
...Keadaan dimana kamu ada tapi terasa tak dianggap. Semua orang tahu dan kamu menjadi satu-satunya tak tahu lalu mengetahui semuanya dari orang lain. Hal itu benar-benar menyakitkan untuk sebuah hati yang terluka....
...~Azzelia Qaireen...
...🌴🌴🌴...
Perlahan mata yang mulanya terpejam mulai bergerak terbuka. Dia menatap langit-langit ruangan dimana saat ini dia berada. Bau obat-obatan yang menyengat, membuat pikirannya memutar pada ingatan sebelum dia bisa berbaring disana.Â
Hingga ingatan suara samar-samar sang dokter yang tertangkap di telinganya membuat gadis itu segera beranjak duduk.
"Mama!" pekiknya dengan air mata yang kembali mengalir.
Beberapa orang yang ternyata ada disana spontan menoleh. Wajah pucat Zelia tentu tercetak jelas disana. Dia yang menyadari jika ada di ruangan mamanya dan terbaring di ranjang tempat khusus keluarga untuk berjaga lekas membuatnya menoleh.
Disana, sosok wanita yang telah melahirkannya di dunia ini sedang menatapnya juga. Tatapan mereka saling bertemu pandang dengan kesedihan di dalamnya.
Zelia segera menurunkan kedua kakinya. Dia berjalan menuju ranjang mamanya dimana Mama Zelia tengah duduk dengan bersandar di bantal yang diletakkan di belakang punggungnya.
"Mimpi buruk?" tanya Mama Zelia dengan tersenyum.Â
Walau senyuman itu terlihat begitu tulus. Namun, wajahnya yang pucat, kantung mata yang menghitam begitu menampakkan jika sosok itu sedang dalam kondisi sakit.
Tanpa kata, Zelia segera memeluk sosok mamanya dengan erat. Menangis di pelukannya dan mengabaikan keberadaan orang-orang yang ada di sekitarnya.Â
Dia tak memperdulikan apapun. Dia hanya ingin berada di dekat mamanya. Selalu ada disampingnya tanpa ada yang memisahkan keduanya.
"Jangan menangis, Nak. Mana anak Mama yang kuat?" ucap Mama Zelia dengan suara lirih.
Suara itu benar-benar terdengar lemah. Namun, sebisa mungkin seorang ibu dengan hati penuh cinta tetap menguatkan hatinya. Berusaha terlihat baik-baik saja dibalik sakit yang diderita selama ini.
"Kenapa Mama menyembunyikan semuanya dari Lia?" tanya Zelia dengan suara beratnya.
"Mama tak mau membuat Lia khawatir. Toh Mama sudah sembuh, 'bukan?" kata Mama Zelia menahan sakit yang kembali datang di perut bagian belakang.
"Jangan bohongi Lia lagi, Ma. Lia udah tau semuanya," ujar gadis itu dengan mulai berontak.
Zelia melepaskan pelukanya. Perempuan itu sedikit menjauh untuk melihat wajah mamanya. Dia tak suka melihat mamanya yang menahan dan menyimpan penyakitnya.
Zelia merasa menjadi anak yang gagal. Anak yang tak tahu sakit yang diderita pahlawan hidupnya itu.Â
"Kenapa Mama harus sembunyiin semuanya dari Lia? Apa Lia gak ada artinya buat, Mama? Apa Mama kira Lia gak bakal sedih kalau Mama berjuang sendirian sama Papa?" teriaknya mengeluarkan segala kesedihan dalam dirinya.
Biarkan mereka semua tahu apa yang saat ini Zelia rasakan. Biarkan dirinya mengeluarkan segala keresahan yang dia rasakan. Dia tak mau dibohongi lagi. Dirinya ingin diikut sertakan apapun di setiap keadaan suka maupun duka. Sedih ataupun senang ia ingin selalu ada di antara Mama dan Papanya.
"Bukan seperti itu, Nak. Mama…"Â
"Mama cuma gak mau Lia sedih? Gak mau Lia khawatir?" teriak Zelia dengan emosi. "Namanya anak, pasti sedih dan khawatir liat Mamanya sakit tapi jauh dilubuk hatinya lebih sakit lagi kalau jadi anak tapi seperti tak dianggap!"Â
Papa Zelia, Almeera, Adeeva, Reno dan Bara yang ada di sana tak mampu mengatakan apapun. Mereka semua seakan sedih dan ingin Zelia mengeluarkan segala apa yang ia pendam.Â
"Mama bukan tak menganggapmu, Nak. Tapi tolong mengerti kondisi Mama dan Papa saat itu," ujar Mama Zelia dengan lemah.
Zelia mengepalkan kedua tangannya. Lagi-lagi dia dipaksa harus mengerti. Dibohongi dan tau sakit mamanya dari orang lain tentu menjadi sesuatu yang menghantam hatinya.
Tak mau emosinya semakin meledak. Akhirnya Zelia memilih pergi dari ruangan Mamanya. Dia sebenarnya tak tega berteriak pada mamanya untuk pertama kalinya. Namun, dia hanya ingin mama dan papanya mengerti bahwa mereka tak hanya berdua. Ada dirinya juga diantara mereka.Â
"Biarkan aku menyusul Lia, Mas," kata Almeera yang hendak berlalu dari sana.
Dengan sigap Bara menarik tangannya dan menggeleng.
"Biarkan Lia menenangkan pikirannya, Sayang. Jangan ganggu dia," kata Bara dengan pelan.
"Tapi aku takut Lia melakukan hal buruk, Sayang," ujar Almeera penuh khawatur.Â
"Gak mungkin. Percayalah! Zelia tak selemah itu."Â
Akhirnya Almeera kembali duduk di sofa dengan Adeeva dan Reno. Sedangkan Papa Zelia, dia berjalan ke arah istrinya yang menatapnya dengan sedih.Â
"Zelia, Pa," kata Mama Zelia dengan menangis.
"Iya, Pa," jawab Mama Zelia dengan mengangguk. "Sampaikan maaf Mama juga untuk Zelia. Mama benar-benar tak berniat membohonginya."Â
"Papa sampaikan. Sekarang ayo Mama istirahat dulu."
...🌴🌴🌴...
Di tempat lain, lebih tepatnya di taman rumah sakit. Terlihat seorang gadis duduk dengan damai di salah satu kursi yang ada disana. Pandangannya menatap kosong di depan dengan air mata yang terus mengalir.
Dirinya tak tahu harus menceritakan pada siapa segala sakit dihatinya. Dia tak memiliki sandaran. Tak memiliki tempat curhat. Semuanya terasa hampa menurutnya sekarang.
Hingga tak lama telinganya mendengar suara canda tawa yang tak jauh dari dirinya. Zelia menoleh dan menatap sepasang pria dan wanita sedang bersenda gurau di dekatnya.
Melihat bagaimana sang pria mencoba menghibur wanitanya yang sakit, tanpa sadar membuat air mata Zelia mengalir.Â
"Jika semua pria seperti pria itu. Mungkin tak akan ada namanya wanita yang sakit hati," ujarnya pada dirinya sendiri.Â
Bayang-bayang wajah Jimmy memenuhi pikirannya. Dia benar-benar rindu pada kekasihnya. Hingga akhirnya Zelia mencoba menenangkan dirinya, dia meraih ponsel yang ada di saku celananya lalu mulai membuka ruang chat yang selama beberapa minggu ini sepi tak ada balasan apapun.
Aku mungkin menyerah menunggu kabarmu tapi untuk perasaan hatiku, masih tetap sama. Mencintaimu begitu banyak sampai aku berusaha kuat dengan hubungan ini, gumamnya dalam hati dengan air mata kembali mengalir.Â
Tanpa Zelia sadari, tak jauh darinya terdapat seorang pria tampan dengan tubuh tegap tengah duduk di salah satu kursi taman yang berada beberapa meter darinya. Sejak tadi tatapan pria itu menatap ke arah Zelia dengan tajam.
Dirinya tahu jika wanita itu menangis sejak tadi. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa iba dengan kondisi wanita itu. Hingga saat seorang suster berjalan di dekatnya pria itu menghentikan langkah kaki suster tersebut.
"Boleh saya minta tolong?" tanya pria itu begitu sopan.
Suster itu terpana akan ketampanan pria itu. Hingga tatapannya membuat pria itu merasa risih.
"Suster!"Â
"Ah iya, Maaf, Pak."Â
"Bisa saya minta tolong?" tanyanya lagi mengulangi.
"Bisa."Â
"Tolong berikan sapu tangan ini pada wanita disana!" kata pria itu menunjuk posisi Zelia. "Lalu katakan pada wanita itu, agar menggunakan sapu tangan ini untuk menghapus air matanya."
"Baik."Â
Suster itu segera menerima sapu tangan itu dan berjalan ke arah Zelia. Kehadirannya tentu membuat kekasih Jimmy itu spontan mendongak.
"Ya, Suster."Â
"Ini," ucap suster itu menyerahkan sapu tangan berwarna hitam. "Gunakan untuk menghapus air mata, Mbaknya."Â
"Dari siapa, Sus?" tanya Zelia dengan bingung.
"Dari…" Suster itu hendak menunjuk pria tadi. Namun, ternyata pria itu sudah tak terlihat. "Tadi pria itu ada disana."Â
Zelia ikut mengedar. Namun, dia akhirnya menerima sapu tangan itu dan mengucapkan terima kasih.
Dia menatap kain itu dengan lekat. Membukanya hingga tiba-tiba tatapannya tertuju pada jahitan huruf di ujung sapu tangan itu.
"F?" gumamnya dengan kening berkerut. "Siapa pemilik sapu tangan ini?"Â
~Bersambung
Kira-kira F siapa hayo? hayoo?
Yang bilang Zelia udah tau konsekuensinya. Plis dia ini baru pertama kali pacaran terus dapet hubungan LDR. Bayangin aja gimana perasaan Zelia.
JANGAN LUPA IKUTAN GIVE AWAY YAH! S&K UDAH DIPAJANG DI FEED INSTAGRAM AKU!
SUDAH AKU UPLOAD YAH. YUK DICEK!