva! Percaya sama Bang Ren-Ren. Dia itu setia kok. Kalau gak setia tak sunat dia.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.