
...Kamu akan merasa kehilangan, ketika dia sudah tak ada di hadapanmu dan pergi sejauh mungkin....
...~Almeera Azzelia Shanum...
... 🌴🌴🌴...
Waktu terus bergulir dengan cepat. Jarum jam bergerak sesuai porosnya. Malam kembali menyapa bumi yang terasa begitu dingin. Hamparan bintang terlihat begitu menghiasi langit. Namun, semua itu tak membuat hati seorang wanita merasa terhibur.
Matanya terus menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat. Tangannya terkepal menahan segala amarah yang membuncah. Ingin sekali dia berteriak di depan wajah sang suami. Memakinya dan mengatakan bahwa dia ingin bercerai.
Namun, lagi-lagi semua itu harus ditahan oleh Almeera. Dia tak boleh bersikap gegabah. Setidaknya memberikan sedikit pelajaran untuk orang yang merusak kebahagiaannya akan menjadi hiburan terbaik untuknya.
Tak lama, terdengar suara mobil yang baru saja masuk ke pelataran rumah. Almeera tersenyum miring, dia berjalan dengan langkah pelan dan berdiri di balik pintu masuk.
Aku akan melihat alasan apa lagi yang akan keluar dari mulut penabur janji palsu.
Suara ketukan sepatu dengan lantai semakin mendekat. Tak lama pintu rumah terbuka dan muncullah sosok pria yang sejak tadi ditunggu kehadirannya.
Sebuah suara tepuk tangan yang menggema tentu membuat Bara terkejut. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat sosok sang istri yang berdiri menyandar di dinding rumah.
"Baru pulang, Mas?" tanya Almeera dengan nada menyindir.
"Kamu belum tidur, Ra?" Bukannya menjawab, Bara malah bertanya balik.
"Seperti yang kamu lihat," kata Almeera lalu bergerak ke arah Bara. "Aku ingin menunggu kedatangan suamiku yang baru saja menghabiskan waktu dengan istri mudanya."
"Kamu salah paham, Ra! Aku baru pulang dari kantor," seru Bara menyangkal.
"Ya. Apa bedanya, Mas? Gak di kantor, gak dirumah, 'kan, bareng istri muda terus," sindir Almeera lalu melewati tubuh Bara.
"Ra," panggil Bara dengan pandangan sendu. "Kenapa kamu jadi begini?"
"Karena kamu yang begitu!"
"Apa maksudmu?" tanya Bara tak habis pikir.
"Lihat pukul berapa sekarang?" tunjuk Almeera pada Bara.
"Pukul setengah 1 malam," jawab Bara apa adanya.
"Sejak kapan suamiku lembur semalam ini, hmm?" tanya Almeera melipat kedua tangannya didepan dada. "Sebelum kamu menikah lagi, sesibuk apapun kamu gak pernah pulang semalam ini."
Telak.
Bara seakan tertampar. Bahkan dirinya tak bisa mengelak dari perkataan istrinya karena memang semua itu kebenarannya.
Sejak dulu seorang Gibran Bara Alkahfi tak pernah pulang malam. Paling lambat pukul sepuluh dia sampai rumah. Itupun jika Bara memiliki kepentingan pekerjaan di luar perusahaan. Selain itu, sebanyak apapun pekerjaannya, dia akan menyelesaikannya di rumah.
"Gak bisa jawab?" tanya Almeera kembali bersuara. "Apa yang kukatakan benar bukan, Mas?"
"Aku tau kamu cemburu sama Narumi, 'kan, Ra?" tanya Bara dengan menatap istrinya. "Aku tadi hanya menemani dia makan siang."
Bara mencoba mengerti. Dia menebak pasti istrinya merasa cemburu melihat dirinya menemani Narumi makan siang di luar. Namun, ternyata lagi-lagi jawaban Almeera yang baru saja keluar dari mulutnya, seakan sebuah tamparan telak untuk Bara.
"Cemburu?" ulang Almeera dengan menaikkan salah satu alisnya. "Untuk apa aku cemburu? Aku masih punya kaki yang sehat untuk makan siang sendiri. Aku tak butuh ditemani meski itu suamiku sendiri."
"Jangan bersikap kurang ajar, Ra!" seru Bara dengan intonasi tinggi.
Almeera terkekeh. Dia merasa lucu pada suaminya itu. Siapa yang berbuat dan siapa yang marah. Rasanya Almeera ingin memberikan sebuah kaca besar agar suaminya itu mau berkaca.
"Jangan meninggikan suaramu padaku, sebelum kamu berkaca pada dirimu sendiri!" seru Almeera berjalan mendekati Bara.
Jarak keduanya berdekatan. Hanya dua jengkal antara tubuh Bara dan Almeera untuk saling bersentuhan. Ibu dari dua anak itu memajukan dirinya dan menghirup aroma apa yang ada di jas milik Bara.
"Kamu sedang apa?" tanya Bara gugup sambil memundurkan tubuhnya.
"Aku…."
"Ustt." Almeera meletakkan telunjuknya di bibir. Dia semakin melangkah sampai keduanya kembali berhadapan. "Jangan pernah mengajariku apapun, sebelum kamu belajar untuk dirimu sendiri."
Bara terdiam. Dia menatap tubuh istrinya yang mulai menjauh.
"Aku hanya ingin mengatakan, belajarlah bersikap menjadi suami yang baik untuk dua istrimu," kata Almeera tanpa berbalik. "Kamu sudah berjanji untuk adil pada kami berdua, tapi malam ini sudah menjadi bukti bahwa kamu tak pernah adil untukku dan kedua anakku."
Setelah mengatakan itu Almeera segera berlalu meninggalkan Bara sendirian. Pria itu menatap punggung istrinya yang berjalan menaiki tangga sampai hilang dari penglihatannya.
Bara menyesal. Ya, dia tersadar dengan apa yang dia lakukan. Hari ini seharusnya hari untuk Almeera dan kedua anaknya. Namun, ajakan dan permintaan Narumi yang meminta ditemani, membuatnya tak bisa menolak keinginan itu.
Lagi-lagi aku melupakan hal sekecil ini. Bagaimana aku bisa menyakiti hati istri dan kedua anakku lagi. Bahkan disaat jarak kami yang semakin jauh, Tuhan.
...🌴🌴🌴...
Keesokan harinya, jam istirahat dipergunakan Almeera untuk ke ruangan sang kakak. Dia menggandeng tangan Bia dan berpamitan pada sahabatnya.
Entah kenapa tekadnya sudah begitu bulat. Dia ingin menyampaikan ini pada sang kakak dan semoga Jonathan mendukung keputusannya. Ini memang sulit, bahkan begitu sulit untuknya. Namun, memberikan pelajaran pada orang yang tak bisa menghargai keberadaannya, itu sangat penting.
"Om Tampan!" teriak Bia ketika keduanya baru saja memasuki ruangan Jonathan.
Pria yang dipanggil spontan menoleh. Senyum Jonathan mengembang tatkala melihat ponakannya berlari ke arahnya. Dengan sigap dia meraih tubuh itu dan membawanya berputar.
"Pesawat terbang," katanya yang membuat tawa lepas Bia begitu terdengar.
Mata Almeera berkaca-kaca. Dia merasa kasih sayang Bara mulai berkurang pada putrinya. Dulu sebelum kehadiran Narumi, suaminya itu selalu ada di rumah. Menemani kedua anaknya bermain, belajar dan membantunya mengurus rumah.
Namun, sekarang semuanya berubah. Tak ada lagi canda tawa yang terdengar di ruang keluarga. Semuanya terasa hampa dan sangat sepi.
"Mama," panggil Bia yang membuat Almeera terkejut.
"Ada apa?" tanya Jonathan tanpa basa-basi lagi.
Almeera menghela nafas berat. Dia berbisik pada putrinya dan membuat bocah itu berjalan menuju deretan buku yang ada di ruangan Jonathan.
"Carikan aku rumah, Kak!"
"Hah!" Jonathan terkejut. Keningnya berkerut tak percaya akan apa yang dia dengar.
"Iya, Kak. Carikan aku rumah untuk tempat tinggalku dan anak-anak," ujar Almeera menjelaskan.
"Untuk apa kamu membeli rumah? Kamu bisa tinggal di rumahku, Ra."
Almeera menggeleng. Dia menghempaskan punggungnya di sofa dan menatap sosok anaknya sedang bermain dengan deretan buku yang tersusun rapi.
"Aku ingin tinggal sendiri, Kak. Bersama anak-anakku. Aku ingin mencari suasana baru dan mulai belajar tanpa kehadirannya," kata Almeera dengan penuh harap.
"Apa yang sudah Bara lakukan padamu?" tanya Jonathan dengan menatap Meera begitu tajam.
"Gak ada."
"Jangan bohong sama Kakak, Ra!" seru Jonathan begitu menuntut.
"Aku ingin memberikan pelajaran untuknya, bahwa perginya aku dan anak-anak akan membawa dampak besar bagi dia."
~Bersambung
Bagus! Pergi Mbak Meera. Pisah rumah biar Mas Bara nyadar kalau otaknya konslet.
Kabur ah! orangnya baca juga soalnya, hahaha.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.