Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Adeeva Diculik



...Meski hatiku mulai merasakan perasaan aneh. Aku berfikir dia mendekatiku hanya karena rasa penasaran....


...~Adeeva Khumairah...


...🌴🌴🌴...


Tak henti-hentinya Bara tertawa kencang saat mendengar cerita dari istrinya tentang kekocakan sahabatnya. Dia benar-benar tak percaya jika Reno bisa seberani itu. Di pertemuan pertamanya dengan Ibu Adeeva, pria itu malah menggombal. 


Benar-benar pria gila, bukan? 


"Kalau Mas tahu wajah Ibunya Adeeva. Pasti bakalan makin pengen ketawa," kata Almeera sampai memegangi perutnya karena sakit terlalu banyak tertawa.


"Pasti Tante kebingungan, 'kan?" 


Almeera mengangguk. "Adeeva yang malu malah melotot padaku dan berbicara tanpa suara untuk membawa Reno menjauh dari ibunya." 


"Terus?"


"Ya. Aku cepat-cepat ngajak Adeeva sama Tante ke kamar tamu. Sebelum sahabatmu itu makin gila."


"Terlalu lama menjomblo, membuat otaknya sedikit geser, Yang," kata Bara sambil membayangkan wajah sahabat sekaligus sekretarisnya itu. "Tapi apa mungkin Reno suka sama Adeeva?" 


Almeera menghentikan tawanya. Dia menatap suaminya dengan tatapan yang sama-sama penasaran.


"Bagaimana menurutmu?" 


"Iya, Mas. Aku berpikir Reno menyukai Adeeva dengan cara berbeda." 


"Ya. Biarkan saja! Aku mendukung jika sahabatku itu mengejar sahabatmu," kata Bara lalu merapat ke tubuh istrinya. "Reno sosok dingin. Dia anggap semua cewek itu ribet. Mangkanya sampai sekarang dia jomblo." 


Almeera mengangguk. "Kisah hidup mereka berdua hampir sama, Mas. Yang satu tak percaya pada pria karena ayahnya sendiri. Lalu yang satu menganggap semua cewek sama. Sama-sama menyusahkan!" 


"Aku berharap semoga mereka saling mengobati dan menyembuhkan," ucap Bara dengan jujur.


Apapun tentang kebaikan sahabatnya. Bara akan terus mensupport dengan sepenuh jiwa. Apalagi sekarang mengingat tentang kehidupan masa depan Reno, membuat Bara berharap jika sahabatnya mulai menaruh hati pada lawan jenisnya. 


"Aamiin." 


"Lalu bagaimana dengan kita?" tanya Bara lalu memeluk perut istrinya.


Keduanya memang sedang duduk di atas sofa yang ada di kamar utama. Mereka duduk berhadapan dengan begitu nyaman sambil ditemani televisi yang menyala sejak tadi. 


Almeera menoleh. Dia tersenyum dan mengelus lengan suaminya. Jujur berdekatan dengan Bara, membuatnya lambat laun menerima sentuhan suaminya. Meski hanya skin to skin tapi itu termasuk kemajuan. 


"Besok aku akan ke psikiater, Mas. Aku akan konsultasi tentangku," kata Almeera dengan jujur.


Dia hampir lupa mengatakan pada Bara. Dirinya menemukan kenalan seorang psikiater dan membuatnya langsung membuat janji. Almeera tak mau menunda lagi. Dia hanya ingin sembuh dari rasa traumanya sendiri.


"Mas boleh ikut?" tanya Bara penuh harap.


"Tentu. Kita akan konsultasi berdua, Mas." 


Bara mengangguk. Dengan tiba-tiba dia mencium pipi Almeera yang membuat wanita itu tersentak kaget.


"Aku berharap semoga Tuhan mengampuni dosaku karena menyakitimu. Aku juga berharap semoga Tuhan memberiku umur panjang agar bisa menebus segala tangisan air mata yang kalian berikan karena ulahku." 


"Mas," ujar Almeera menggeleng. "Jangan berkata yang tidak-tidak. Mas akan terus sehat. Mas akan menjaga aku dan anak-anak sampai Tuhan yang memisahkan." 


...🌴🌴🌴...


"Apa Reno kekasihmu, Nak?" tanya Ibu Adeeva yang membuat pergerakan Adeeva berhenti.


Perempuan itu tengah mengeluarkan seluruh peralatan mandinya karena ia ingin membersihkan diri. Namun, pertanyaan yang terlontar dari mulut ibunya barusan, entah kenapa tiba-tiba mengusik hatinya.


Kekasih?


Bagaimana bisa menjadi kekasih. Bahkan mereka saja tak pernah dekat sedikitpun. Akur pun, baru hari ini, 'kan?


"Bukan, Bu," sahut Adeeva dengan jujur.


"Tapi sepertinya Nak Reno menyukaimu." 


Jantung Adeeva berdegup kencang. Dia menatap ibunya dengan pandangan tak percaya. Bagaimana bisa pria itu menyukainya?


Bahkan tingkahnya saja sangat menyebalkan dan selalu mengatakan hal-hal pedas 


"Itu tidak mungkin, Bu," ujar Adeeva sesuai pemikirannya. "Kita tak sedekat itu." 


"Sudah, Bu. Apa Ibu ingin mandi?" tanya Adeeva penuh perhatian.


Saat ibunya mengangguk. Adeeva segera menyiapkan handuk dan peralatan mandinya. Lalu dia mulai menatanya di kamar mandi.


"Ibu mandi dulu, 'yah?"


"Iya, Bu." 


Setelah tubuh ibunya menghilang di balik pintu. Adeeva segera menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Membaringkan tubuhnya dengan menatap langit-langit kamar. 


Entah kenapa perkataan ibunya mengusik pikirannya kali ini. Tentang tanggap sang ibu yang mengatakan Reno menyukai dirinya. 


Hal yang mustahil!


"Mana mungkin dia menyukaiku. Aku saja tidak menyukainya," ujarnya pada dirinya sendiri.


Saat dirinya asyik tenggelam dengan pikirannya. Tiba-tiba suara pintu yang diketuk membuatnya lekas duduk. Adeeva merapikan rambutnya dan segera berjalan menuju pintu tersebut. 


"Sia…" Suara itu tertelan kembali saat melihat sosok pria yang sangat ingin dia hindari.


Entah kenapa Adeeva akui jantungnya selalu tak aman jika berada di dekat Reno. Dia seperti merasa degupan kencang dan membuatnya gugup setengah mati.


"Ada apa?" tanya Adeeva setelah menetralkan ekspresi wajahnya. 


Reno tak bersuara. Namun, tiba-tiba tangannya menarik lengan Adeeva yang membuat wanita itu bingung.


"Ren! Lepasin," serunya mencoba melepas cengkraman tangan Reno. "Mau kemana sih!" .


Pria itu tetap bungkam. Dia mulai membawa Adeeva keluar dari rumah Almeera dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil.


"Nggak. Ren! Lepas," pintanya dengan mata melotot.


"Diam!" 


Akhirnya Adeeva hanya bisa pasrah. Saat mobil itu mulai bergerak meninggalkan rumah sahabatnya. Di menatap jalanan yang dilalui oleh Reno.


Pikirannya menerawang. Kemanakah pria ini membawanya pergi tanpa izin.


"Kita mau kemana?" tanya Adeeva menatap Reno yang fokus dengan setirnya.


"Reno!" 


"Sebentar lagi sampai," kata Reno dengan cuek. 


Akhirnya setelah hampir dua puluh menit di perjalanan. Tiba-tiba kendaraan yang dibawa oleh Reno bergenti di depan sebuah kedai pinggir jalan. Kedai favorit dari seseorang yang ada di dekatnya.


"Ini." Adeeva menunjuk kedai di depannya.


Dia menatap Reno dan kedai itu bergantian.


"Jadi…" 


"Ya. Aku hanya ingin mengajakmu makan bersama. Apa kamu mau?" 


Pertanyaan Reno membuat Adeeva menelan ludahnya paksa. Dia tak menyangka jika pria itu mengajaknya ke tempat yang selalu dia datangi bersama sahabatnya. 


"Mau," sahut Adeeva tak mampu menolak.


Mereka segera memesan dua porsi nasi goreng dengan dua gelas es teh. Keduanya benar-benar sangat merakyat sekali. Tak ada kata jijik bagi mereka. Bahkan keduanya sangat menikmati makanan ini.


Hingga saat makanan itu telah habis masuk ke dalam perut. Adeeva mulai menatap sosok Reno. Mencoba mencari tahu tujuan pria itu mendekatinya.


Padahal ia masih ingat hetul! Saat keduanya masih saling menghina satu dengan yang lain. 


"Apa kau sudah jauh lebih baik?" tanya Reno yang membuat Adeeva segera mendongak.


"Tentu. Memakan ini selalu membuatku tenang dan bersemangat lagi," kata Adeeva sambil menarik dua sudut bibirnya ke atas. 


Anak itu nenar-benar terlihat begitu bahagia. Bahkan binar matanya saja sangat amat terlihat. Hal itu tentu membuat Reno tak ikhlas jika ada yang menyakiti wanita itu lagi.


"Teruslah tersenyum seperti itu," kata Reno dengan menatap Adeeva begitu lekat. "Apapun masalahnya kamu bisa cerita padaku untuk mengurangi rasa sakitmu."


~Bersambung


Sa ae lu, Bang! kalau suruh gas pol pinter amat.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. biar author semangat updatenya.