
...Ketika seseorang yang mencintaimu sudah pergi, kamu akan mulai merasakan arti dari kehilangannya....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Di tempat lain, terlihat seorang pria tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Siang ini dirinya berniat menjenguk sang istri di rumah sakit. Dalam hati, pria itu berharap semoga kali ini dia bisa menemui Almeera secara langsung.
Semalam Bara telah memikirkan semuanya. Dia benar-benar berniat untuk meminta maaf pada sang istri, dan mencoba memperbaiki hubungan keduanya. Bara menyadari semua ini sudah terlambat. Namun, setidaknya dia sudah berusaha berjuang untuk mendapatkan maaf dari istri dan kedua anaknya.
Hampir satu jam dia mengendarai mobilnya. Bara segera membelokkan stir ke kiri dan memasuki area parkir rumah sakit. Terlihat beberapa kendaraan roda empat yang memenuhi area tersebut. Hingga dirinya mulai menekan pedal rem saat posisi mobilnya sudah tepat di tempat.
Kali ini aku akan berjuang meski putraku sendiri yang menjadi halangan, gumamnya dalam hati.
Sebelum turun, Bara meraih sebuket mawar merah dan buah, untuk diberikan pada Almeera. Wajah pria itu tersenyum saat kakinya melangkah dengan ringan memasuki rumah sakit. Dirinya sudah tak sabar untuk menatap wajah Almeera yang sejak kemarin tidak dia lihat.
Saat kakinya mulai mendekati sebuah pintu tempat dirinya terakhir datang. Tak ada siapapun di depan sana. Bara tersenyum, dia berharap semoga putranya sedang bersekolah dan keluarganya belum datang.
Namun, baru saja tangannya mendorong pintu itu. Harapan yang dia inginkan ternyata kandas. Ruangan itu kosong dan tak terlihat siapapun. Bahkan ranjang pasien sudah tertata begitu rapi.Â
"Kemana, Meera?" ucapnya dengan mengedarkan pandangan.
Saat Bara baru saja keluar, di depan pintu dia berpapasan dengan seorang suster yang membuatnya segera memanggil wanita berpakaian serba putih tersebut.Â
"Ya, Pak?"Â
"Maaf, Sus. Pasien di ruang ini, kemana yah? Apa pindah kamar?" tanya Bara sambil menunjuk ruangan yang diyakini tempat Almeera dirawat.
"Oh, pasien yang terluka di kepala?" tebak suster tersebut yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Bara. "Dia sudah pulang."Â
"Pulang?" ulang Bara dengan kening berkerut.
Kenapa tak ada yang memberiku kabar, jika Almeera pulang, gumamnya dalam hati.
"Iya, Pak."Â
"Ya sudah, Sus. Terima kasih."Â
Setelah mengatakan itu, Bara terdiam di posisinya. Dia menatap kepergian suster dengan banyak pikiran di kepalanya. Dirinya kembali menoleh, menatap ke belakang untuk memastikan jika ruangan itu benar-benar sudah dibersihkan.Â
"Mungkin istri dan kedua anakku sudah ada di rumah," katanya berpikiran positif.
Akhirnya Bara segera melajukan mobilnya menuju ke rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka. Rumah yang dihiasi kebahagiaan selama 15 tahun, sebelum dirinya mencari kebahagiaan yang lain.Â
Dulu rumah itu selalu berisi canda tawa tanpa air mata. Namun, sekarang semua itu tinggal kenangan. Pertengkaran, perang dingin dan adanya jarak, yang selalu ada di rumah itu sekarang. Keadaan yang sangat jauh berbeda dari sebelum-sebelumnya.
"Aku rindu rumah yang hangat, senyum yang menyambutku ketika aku pulang dan celotehan kedua anakku yang selalu berebut tentangku," lirih Bara dengan mata menatap bangunan rumahnya.
Bara mulai mengedarkan pandangan. Pelataran rumahnya kosong. Tak ada mobil milik mertuanya disini. Pikirannya mulai berkeliaran, dia spontan berjalan dengan cepat dan memasuki rumah besar itu.
Hening.
"Meera!" teriak Bara dengan ketakutan yang besar.Â
Dia segera berlari ke lantai dua. Memasuki kamar kedua anaknya dan terakhir kamar mereka.
Kosong.
Tak ada tanda-tanda seseorang datang kesini. Semua barang masih begitu rapi dan tak tersentuh. Spontan Bara segera turun ke bawah dan muncullah dua orang pelayan yang selalu membantu Almeera membersihkan rumah.
"Kalian melihat Ibu pulang?" tanya Bara to the point.
"Tidak, Pak. Ibu dan anak-anak belum pulang."Â
Pikirannya kalut. Rasa takut hinggap dalam hatinya dan membuat Bara berpikir mungkin mereka ke rumah orang tuanya. Kedekatan istri dan orang tuanya, membuat dia yakin jika istri dan anak-anaknya ada disana.
Namun, lagi-lagi pria itu harus menelan kekecewaan. Di rumah orang tuanya tak ada siapapun. Bahkan dia sampai mencari ke seluruh rumah karena takut jika abi dan umminya menyembunyikan mereka.
"Tolong Bi, Ummi. Kasih tau dimana istri dan anak-anakku berada?" Mohon Bara dengan mata berkaca-kaca.Â
Saat ini penampikan ayah dari Abraham itu begitu acak-acakan. Kemeja yang dia kenakan sudah keluar dari tempatnya. Dalam dirinya, dia hanya memikirkan kemana Almeera, Bia dan Abraham saat ini.
Bara benar-benar tak mau mereka pergi. Dia tak ikhlas jika ditinggal sendirian seperti ini.
"Nak," panggil Ummi Mira saat melihat putranya hanya diam. "Bara!"Â
Pria itu berjingkat kaget. Dia menatap Ummi Mira dengan pandangan sendu.
"Kenapa?"Â
"Aku takut, Ummi. Aku takut ditinggal oleh mereka," ucap Bara dengan menunduk.Â
Ya, apa yang dikatakan oleh Bara memang benar. Pria itu sangat amat ketakutan kehilangan istri dan dua anaknya. Dirinya juga tak bisa membayangkan bagaimana jika Almeera, Bia dan Abraham saat ini sudah tak ada di Indonesia.Â
Mereka pergi sejauh mungkin, tanpa meninggalkan kabar padanya. Hal itu tentu membuat sosok Bara semakin diliputi rasa sakit dan penyesalan yang besar.
"Kenapa baru sekarang, Nak? Kenapa?" tanya Ummi Mira dengan pandangan sendu. "Kenapa tidak dari dulu kamu memikirkan keputusan yang kamu ambil akan berakhir seperti ini?
Bara terdiam. Kepalanya semakin menunduk tak berani menatap wajah wanita yang melahirkannya. Semua ini adalah kesalahannya dan dia benar-benar ingin memperbaiki semuanya.Â
"Maaf, Ummi. Tolong bantu Bara kali ini!" mohonnya sambil meneteskan air mata. "Setidaknya tolong tanyakan pada Daddy Darren, dimana istri dan anakku, Ummi."Â
Abi Hafiz yang sedari tadi diam, hanya bisa menghela nafas berat. Dia dan sang istri saling pandang seakan sedang memikirkan kata apa yang pas untuk putranya.Â
"Lebih baik lepaskan istrimu, Bara," ucap Abi yang mengejutkan putranya itu.
"Apa maksud, Abi?"Â
"Almeera mengatakan pada Ummi bahwa dia akan menyerah," lirih Ummi tanpa menatap putranya itu. "Almeera mengatakan dia ingin bercerai."Â
"Nggak. Bara tidak mau, Ummi." Bara menggeleng. Dia lekas berjalan menuju pintu keluar dengan cepat.
Sungguh dirinya tak menyangka kedua orang tua yang diharapkan akan membantunya, memberikan support padanya disaat keadaan seperti ini. Ternyata memberikan pernyataan yang semakin menusuk ke hati.Â
Bukankah Bara sudah mengatakan bila dia tak akan bercerai. Dia tak akan melepaskan istri pertamanya itu. Apapun yang terjadi, Bara akan berusaha mempertahankan Almeera.
"Bara tunggu!"Â
Langkah kaki itu berhenti. Namun, sang pemilik nama tak mau berbalik. Entah kenapa dia merasa semua orang tak ada di pihaknya sekarang.Â
"Bukankah Abi dan Ummi pernah mengatakan untuk memikirkan lagi keputusanmu untuk menikah lagi, walau kamu sudah mendapatkan izin, ingat?" tanya Abi yang membuat kepala Bara mengangguk.
Dia berbalik dan menatap ke arah kedua orang tuanya.Â
"Tak ada wanita manapun yang mau cintanya terbagi, Nak. Jika kamu dulu sudah berani memutuskan untuk berbagi, maka kamu harus siap untuk kehilangannya sekarang," kata Abi dengan pandangan sendu.
"Entah itu sekarang, setahun lagi, lima tahun lagi, kamu pasti kehilangan Almeera dan kedua anakmu karena keputusanmu yang egois dan tak memikirkan kebahagiaan mereka."Â
~Bersambung
Hmm wes ndang gila, Bang. Cari anak dan istrimu itu. Kabur kemana mereka cobak!
Jadi gimana kalau aku bikin grup di whatshapp atau telegram? komen yah.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author makin semangat.