Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Detik-Detik Talak



...Kuberikan satu kali kepercayaan ini padamu kembali. Aku berharap semoga harapanku ini tak lagi di hempaskan olehmu di dasar jurang kesakitan....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Perkataan seorang pria adalah janji mati yang harus ditepati. Bagaimanapun keadaannya, ketika dia sudah berkata maka harus dia lakukan. Begitulah yang sedang dihadapi oleh seorang Gibran Bara Alkahfi.


Pria yang berumur 35 tahun itu benar-benar membuktikan perkataannya. Hari ini dirinya sudah izin pada Reno karena tak bisa hadir ke perusahaan. Dia akan datang dan merayakan ulang tahun putri keduanya serta akan membuktikan bahwa dia akan memberikan hadiah terindah yaitu berpisah dengan istri keduanya.


Apapun alasannya, Bara sudah memiliki keputusan final. Dia benar-benar lebih memilih mempertahankan Almeera dan anak-anaknya daripada bersama Narumi. Pria itu sudah sadar jika keputusannya dulu sangat amat salah. Bahkan dia rela menyakiti kedua anaknya hanya karena takut dengan ancaman Narumi dan rasa penasarannya sampai terjurumus pada pesona istri keduanya. 


"Kamu beneran gak mau nungguin Kak Jimmy. Mas? Dia memiliki sesuatu yang ingin disampaikan," kata Almeera saat suaminya mulai bersiap. 


"Sampai kapan aku menunggu, Ra? Kak Jimmy kapan kembali?" 


Ya, sejak pertemuan terakhirnya dengan Jimmy waktu pria itu terjebak ban kempes. Mereka tak lagi bertemu. Almeera mengatakan jika kakaknya mendapatkan panggilan dadakan dan membuatnya pergi tanpa pamit. Hal itu juga yang membuat Bara sampai saat ini tak mengetahui belang Narumi.


Almeera juga tak diizinkan mengatakannya langsung karena Jimmy yakin jika Bara tak mungkin percaya sebelum melihat bukti yang sudah pria itu dapatkan. 


"Dia bilang sebelum Bia tiup lilin, Kak Jimmy akan pulang," kata Almeera dengan serius.


"Tapi itu terlalu lama, Ra. Aku ingin pagi ini semuanya selesai," sahut Bara setelah memakai kancing kemeja terakhir. 


"Baiklah. Mas minta ditemani siapa?" tanya Almeera menatap suaminya. 


"Seharusnya aku minta temani Kak Jimmy. Tapi karena dia tak ada, biarkan aku sendirian."


"Kamu yakin? Aku takut kalau dia…" 


"Aku tak akan mengkhianati ucapanmu lagi, Ra. Aku akan mengingat semua yang kamu katakan," kata Bara dengan yakin.


Tangan pria itu memegang pundak istrinya. Lalu perlahan dia mengelus kepala Almeera yang dibalut hijab. 


"Aku akan mengembalikan kepercayaanmu padaku, Ra."


Dengan berat Almeera mengangguk. Walau matanya tersimpan keraguan dia berusaha percaya pada suaminya. Sebenarnya bukan soal Bara yang dia takutkan, melainkan tingkah adik madunya itu yang paling dia pikirkan.  


Narumi bukanlah wanita polos seperti wajahnya. Perempuan itu memiliki banyak tipu muslihat dan membuat Almeera takut suaminya lagi-lagi terjebak dengan wanita itu. 


"Sebentar, Mas," kata Almeera menarik lengan suaminya saat Bara hendak keluar kamar. 


"Ada apa, Sayang?" 


"Inget ini…" jeda Almeera menatap mata suaminya dengan lekat. "Jangan meminum apapun yang wanita itu sajikan. Jangan memakan apapun yang Narumi berikan. Kalau kamu haus, kamu bisa minum ini." 


Almeera bergerak, dia mengambil sebotol air minum yang sudah dia siapkan sejak semalam. Ya, wanita itu sudah diberitahu oleh Jimmy semalam untuk memberitahukan ini pada Bara. Pria itu tak mau Bara kembali diperdaya dengan wajah polos wanita licik itu.


Bara menerima botol minuman itu. Dia menatapnya seksama lalu menatap mata istrinya. "Kamu siapin ini buat aku?" 


"Tentu. Aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu, Mas. Jadi inget pesan aku barusan! Janji?" 


Almeera menyodorkan jari kelingkingnya. Kedua mata itu saling bertatapan hingga Bara bisa melihat ketakutan yang besar di mata istrinya. Tanpa keraguan, Bara segera melilitkan jarinya dan mengatakan bahwa pria itu akan mengingat setiap kata istrinya tadi. 


"Aku janji." 


Akhirnya Almeera mengantar kepergian suaminya sampai di depan pintu. Kejadian ini bahkan membuatnya kembali mengingat kejadian dulu. Jika saat itu dia mengantar suaminya untuk menikah lagi. Sedangkan sekarang, dia kembali mengantar suaminya untuk menceraikan wanita yang sudah menghancurkan kebahagian dirinya. 


Almeera tak bermaksud jahat. Wanita itu tak akan melakukan hal ini jika sikap Narumi tak seperti ini. Melihat semua bukti yang diberikan kakaknya, Almeera benar-benar menyesal telah memberikan izin untuk Bara menikah lagi.


Dia benar-benar menyesal sudah ikut andil dan hampir menyerah saat itu. Namun, Almeera masih bersyukur. Dia tak menyangka Tuhan memberikan kekuatan kepadanya untuk melewati semua ini.


Almeera benar-benar merasa Tuhan sangat berbaik hati kepada dia dan keluarga. Dengan takdirnya, Almeera bisa melihat sikap Narumi. Dia bisa tahu bagaimana perempuan itu sebenarnya.


"Suamimu berangkat?" tanya sebuah suara yang mengejutkan Almeera.


Ibu dua anak itu berbalik. Dia menganggukkan kepalanya saat melihat sosok papanya disana. Tanpa kata Almeera memeluk Darren dengan erat dan jantung yang terus berdebar. 


"Almeera takut, Pa."


...🌴🌴🌴...


Di tempat lain, lebih tepatnya pria yang dikhawatirkan keadaanya sedang menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia sudah bertekad dalam hatinya. Dirinya berjanji tak mau mengkhianati istri, anak dan keluarganya. 


Semuanya harus selesai sekarang. Semuanya harus dia akhiri dengan baik-baik. Bagaimanapun semua ini diawali oleh kesalahannya. Bara juga yakin jika malam itu dia tak menyentuh Narumi. Dirinya yakin jika apa yang dikatakan sahabatnya, Reno, adalah kebenaran.


Dia dijebak malam itu dan dirinya harus mempertanggung jawabkan apa yang tidak seharusnya dia lakukan.


Akhirnya Bara mulai membelokkan kemudinya ke arah sebuah rumah yang sudah lama tak dia pijaki. Dirinya segera turun dan berjalan memasuki bangunan itu. 


"Selamat pagi, Pak," sapa pelayan yang bekerja di rumah istri keduanya.


"Dimana Ibu?" kata Bara dengan mata mengedar.


Rumah ini begitu sepi. Bahkan dia tak melihat istrinya yang biasa menonton telivisi di jam-jam seperti ini. 


Terlihat wanita paruh baya di dekatnya ini seperti ragu dan hal itu membuat Bara berkerut kening.


"Ada apa?" 


"Ibu akhir-akhir ini selalu keluar, Pak. Lalu pagi hari baru pulang." 


Bara yang mendengar ucapan pelayannya dipenuhi rasa penasaran. Dia menelaah ucapan itu hingga banyak pikiran yang memenuhi kepalanya.


Kemana Narumi setiap malam? Gumamnya dalam hati. 


Saat dia hendak melangkah. Sebuah suara wanita yang ia kenal membuat Bara mengurungkan niat.


"Kamu datang, Mas? Kamu darimana saja?" tanya Narumi yang baru saja turun dari tangga.


Pelayan itu segera undur diri saat melihat majikannya berlari mendekati Tuannya. Narumi yang hendak memeluk Bara, lekas mendapatkan penolakan secara terang-terangan.


Bara mundur dari posisinya. "Jangan memelukku." 


"Kamu kenapa, Mas? Setelah kamu lama hilang dan aku ingin peluk kamu. Kenapa kamu nolak? Kamu gak kangen aku?" teriak Narumi penuh amarah.


Bara menatap mata wanita itu dengan lekat. Dia tak percaya jika istri keduanya ini menjebaknya. Meski ia tak memiliki bukti, melalui ucapan Reno saja dia bisa yakin bahwa tak terjadi sesuatu malam itu.


"Apa salahku padamu, Rumi? Kenapa kamu menjebakku?" tanya Bara dengan serius.


"Apa maksud kamu, Mas?" tanya Narumi pura-pura tak tahu.


"Jangan menampilkan wajah polosmu itu," kata Bara dengan geram. "Aku tau bahwa tak ada yang terjadi pada kita malam itu." 


Jantung Narumi berdegup kencang. Dia berusaha menetralkan jantungnya saat mendengar ucapan Bara yang mentodong dirinya.


"Apa maksudmu sih, Mas? Aku tak mengerti," kata Narumi berkilah.


Bara menahan amarahnya. Dia berjanji tak akan memukul wanita lagi.


"Aku tau kalau malam itu kau menjebakku dengan memberikan sesuatu di minuman itu. Aku yakin aku tak memperkosaku, Rumi. Tak ada ingatan apapun yang aku ingat. Aku tak mungkin memperkosamu dalam keadaan tak sadar."


Narumi semakin tersudutkan. Dia merasa susah menelan ludahnya.


"Kamu benar-benar penghancur rumah tanggaku, Rumi. Kamu benar-benar menghancurkan segalanya."


"Aku tak menghancurkan apapun. Kamu sendiri yang merenggut keperawananku malam itu!" bela Narumi dengan menaikkan nada suaranya.


"Jangan berbohong lagi, Rumi! Aku sudah mengetahui semuanya dan hari ini, detik ini, aku ingin kita bercerai!" 


~Bersambung


Kira-kira Narumi langsung setuju buat cerai atau akan ada drama lagi?


Rasanya si ulet kalau gak buat tingkah ya bukan ulet, hihi.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.