Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Baby Reyn Rewel



...Kebahagiaan itu kita sendiri yang menciptakan. Jangan pernah dengarkan cakap orang dan teruslah fokus pada tujuan hidup kalian berdua....


...~Reno Akmal Alfayyadh & Adeeva Khumairah...


...🌴🌴🌴...


Suasana baru dan kondisi yang baru ternyata membuat anak yang usianya hampir satu tahun itu tak nyaman. Baby Reyn yang selama ini memang selalu di rumah tentu melakukan adaptasi lagi.


Dia menggeliat dan menangis di atas ranjang ketika Adeeva meletakkannya karena ingin ke kamar mandi. Hal itu tentu membuat Reno segera meraih putranya.


"Kenapa, Nak?" tanyanya dengan menggendong Baby Reyn.


Hal seperti ini sudah sering terjadi pada anak bayi. Penyesuaian di tempat baru tentu akan membuat bayi rewel atau mudah tertidur. 


Tak ada lagi kepanikan dalam diri Reno dan Adeeva. Pasangan suami istri berhasil belajar dalam penanganan diri, menahan emosi dan bersabar dalam mengurus bayi mereka. 


"Mas. Kenapa?" tanya Adeeva yang baru saja keluar.


"Gak tau, Sayang. Mungkin dia gak nyaman," kata Reno sambil menyerahkan bayinya pada Adeeva.


Jika cuaca panas tidak mungkin. Kamar yang mereka tempati ada AC yang digunakan untuk mendinginkan kamar ini.


"Ayo kita keluar! Kita ajak Baby Reyn jalan-jalan sambil ngenalin lingkungan barunya, Sayang. Mungkin dia belum nyaman di rumah baru begini," kata Reno kepada istrinya.


Adeeva tak menolak. Dia segera keluar diikuti sang suami dari belakang. Rengekan Baby Reyn masih terdengar dan itu membuat beberapa orang keluar dari kamarnya.


"Ada apa, Va?" tanya Almeera sambil mendekat.


Istri Bara itu mengusap keringat di dahi Baby Reyn karena ia terus menangis.


"Sepertinya dia baru mengenal tempat ini, Ra. Mangkanya rewel," kata Adeeva sambil menepuk pantat anaknya.


"Coba bawa keluar, Sayang. Ajak dia main sampai capek biar langsung tidur," kata Mama Tari memberikan ide. 


Akhirnya Adeeva menuruti saran dari ibu sahabatnya. Dia segera keluar dari rumah dengan ditemani suami tercinta.


Angin segar membuat tangisan Baby Reyn perlahan berhenti. Dia bahkan mulai memainkan rambut mamanya yang bertebangan. Reno yang melihat lekas menggendong putranya itu. 


"Seger yah?" kata Reno dengan mencium pipi anaknya.


"Pa pa pa pa," celoteh Baby Reyn yang membuat Adeeva dan Reno terkekeh.


Reyn memang mulai belajar berbicara. Walau hanya sepatah kata tapi hal itu membuat Reno dan Adeeva merasa bangga.


Mereka berjalan menuju ke arah danau buatan yang ada disana. Keduanya memilih duduk di salah satu kursi yang disediakan.


"Disini indah banget ya, Mas. Pemandangannya bener-bener bagus," kata Adeeva menatap danau itu dengan pandangan kagum.


"Ya. Tempat ini ada, karena Bara dan Almeera. Kisah cinta mereka membuat lingkungan ini lebih indah," balas Reno sambil menatap putranya yang mulai tenang.


"Kisah mereka memang panjang, Mas. Bahkan aku tak percaya jika sahabatku mampu bertahan dengan pernikahannya," kata Adeeva mengingat bagaimana Bara dulu.


Jujur Adeeva tak menyangka Almeera mau kembali pada Bara. Adeeva tak menyangka jika hati sahabatnya seluas samudera. Mampu memaafkan tanpa membalaskan dendam. 


Adeeva sejak dulu sangat tahu betul jika sahabatnya memang selalu baik kepada siapapun. Selalu percaya pada orang terdekatnya. Tak pernah berpikiran buruk atau suudzon pada orang. 


"Dari kisah mereka. Jadikan pelajaran untuk pernikahan kita, Sayang," balas Reno dengan mulai mengayun anaknya dalam gendongan.


Adeeva menoleh. Dia menatap suaminya dengan serius. "Maksud, Mas?" 


Reno mulai beranjak berdiri. Dia bisa melihat anaknya mulai kedap kedip pertanda hendak tidur.


Adeeva menatap suaminya penuh haru. Dia ikut berdiri dan mendekati suaminya.


"Kamu benar, Mas. Aku juga berharap semoga kamu gak seperti Bara," balas Adeeva dengan tatapan memohonnya. "Aku tak menolak poligami tapi jika itu kamu, aku bukan orangnya." 


"Kamu boleh bekerja sampai malam, fokus dengan pekerjaanmu tanpa peduli pada kami. Tapi, jangan pernah menghianati kepercayaanku, kepercayaan mamaku dan kepercayaan putra kita padamu." 


Reno mengangguk. Dua menarik tangan istrinya dan menggendong putranya dengan satu tangan. Dia menarik kepala Adeeva hingga bisa mencium dahinya. 


"Aku berusaha menjaga kepercayaanmu, Sayang. Melihatmu dan Baby Reyn dalam hidupmu, kehadiran kalian berdua membuatku bersyukur."


Adeeva memeluk suami dan anaknya. Dia merasa bahagia dipertemukan dengan pria yang begitu bersyukur memilikinya. Sosok pria yang tak pernah memukulnya. Sosok yang mampu ia percayai dan mampu menghapus ingatan tentang trauma yang terjadi di masa lalunya. 


"Cinta pertamaku adalah alasan sakitku. Semoga cinta keduaku adalah cinta terakhir seumur hidupku."


Mata keduanya memancarkan cinta yang begitu besar. Tak akan ada yang mengira jika pertemuan mereka yang dulu terjadi karena sebuah pekerjaan.


Perdebatan di antara keduanya. Tingkah jahil mereka dan permusuhan membuat Reno dan Adeeva terjebak dalam rasa yang sama.


Dua insan yang sama-sama kesepian. Dua insan yang mengokohkan hati karena keadaan keluarganya mampu saling mendobrak satu dengan yang lainnya.


Akhirnya cinta itu bersemi di antara mereka. Menjatuhkan harga diri dan gengsi di antara keduanya hingga menciptakan kebahagiaan yang mereka ukir sampai saat ini. 


Keduanya berharap. Berharap agar mereka bisa disatukan oleh takdir tuhan di waktu yang lain. Mereka berharap dipisahkan karena Tuhanlah yang akan memisahkan. 


"Jangan mengingat sakitmu lagi, Sayang. Ada aku dan Baby Reyn yang siap mengobatinya." 


Adeeva mengangguk. Dia mengusap kepala mungil itu yang mulai mendengkur halus. Sepertinya saran Mama Tari berhasil. Baby Reyn mulai tidur dengan tenang tanpa harus menangis hebat. 


"Dia tidur, Mas!" 


"Ayo kita bawa dia masuk!" 


Akhirnya Adeeva dan Reno mulai berjalan meninggalkan danau. Hingga di persimpangan, dia bertemu oleh Zelia, Jimmy, Bia dan Abraham.


"Kalian dari mana?" tanya Adeeva pada sahabatnya itu.


"Aku dari rumah pohon, Va," balas Zelia pada sahabatnya. "Kalau kalian?" 


"Kami dari danau," sahut Adeeva dengan pelan.


Mereka akhirnya berjalan dengan beriringan. Bia dan Abraham ada di depan. Zelia dan Adeev di tengah lalu dua pria tampan di di belakang.


Dengan gemas Baby Reyn yang sudah pindah ke gendongan mamanya membuat Zelia dengan mudah mencubit pipinya karena gemas. Tubuh bayi itu memang montok dan sehat. Serta pipinya yang tembem membuat siapa saja merasa gemas dengan tingkahnya. 


"Lucunya kamu, Nak!" kata Zelia yang terus menggoda Baby Reyn walau tidur. 


Adeeva memukul tangan sahabatnya yang gak berhenti menggoda anaknya. 


"Yok bikin sendiri yok!" balas Adeeva sambil terkekeh.


"Belum halal!" seru Zelia sambil mendelik kesal. 


"Cepetan dihalalin dong," kata Adeeva sambil mendekat ke arah telinga Zelia. "Enaknya kebangetan." 


~Bersambung


Wahaha ini enak yang mana dulu, Li. Enak anunya apa enak lahirannya. KABORRR


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Aku gak bales komen dulu yah. Mau otw kejar tamat .