Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Strong Women



...Aku tak pernah menuntutmu menjadi sempurna untuk berada di sampingku. Tetaplah genggam tanganku dan jangan pernah meninggalkanku. Itu sudah lebih dari cukup. ...


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


Tak ada kebahagiaan yang mampu melebihi kabar ini. Bara sangat amat bahagia ketika dokter mengatakan bahwa istrinya sudah baik-baik saja dan siuman. Pria itu benar-benar ingin menemui istrinya sekarang. Namun, dokter meminta keluarga menunggu agar Almeera dipindahkan ke ruang rawat dulu.


Saat brankar Almeera didorong keluar dari ruang ICU. Dengan cepat semua keluarga mendekat. Bara dengan tatapan penuh kerinduan segera meraih jemari istrinya.


Dia tersenyum tatkala mata indah yang selalu menatapnya penuh cinta bisa dilihat lagi. Mata yang terus memandangnya penuh kekaguman bisa dipandang lagi.


“Terimakasih, Sayang. Terima kasih sudah mau bertahan dan kembali padaku,” kata Bara dengan lembut.


Almeera hanya mengangguk. Wajahnya memang masih terlihat pucat. Dia hanya bisa diam sebelum suster mendorong brankarnya kembali.


Wajah semua orang terlihat begitu bahagia. Terutama Abraham dan Bia yang sudah boleh keluar dari ruang rawatnya. Bocah kecil itu terus memanggil nama mamanya. Seakan kecelakaan itu membuat penyesalan dalam diri anak itu begitu mendalam.


“Mama udah sembuh, ‘kan, Pa?” tanya Bia yang berada dalam gendongan Bara.


Sejak berada dalam ruang rawat. Bia dijaga oleh Abraham dan pengasuhnya. Bara dan seluruh keluraga bergantian menjaga Bia dan Almeera dalam waktu berkala.


Setelah brankar Almeera sudah selesai ditata rapi. Dua suster itu mulai pamit keluar dari ruangan Almeera.


“Pasien diharap banyak istirahat ya, Pak. Kondisinya masih harus dipantau oleh dokter,” kata salah satu suster pada Bara.


“Baik, Sus,” jawab Bara dengan cepat.


Sepeninggal dua suster itu. Mereka segera berebut mendekati Almeera. Namun, semua orang kembali memberikan waktu kepada dua orang yang berhak mendekati Almeera terlebih dahulu.


Ya, orang tua Almeera yang dimaksud. Mereka meminta Papa Darren dan Mama Tari mendekati putrinya. Keduanya begitu bahagia saat semuanya mengalah.


Mereka segera mendekati sosok putrinya yang juga sedang menatap keduanya. Mama Tari tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dia menggenggam tangan Almeera lalu memberikan kecupan yang lumayan lama di dahi anak ketiganya.


“Mama takut. Mama takut gak bisa ketemu sama kamu lagi, Ra,” katanya dengan air mata yang mulai menetes.


Almeera tersenyum. Dia membalas genggaman tangan mamanya. Almeera juga tak bisa melakukan apapun. Saat dirinya ingin sekali membuka mata. Namun, mata itu seakan sulit terbuka.


Hanya ada suara Bara yang saat itu mampu dia dengar.


“Semua berkat izin Allah, Ma,” ucap Almeera dengan suaranya yang lemah. “Jika suatu hari nanti itu terjadi pada salah satu di antara kita. Kita harus ikhlas.”


 “Mama tahu, Sayang. Ikhlas saja mengatakannya sangat mudah. Namun melakukannya itu sangat sulit.”


Almeera mengerti. Dia tak menyalahkan Mamanya. Namanya takdir kematian adalah hal yang terduga oleh siapapun.


Datangnya seperti jodoh. Tak diundang dan tak disangka-sangka.


“Kamu harus janji jangan pergi lagi yaah! Mama tak mau kehilangaan kamu,” ujar Mama Tari lalu memeluk putrinya.


“Insya allah. Kalau Allah memberikan Almeera kesempatan berumur panjang. Maka Almeera akan terus berada di samping, Mama.”


Setelah melepaskan rasa rindunya dengan memeluk putrinya. Mama Tari meninggalkan suami dan putrinya berdua. Dia sangat tahu suaminya itu sangat dekat dengan anak-anaknya juga. Hingga ia ingin menghormati privasi sang suami dengan anak-anaknya.


“Bagaimana, Nak? Gak ada yang sakit, 'kan?" tanya Papa Darren pada putrinya.


“Gak ada, Pa. Almeera benar-benar baik-baik saja.”


Papa Darren mengangguk. Perlahan dia menarik kursinya agar lebih dekat dengan brankar anaknya. Lalu menggenggam tangan anaknya.


“Pa,” panggil Almeera saat dia merasakan tetesan air mata jatuh ke tangannya saat papanya mencium punggung tangan Meera. “Papa jangan sedih!”


Papa Darren menghela nafasnya begitu dalam. Dia sejak kemarin menahan kesedihannya sendiri. Mencoba menjadi sosok yang kuat saat semua keluarganya khawatir dan lemah dengan menunggu kabar Almeera.


“Maafkan Papa yang kemarin hampir putus asa. Papa hampir mengikhlaskan kamu, kalau memang Tuhan mengambil kamu dari sisi papa. Papa… " 


"Papa…" sela Almeera saat melihat papanya tak kuasa melanjutkan perkataannya. "Almeera gak bisa menjawab sampai kapan Meera selalu ada di samping, Papa. Tapi, selagi Allah kasih nafas, Almeera gak bakal pernah menjauh dari Papa dan Mama." 


Papa Darren mengangguk. Dia segera mencium dahi putrinya hingga membuat hari Almeera menghangat. 


Sosok Papa Darren adalah cinta pertamanya di dunia. Papanya lah yang menjadi pria pertama yang akan menjadi garda depan saat dia disakiti oleh siapapun. Hal itulah yang selalu membuat hubungan keduanya semakin rekat. Bahkan tak ada satupun hal yang mampu ditutupi dari keduanya sekecil apapun masalahnya. Kecuali masalah rumah tangga. Almeera berusaha menutupinya.


Setelah orang tua Almeera selesai. Kini waktu dimana Bara, suami yang membuatnya kembali sadar. Pria yang suaranya serta jeritannya seakan sebuah tarikan yang mendorong matanya untuk terbuka.


Bibirnya tersenyum tatkala Bara menangkup wajahnya lalu mencium seluruh mukanya dengan penuh perasaan. 


"Terima kasih. Terima kasih," kata Bara dengan tulus. "Terima kasih sudah mau berjuang bersama-sama." 


"Sama-sama, Mas," balas Almeera setelah Bara memberikan kecupan di bibirnya.


Dua mata itu saling menatap penuh kerinduan. Hingga pikiran Almeera mengingat kejadian yang terjadi sebelum kecelakaan.


Dia menurunkan pandangannya. Menatap perutnya yang mulai rata. Jantungnya begitu sesak saat bayangan sesuatu terjadi pada anak-anaknya.


"Mas. Anak kita?" tanya Almeera dengan panik.


"Tenanglah, Sayang. Semuanya baik-baik saja." kata Bara menenangkan istrinya.


"Apa kamu tak mendengar mereka menangis saat kamu tak sadar?" 


Almeera menggeleng. "Aku hanya mendengar suaramu yang berteriak lalu bayangan dua orang anak kecil mengajakku mengikutinya." 


Bara mengangguk. "Mungkin itu adalah anak-anak kita, Sayang." 


Tak lama, suara pintu terbuka membuat Almeera menoleh. Dari sana muncul suster yang mendorong dua box bayi ke ruangan Almeera. 


Perempuan itu meminta Bara membantunya untuk duduk. Dia ingin melihat dua anaknya yang lahir dari perutnya itu. 


"Mas. Ini anak-anak kita?" tanya Almeera tak percaya. 


Bara mengangguk. "Ya. Mereka Bara dan Almeera kecil." 


"Mereka beda jenis?" tanya Almeera yang terkejut.


Keduanya memang tak pernah meminta jenis kelamin ketika USG. Keduanya ingin kelamin si kembar menjadi rahasia untuk mereka.


"Ya. Sayang."


Perlahan Mama Tari mendekat. Membantu putrinya mengambil salah satu anaknya yang ternyata adalah putranya. Dengan hati-hati Almeera menggendong putranya itu dengan air mata yang mulai mengalir.


"Putraku. Syukurlah kalian selamat." 


"Mereka anak-anak yang kuat, Sayang. Sifatnya sepertimu. Strong women!"


~Bersambung


Sebenarnya mau kasih tau nama bayinya di bab ini. Tapi kok jumlah katanya dah lebih seribu. Jadi bab malam oke.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Maaf kalau aku upnya agak telat yah. Malam anakku tidurnya larut terus. Alhasil mau ngetik kadang tidur juga.