Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Naga Kembali Beraksi



...Momen kehamilan adalah masa yang paling aku rindukan. Ketika bagaimana aku berusaha memanjakanmu dan menuruti apa yang kamu mau....


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


Bara


Aku akan menjemputmu setengah jam lagi, Sayang. Aku sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Zelia.


Almeera membaca pesan singkat itu dengan tersenyum. Dia benar-benar geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya itu. Bara berubah menjadi suami posesif dan sangat protektif padanya sejak hamil. 


"Kenapa, Ra?" tanya Zelia penasaran.


"Mas Bara sudah ada di jalan," ujarnya lalu meletakkan benda pipih itu di atas meja. 


"Yah." Wajah Zelia memberengut.


Gadis itu menatap jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 1 siang. Ternyata sahabatnya itu sudah ada di rumahnya lumayan lama. Namun, keasyikan mengobrol dan saling bercerita membuat keduanya tak menyadari waktu yang terus berputar begitu cepat. 


"Padahal aku masih kangen," cicit Zelia yang merasa rumahnya akan kembali sepi.


Almeera perlahan meraih tangan sahabatnya itu. Menggenggamnya erat hingga tatapan keduanya saling menatap. 


"Aku janji bakalan kesini lagi buat jenguk kamu sama Tante. Toh aku kan jadi pengangguran berbayar," kata Almeera dengan membusungkan dadanya.


"Sombong yah. Sombong!" ujar Zelia mencibir.


Kekasih Jimmy itu tak bisa membantah perkataan calon adik iparnya. Karena yang dikatakan Meera memang benar adanya.


"Jelas dong! Biar kamu terus kangen sama aku," balas Almeera terkekeh. 


"Lain kali ajak Adeeva kesini, Ra. Biar kita bisa kumpul bareng," kata Zelia mengajak.


"Pasti. Wajarin aja mereka sekarang. Namanya aja  pengantin baru." 


"Udah. Jan bahas manten baru. Sana pulang. aku usir!" 


"Cie ada yang kepingin cie," kata Almeera sambil beranjak berdiri. 


"Awas kamu yah!" 


Almeera menjulurkan lidahnya. Dia segera berjalan cepat keluar dari rumah Zelia saat mendengar suara mesin mobil suaminya datang.


Dua sahabat itu saling mengejar yang membuat Bara dengan sigap meraih istrinya dalam pelukan saat Almeera berlari ke arahnya. 


"Jangan lari-lari, Sayang," kata Bara begitu khawatir.


"Maaf, Mas. Tadi aku dan Lia saling menggoda," ucap Almeera menyesal.


"Gapapa, Sayang. Aku cuma ingetin aja. Jangan lari-lari takut kesandung. Oke?" 


"Oke." 


Almeera perlahan melepaskan pelukan suaminya. Lalu dia berjalan ke arah Zelia yang berdiri di sana.


Tatapan sepasang sahabat itu saling menatap. Keduanya lalu saling memeluk satu dengan yang lain.


"Aku balik ya, Li," kata Almeera pamit. 


"Iya," sahut Zelia dengan pelan. "Makasih udah mau datang kesini buat ngehibur aku, Ra." 


Almeera melepaskan pelukannya. Dia menatap sahabatnya dengan lembut lalu menghapus air mata Zelia yang menetes.


"Sama-sama. Kapanpun kamu mau. Aku usahakan akan selalu ada disampingmu, Li. Kamu jangan merasa sendiri." 


Zelia mengangguk. Dia tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya terkepal ke depan. 


"Semangat, semangat, semangat yey!" pekik Almeera dan Zelia bersamaan.


...🌴🌴🌴...


"Bagaimana kabar Mama Zelia, Sayang?" tanya Bara setelah mobil mereka meninggalkan pekarangan rumah Keluarga Zelia.


"Memprihatinkan, Mas," sahut Meera dengan lesu. "Tante cuma bisa tidur aja di atas ranjang. Tangannya sudah di infus sama hidungnya pake oksigen." 


"Biarkan mereka melewati masalah yang dihadapi, Sayang. Kita gak perlu ikut campur terlalu dalam," ujar Bara menasehati. "Kak Jim sama Zelia itu sudah besar. Bahkan usia mereka masih diatas kita. Aku yakin keduanya bisa menghadapi tantangan ini."


"Aamiin." 


Tatapan Meera perlahan menatap keluar. Dia melihat para penjual pinggir jalan secara bergantian. Wajah ibu hamil itu seakan berbinar cerah saat matanya tanpa sengaja membaca setiap menu yang dijual oleh penjualnya.


"Mas. Berhenti-berhenti!" kata Almeera menepuk lengan suaminya dadakan.


Bara spontan lekas membelokkan setirnya ke kiri. Untung saja tak ada kendaraan di belakang mereka hingga membuat pria itu bisa meminggirkan mobilnya dengan selamat.


"Kenapa…" 


Belum sempat Bara menyelesaikan perkataannya. Almeera sudah keluar dari mobil dengan membawa tas jinjing miliknya. Perempuan itu berjalan dengan cepat yang membuat Bara mau tak mau mengikuti langkah istrinya itu. 


Saat Bara baru saja menutup pintu mobil. Matanya membulat penuh melihat istrinya berdiri di pinggir gerobak rujak buah. Istrinya itu ternyata hendak membeli makanan itu dan membuatnya harus menepi dengan dadakan. 


"Beri aku kesabaran yang luas, Tuhan. Istriku benar-benar menguji iman," kata Bara pada dirinya sendiri.


Akhirnya mau tak mau dan tak mau membuat istrinya menunggu sendirian. Bara mulai menyusul Almeera. Pria itu lekas menarik pinggang istrinya itu hingga membuat Meera terkejut.


"Kenapa, Mas?" tanya ibu dari calon empat anak itu yang sedang menatap buah apa saja yang ada di gerobak.


"Kamu pengen rujak buah?" tanya Bara penasaran.


"Iya, Mas. Keknya seger banget siang-siang gini makan rujak," ujar Almeera menjilat bibirnya sendiri dengan lidahnya. 


Bara mendelikkan matanya. Dia meremas pinggang Almeera membuat perempuan itu menoleh. 


"Jangan pernah menjilat bibirmu sendiri atau aku akan memakan bibirmu disini!" bisik Bara yang membuat mata Almeera melotot.


"Mas!" seru Almeera mengancam.


"Tinggal pilih aja!" ujar Bara tak mau goyah. 


Almeera tak habis pikir dengan otak suaminya itu. Bisa-bisanya sedang di tempat umum seperti ini suaminya berpikiran omes. Memang Bara ini, benar-benar meminta diruqyah agar otaknya menjadi bersih dan suci, pikir Almeera.


"Aku pilih ditumbuk sampai meledak," bisik Almeera tak kalah panas.


Wajah Bara menjauh. Dia menatap ekspresi istrinya yang mengedipkan matanya nakal ke arahnya. 


Ah ini namanya senjata makan tuan! 


Ingin membuat istrinya berhenti bersikap nakal tapi malah semakin dibuat panas 


Saat Almeera sudah mendapatkan rujaknya. Bara segera menggandeng tangan istrinya menuju ke mobil mereka. Keduanya segera masuk tanpa mengatakan satu kata pun.


Namun, saat Almeera hendak memakai sabuk pengaman. Sebuah tarikan di tangannya hingga membuat kepalanya menoleh, saat Alemera hendak berteriak. Namun, ternyata suatu hal gila terjadi disini.


Bibir Bara meraup bibirnya dengan ganas dan membuat ibu hamil itu kewalahan. Suaminya benar-benar menggoda iman sekali dengan gerakan lidahnya yang sudah menerobos masuk mengobrak abrik mulutnya.


"Mas!" pekik Almeera sedikit mengerang tatkala sebuah remasan kuat di bukit kembarnya.


Mata keduanya terlihat begitu berkabut menandakan baik Bara maupun Almeera sudah sangat bergairah. Tubuh mereka tak bisa dibohongi jika di antara keduanya sama-sama memiliki keinginan yang besar.


"Aku ingin sekarang, Mas!" kata Almeera sambil mengusap naga milik Bara dengan gerakan erotis.


"Sayang!" erang Bara dengan tangan mencengkram setir kemudi.


"Aku mau, Mas!" 


"Tapi jangan di mobil!" kata Bara menahan tangan istrinya yang hendak membuka kaitan celananya. "Aku tak mau anak kita kenapa-napa." 


"Tapi aku sudah tak tahan!" rengek Almeera dengan begitu manja. 


Jika sudah begini Bara tak bisa menolak. Akhirnya dia kembali meraup bibir istrinya dan ********** sampai benar-benar kewalahan.


"Tahan sebentar lagi ya, Sayang. Kita cari hotel sekarang!" 


~Bersambung


Hahaha gak kuat Mas Bara yah? Kapok deh! Gih cari hotel, cepet.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.