
...Aku tak menyangka bahwa aku bisa jatuh cinta pada wanita yang pernah memiliki pikiran untuk tidak menikah seumur hidupnya....
...~Reno Akmal Alfayyadh...
...🌴🌴🌴...
Di sebuah rumah mewah, terlihat seorang pria tampan tengah menggendong seorang bayi dengan matanya yang awas menatap putranya yang sedang bermain mobil-mobilan di lantai.Â
Dia berdiri dengan menenangkan putra keduanya agar semakin terlelap tidurnya. Dirinya juga harus menatap putranya yang sedang masa aktif bermain karena takut jika bocah kecil itu akan melakukan hal tak terduga.
Menanggalkan wibawa seorang asisten yang dingin dan cuek, sikap jutek dan sombong hanya di depan keluarganya. Dirinya juga rela menjaga kedua anaknya disaat istrinya sedang berada di dapur untuk memasak makan siang.
"Reyn, tunggu disini dulu, yah! Papa mau taruh adik di kamar," pamit Reno yang membuat bocah berusia empat tahun itu mengangguk.
Dengan pelan, Reno berjalan menuju kamarnya. Meninggalkan bocah empat tahun itu sendirian di ruang tamu dengan mobil-mobilan berserakan di lantai.Â
Tak lama, telinganya mendengar suara mobil es krim keliling yang membuat Reyn segera meninggalkan mainannya dan berjalan keluar rumah. Pintu rumah yang terbuka memudahkan anak itu berlari dengan cepat.Â
"Es krim!" Teriaknya sambil melambaikan tangannya.Â
Anak itu menggerakkan pagar rumah agar terbuka. Tangannya ia keluarkan dengan suara berteriak untuk menghentikan tukang es krim. Usahanya berhasil, mobil es krim itu berhenti dan mendekati sosok Reyn.
Entah tatapan pria itu mencurigakan. Dia mengedarkan pandangannya.Â
"Uangnya mana?" Tanya pria itu menatap Reyn.
"Uang di Mama," kata bocah itu dengan polos. "Bentar, Reyn ambil uang!"Â
"Gak usah, Nak. Gak usah!" Tolak pria itu dengan menahan tangan Reyn. "Ayo keluar. Kamu bisa pilih es krimnya sendiri."
Perlahan pintu gerbang itu hendak dibuka oleh penjual es krim. Namun, sepertinya pintu itu terkunci yang membuat penjual es krim seakan memaksa. Hingga sebuah mobil mendekat membuat aksi itu berhenti.
"Tante Meera!"Â
"Hey. Kamu mau apa!" Seru Bara yang langsung membuat penjual itu kabur.
Almeera berjalan mendekati anak sahabatnya itu. Dia segera berjongkok dan meneliti apakah Reyn terluka atau tidak.Â
"Reyn gapapa, 'kan?"Â
Kepala mungil itu mengangguk. "Reyn baik-baik aja, Tante."Â
Hingga suara teriakan dari dalam membuat Almeera dan Bara yang ada di luar pintu segera menyahut.
"Reyn…Reyn!"Â
"Ren, disini!"Â
Reno berlari dengan cepat. Dia mengangkat anaknya dalam gendongan dan mengusap wajahnya.
"Kamu gimana bisa ada disini, Nak? Papa udah bilang tunggu di dalam, 'kan?"Â
Reno terlihat begitu khawatir. Dia tadi sudah ketakutan saat tak mendapati anaknya ada di dalam.
"Mas ketemu?" Kata Adeeva yang sama khawatirnya.
Pasangan suami istri itu terlihat sangat panik sekali. Mereka memeluk Reyn dan mencium anak itu dengan ketakutan yang besar.
"Untung Mas Bara yang liat duluan penjual itu mau membuka pagar kalian dan bawa Reyn, dia gas mobilnya. Lain kali hati-hati!" omel Almeera yang membuat Adeeva mengangguk.
Mereka segera masuk ke dalam dengan Adeeva yang tak hentinya menciumi anak pertamanya itu. Dia sangat takut tadi mendengar suara suaminya memanggil putranya dengan panik.
Ketakutan akan sesuatu buruk terjadi membuatnya tak bisa menutupi kekhawatirannya.Â
"Kemana Revano?" tanya Almeera saat mereka baru saja sampai di ruang tamu rumah Reno dan Adeeva.
"Revano tidur, Ra. Barusan aku tinggal Reyn karena mau taruh adiknya."Â
"Kalau Lo mau ninggalin Reyn sendirian. Tutup dulu pintunya. Bahaya anak segini kalau rumah pinggir jalan. Untung pagarnya Lo kunci dan lumayan tinggi."
"Iya, Bar. Gue bakalan ati-ati lain kali."Â
Tak lama, dari pintu masuk, muncullah dua anak perempuan yang usianya berbeda beberapa tahun. Reyn yang menatap kehadiran sang wanita cantik membuatnya memberontak minta turun.
"Aya!" teriaknya dengan senang.
"Thaya gak mau sama Reyn!" kata Athaya kepada Bara.
Bara terkekeh. Apalagi melihat wajah Reyn yang kecewa membuat semua orang tertawa. Tingkah anak pertama Reno memang seperti itu jika bertemu dengan Athaya.
Pria kecil itu akan selalu menempel pada Athaya. Mengajaknya bermain dan menggodanya. Bahkan Reyn memiliki panggilan khusus yaitu Aya untuk anak keempat pasangan Bara dan Almeera.Â
"Reyn mau main sama Thaya," ajak Reyn sambil berlari menuju kamarnya.
Entah apa yang pria kecil itu lakukan hingga membuat kepala Athaya mengikuti langkah kaki anak pertama Reno itu dari gendongan sang papa. Hingga tak lama, muncullah Reyn sambil menggendong boneka BT21 Cooky berwarna pink itu.
"Reyn punya boneka kesayangan Thaya. Nih!" kata anak itu dengan bahagianya.
Mata Athaya berbinar. Namun, dia masih bersikap jual mahal dengan melingkarkan tangannya di leher sang papa.
"Thaya udah punya Cooky di rumah."Â
Reyn memeluk bonekanya dengan menahan tangis. Almeera yang melihat tentu tak tega. Memang putrinya selalu menjauh dari Reyn karena anak Reno selalu berusaha mendekati Thaya dan membuatnya risih.
"Jangan menangis!" kata Almeera meraih Reyn dalam pangkuannya. "Thaya harus menghargai pemberian seseorang. Jangan berkata yang menyakiti hatinya, Nak. Lihat Reyn sedih, 'kan?"Â
Reyn menghapus air matanya. Hal itu membuat Athaya menoleh ke arah sang papa.
"Ayo minta maaf. Anak Papa bisa, 'kan?"Â
Athaya melirik Reyn yang bersedih. Dia segera turun dan berjalan ke arah Reyn dan Mamanya.
"Minta maaf," kata Athaya sambil mengulurkan tangannya.Â
Reyn turun dari pangkuan Almeera. Dia menerima uluran tangan itu dengan cepat.
"Reyn maafin!" katanya pada Thaya. "Mau, 'kan menerima boneka dari Reyn?"Â
Athaya tak langsung menerima. Dia menatap mama dan papanya bergantian.Â
"Makasih, Reyn!" kata Athaya sambil menerima boneka itu.
Hal itu membuat Reyn tersenyum lebar. Dia menganggukkan kepalanya lalu menoel hidung mancung Athaya.
"Sama-sama, Thaya cantik!"
Athaya segera membawa boneka itu ke arah sang papa. Lalu dari belakang diikuti Reyn yang selalu ingin mengikuti Athaya kemanapun.Â
Perlakuan itu tentu membuat Reno tertawa tak percaya. Sepertinya ucapannya tak akan salah. Perkataannya beberapa tahun yang lalu yang mengatakan bahwa calon menantunya ada di depan mata pasti akan terjadi.
Terjadi di masa depan yang membuatnya begitu bahagia.Â
"Thaya ayo main! Reyn punya boneka BT21 banyak!"Â
Athaya menatap kakak kembarnya yang sejak tadi diam bersama abangnya Abraham. Biasanya Athalla yang selalu menjaganya jika ada teman-temannya yang mendekatinya.
"Ayo, Thalla temani!" kata Athalla sambil turun dan berjalan ke arah adik kembarnya.
Athaya bahagia. Dia menatap Reyn yang menunggu jawabannya.
"Thaya ajak Abang Thalla boleh?"Â
Meski terlihat berat. Namun, Reyn mengangguk. Setidaknya Athaya mau bermain bersamanya.
Setelah kepergiaan tiga anak itu. Reno segera menatap kedatangan sahabatnya itu. Dia bisa menebak apa yang akan dibicarakan Bara padanya sekarang.
"Apa kalian jadi pindah?" tanya Adeeva yang sudah diceritakan oleh sang suami.
Almeera menatap sahabatnya dengan sedih. Kepalanya mengangguk dengan berat.Â
"Ya. Kita akan pindah ke New York minggu depan."
~Bersambung ehh dah abis
Habis yah? Udah cukup bonchapnya kan?
Hahaha jan nanya kapan novel mereka woy. Kisah Mas Bar Mbak Meera nyata. Athaya nyata di sini masih kecil hehehe.
Tapi kalau mau novel fiksi mereka. Bisa kali yah kubuatin. Tapi nunggu novel Bang Jim Zelia dan Syakir Humai selesai.