Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Potong Bulung!



...Sebagai teman yang baik dan tak mau temannya terjerumus dalam lembah penyesalan. Aku hanya bisa menasehati. Mau tidaknya itu tetap kembali pada dirimu sendiri....


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


Liburan hari kedua, diawali dengan kepulangan Humaira ke rumah. Almeera tentu menyambutnya dengan suka cita. Dia bahkan membantu menggandeng tangan gadis muda itu dan mengantarkannya ke dalam kamar.


Sedangkan Bara, pria itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Apalagi saat melihat bagaimana cueknya Syakir kepada wanita yang berstatus sebagai istrinya. Semakin membuat ayah dua anak itu tak tahan.  


"Jangan sampai kau menyesal," kata Bara tiba-tiba yang duduk di samping sahabatnya.


Syakir tengah menyandarkan punggungnya di sofa yang ada di ruang tamu. Matanya terpejam dan seakan tak menggubris perkataannya.


"Kali ini kau boleh tak mendengarkanku tapi jika nanti dia sudah pergi membawamu anakmu. Aku pastikan kau baru tahu bagaimana artinya mereka berdua." 


Setelah mengatakan itu, Bara segera menyusul Almeera dan Humai. Dia meninggalkan Syakir sendirian agar bisa berpikir dengan kata-katanya sebelum kejadian buruk menimpanya.


Bara hanya tak mau sahabatnya merasakan penyesalan. Penyesalan yang teramat dalam seperti dirinya. Walau ia sudah dimaafkan, kejadian yang pernah dia lakukan seakan bak kaset rusak. Selalu berputar dan membuat Bara merada dihantui.


Namun, ia berusaha meyakini bahwa apa yang pernah ia lakukan. Tak boleh ada kejadian kedua atau ketiga kalinya. Dia benar-benar berusaha berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 


"Sudah sehat?" tanya Bara dengan ramah pada Humai yang sedang menyandarkan punggungnya.


"Sudah, Kak. Terima kasih sudah membantuku selama kalian ada disini," ujar Humai dengan tulus kepada pasangan suami istri di depannya.


Sejujurnya ada perasaan iri dalam hatinya. Melihat bagaimana Bara dan Almeera selalu memandang penuh cinta di antara keduanya. Bagaimana keduanya saling menghargai antara satu dengan yang lain.


Sangat berbeda sekali dengan dirinya, 'bukan! 


Namun, Humaira tak pernah menyesali jalan hidupnya. Dia selalu berusaha berpikiran positif jika apa yang dia dapatkan sekarang adalah jalan menuju kedewasaan. 


Tak selamanya jalan hidup setiap manusia selalu sama. Ada yang harus bersakit-sakit dulu sebelum bahagia. Ada yang langsung diberikan kehidupan tenang dan nyaman tanpa masalah yang mengejarnya. Semua itu sudah suratan takdir.


Bagaimana Tuhan menyiapkan segala hal indah untuk umat-umatnya.


"Pikirkan apa yang pernah aku katakan, Hum. Pikirkan anakmu karena apa yang kamu rasakan akan mengalir dalam diri calon buah hatimu ini," kata Almeera sambil mengelus perut Humaira.


"Iya, Mbak. Aku akan ingat apa yang Mbak katakan." 


"Yaudah. Kami keluar dulu yah. Kamu istirahat saja."


Setelah membantu Humaira berbaring. Almeera dan Bara segera keluar dari kamar gadis muda itu. Mereka memiliki rencana untuk jalan-jalan hari ini bersama kedua anaknya. Maka dari itu, Bia dan Abraham yang sudah melihat orang tuanya siap segera menghampiri mereka.


"Ayo, Ma!" Bia menggandeng dengan wajah tak sabaran.


Hari ini adalah hari wahana bagi kedua anak itu. Mereka kali ini akan menuju jatim park 1 yang berisi banyaknya permainan dengan bermacam-macam model.


Dari yang ekstrim sampai yang biasa saja semuanya ada disana. Dari yang menguji adrenalin sampai membuat para pengunjungnya mual-mual pun ada. 


"Om Syakir gak ikut?" celetuk Bia saat sahabat papanya itu beranjak berdiri saat melihat mereka mendekat.


"Om Syakir harus jagain Tante Humai, Sayang. Nanti aja hari minggu, kita CFD an bareng," ujar Bara dengan cepat.


Syakir segera menoleh ke arah sahabatnya. Dia mengernyitkan alisnya seakan tak tahu akan rencana bapak dua anak tersebut. 


"Jangan sampai kau menolak! Jika iya, aku akan mencabut kerja sama kita." 


Syakir mengepalkan kedua tangannya. Namun, balik lagi ia tak bisa melawan Bara. Kerja sama mereka tentu sangat amat menguntungkan keduanya. 


"Iya. Om Syakir disini dulu sekarang. Nanti kalau Tante udah sembuh, Om bakalan anter Bia yah," ucap Syakir menghibur.


"Siap, Om." 


"Kami berangkat dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." 


...🌴🌴🌴...


Kedatangan mereka di Jatim Park 1 di hari biasa atau normal, membuat suasana tak seramai ketika hari weekend. Keempat orang itu segera memasuki dengan wajah berbinar diawali dengan banyaknya tempat atau rumah-rumah tentang adat istiadat atau suku-suku di indonesia. 


Banyak sekali macam-macam rumah yang ada di dalamnya. Lagi-lagi, Almeera mengambil potret kedua anaknya diam-diam.


"Adik mau naik apa?" tanya Abraham penuh perhatian.


"Bombom car," celetuk Bia sambil menunjukkan wahana itu yang ia cari di google terlebih dahulu. 


"Naik kora-kora dulu bagaimana?" nego Abraham setengah memohon.


Anak itu menggeleng. Dia menolak permintaan Abraham dengan yakin.


"Ayo anterin Adek!" Bia menarik tangan Abraham yang membuat pria itu mengalah. 


Bara dan Almeera yang ada di belakang mereka hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Adik," tegur Almeera yang membuat Bia menoleh. "Minta jawaban dulu dari Abang. Abang mau gak temenin Adik, gitu." 


"Apa harus, Ma?" 


"Iya dong. Kita gak boleh memaksakan kehendak meski itu sama Abang," ujar Almeera menasehati.


Bia menatap ke arah Abraham. "Abang temenin Bia main mau?" 


Abraham tersenyum. Dia bangga kepada adiknya ini. Meski terkadang keras kepalanya Bia berlebihan. Namun, anak itu masih bisa dibilangi. 


"Mau." 


Bara dan Almeera menatap kepergian anak mereka menuju petugas yang menjaga permainan bombom car. Keduanya menunggu di pinggir pagar pembatas sambil melambaikan tangannya kepada dua anak mereka. 


"Kamu gak mau naik, Mas?" tanya Almeera menatap ke arah anak-anaknya.


"Naik?" ulang Bara menatap istrinya. "Semalam kan udah naikin kamu, aduh." 


Almeera melototkan matanya sambil mencubit paha suaminya. Bisa-bisanya suaminya itu berpikiran mesum disini. Untung saja, tak ada orang lain di dekat mereka. Jika ada, sudah dipastikan Almeera akan malu bukan main. 


"Kamu nakal lagi, beneran tidur di luar loh!" 


"Iya ampun, Sayangku, Cintaku, Istriku tersayang," goda Bara memohon.


Almeera pura-pura tak menggubris. Bahkan wanita itu memilih memanggil kedua anaknya tanpa membalas tatapan protes suaminya. 


"Tabrak mobil Abang, Dik!" seru Almeera yang membuat kedua anaknya kejar-kejaran.


"Sayang," rengek Bara menarik lengan istrinya.


"Diamlah, Mas!" 


"Aku gak bakal diam kalau kamu gak narik kata-kata kamu," seru Bara memohon.


"Kata-kata mana?"


"Tidur di luar!" 


"Kalau Mas nakal lagi. Itu bukan ancaman saja tapi bakal jadi kenyataan!" seru Meera melirik suaminya.


Bara bergeser. Dia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri agar tubuh mereka berdekatan.


"Memang kamu bisa tidur sendirian?" bisik Bara pada Meera.


"Bisa!" 


"Yakin?" 


"Yakin!" 


"Yaudah. Kalau yakin, Mas tidur sama yang...aww." 


Bara mengelus pahanya lagi yang terkena cubitan. Dia menatap istrinya yang memasang mode garang.


"Coba aja kalau berani cari yang lain. Kali ini aku bakal potong beneran bulungmu!" 


~Bersambung


Disunat ya, Mbak Meera! hahaha biar gak bisa nakal lagi.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat gitu.