Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Terjebak?



...Sebentar lagi aku akan menguasai semuanya seorang diri. Aku akan menikmati hidup dengan uang itu dan menyingkirkan kerikil yang menghambat tujuanku....


...~Narumi Alkhansa...


...🌴🌴🌴...


"Apa yang harus kita lakukan, Bar?" tanya Reno setelah panggilan itu terputus. "Kita gak mungkin cuma duduk diam disini, 'kan?"


Bara mengangguk. Dia membenarkan ucapan sahabatnya itu. Dirinya tak mungkin duduk diam menunggu malam. Bara harus bergerak mengumpulkan segala bukti untuk menjebloskan keduanya di penjara besi. 


"Kumpulkan semua berkas yang dibuat Ilham dan data yang asli. Lalu cek semua CCTV dan mutasi rekening perusahaan. Gue yakin tikus itu pasti mengirim uang itu ke rekeningnya," seru Bara dengan menatap layar yang menampilkan pergerakan di seluruh perusahannya.


"Oke." 


Setelah Reno pergi. Bara segera mengotak atik ponselnya lagi. Dia mencari kontak seseorang yang bisa membantunya kali ini. Bara yakin sosok itu pasti akan menjadi garda terdepan untuk membuka seluruh kejahatan Narumi.


"Halo?" sapa suara berat dari seberang sana. 


"Ada dimana, Kak?" tanya Bara dengan cepat.


"Di rumah. Nih mau ke rumah sakit buat jenguk Zelia."


Kening Bara berkerut. Dia begitu heran dengan penjelasan kakak iparnya ini. Ya, Bara memang menelpon Jimmy untuk bertanya apakah pria itu bisa membantunya. Namun, entah kenapa kali ini dia terfokus pada kalimat yang keluar dari mulut pria agen tersebut.


"Menjenguk?" ulang Bara dengan nada suara heran. "Sejak kapan Kakak dekat dengan Zelia?" 


Bara seakan penasaran pada Jimmy. Seingatnya baik Jimmy maupun Zelia tak saling kenal. Namun, sekarang sepertinya dia yang telat akan kabar kedekatan itu.


"Eh itu, Bar," sahut Jimmy terdengar gugup. "Kamu menghubungiku ada urusan apa?' 


Jimmy sepertinya berusaha mengalihkan perhatian Bara. Pria itu benar-benar tak tahu harus mengatakan apa tentang hubungannya dengan Zelia. 


Dibilang dekat, tidak juga. Bahkan keduanya tak saling berkomunikasi melalui pesan singkat.


"Ah iya. Aku hampir lupa," sahut Bara yang mulai ingat. "Bisakah Kakak membantuku?" 


"Membantu apa?" tanya Jimmy dengan nada serius.


Perlahan Bara mulai menceritakan semuanya. Kejadian dimana uang perusahaan ditilap. Lalu, hubungan Ilham yang menjenguk Narumi. Sampai kabar yang dibawa oleh perawat itu dia sampaikan pada Jimmy.


Tak ada hal apapun yang ditutupi. Ayah dari dua anak itu benar-benar menceritakan semuanya dengan jujur. Bara berharap semoga Jimmy bisa membantunya kali ini. 


"Jadi mereka ingin dan kabur membawa uang perusahaan, gitu?" tanya Jimmy dengan nada serius.


"Iya, Kak. Bisakah Kakak menjaga ruangan wanita ular itu? Bukankah sekalian Kakak menjenguk Zelia juga," kata Bara dengan nada penuh harap.


"Ini yang terakhir kalinya, Kak. Aku serius akan memenjarakan mereka berdua," lanjutnya dengan nada serius.


"Oke. Aku akan melihat situasi di sana langsung. Nanti aku akan mengabarimu." 


Setelah panggilan itu terputus. Bara mulai menyandarkan punggungnya. Dia merasa masalah setiap masalah terus berdatangan. Pikirannya bahkan mulai merasa lelah. 


Beberapa hari dia juga kekurangan tidur. Namun, hal itu tak membuat Bara enak-enakan berdiam diri. Ini perihal masa depan kehidupannya. Masa depan seluruh karyawannya. Bara tak mau menyerah. Dia akan berjuang untuk mempertahankan perusahaan miliknya agar tetap berdiri. 


...🌴🌴🌴...


Perlahan sore mulai berganti malam. Jarum jam tentu terus berputar tanpa mengenal lelah. Tak ada yang mampu menghentikannya ataupun mengulanginya lagi.


Di sebuah ruang rawat. Terlihat dua orang suster baru saja menyuapi Narumi makan malam dan memberikannya obat. Jam dinding yang ada di ruangan itu menunjukkan pukul tujuh malam. Waktu yang sangat mendebarkan untuk wanita buta itu.


"Sus," panggil Narumi saat dirinya selesai makan.


"Ya, Bu. Ada apa?" tanya suster yang umurnya lebih muda dari suster yang satunya.


"Boleh saya minta tolong?" tanya Narumi dengan memulai dramanya.


"Boleh," sahut suster itu dengan lembut. 


"Belikan roti yang isinya coklat untukku. Bisa?" 


Namun dua suster itu tak merasakan kasihan sama sekali. Apalagi menyadari kejahatan dan tingkah laku asli wanita itu membuat keduanya menahan untuk tidak mencela wanita buta ini. 


"Bagaimana?" tanya Narumi dengan suara sedikit meninggi saat tak mendapatkan jawaban.


"Di kantin rumah sakit, tak ada roti seperti itu, Bu," kata suster itu dengan jujur.


Apa yang dikatakan suster itu memang benar. Kantin rumah sakit ini tak menjual roti berselai coklat di dalamnya. Namun, jangan lupakan. Ini hanyalah bualan semata yang Narumi rencanakan agar suster yang menjaga dirinya bisa pergi.


"Saya tau. Belikan saja di toko terdekat," kata Narumi dengan nada yang mulai kesal. 


"Tapi, Bu…" 


"Saya tak menerima penolakan? Cepat belikan atau kamu saya pecat!" seru Narumi dengan menggebu-gebu.


Suster itu akhirnya mengangguk. Dia menatap kawannya yang mengedipkan mata pertanda keduanya harus berakting agar tak menimbulkan kecurigaan pada Narumi.


"Baik, Bu. Saya berangkat dulu."


Setelah kepergian satu suster itu. Narumi mulai memainkan dramanya lagi. Dia meminta minyak kayu putih karena merasa kepalanya sakit. 


"Ambilkan saya kayu putih, Sus," ucap Narumi dengan nada perintah.


"Iya, Bu. Sebentar saya cari."


Suster yang lebih tua itu mulai mencari. Namun, minyak kayu putih itu tak ada. Padahal seingatnya terakhir kali dia meletakkan di atas ranjang Narumi. 


"Cepat, Sus!" 


"Botol minyak kayu putihnya gak ketemu, Bu," ucap suster itu takut-takut.


"Bagaimana sih!" sungut narumi dengan memijat dahinya dengan pelan. "Cepat belikan!"


"Tapi, Bu. Jika saya keluar siapa yang menjaga, Ibu?" 


"Saya ini cuma bisa diam di ranjang, Sus. Saya tak akan kemana-mana!" 


Akhirnya suster itu ikut keluar dari ruangan Narumi. Melihat situasi aman, Ilham yang sejak tadi bersembunyi di dinding dekat ruangan Narumi mulai masuk ke dalam.


"Aman, Yang," bisiknya lalu mencium hidung Narumi. 


"Ah, serius? Ayo cepat pergi dari sini!" kata Narumi dengan wajah bahagia 


"Bagaimana infus ini….gila kamu yah?" seru Ilham menatap tak percaya saat Narumi langsung mencabutnya. 


"Berdarah, Yang!" 


"Aku tak peduli. Kita harus cepat keluar dari sini, Mas!" sungut Narumi dengan kesal.


Ilham mengangguk. Dia segera menyingkirkan selang infus itu agar tak menyangkut di tubuh kekasihnya. Lalu dia segera menggendong Narumi dengan pelan agar tak menyakiti wanita itu. 


Namun, saat dirinya mulai berjalan dengan menggendong Narumi dan hampir mencapai pintu ruang rawat. Terdengar suara kunci berputar dari luar yang membuat Ilham membelalakkan matanya.


Dia segera mendekat. Berusaha membuka pintu itu tapi tak berhasil. 


"Kenapa, Mas?" tanya Narumi dengan bingung. 


Dia benar-benar sudah tak sabar untuk keluar dari rumah sakit ini. Menikmati uang yang didapatkan Ilham dan segera menyingkirkan pria itu. 


"Pintu ruangannya dikunci, Rumi. Kita terjebak di dalam sini." 


~Bersambung


Helah dalah. Kan dah dibilang toh, jangan main-main sama orang baik. Orang jahat di dunia ini gak bakal menang.


Kalau gak dapet di dunia ya dapet di akhirat. Ya gakpapa cepetan masuk penjara deh, toh udah gak punya kaki, 'kan? hehe.


Bab terakhir hari ini yah. Terima kasih banyak atas dukungan kalian semua. Like, vote dan konen bener-bener bikin aku semangat. Yang penting jangan timbun bab biar level novel ini naik.