Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Maukah Jadi Pacarku?



...Apa yang sudah menjadi milikku, maka seterusnya akan bersamaku....


...~Jimmy Harisson...


...🌴🌴🌴...


Keesokan harinya, Jimmy datang ke rumah sakit. Hari ini wanita yang sudah di cap menjadi miliknya akan kembali ke rumah. Semalam Mama Zelia mengabari jika putrinya diizinkan pulang. Hingga akhirnya disinilah dia berada. Di depan ruangan dimana Zelia dirawat beberapa hari ini.


"Assalamualaikum," salam Jimmy bersamaan dengan mendorong pintu ruang rawat Zelia.


"Waalaikumsalam," sahut semua yang ada di sana.


Pria itu dengan perlahan menghampiri wanita yang sejak tadi memandangnya. Jimmy tak lupa mencium punggung tangan orang tua Zelia sebelum menghampiri putrinya. Setelah itu dia segera berdiri di samping brankar dan membuat wajah Zelia memerah karena malu.


"Apa kamu sudah baik-baik saja?" tanya Jimmy dengan wajah tanpa ekskresinya. 


"Ya," sahut Zelia dengan menunduk. 


"Apa di pangkuanmu ada uang?" 


"Hah?" Zelia mendongak.


Dia mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan kakak dari sahabatnya itu. 


"Ya. Kenapa kamu terus menunduk?" tanya Jimmy dengan heran. "Apa kakimu lebih bagus dan tampan daripada aku?" 


Zelia meneguk ludahnya paksa. Dia tak menyangka di balik wajah cuek seorang Jimmy, terdapat sikap percaya diri yang tinggi. Namun, kenyataan yang diluar ekspektasi tentu membuatnya tak bisa membantah, karena apa yang dikatakan oleh Kakak dari sahabatnya adalah kebenaran.


Dia memang tampan. Bahkan sangat sangat tampan, gumam Zelia dalam hati.


"Aku…" Zelia tak tahu harus mengatakan apa. 


Dia hanya bisa mengelus tengkuknya untuk menghilangkan kegugupan yang mendera. Untung saja panggilan Mama Zelia kepada mereka, membuatnya sedikit lebih lega karena bisa menghindari pertanyaan Jimmy. 


"Biarkan saya yang mendorong kursi rodanya, Tante," kata Jimmy saat seorang perawat membawakan sebuah kursi roda ke ruangan Zelia.


"Terima kasih, Nak Jimmy," sahut Mama Zelia lalu mengedipkan matanya ke arah anak yang sedang mendelik sebal.


"Ayo. Apa kamu bisa berjalan?" tanya Jimmy pada Zelia.


"Bisa," sahut Zelia yang mencoba menahan sakit di perutnya.


Jujur luka di perutnya memang akan sakit jika dipakai berjalan dan bergerak yang terlalu berlebihan. Saat dia mulai menapakkan kakinya di lantai rumah sakit, Zalia meringis ngilu. 


"Kenapa?" tanya Jimmy ketika wajah Zelia sampai berkerut kening.


"Sakit," lirih Zelia pelan dengan sedikit menunduk.


Perempuan itu tak menyadari jika Jimmy berpindah ke samping. Lalu dengan satu kali gerakkan, tubuh sahabat Almeera sudah ada dalam gendongan Jimmy.


"Kakak," pekik Zelia terkejut.


"Perutmu sakit. Jadi, diamlah dan menurut!" ancam Jimmy yang membuat Zelia tak bisa mengatakan apapun. 


Orang tua Zelia hanya bisa menahan senyum. Bahkan keduanya saling berbisik-bisik saat melihat adegan romantis kedua pasangan di depannya.


"Jadi ingat masa muda kita, Ma. Dulu Mama manja banget sama Papa," kata Papa Zelia pelan sambil berjalan di belakang Jimmy yang mendorong kursi roda Zelia.


"Ya. Dengan sifat manja Mama. Papa semakin cinta sama Mama." 


"Tentu saja," sahut Papa Zelia dengan menarik bahu istrinya. "Sifat Mama yang manja dan baik selalu mampu membuat Papa terus jatuh cinta sama Mama." 


Tanpa sepengetahuan keduanya. Sejak tadi telinga Jimmy mendengar gombalan yang keluar dari mulut orang tua Zelia. Bibirnya tersenyum tipis dengan hati yang memanjatkan doa agar dipertemukan dengan jodoh yang seperti mereka. 


Mencintai tanpa mengenal waktu dan usia. Meski sudah tua, keduanya masih saling memuja dan menyayangi antara satu dengan yang lain. Sebuah arti cinta yang sangat luar biasa menurutnya yang harus dia ikuti jejaknya 


...🌴🌴🌴...


"Tante," panggil Jimmy saat mereka mulai sampai di depan rumah sakit.


"Ya, Nak." 


"Bolehkah saya membawa Lia keluar sebentar? Saya berjanji akan menjaganya," pamit Jimmy dengan sorot mata harap. 


Mama Zelia masih diam. Dia melirik anaknya dan mendapatkan lambaikan tangan yang menandakan agar wanita paruh baya itu tak mengizinkan. 


Namun, sebuah kalimat yang keluar dari bibir Mama Zelia, membuat sahabat Almeera itu mengerucutkan bibirnya.


"Siap, Tante. Jimmy hanya sebentar saja kok." 


Jika sudah begini Zelia tak bisa menolak. Wanita itu hanya bisa pasrah saat Jimmy menggendongnya lagi dan mendudukkan di kursi samping kemudi. 


Sebenarnya wanita itu menolak ajakan Jimmy karena hatinya tak karuan. Keadaan jantungnya tak bisa dikondisikan jika berada di dekat pria itu. Seakan magnet yang ada dalam diri Jimmy selalu menariknya agar bisa semakin dekat.


Awas saja kau, Ma. Aku akan mengunci pintu kamar dan tak mau menemui, Mama, gumamnya dalam hati saat mengingat wajah Mamanya yang menyebalkan. 


Akhirnya lamunan Zelia pecah saat kendaraan Jimmy mulai membelah jalanan. Wanita itu memandang jalanan di luar sana. Lalu lalang kendaraan terlihat lumayan padat.


Zelia bisa melihat jalanan yang ia lewati adalah jalanan tak asing. Hingga hal itu tentu membuatnya menatap Jimmy yang sedang fokus menyetir. 


"Kita mau kemana, Kak?" 


"Nanti kamu akan tahu," sahut Jimmy yang membuat Zelia menghela nafas kasar. 


Dia tak suka tebak-tebakan. Apalagi harus menunggu terlalu lama yang membuatnya tak sabaran. Namun, Zelia mencoba percaya pada Jimmy. Dia lebih memilih diam dan mengikuti kemana saja pria itu membawanya pergi.


Perlahan, mobil itu berbelok di sebuah area gedung-gedung perkotaan. Sebuah area yang menjadi ikon untuk orang berfoto-foto jika datang ke kota ini. 


"Ayo turun!" ajak Jimmy yang membuat Zelia menoleh.


"Perut aku?" 


Jimmy terlihat menulikan telinganya. Dia segera keluar dari mobil dan menuju ke sisi yang lain. Tanpa kata dia membukakan pintu itu dan menggendong Zelia tanpa pamit.


"Kenapa kamu suka sekali melakukan apapun tanpa pamit padaku?" pekik Zelia terkejut dengan tangan melingkar di leher pria itu.


"Untuk apa aku pamit?" tanya Jimmy balik dengan wajah tak berdosanya.


Zelia hanya mampu membuang nafasnya kasar. Dia tak bisa mengatakan apapun. Berbicara dengan Jimmy sama halnya dengan berbicara pada patung.


Tak lama, Jimmy perlahan membawa Zelia masuk ke dalam sebuah kedai es krim. Dia mendudukkan wanita itu di kursi yang tersedia hingga membuatnya terkejut saat menyadari sekelilingnya.


"Pesanlah es krim sesukamu," kata Jimmy dengan dingin.


"Untuk apa?" tanya Zelia begitu heran. 


"Untukmu," jeda Jimmy menatap tajam mata itu. "Bukankah kamu bilang ingin es krim." 


"Kapan?" tanya Zelia yang mencoba mengingat kapan dia mengatakan kata itu. 


"Pada Roy. Kamu bilang, jika kamu sembuh, Roy bisa mengajakmu ke kedai es krim." 


Ya, Zelia ingat. Dia pernah berbincang sebelum Jimmy datang dengan saudaranya itu. Perempuan itu tak menyangka jika kakak dari sahabatnya sangat mengerti dengan apa yang dia inginkan.


 "Tapi aku kan minta padanya bukan padamu?" ketus Zelia pura-pura memasang wajah jutek. 


"Sama saja," sahut Jimmy dengan tegas. "Kamu tak boleh meminta pada pria lain selain aku." 


"Kenapa begitu? Kamu bukan siapa-siapaku. Jadi aku berhak keluar bersama siapapun!" 


"Siapa yang bilang aku bukan siapa-siapamu?" tanya Jimmy semakin memajukan tubuhnya hingga wajah mereka berdekatan.


"Aku," sahut Zelia memberanikan diri.


"Apa kau lupa sesuatu?" 


"Apa?" tanya Zelia mencoba memancing Jimmy.


Wanita itu ingin mendengar apa yang akan keluar dari bibir Jimmy kali ini. 


"Kamu adalah milikku, Lia. Itu tandanya kamu adalah kekasihku!"


Mata Zelia terbelalak. Dia seakan tak bisa bernafas dengan baik saat mendengar perkataan pria itu. 


"Apa maksudmu?" 


"Ya. Maukah kamu jadi pacarku?" 


~Bersambung


Huaaa aku gigit jari. Jan bilang kalian juga gak baper. Tak sentil loh hahaa.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.