Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Hukum Tabur Tuai!



...Kebahagiaan itu tak dapat diukur dengan uang. Tak dapat juga diukur dengan hal yang berbau materi. Bahagia bisa kita ciptakan tanpa modal dan dengan cara sederhana....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Narumi sudah pasrah dengan hidupnya. Bahkan wanita itu sudah menyerah dengan kehidupannya yang sangat amat terbatas. Apa yang terjadi pada dirinya, adalah sebagai pukulan telak.


Jujur dirinya sebenarnya tak gila. Tetapi ia hanya tak sanggup saat mendengar suara orang-orang yang pernah dijahati dengan sadar masih mau melihatngya. Dirinya masih belum siap untuk bertemu dengan Almeera dan Bara. 


Kejahatannya sudah sangat banyak. Bahkan jika bisa dilihat, kesalahannya sudah sangat besar dan menumpuk. Bahkan jika mengingat semua yang pernah ia lakukan, rasanya Narumi malu sendiri.


Keberadaannya disini sendirian. Sunyi sepi dirasakan tanpa sadar membuatnya menyelami segala hal yang pernah ia lakukan. Rasa kebahagiaan, kehilangan, kesedihan, jatuh, hancur dan jahat pernah ia lewati. Semua itu berputar bak kaset rusak yang sangat menyakitkan untuk diingat. 


Narumi mulai sadar jika apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Apa yang ia lakukan, rencana yang dia atur semuanya sangat amat jahat. 


Hingga keadaannya yang mengenaskan seperti ini? Narumi tak menyalahkan siapapun. Dia berpikir mungkin ini adalah karma yang harus ditanggungnya.


Pembalasan yang harus dibayar setelah merusak kebahagiaan semua orang. Hukuman yang Allah berikan kepadanya dibayar kontan di dunia. 


"Aku tak sanggup melewati semuanya sendiri, Tuhan. Ini sangat menyakitkan untukku," gumam Narumi pelan sambil meletakkan pisau itu di atas denyut nadinya. 


Dirinya menangis terisak. Tak memperdulikan matanya yang terasa nyeri karena air mata yang keluar. Dia benar-benar menyerah. Biarlah dirinya melewati segala sakitnya di akhirat.


Daripada dia disini sendirian dan tak memiliki saudara. Hidup dalam kegelapan dengan keadaan kaki yang cacat. Lebih baik dia menyusul mamanya. Setidaknya ia bisa bertemu sosok yang pernah melahirkannya disana.


"Maafkan aku, Ma. Narumi benar-benar tidak kuat," bisiknya bersamaan dengan tangan yang mengiris pergelangannya sendiri hingga cairan merah itu mengalir begitu deras dan berceceran di atas sprei.


Tubuh itu perlahan melemah seiring banyaknya darah yang keluar. Perlahan tubuhnya mulai limbung dan tergeletak di atas ranjangnya sendiri.


Hidupnya penuh penyesalan. Dengan banyaknya kejahatan yang ia lakukan. Hingga akhirnya dirinya mulai tak sanggup dan mencari jalan pintas yang sangat amat menyakitkan. Entah apa yang terjadi kedepannya tapi yang pasti, dia tak ingin berada di dunia lagi. 


...🌴🌴🌴...


"Mama! Papa gangguin Abang nih!" adu Abraham kesal.


Remaja itu tengah bermain game online di ipad miliknya. Dia merasa kesal pada Bara yang terus mengganggunya dengan mengusap kepalanya di perut Abraham.


Anak pertama Almeera memang tengah duduk di samping mamanya. Sedangkan papanya, berbaring nyaman di pangkuan mamanya.


"Mas," tegur Almeera mengusap kepala suaminya.


"Biarkan saja, Sayang. Kita lagi asik main piknik, dia malah heboh sama gamenya sendiri," sindir Bara menggeser kepalanya yang tadi menempel pada tubuh putranya.


"Hanya sebentar, Papa," bela Abraham dengan cepat.


"Sebentarmu itu 1 jam," sahut Bara tak mau kalah.


Almeera hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah suami dan putranya. Beginilah jika keduanya sudah berkumpul dan akur. Saling menjahili hingga berakhir dengan pertengkaran yang singkat.


"Papa seperti tak pernah muda," seru Abraham dengan mata terus terfokus pada ipadnya. 


"Sini Adek sama Papa. Abang bosenin banget, 'kan?" ujar Bara mencari partner untuk menyerang putranya.


Bia mengangguk. Dia memeluk tubuh Papanya walau pria itu tengah terbaring dengan enak.


"Abang kalau main game, gak bisa diganggu, Pa," bisik Bia yang dibalas anggukan kepala oleh Bara.


"Ya. Abangmu memang begitu," balas Bara berbisik.


Dalam hati, ayah dua anak itu merasa bersyukur. Putrinya sedikit demi sedikit mau berbicara lagi. Bisa diajak berbicara walau tak sebanyak dulu sebelum kejadian penculikan. 


"Nanti kita tinggal aja, Pa. Abang pasti gak bakal sadar," ujar Bia kembali berbisik.


Bara mengangguk. Pria itu mengajak putrinya bertos ria hingga membuat Abraham menoleh.


"Papa sama Adek berbisik apa?" tanya Abraham dengan penasaran.


"Kepo!" balas Bia menempel pada tubuh papanya. 


"Papa!" seru Abraham meletakkan ipadnya.


"Gak ada. Papa sama Adek mau beli kue leker di pinggir jalan depan," jawab Bara sambil mengedipkan mata ke arah Bia. "Iya, 'kan, Sayang?" 


"Iya, Pa." 


Dia merangkak ke arah sang adik lalu meraih tubuhnya hingga membuat Bia meronta.


"Abang geli!" serunya dengan menggeliat tak karuan. 


"Bilang dulu, bicara apa sama Papa. Nanti Abang berhenti," kata Abraham sambil menggelitik tubuh adiknya.


"Gak mau!" ujar Bia sambil tertawa. "Papa bantuin Adek!" 


"Nggak. Pokoknya bilang dulu," ujar Abra tak menyerah.


"Hahaha. Ampun, Bang. Ampun!" 


Bara tak tak tinggal diam. Dia membalas menggelitik tubuh putranya hingga terjadilah aksi gelitik saling berbalas.


Ayah dan anak tak pandang umur. Mereka saling menyerang dengan suara tawa begitu kencang terdengar semakin jelas. Ketiganya berguling ke sana kemari saat perutnya terasa kram karena terlalu banyak bercanda dan tertawa. 


"Aduh, sakit," lirih Abra dengan suara serak karena dia kalah dari Papa dan Adiknya.


Tubuhnya dikeroyok abis-abisan. Dirinya digelitik oleh empat tangan dengan kuat dan membuatnya hampir kencing di celana.


Sedang Almeera, ibu dua anak itu hanya menonton sambil tertawa. Dia tak menyangka jika suami dan anak-anaknya sangat amat bahagia dengan acara sore mereka.


Kegiatan yang sangat sederhana di lakukan di rumahnya sudah mampu membuat tawa anaknya kembali. Walau harus dipancing setidaknya itu sudah berhasil.


Akhirnya Almeera mulai mengajak suami dan dua anaknya masuk. Waktu semakin mendekati magrib. Keempatnya segera membereskan semua peralatan yang berserakan di sana. Bergantian, keempatnya saling gotong royong membawa dan memasukkannya ke dalam rumah. 


"Sudah selesai pikniknya?" tanya Papa Darren sambil meraih cucunya ke dalam pelukan. 


Bia mengangguk. Wajahnya terlihat lebih berseri dan itu membuat orang tua Almeera merasa bersyukur.


Darren dan Tari memang masih ada di rumah anaknya. Keduanya berada disini atas permintaan Almeera dan Bara. Mereka ingin kedua anaknya tak merasa sendiri. Bahkan selama penyembuhan Bia, ia ingin anaknya selalu dekat dengan keluarganya.


Sedangkan Abi Hafiz dan Ummi Mira, mereka selalu datang di pagi hari dan pulang ketika sudah selesai shalat dhuhur. Mereka tak bisa menginap disini karena kesibukannya. 


"Lebih baik kalian mandi dulu," kata Mama Tari pada anak dan menantunya.


"Iya, Ma." 


Keduanya segera masuk ke dalam kamar. Saat Bara hendak menanggalkan pakaiannya. Tiba-tiba suara ponsel yang ia letakkan di atas meja rias istrinya berbunyi.


"Angkatin, Sayang. Mas mau mandi," kata Bara dengan santainya. 


Almeera mengangguk. Dia segera berjalan menuju tempat dimana make upnya berada. Tangannya terulur meraih ponsel suaminya. Keningnya berkerut saat melihat nama pengacaranya yang memanggil. 


Ada kabar apa lagi ini? 


Almeera yakin pasti sesuatu yang berhubungan dengan Narumi. 


Dia yakin terjadi hal buruk dan membuat pengacaranya terpaksa menelpon mereka.


Dirinya masih ingat permintaan Bara tempo lalu. Jangan sampai pengacaranya menghubungi mereka lagi jika itu menyangkut Narumi. Namun, jika sudah sangat mengkhawatirkan, maka dengan terpaksa Bara mengizinkan. 


"Ada apa, Pak?" tanya Almeera setelah menjawab salam.


"Maaf, Bu Meera. Saya terpaksa menghubungi Anda dan Pak Bara karena ingin menyampaikan kabar buruk." 


"Kabar apa?" tanya Almeera dengan jantung berdegup kencang.


"Bu Narumi melakukan aksi bunuh diri dan sekarang sedang dibawa ke rumah sakit." 


~Bersambung


Kira-kira Narumi selamat gak yah?


hayoo?


BTW ada yang komen Mas Jimmy dan keluarga agamanya apa. Jujur semua keluarga Mbak Meera awalnya nonmus tapi seiring berjalannya waktu setelah Mbak Meera pindah, semua keluarga inti ikut pindah.


Kenapa di novel ini gak aku ceritain?


jujur aku takut dibilang ikut-ikutin perihal agama. Beneran aku gak berani nyampur aduk agama karena novel ini bukan genrenya religi romance. Jadi sampai disitu yah? paham kan?


Author hanya takut. Takut akan kesalahpahaman.


Jangan lupa klik like, komen dan vote ya. Biar author bisa update 3 bab terus.