Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Shock!



...Percayalah ikatan batin seseorang akan sampai karena terlalu kuatnya hati dan perasaan mereka....


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


Seorang pria tiba-tiba merasa dadanya sakit hingga tak menyadari jika gelas yang ia pegang jatuh dan pecah di atas lantai. Suara pecahan yang sangat keras tentu membuat para pekerja serta rekan kerja yang masih ada disana sama-sama menoleh.


Pria itu masih tetap diam. Dia menatap pecahan gelas yang ada di dekat kakinya. Tubuhnya mematung seakan merasa dejavu hingga bayangan wajah anak dan istrinya terlintas.


“Ada apa ini?” gumamnya pelan dengan jantung yang terus berdebar. “Ada apa dengan istri dan anakku?”


Melihat Bara yang masih diam membuat sosok pria yang berdiri tak jauh dari posisinya lekas mendekat.


“Anda baik-baik saja, Pak?” tanyanya dengan khawatir.


Wajah pria itu menoleh. Dia menatap sosok sahabat sekaligus tangan kanannya itu.


“Almeera, Ren. Cepat hubungi dia!” pinta Bara dengan cepat.


Reno kebingungan. Dia bisa melihat wajah Bara yang menegang. Dengan pelan, suami Adeeva itu membawa Bara untuk duduk. Lalu dia segera mengambilkan segelas air putih dan diberikan pada bosnya.


“Minum dulu, Pak,” ucap Reno dengan sopan.


Bagaimanapun disana banyak rekan kerja Reno. Dia tak mau hubungan santai di antara keduanya diketahui banyak orang dan membuat mereka direndahkan karena sikap santainya.


Bara menepis gelas itu dan membuat suara pecahannya menarik perhatian semua orang. Dia menatap ke arah Reno dengan tajam. Dia tak butuh air minum sekarang. Yang ia butuhkan hanya kabar istri dan kedua anaknya.


"Hubungi istriku, sekarang!"


Akhirnya Reno mengalah. Dia tak mau membuat Bara semakin marah. Wajah pria itu begitu memerah yang menandakan jika Bara dalam keadaan tak baik-baik saja.


Hingga tiba-tiba saat Reno hendak menghubungi nomor istri bosnya itu. Terdengar suara panggilan masuk yang ternyata dari kakak ipar Bara.


"Halo, Kak?"


"Almeera kecelakaan."


"Apa!" Jantung Reno rasanya ingin berhenti berdetak.


Matanya terbelalak dengan nafas yang terasa sesak. Pikirannya berputar dengan menatap sosok bosnya yang menunggu kabar istri dan anak-anaknya.


Ternyata inilah yang namanya ikatan batin. Bara merasakan sesuatu terjadi dengan istrinya hingga emosinya tak terkontrol. Namun, semua yang ia rasakan benar-benar terjadi.


"Halo. Kalian masih disana, "kan?" tanya Jonathan yang tak mendapatkan jawaban apapun.


"Ya, Kak. Aku disini," sahut Reno dengan menarik nafasnya begitu dalam.


"Cepat kabari Bara yah! Minta dia segera pulang," kata Jonathan pada Reno. "Sampaikan semuanya secara pelan-pelan agar Bara tak terkejut."


Akhirnya panggilan itu berakhir. Reno segera memasukkan ponsel itu lalu berjalan menuju sosok bosnya.


"Bagaimana?" tanya Bara dengan tak sabar.


"Ayo ikut aku!" bisik Reno begitu pelan.


Melihat raut wajah Reno yang tegang membuat Bara hanya bisa menurut. Pria itu segera meninggalkan ruangan setelah Reno pamit undur diri pada semua rekan kerja bosnya itu.


"Katakan padaku, Ren! Apa yang sebenarnya terjadi pada istriku?" tanya Bara yang sudah tak bisa menahan rasa ingin tahunya.


Pria itu yakin ada sesuatu yang terjadi dengan istrinya.


"Sebenarnya…" Reno masih menjeda.


Dia benar-benar tak tahu harus memulainya dari mana.


"Katakan padaku, aren!"


"Almeera kecelakaan."


Bara mematung. Dia merasa dadanya sakit. Jantungnya terasa sesak seakan oksigen di sekitarnya habis.


Telinganya masih normal dan baik-baik saja. Dia juga sangat yakin mendengar perkataan Reno barusan dengan benar. Namun, yang menjadi masalahnya adalah kabar yang dibawa pria itu.


Apa kata reno barusan?


Baru tadi pagi mereka saling menelpon dan memberi kabar lalu sekarang kenapa bisa terjadi seperti ini.


"Lo gak bercanda, 'kan, Ren?" tanya Bara menatap sahabatnya dengan tatapan yang masih terkejut luar biasa.


Pikirannya seperti mati rasa. Ia seakan tak ada raga untuk mengatakan apapun. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada Almeera. Bagaimana nasib dan kabar istri serta anak-anaknya itu.


"Kita balik Jakarta, sekarang!" 


...🌴🌴🌴...


Suara sirine ambulans terdengar begitu kencang. Tangisan menyayat hati mulai membasahi wajah seorang perempuan paruh baya.


Mendapatkan kabar dari cucu pertamanya bahwa putrinya kecelakaan. Baik Mama Tari maupun Papa Darren langsung berlari ke tempat kejadian.


Disana mereka bisa melihat Almeera yang sedang mengandung memeluk putrinya dengan erat. Namun bukan itu yang menjadi salahnya.


Posisi Almeera yang hamil serta kepalanya yang terbentr pinggiran jalan membuat darah segar keluar dari inti tubuh serta kepalanya.


Air mata seorang ibu itu terus menetes sambil memeluk cucu perempuannya yang menangis dalam pangkuan. 


Bia sepertinya akan mengalami trauma kembali. Kejadian yang baru saja menimpa ibu dan dirinya benar-benar meninggalkan kenangan yang menyakitkan.


Dia masih ingat betul bagaimana mamanya yang menyelamatkan dirinya dan mengabaikan  keadaannya yang sedang hamil tua.


"Nenek, gara-gara Bia, mama sama adik…"


"Ustt." Mama tari mengusap rambut cucunya. 


Dia mengerti betul jika cucunya ini merasa takut dengan keadaan mamanya sendiri.


"Doakan mama sama adik kembar baik-baik aja ya, sayang."


Akhirnya ambulans dan mobil keluarga telah sampai di rumah sakit. Dengan cepat para perawat menurunkan brankar milik almeera.


Mereka segera mendorongnya dengan tergesa-gesa diikuti keluarga di belakang.


Tak henti-hentinya Bia dan Mama Tari saling berlomba meneteskan air mata. Semua orang tentu merasa takut dan panik. Ditambah melihat bagaimana keadaan Almeera tadi membuat semua orang merasa putus asa.


"Keluarga pasien tunggu disini," kata seorang perawat saat brankar Almeera masuk ke dalam ruang penanganan.


Mama Tari segera memeluk suaminya dengan Bia yang ada dalam gendongan. Wanita paruh baya tersebut benar-benar tak memperdulikan apapun.


Dia juga tak mau memaksa agar terlihat kuat. Bagaimanapun keadaan ini membuat hatinya sebagai seorang ibu merasa takut. Takut kehilangan putrinya yang sangat dia sayangi.


"Tenanglah, Ma. Percyalah bahwa anak kita pasti kuat dan bertahan untuk kita semua."


Papa Darren membawa istri, keda cucunya dan Jonathan untuk duduk. Mereka tak mungkin harus berdiri di saat kalut seperti ini. 


Sebagai kepala keluarga. Dia dituntut menjadi sosok yang paling kuat dari keluarga yang terlihat lemah. Dia menahan rasa sakit dan hancurnya saat melihat keadaan putriinya tadi.


"Jo, kamu sudah mengabari Bara?" tanya Papa Darren pada putranya.


"Udah, Pa. Tadi Jo telpon Reno langsung," balasnya dengan lemas.


Pikiran ayah dari tiga orang anak itu mulai terbagi pada menantunya. Dia bisa menebak jika saat ini menantunya sama-sama kalut, takut, cemas dan khawatir. 


Bagaimanapun Papa Darren sangat tahu betul bagaimana bara mencintai putrinya. Hingga tak lama, keluarlah dua orang dokter menghampiri keluarga almeera.


"Keluarga Pasien?"


"Kami, dok," sahut mereka semua sambil beranjak berdiri.


"Suaminya?"


"Suami pasien masih dalam perjalanan, Dokter," sahut Papa Darren dengan cepat.


"Bagaimana anak saya, Dok" tanya Mama Tari dengan cepat.


"Kami harus melakukan tindakan operasi pada pasien. Kita juga harus mengeluarkan bayinya sebelum terjadi sesuatu hal. Jadi tolong tanda tangani surat persetujuan atas operasi pasien."


~Bersambung


Dihantui di DM. Dimarahin gara-gara alurnya jadi begini. Huaa mau kabur. takut di massa.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.