Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Ekstra Bab 3



...Entah takdir apa yang akan terjadi di antara mereka. Namun, yang namanya jodoh. Sejauh apapun mereka berpisah, sebesar apapun ujiannya. Dia akan kembali ke pemiliknya....


...~JBlack ...


...🌴🌴🌴...


"Apa semuanya sudah diurus, Ra?" tanya Adeeva yang terlihat begitu sedih.


Almeera menarik nafasnya begitu dalam. Jujur ini juga keputusan yang berat untuknya. Namun, cafe Bara yang melebar sampai ke negara tersebut, lalu perusahaan papanya juga membutuhkan sosok pemimpin secara langsung.


Kepindahan ini meliputi, Papa Darren, Mama Tari dan Keluarga Almeera kecil.


Jonathan dan Kayla tetap ada di Indonesia untuk mengurus perusahaan Almeera. Mereka juga tak bisa ikut serta pindah karena beberapa pekerjaan harus ada yang menghandle disini.


"Sudah, Va. Semuanya sudah beres. Tinggal menunggu waktu terbang saja," ujar Almeera apa adanya.


"Semua udah gue urus, Ren. Bantu gue urus perusahaan yang disini, okey!" 


Reno mengangguk mantap. Walau dia juga sedih. Namun, dirinya mencoba menerima semua keputusan yang sudah diambil oleh sahabat sekaligus bosnya itu. 


"Gimana perasaan Reyn kalau tahu Athaya akan pergi?" ucap Adeeva menatap suaminya. 


Almeera tersenyum. Dia bergeser tempat duduk dan menggenggam tangan sahabatnya.


"Percayalah kalau mereka berjodoh. Sejauh apapun takdir memisahkan, pasti akan bertemu." 


Adeeva meyakinkan hatinya. Entah kenapa ia juga merasa senang melihat anaknya selalu mengikuti Athaya kemanapun. Bagaimana Reyn yang selalu mengutamakan kepentingan Athaya. Selalu memintanya mencarikan barang yang disukai anak sahabatnya itu. 


"Jangan bilang seperti itu, Sayang. Aku tak mau besanan sama Reno. Bosen liat dia mulu!" 


Reno segera melempar bantal sofa ke wajah sahabatnya. Dia mendelik tak suka dengan mulut menggerutu. 


"Sialan, Lo! Lo gak liat anak gue kesemsem banget sama anak Lo, hah? Kalau Lo nolak dia jadi mantu, hadapi gue dulu," kata Renk dengan menepuk dadanya. 


"Cih!" seru Bara dengan memutar bola matanya malas. "Gue bakalan selektif sama calon menantu gue nanti. Gue takut kalau nasib mereka bakalan sakit seperti mamanya." 


Almeera menatap suaminya dengan serius. Dia sangat tahu ketakutan dalam diri Bara. Almeera selalu mendengar bahwa Bara takut jika karmanya pada Narumi akan jatuh pada salah satu putrinya.


Dia tak mau dosanya ditanggung anak-anaknya. Dia tak mau anaknya menderita karena kesalahannya itu. 


"Percayalah, Mas. Takdir mereka berdua sudah tertulis semenjak ditiupnya roh ke tubuh mereka," kata Almeera menenangkan suaminya. "Jodoh, mati dan rejeki semuanya sudah diatur. Tinggal manusianya saja yang menjalani dan bagaimana mencapainya." 


Akhirnya pembicaraan itu berakhir tatkala sebuah klakson mobil berbunyi. Reno dan Adeeva segera keluar menyambutnya dan melihat sepasang suami istri dengan seorang anaknya keluar dari mobil.


"Tuan…"


"Panggil aku Kakak saja, Va. Kita di rumah bukan di perusahaan!" tegur Jonathan kesekian kalinya.


Adeeva menganggukkan kepalanya lalu tatapannya beralih ke sosok perempuan yang umurnya sudah 5 tahun.


"Hai, Ane Sayang!" sapa Almeera pada anak pasangan Jo dan Kayla.


"Halo, Tante," sahut Ane dengan ceria. "Reyn kemana?" 


Ah jika anak pasangan dua ini berbeda. Ane sangat suka bermain dengan Reyn. Bocah kecil itu akan mencari dimana anak Reno berada dan selalu menempel. 


"Reyn ada di kamar, Sayang. Bersama Athaya dan Athalla!"


Mendengar nama saudaranya. Bibir Ane cemberut. Entah kenapa setiap ada Reyn dan Thaya disana. Ane akan merasa seakan dia kecewa. Tubuh mungil itu meronta meminta diturunkan dan menatap ke arah papa dan mamanya. 


"Ane ke kamar Reyn boleh, Papa? Ane mau main," pamitnya pada Jonathan. 


"Boleh. Izin juga sama Tante Adeeva. Boleh gak Ane masuk gitu?" kata Jonathan kepada putrinya.


Ane mengangguk. Dia segera berbalik dan berjalan ke arah Adeeva dan Reno.


"Om, Tante. Ane boleh main sama Reyn?" 


"Boleh, Sayang. Ayo Tante anterin!"


Akhirnya mereka semua mulai masuk. Reno mengajak pasangan suami istri itu ke ruang tamu hingga Almeera memeluk kakak ipar dan kakak kandungnya. 


Sebenarnya mereka sudah janjian disini. Setiap minggu ketiganya akan berkumpul agar anak-anak mereka juga terjalin hubungan yang kuat seperti mereka. 


...🌴🌴🌴...


Tok…tok.


"Reyn, nih siapa yang dateng?" kata Adeeva saat membuka pintu kamar putranya itu.


Reyn yang ternyata sedang bermain dengan boneka BT21 dan bongkar pasang di kamarnya bersama Athaya dan Athalla segera mendongak. Dia tersenyum begitu lebar melihat Ane juga datang disana.


"Halo, Kak Ane," sapa Reyn dengan ramah.


Pria kecil itu berjalan menuju ke arah sang mama dan melambaikan tangan ke arah Ane.


"Halo, Reyn," sahut Ane dengan malu-malu.


Athaya dan Athalla yang melihat sepupunya juga beranjak berdiri. Dia menyalami anak dari kakak mamanya itu dengan sopan. 


"Kak Ane sama Tante Kayla?" tanya Athaya pada Ane.


"Iya. Aku sama Mama dan Papa." 


Perlahan tatapan Adeeva berpindah ke putranya dan Athaya. Dia berjongkok agar anak-anak itu bisa menjangkau tubuhnya.


"Kak Ane mau ikut main sama Reyn dan Athaya. Boleh, Nak?" pamit Adeeva pada putranya. 


Reyn mengangguk cepat. "Boleh, Ma. Yang penting ada Athaya juga disini!" 


Wajah Ane terlihat murung. Namun, ya pemikiran anak-anak seperti itu memang. Seakan teman masa kecilnya hanya untuknya dan tak boleh bermain dengan yang lain. 


"Yaudah sana main. Yang akur yah, Mama tinggal!" 


Sepeninggal Adeeva. Reyn segera mengajak Ane untuk menuju ke arah mainannya. Begitupun Athaya, dia menarik tangan kakak kembarnya agar ikut bersamanya.


Ane dengan cepat mendudukkan dirinya di samping Reyn


"Kakak itu tempatku," kata Athaya pada Ane.


Ane mendongak. Dia memang sengaja duduk disini agar bisa dekat dengan Reyn.


"Tempatnya, 'kan luas, Thaya. Itu disini juga bisa, 'kan, kamu duduk?" Ane menepuk tempat di sampingnya. 


Hal itu membuat Athaya kesal. Namun, akhirnya anak itu memilih diam dan duduk bersama saudaranya.


"Aya mau duduk disini?" tawar Reyn menepuk tempatnya.


"Nggak usah, Reyn. Aya disini aja." 


Akhirnya Athaya mengambil mainan bongkar pasang milik Reyn yang tadi belum selesai ia susun. Kemudian dia memasangkan mainan itu bersama abangnya. 


"Reyn, ini gimana?" tanya Ane menarik tangan putra Reno.


Reyn yang saat itu lebih memilih melihat apa yang dikerjakan oleh Thaya segera menoleh. 


"Itu salah, Kak," katanya lalu bergeser dan menatap Ane.


Bocah empat tahun itu memang akrab dengan Ane. Dia selalu baik dan ceria pada siapapun. Namun, tingkah menempelnya akan meningkat tajam jika disana ada Athaya.


Entah kenapa Reyn selalu mengejar Athaya meski bocah perempuan itu jutek kepadanya. Dia selalu menemukan sejuta banyak cara untuk menarik perhatian anak keempat pasangan Bara dan Almeera.


"Reyn, ini sudah selesai kupasang. Taruh mana?" 


"Disana, Aya," tunjuk Reyn ke arah lemari tempat khusus mainan bongkar pasang. "Ayo aku antar!" 


Saat Reyn hendak beranjak berdiri. Ane memegang tangan Reyn.


"Reyn disini saja. Temani Kak Ane susun puzzle ini. Aya, 'kan, bisa taruh sendiri." 


~Bersambung


Huahahhaa ekstra bab diajak mikir.


Yok vote, like dan komen guys. Senin loh hihi. BTW aku bakalan kasih ekstra bab sampai ada balesan dari editor tentang alur Syakir Humai yah. Gimanapun nunggu mereka diterima atau nggak.