Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Tentang Jimmy Zelia



...Cinta akan datang karena terbiasa bersama. Pepatah itu sepertinya mulai terjadi kepadaku dan dia....


...~Jimmy Harrison...


...🌴🌴🌴...


"Berarti Tante Zelia boleh ikut kita main ya, Om?" celetuk Bia menatap Jimmy dengan wajah memelas.


"Eh. Gak usah, Sayang," tolak Zelia sungkan.


"Loh. Katanya Tante mau main ke rumah?" ujar Bia dengan murung. 


Zelia tersenyum tak enak hati. "Iya. Tante bakalan main ke rumah Bia. Tante tunggu kalian di salon sampai selesai main. Gimana?" 


"Gak mau!" Bia menggeleng.


Dia tetap merengek meminta Jimmy merayu Zelia agar mau ikut mereka bermain. Sosok Zelia yang lembut, membuat Bia yang setiap bertemu dengannya merasa nyaman. 


Bia mulai menangis. Tentu Zelia yang sangat menyayangi Bia menjadi tak tega.


"Baiklah. Tante ikut." Perkataan Zelia langsung membuat wajah Bia berubah.


Anak itu menatap Zelia memastikan ucapan wanita itu benar.


"Ya, Sayang. Tante ikut." 


"Yeay!" Bia bertepuk tangan. 


Dia meminta turun dan menggerakkan tubuhnya. 


"Ayo, Tante. Berangkat!" 


Entah desiran apa yang aneh. Jimmy pria itu seakan terhipnotis dengan kelembutan dan senyuman Zelia. Wanita itu mampu mengalah dan merayu anak kecil seperti ponakannya.


"Ayo, Om!" ajak Bia menggandeng tangan Jimmy dan Zelia di kanan kirinya. 


"Oke…oke. Tapi liat Abang Abra. Dia pegang es sendiri loh." 


"Oh iya lupa." Bia menepuk keningnya. Lalu dia mengambil es itu dan mulai menggandeng tangan Zelia agar berjalan bersamanya. 


Jimmy hanya mampu tersenyum tipis. Dia bisa melihat bagaimana Zelia yang nyaman bersama Bia. Begitupun sebaliknya. Wanita itu tak bersandiwara sedikitpun. Dengan baik dia menggandeng tangan Bia seakan segala ocehan yang keluar dari bibirnya bukanlah sebuah beban. 


"Abra bareng Om Jim! Adikmu pasti lupa sama kita kalau sudah ada temennya," kata Jim merangkul keponakan laki-lakinya. 


"Om bener! Perempuan selalu begitu…" jedanya hingga tatapan keduanya bertemu.


"Ribet!" Keduanya lekas tertawa saat jawaban mereka serempak.


Keduanya segera bertos ria lalu menyusul Bia dan Zelia yang jaraknya sudah jauh dengan mereka.


...🌴🌴🌴...


Suara cekikikan dan tawa bahagia tak hentinya terdengar. Suara ramai semua orang tak meredam kebahagiaan kedua wanita yang berbeda usia. Dengan segala tingkah kekanakan Bia, Zelia bisa mengikuti kemauan anak itu.


Permainan apapun yang diminta Bia, maka Zelia mau mengabulkannya. Sahabat Meera itu memang sayang sekali pada Bia. Bocah kecil itu menurutnya sangat menggemaskan. Mereka selalu mampu menarik perhatian orang dewasa dengan segala tingkahnya. 


"Tante ayo capit bonekanya!" teriak Bia heboh sambil bertepuk tangan.


"Oke...oke. Sabar yah. Ini Tante lagi usaha," kata Zelia berusaha konsentrasi.


Ini sudah percobaan ketiga. Namun, tak satupun Zelia mendapatkan boneka yang ada di dalamnya.


"Yah. Gagal lagi deh!" Bia menepuk keningnya dengan bibir mengerucut. 


Anak itu tak marah. Namun, hanya pura-pura merajuk untuk menarik simpati omnya yang sejak tadi diam menonton.


"Biarkan aku yang mencobanya," kata Jimmy yang mengejutkan Zelia.


Gadis itu menurut. Dia bergeser dan memberikan ruang untuk Jimmy melakukan permainan itu.  


"Ayo, Om! Capit yang itu...itu." Heboh Bia dengan menunjuk boneka yang dia mau. 


Jimmy tak menjawab. Pria itu fokus dengan stik di tangannya agar bisa digerakkan sesuai dengan letak boneka yang diinginkan. Terlalu fokus, membuat kakak kedua Almeera tak menyadari, jika ada sepasang mata yang sedang menatapnya tanpa berkedip.


Siapa lagi jika bukan Zelia. Wanita itu tanpa sadar tersenyum tipis. Melihat tampang garang Jimmy, ternyata tak sama dengan sikapnya.


Menurutnya, pria seperti Jimmy adalah sosok yang garang di luar tapi lembut di dalam. Cuek dan bisa menunjukkan sisi perhatiannya dengan cara yang berbeda. 


"Hore dapet!" Lamunan Zelia buyar karena teriakan Bia. 


Terlalu banyak melamun membuat Zelia tak sadar bahwa Jimmy sudah mendapatkan dua boneka dari permainan itu. 


"Bia sudah punya," ucap anak itu dengan jujur. "Om harusnya kasih ke Tante Zelia." 


Perkataan anak itu membuat dua mata itu saling bersitatap. Keduanya merasa malu saat tanpa sengaja mata mereka bertemu pandang.


"Ayo, Om! Kasih sama Tante Zelia!" desak Bia menggoyangkan kaki Jimmy. "Tante mau, 'kan?" 


"Emm…ya." Zelia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Dia merasa malu saat Jimmy tak berhenti menatapnya. Tanpa kata, pria itu mengulurkan boneka itu dan diterima langsung oleh Zelia. 


"Terima kasih." 


"Sama-sama," sahut Jimmy dengan singkat. "Ayo pulang!" 


Bia mengangguk. Saat Jimmy mengulurkan tangannya. Bocah itu menggeleng dan malah meraih tangan Zelia. 


"Tante Zelia ikut pulang juga, 'yah?" 


"Iya." Zelia mengangguk. "Tante bawa mobil sendiri." 


"No!" Bia langsung menolak. "Tante satu mobil sama aku, Abang dan Om aja." 


"Tapi…" 


"Biar aman, Tante." 


Akhirnya Zelia tak mampu menolak. Mereka menggunakan satu mobil dan mulai meninggalkan mall. 


Tak ada pembicaraan apapun disana. Hanya suara mesin dan lalu lalang kendaraan yang terdengar. Apalagi, Bia dan Abraham ternyata tertidur karena kelelahan bermain. 


"Kalau kamu capek, tidur aja dulu," kata Jimmy tiba-tiba saat kendaraan mereka berhenti di lampu merah. 


Zelia lekas menoleh. Dia tak menyangka jika tebakannya benar. Jimmy adalah sosok yang memiliki perhatian tapi tak ditunjukkan. 


"Aku belum mengantuk," sahut Zelia dengan gugup.


"Baiklah. Terserah kamu," kata Jimmy lalu mulai menjalankan mobilnya kembali.


Entah karena AC terlalu dingin atau keadaan badan yang terlalu lelah. Zelia ternyata mulai memejamkan matanya setelah membenarkan posisi Bia yang tertidur di pangkuannya. 


Pemandangan ini tentu membuat Jimmy menggelengkan kepala. Menurutnya, pemikiran wanita itu gampang berubah pikiran. Baru saja mengatakan tidak mengantuk tapi sekarang sudah terlelap. Hingga tanpa sadar hal itu membuat Jimmy tersenyum. 


Dia menatap wajah Zelia yang terlelap dan terlihat begitu cantik. Pria itu bahkan sempat terhipnotis jika saja suara klakson mobil tak membuatnya harus segera melaju kembali.


"Lucu dan imut," gumamnya pelan sambil sesekali melirik wajah Zelia yang tenang.


Akhirnya setelah berkendara dengan keheningan. Perlahan mobil Jimmy mulai berbelok memasuki pelataran rumah adiknya. Dia memarkirkan mobil itu dengan pelan agar tak membangunkan mereka yang masih terlelap.


"Sudah sampai, Om?" celetuk suara dari belakang yang membuat Jimmy kaget.


"Pelan-pelan. Adikmu tidur," kata Jimmy menoleh ke samping.


Abraham yang diberitahu ikut menoleh. Lalu dia mengangguk dan segera turun. Remaja itu meregangkan otot-ototnya karena tidurnya tak nyaman di dalam mobil.


"Aku duluan ya, Om," pamit Abra ketika Jimmy sudah keluar.


"Ya." 


Setelah kepergian Abraham. Jimmy segera berjalan ke arah pintu tempat dimana Zelia dan Bia tertidur. Dia mulai membuka pintu itu pelan lalu memindahkan tangan Zelia yang ada di tubuh keponakannya. 


Namun, baru saja tangan itu terlepas. Mata yang tadinya terpejam perlahan terbuka. Jarak wajah keduanya begitu dekat hingga satu gerakan yang dibuat, pasti membuat kulit mereka bersentuhan. 


Mata mereka saling memandang lekat. Seakan mengorek isi pikiran keduanya dalam diam. Hingga tubuh Bia yang mulai bergerak membuat pandangan mereka terputus. 


"Maaf. Aku barusan mau ambil Bia dari pangkuan kamu," ucap Jimmy menjelaskan. 


"Ah iya." Zelia mengangguk.


Segera kakak Almeera itu mulai menggendong Bia dan membawanya masuk ke dalam rumah diikuti oleh Zelia. Tanpa keduanya sadari, sejak tadi ada sepasang mata yang menatap pergerakan mereka dalam diam.


Tatapannya terus tertuju pada bocah kecil yang menjadi targetnya ituu.


"Aku harus bisa mengambil anak itu secepatnya."


~Bersambung


Terima kasih banyak atas support kalian semua. Ceritaku ini masih banyak kurangnya. Kalau ada yang gak suka, aku memaklumi karena aku juga sedang proses belajar.


Aku juga bawa kabar baik loh. Insya allah mulai tanggal 10 Januari sampai 16 Januari Novel HTS bakalan update 3 bab perharinya yah. Novel ini dengan iseng author ikutin crazy update. Eh ternyata tadi pagi dapet kabar lolos. Jadi bakalan update 3 bab selama seminggu. Uwuw-uwuw itung-itung nyenengin pembaca yang selalu komen dan semangatin aku.


Bye kecup jauh. Sayang kalian banyak-banyak.