
...Ketika aku ingat semua tingkahmu, jujur aku sudah ingin menendangmu dari kehidupanku dan keluargaku....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Selama tiga minggu Narumi dirawat di rumah sakit. Dengan setia, Almeera sering bolak balik untuk menemani atau membawakan makanan untuk mantan adik madunya itu.Â
Keadaan Narumi sudah jauh lebih baik. Hanya saja, dokter mengatakan jika kakinya masih membutuhkan terapi agar bisa bergerak kembali. Mendengar itu, baik Almeera, Bara dan Jimmy hanya mengangguk. Mereka seakan menerima apa saja yang dikatakan oleh dokter.
Selama itu juga, semua keluarga Almeera dan Bara sudah tahu semuanya. Mereka sama-sama akan ikut andil dalam menjalankan permainan yang dibuat oleh Narumi dan kekasihnya.Â
Tak ada pergerakan apapun memang. Baik Narumi maupun Adnan tak lagi bertemu setelah kejadian itu. Keduanya benar-benar seakan menjaga jarak dan membuat Bara sungguh sangat amat geram.
Hari itu, akhirnya Narumi diizinkan untuk pulang. Wanita itu dibantu Almeera berganti pakaian. Dengan baik ibu dari dua anak itu, membantu Narumi dengan ikhlas. Walau sebenarnya dia sendiri menahan untuk tak memaki mantan adik madunya.
"Kalian tunggu disini, 'yah," kata Bara pada Almeera dan Narumi.
"Iya, Mas," sahut keduanya bersamaan.Â
Almeera benar-benar ingin sekali memukul kepala Narumi. Wanita itu bisa-bisanya masih bersikap manis setelah melakukan semuanya. Dia benar-benar tak memiliki rasa malu dan membuat Almeera tak habis pikir.Â
Setelah kepergian Bara, Almeera mulai membereskan tas yang berisi pakaian Narumi. Dia juga memasukkan ponsel, cas-casan dan beberapa barang miliknya ke dalam tas. Setelah itu datanglah perawat yang bertugas melepas infus dari tangan Narumi.Â
"Semoga lekas sembuh ya, Mbak Rumi. Cepet bisa jalan," kata wanita berpakaian suster dengan ramah.
"Terima kasih, Sus," sahut Rumi dengan tersenyum.Â
Dia sudah bisa jalan, Sus. Rasanya ingin kudorong dia sekarang juga, umpat Meera dalam hati.
Tak lama, Bara dan Jimmy akhirnya datang. Kehadiran keduanya juga diikuti seorang perawat pria yang mendorong kursi roda.Â
"Mari saya bantu," kata perawat pria itu yang membuat Narumi menoleh.
"Kenapa, Rum?" tanya Almeera pura-pura tak tahu.
"Kenapa bukan Mas Bara yang menggendongku ke kursi roda?" tanya Rumi dengan wajah lugunya.
Uhh seenak jidat menyuruh suamiku. Apa kepalanya ingin kupukul biar dia ingat bahwa mereka sudah bercerai, sungut Meera dalam hati.Â
"Apa kamu lupa bahwa kalian sudah bercerai?" ucap Almeera dengan wajah polosnya. "Jadi Mas Bara tak bisa memegangmu dengan bebas karena kamu bukan pasangan halalnya lagi."
Kena kau!
Jimmy hanya bisa menahan tawanya. Melihat bagaimana tangan adiknya yang terkepal membuatnya paham jika Almeera sebenarnya sedang sangat kesal.Â
Sedangkan Narumi, wanita itu hanya bisa menahan kekesalannya. Dia tetap berekspresi semanis mungkin meski dalam hatinya terus mengumpat nama Almeera.Â
Awas aja kau, Ra. Aku akan mengambil Mas Bara lagi darimu, kata Rumi dalam hati.Â
Setelah Narumi duduk dengan tenang di atas kursi roda. Akhirnya Almeera maju mengambil alih.
"Biarkan aku yang mendorongnya," kata Almeera dan semakin membuat hati Narumi dongkol.
Saat istri dari Bara hendak mendorong. Tiba-tiba suara Narumi membuat langkah mereka terhenti.
"Kenapa, Rum?" tanya Almeera menatap mantan adik madunya.
"Bolehkah aku meminta tolong, Ra? Untuk terakhir kalinya," kata Narumi dengan mata sendu.
Almeera mengangguk. Dia memilih mensejajarkan tubuhnya di depan kursi roda Narumi dan menggenggam tangannya.
Uh ratu drama selalu terdepan. Apalagi yang akan diminta setelah ini? gumam Meera dalam hati.Â
"Tentu. Kamu ingin apa?" tanya Almeera seperhatian mungkin.
"Bisakah aku tinggal bersamamu?" ucapnya dengan wajah dibuat sepolos mungkin. "Keadaanku seperti ini, Ra. Aku tak memiliki sanak saudara."Â
"Tapi…"Â
"Hanya sampai aku bisa jalan. Aku takut tinggal sendiri di rumah itu," sela Rumi dengan cepat.
"Tapi di rumahmu ada pelayan, 'kan, Rumi?" tanya Bara yang sejak tadi diam.
"Iya, Mas." Narumi mengangguk. Dia berusaha mencari ide agar dua orang di depannya ini tak bisa menolak. "Tapi aku takut mereka tak bisa merawatku dengan ikhlas. Aku hanya punya Almeera saja. Jadi, bolehkah aku tinggal bersamamu?"Â
Almeera benar-benar ingin marah. Nafasnya sudah memberat dengan dada naik turun. Dia benar-benar tak percaya melihat tingkah mantan adik madunya segila ini.
"Boleh. Aku akan merawatmu di rumah," sahut Almeera dengan yakin. "Toh nanti ada anak-anakku juga yang membantu menjagamu."Â
Senyuman lebar muncul di bibir Narumi. Dia berpikir mereka sudah masuk ke dalam permainannya. Tanpa sepengetahuan dia sendiri, sebenarnya dirinya lah yang sudah terjebak dalam permainan yang dibuat oleh dirinya sendiri.
"Ayo kita pulang ke rumahku!"Â
Almeera segera mendorong kursi roda Narumi. Dia mengabaikan tatapan Bara yang tak setuju. Pria itu bukan takut tergoda oleh mantan istrinya. Melainkan dia sangat amat marah pada Narumi dan tak ingin melihat wajahnya lagi.Â
Setelah itu mereka segera menuju ke mobil yang sudah berhenti didepan rumah sakit. Dengan bantuan Jimmy, Almeera membawa tubuh Narumi duduk. Dengan kuat dua orang itu mampu memindahkan Narumi dari kursi rodanya.
Setelah semua barangnya tersusun rapi di mobil. Mereka segera meninggalkan rumah sakit. Bara mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Kaki Narumi yang patah juga diberi tumpuan banyak bantal di bawahnya agar tidak sakit.Â
"Kalau sakit bilang yah, Rum," kata Meera dengan baik.
"Ya. Sekali lagi terima kasih, Ra," ucap Narumi pada istri Bara.Â
Kalau mengingat semua tingkahmu. Rasanya aku ingin memukulmu sejak tadi, batin Almeera menjerit.
"Sama-sama, Rum."Â
Hampir dua jam perjalanan, akhirnya kendaraan yang membawa mereka mulai memasuki pelataran rumah Almeera. Narumi berdecak kagum saat melihat bangunan di depannya. Hatinya menggerutu saat menyadari rumah ini lebih unik dan bagus dari rumah yang dibelikan Bara untuknya.Â
Setelah kendaraan itu berhenti. Semua orang akhirnya keluar dari sana. Mereka seakan menyambut kehadiran Narumi di rumah Meera.
Wajah mantan istri Bara mulai berubah. Dia melihat banyak orang disana. Dirinya tak tahu jika semua keluarga berkumpul hanya untuk melihat wajah jahatnya Narumi.
"Selamat datang di rumah putriku, Nak," kata Darren dengan nada menyindir.Â
Narumi menahan amarahnya. Dia mengangguk dan memaksakan senyumannya. "Terima kasih, Om."Â
"Semoga betah yah tinggal disini, UNTUK SEMENTARA WAKTU, 'kan?" ucap Ummi Mira dengan kata terakhir penuh penekanan.Â
Narumi mengangguk kaku. Bukannya dia bodoh. Jujur dirinya sangat mengerti bahwa semua orang yang berdiri di depannya ini menatapnya tak suka. Namun, sebaik mungkin dia berekspresi seakan semua baik-baik saja.Â
Lalu tak lama, muncul seorang anak kecil dari dalam rumah dengan es krim di tangannya.Â
"Mama," panggil Bia dengan senang.Â
"Halo, Sayang," sahut Almeera dengan senang.
"Akhirnya Mama pulang," ucap Bia dengan wajah sumringah.Â
Lalu pandangan anak itu tiba-tiba tertuju pada Narumi yang juga sedang menatapnya.
"Halo, Tante," sapa Bia dengan ramah.
"Halo juga, Sayang. Kamu cantik seperti Mamamu," kata Narumi pura-pura manis.
"Ah tapi kata Kakek. Aku mirip Papa," sahutnya dengan polos. "Emm Tante mau tinggal disini?"Â
"Ya. Apa boleh?"Â
"Boleh. Boleh banget," sahut Bia sambil menjilat es krimnya. "Tapi sebelum itu, apa boleh aku peluk, Tante?"Â
"Tentu."Â
Dengan bantuan Bara, Bia akhirnya mulai memeluk Narumi. Namun, saat Bara mulai menjauhkan tubuh anaknya, tiba-tiba es krim yang berada di atas cone milik Bia, terjatuh dan mengenai rambut Narumi.
"Aww!" pekik Narumi terkejut.
Wanita itu mengepalkan tangannya. Namun, dia berusaha untuk menahan amarahnya agar tak meledak. Sedangkan semua orang, sama-sama menahan tawa. Tingkah Bia memang sudah direncanakan dan ide itu muncul dari kepala Dareen sendiri.Â
"Tante, maafin Bia," kata anak kedua pasangan Bara dan Meera. "Bia gak sengaja."Â
"Tidak apa-apa, Sayang. Tante bisa membersihkannya nanti."Â
"Maafkan anakku, Rumi. Dia…"Â
"Santai, Ra. Aku tau anakmu masih kecil," ujarnya dengan penuh penekanan.
"Baiklah ayo kuantar ke kamar. Lalu aku bantu membersihkan bekas es krim yang lengket di rambutmu."Â
~Bersambung
Kan bener toh. Dikasih hati minta jantung. Ngelunjak bener emang ratu drama satu ini. Habis tinggal bareng, apalagi nanti? minta dijorokin ke laut? ayo sini aku jorokin! haha.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.