
...Aku percaya jika orang baik akan selalu menang melawan orang jahat....
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...🌴🌴🌴...
Tak henti-hentinya sepasang mata Almeera menatap pintu yang sejak tadi masih tertutup rapat. Ingatannya berputar dimana dia bisa melihat darah segar tak henti keluar dari perut sahabatnya. Wajah Zelia tentu sangat pucat walau luka itu sudah ditahan oleh petugas yang ada di sana.
Almeera memejamkan matanya. Dia berusaha menerima semua yang terjadi hari ini. Pikirannya terbelah menjadi dua. Kabar tentang anaknya belum dia dapatkan. Lalu sekarang keadaan sahabatnya juga belum dia dengar.Â
"Semoga Bia dan Zelia baik-baik saja, Ya Allah," gumamnya dengan helaan nafas berat.
Kepalanya terasa pusing. Almeera memijatnya secara perlahan untuk mengurangi rasa sakit itu. Hingga tak lama, sebuah suara yang sangat ia kenal membuat Almeera menoleh.Â
"Deeva."Â
"Meera!" Dua wanita itu saling berpelukan.
Almeera menumpahkan rasa kegundahan dalam pelukan sahabatnya. Ia menangis disana, membiarkan segala kesakitan dan kekhawatiran yang sejak tadi membalut hatinya ia keluarkan.
"Aku tau, Ra. Kamu pasti khawatir sama Bia dan Zelia," bisik Adeeva dengan mengelus punggung Almeera.Â
"Aku khawatir pada mereka berdua," ucap Almeera melepas pelukannya. "Di satu sisi, sahabatku sedang berjuang dengan nyawanya. Lalu disisi lain, anakku tak tahu ada dimana. Aku bingung, Va. Aku takut."
Adeeva mengangguk. Dia meraih tubuh Almeera lagi dan memeluknya agar sahabatnya tak merasa sendiri.Â
"Berdoa, Ra. Aku yakin Bia dan Zelia akan selamat."Â
Almeera mengangguk. Dalam hati perempuan itu mengaminkan doa sahabatnya itu. Dia berharap semoga dua-duanya selamat dan tak mengalami kejadian buruk.
Hingga tak beberapa lama. Kehadiran keluarga Almeera membuat wanita itu lekas berdiri. Dia memeluk suaminya dengan erat.Â
"Tenanglah, Ra. Bia pasti segera ditemukan," bisik Bara dengan perasaan hancur.
"Aku takut, Mas. Aku takut mereka menyakiti Bia kita dengan jahat," ujar Almeera mencurahkan isi hatinya.Â
"Aku tak akan membiarkan itu terjadi. Kita akan menemukan Bia dan membawanya pulang."Â
"Janji?" ujar Almeera menatap suaminya penuh harap.Â
"Janji," sahut Bara dengan cepat."Bagaimana kabar Zelia, Sayang?"Â
"Belum ada kabar. Dokter harus mengoperasi dan menjahit luka tusukan itu, Mas. Aku benar-benar khawatir kepadanya"Â
"Yakinlah. Zelia itu kuat seperti kamu dan Adeeva."Â
Almeera mengangguk. Lalu tak lama, muncullah sosok Jimmy yang baru saja sampai di rumah sakit.Â
"Bagaimana?" tanya Bara saat kakak iparnya sudah ada di sampingnya.
"Aman. Dia dijaga ketat oleh teman-temanku," kata Jimmy yang membuat Almeera penasaran.Â
"Apa maksud kalian."Â
"Narumi…"Â
"Apa wanita itu yang menjadi biang semua masalah ini, Mas?" sela Almeera dengan menatap suaminya lekat.Â
Bara menarik nafasnya begitu dalam. Entah seberapa sakit lagi batin istrinya itu karena ulah dari tingkah cinta pertama dan mantan istrinya itu.
"Katakan, Mas!" desak Almeera tak sabar.
"Ya, Sayang. Ini ulah Narumi dan kekasihnya."Â
Almeera merasa dunianya hancur. Jantungnya berdegup kencang dengan nafas yang terasa sesak. Dia tak menyangka jika perempuan itu mampu melakukan hal nekat seperti ini. Apalagi sampai melukai sahabatnya sendiri yang dulu pernah ada untuknya.
"Aku harus buat perhitungan sama dia."Â
"Sayang!" Bara menggeleng.
Dia meraih wajah istrinya dan menangkup kedua pipinya dengan lembut.Â
"Jangan pikirkan wanita itu. Kak Jimmy sudah mengurusnya dengan baik. Dia tak akan kabur kemana-mana. Kita sudah mengikatnya dengan kuat dengan penjagaan tingkat tinggi," ucap Bara menjelaskan.
"Serius?"Â
"Iya, Ra. Jadi jangan pedulikan dia lagi. Lebih baik saat ini kamu fokus untuk Zelia dan Bia. Doakan mereka agar baik-baik saja."Â
"Tentu, Kak. Itu pasti kulakukan."
...🌴🌴🌴...
Di sebuah ruangan sempit dan lembab. Terlihat seorang anak kecil tengah duduk dengan tangan terikat. Di sekitarnya terdapat dua orang pria yang menemaninya di sana.Â
"Mama, Bia disini, Ma. Tolongin Bia, Ma," ucapnya dengan menangis. Â
"Berisik!" seru seorang pria yang memiliki tindik di telinganya.
"Aku mau pulang, Om. Tolong Lepasin, Bia!" ucap anak kedua Almeera dan Bara penuh harap.Â
"Tidak semuda itu, anak kecil!" bisik pria itu dengan wajah garangnya. "Kau akan disini selamanya."Â
"Nggak!" teriak Bia dengan marah.Â
"Kau!" Saat penjahat itu hendak menaikkan tangannya.
Penjahat yang lain segera melerai dan membuat pria itu begitu marah.Â
"Kau pasti capek, 'kan? Istirahatlah! Biar aku yang menjaga anak itu," katanya menatap Bia dengan lirikan tajam.
Anak itu hanya mampu menunduk. Dia begitu takut melihat wajah pria dewasa ini dengan tindik, tato dan kumis yang menurutnya sangat amat menyeramkan.Â
"Kau ingin membelanya?"Â
"Apa maksudmu?" kata pria itu dengan heran.Â
"Kenapa kau menyuruhku pergi? Padahal aku ingin memukul anak itu agar tak berisik."Â
"Apa kau lupa, apa yang dikatakan oleh Bos kemarin? Jangan lukai anak ini sampai Nona Narumi datang?" seru pria itu dan membuat temannya mengangguk.
"Baiklah. Jaga anak itu dengan baik! Aku akan keluar mencari udara segar. Telingaku sungguh sangat sakit mendengar ocehannya!"Â
"Oke."Â
Setelah kepergian pria itu. Wajah Bia perlahan diangkat. Dia menatap sosok penjahat yang berjalan ke arahnya dan mensejajarkan tubuhnya itu.Â
"Mau apa, Om? Pergi! Om jahat! Om sama saja dengan mereka!" pekiknya mengusir pria itu dengan tubuh gemetaran.
"Tenanglah, Nak. Om tak akan berbuat jahat padamu," kata penjahat itu dengan pelan.
Bia memberanikan diri menatap wajah pria itu lagi. Dia meneliti sosok yang bisa berbicara dengannya secara baik-baik dan tak berbuat kasar kepadanya.Â
"Beneran?"Â
"Ya."
"Jadi Om bisa bantu Bia keluar dari sini?" tanya Bia penuh harap.
Pria itu tak menjawab. Dia menundukkan pandangannya yang membuat Bia merasa kecewa.
"Om sama saja dengan mereka. Jahat!" Bia membalikkan tubuhnya.
Dia menatap tangannya yang terikat dengan air mata menetes. Bia sangat merindukan orang tuanya. Dia juga khawatir pada Zelia.
"Tante baik-baik saja, 'kan?" gumamnya dengan pelan.
Pikirannya berputar saat dimana matanya sendiri menatap bagaimana teman mamanya ditusuk dengan pisau. Darah segar langsung keluar dari perutnya tapi tak membuat wanita itu menyerah.Â
"Semoga Tante Zelia baik-baik saja di sana. Bia yakin Papa, Mama, Om sama Kakek bakalan selametin Bia disini."Â
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di ruangan lain. Terlihat seorang pria bertepuk tangan merasa puas dengan kinerja orang-orang yang ia bayar. Wajahnya sangat merasa bahagia saat tikus kecil pengganggu wanita yang dia cintai sudah ada di tangannya.Â
"Kerja kalian bagus," kata Adnan dengan senyuman lebar. "Ini bayaran awal untuk kalian."
Adnan melempar amplop coklat yang dia pegang. Penjahat yang menerima dan membukanya tersenyum lebar. Kerjasama di antara mereka sangat menguntungkan hingga membuat Adnan maupun bos penjahat itu merasa puas.Â
"Kapan kita membuang anak itu, Bos?" kata pemimpin penjahat itu pada Adnan.
"Besok kita akan membuangnya sejauh mungkin."
~Bersambung
Yakin bisa buang Bia, Nan? Ati-ati loh. Om nya Bia galak macem singa.
Ah akhirnya 3 bab lunas yah guys. Terima kasih banyak like, komen dan votenya.
BTW boleh minta saran gak?
Tolong bantu pilihin cover dong buat novelnya Bang Jimmy.
Menurut kalian bagusan yang full wajah atau yang kelihatan bibirnya aja?
Kasih pilihan kalian di kolom komentar.