Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Gadis Tingting VS Ibu Hamil



...Aku memang tak tahu bagaimana sakitmu. Namun, jangan pernah memendamnya sendiri selagi ada aku disini. ...


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


"Bukan, Li. Kak Jim bukan tipe pria yang mudah bosan," sahut Almeera dengan pelan.


Dia meraih pundak sahabatnya lagi agar Zelia mau menatapnya.


"Bukankah Kak Jim pernah bilang sama kamu. Kalau konsekuensi berhubungan dengan dia ya seperti ini?" tanya Almeera penuh hati-hati.


Bagaimanapun istri Bara itu sangat tahu jika sahabatnya kali ini sangat sensitif hatinya. Bahkan bisa dibilang Zelia mudah sekali terpancing emosinya di masa-masa seperti ini.  


Wanita itu sedang berada di titik terendah. Zelia sedang lelah dengan keadaan. Maka pikirannya tak akan bisa diajak berpikir terlalu keras atau tidak, emosinya yang akan naik.


"Ya. Tapi aku tak pernah membayangkan jika hubunganku akan berjalan seperti ini, Ra," ujar Zelia dengan lemah.


Almeera menghela nafas pelan. Dia tahu apa yang dirasakan oleh sahabatnya. Dirinya tak kalah rindu dari Zelia.


Jika Zelia adalah kekasih yang rindu akan kekasihnya. Berbeda dengan Almeera. Seorang adik yang rindu akan sosok kakaknya. Sosok yang seharusnya ada disekitarnya. Berbagi cerita dengannya. Saling bercanda tawa tapi ternyata takdir harus memisahkan mereka.


Jimmy memilih keluar dari rumah untuk mengejar cita-citanya. Jimmy memilih hidup mandiri dengan mendaftar sebagai agen. Kehidupan yang sangat berbahaya dan sangat jauh dari pantauan keluarga.


Jika Almeera rindu. Dia tak bisa melakukan apapun. Almeera hanya mampu menunggu. Menunggu kabar sampai kakaknya membalas pesannya.


"Apa kamu menyesal mengenal Kakakku?" tanya Almeera dengan suaranya yang tegas dan mampu membuat Zelia menatap mata sahabatnya. 


"Tak pernah ada kata menyesal dalam hati dan pikiranku tentang mengenal Kak Jim, Ra," ucap Zelia dengan tegas. "Bahkan aku sangat bahagia akan pertemuan ini." 


"Lalu? Kenapa sekarang kamu menyerah?" 


"Aku tak menyerah!" ujar Zelia menegaskan. "Aku hanya takut kehilangan Kak Jim. Aku hanya takut dia terlibat skandal dengan wanita lain." 


Almeera berusaha menetralkan emosinya. Dia hampir saja terpancing tapi cepat sadar. Ya bawaan anak yang dikandung tentu kalian tahu betul bagaimana perasaan Almeera saat ini. 


Ibu hamil dengan mood mudah naik turun dan emosi yang stabil. Tentu membuat ibu dari calon empat anak itu harus pandai mengatur emosinya. 


"Kamu tau!" lanjut Zelia membalas genggaman sahabatnya. "Ketika ada pertemuan pasti ada perpisahan."


"Satu kata itu yang aku takutkan saat ini, Ra. Itu saja. Tak ada yang lain!" ujar Zelia lalu berjalan menuju pagar balkon pagar dan memegangnya begitu erat. 


"Aku tak mempermasalahkan hubunganku dengan Kak Jim yang LDR. Namun, komunikasi itu penting, Ra," kata Zelia dengan jujur. "Jarak membentang seberapa jauh pun, aku bisa. Tapi berikan satu waktu saja untuk memberi kabar kepadaku agar aku tak khawatir." 


"Maafkan aku, Li. Maafkan aku yang…" 


"It's oke," balas Zelia menyela. 


Gadis itu berbalik dan dia memaksakan senyumannya dengan baik. 


"Aku tau bagaimana mood ibu hamil," ujar Zelia dengan mengusap perut Almeera. "Yang terpenting kamu jangan sampai ikut stress juga yah. Biar aku saja." 


Almeera tertawa. Namun, tatapan matanya tetap begitu iba pada nasib sahabatnya. Almeera tahu jika Zelia berusaha menghibur dirinya. Tapi pada kenyataannya bukannya terhibur, mata Almeera malah berkaca-kaca. 


"Eh kenapa?" tanya Zelia dengan bingung. "Cup cup jangan nangis." 


Kekasih Jimmy itu menarik Almeera ke dalam pelukannya. Dia mengusap punggung sahabatnya dengan lembut.


"Maafkan Kakakku, Li. Kakakku egois padamu. Aku sudah memarahinya tapi tapi…" 


"Udah jangan katakan apapun lagi!" ujar Zelia berusaha kuat.


Dia menatap langit pagi dengan tangan yang masih mengusap punggung sahabatnya. Perlahan pelukan itu terlepas hingga tatapan keduanya saling pandang.


"Biarkan aku berusaha kuat dan menerima keadaan baru ini, Ra. Aku masih harus banyak belajar saja. Apalagi ini hubungan pertama untukku. Jadi, semangatin aku yah!" 


"Pasti. Kamu harus semangat dan aku yakin kamu dan Kakakku bisa melewati semua ini." 


...🌴🌴🌴...


"Astaga, Ra. Perut kamu kecil tapi makanmu…" jeda Zelia dengan geleng-geleng kepala. "PORSI TUKANG BANGUNAN!" 


"Beneran aku hamil yang ketiga ini. Beda sama yang pertama sama kedua, Li," ujar Almeera bercerita.


Ya keduanya saat ini berada di meja makan. Zelia mengajak sahabatnya untuk menemani dirinya makan. Ditambah Mama Zelia yang masih tidur, membuat keduanya bisa sedikit lebih leluasa. 


"Bedanya dimana, Ra?" tanya Zelia penasaran.


Wajar saja. Hubungan keduanya, 'kan baru saja kembali hadir. Saat kehamilan Abra dan Bia, komunikasi keduanya sempat terputus karena nomor mereka tak aktif. 


"Aku hamil Abra sama Bia, gak mau makan nasi." 


"Terus? Kalau gak makan nasi, makan apa, Ra?" tanya Zelia penasaran. "Laper dong?" 


Kepala Almeera menggeleng. "Aku cuma bisa makan buah." 


"Hah?" Zelia terperangah. 


Wajar Zelia belum tahu apa-apa karena memang dia masih seorang gadis perawan.


"Saat hamil Abra dan Bia, aku makan nasi langsung muntah. Tapi tetap aku paksa makan nasi. Setelah muntah, baru aku kasih buah, Li." 


"Jadi kamu bakalan muntah terus gitu waktu makan nasi?" 


"Iya," sahut Almeera membenarkan.


"Berapa lama?" tanya Zelia semakin antusias.


"Empat bulan. Hamil Abra yang paling lama yaitu enam bulan."


"Astaga. Enam bulan gak makan nasi? Sekurus apa dirimu, Ra?" tanya Zelia sambil membayangkan tubuh sahabatnya.


"Sangat kurus. Bahkan berat Abra waktu itu lebih kecil dari umurnya. Jadi setelah enam bulan, aku baru lomba makan banyak." 


Zelia menganggukkan kepalanya. Dia mendapatkan ilmu baru lagi. Lebih tepatnya cerita tentang wanita hamil dan kebiasaannya. 


"Apa nanti aku bakalan seperti itu juga?" tanya Zelia dengan senyum-senyum sendiri.


Almeera terkekeh. Dia menepuk pipi sahabatnya yang membuat angan-angan Zelia bubar.


"Ish. Ganggu orang ngehalu aja!" seru Zelia kesal.


"Daripada ngehalu, mending nyata aja woy!" ujar Almeera sambil mengedipkan matanya.


"Ya caranya gimana? Masak iya perut langsung keisi sendiri!" 


"Ya di isiin dong!" 


"Ya sabar, Jeng Ayu. Mana ada gadis perawan macem aku, tiba-tiba hamil. Bisa-bisa beritanya menyebar ke seluruh dunia," kata Zelia mendramatisir.


"Lebay, Lo!" seru Almeera mendelik.


"Ishh. Serius he!" ujar Zelia memutar matanya malas. "Apa kek novel-novel yang aku baca. Tiba-tiba ada cowok datang melamar terus nikah. Benci jadi cinta terus bahagia atau gak, diperkosa terus ketemu lagi dan menikah hidup bahagia." 


"Woy, sadar. Ngehalu mulu!" ujar Almeera tak habis pikir. "Mending jadi penulis aja gih, Li. Otakmu cocok buat ngehalu." 


"Nah! Iya kali yah. Nulis kisahku sendiri. Judulnya 'Perawan Tua Mencari Jodoh.' 


"Astaga!" Almera memekik terkejut. 


Dia tertawa bahagia melihat ocehan absurd sahabatnya ini. Namun, Almeera bersyukur melihat sahabatnya juga bisa tertawa seperti ini walau hanya sebentar. 


"Yaudah. Bikin aja. Nanti aku baca dan aku jual bukunya sekaligus penulisnya biar laku!" kata Almeera dengan entengnya.


"DASAR SAHABAT LAKNAT!" 


~Bersambung


Judul novelnya bagus juga. Dicomot boleh, 'kan Mbak Li? Authoe tulis kisahnya hahaha.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.