Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Mengerjai Adeeva



...Entah kenapa melihat wajahnya yang kesal, menjadi sesuatu yang menarik untuk kupandang. ...


...~Reno Akmal alfayyadh...


...🌴🌴🌴...


Reno benar-benar dibuat mati kutu. Dia tak percaya jika wanita di sampingnya ini benar-benar cekatan. Tak ada kata lambat, manja dan lelet. Adeeva benar-benar seorang perfeksionis yang selalu mengutamakan kualitas dirinya dan mengesampingkan kegiatan yang lain.


Jika disandingkan dengan Bara, Adeeva adalah versi ceweknya. Wanita itu bahkan hampir melewatkan jam makan siang. Sejak tadi dia tak beristirahat sedikitpun. Merubah segala file keuangan, lalu mengetiknya kembali. Mengecek dan merevisi semuanya sebelum diberikan kepada bosnya itu. 


Adeeva menghela nafas lelah. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan menarik kedua tangannya ke depan. Perempuan itu benar-benar tak memperdulikan kehadiran Reno. 


Pria itu sudah dianggapnya angin lalu, karena menurut Adeeva, Reno adalah sosok yang sok tau dan pandai berkomentar. 


"Akhirnya selesai juga," gumam Adeeva lalu mulai mengumpulkan semua file baru dan lama lalu dibedakan. 


Setelah itu, dia segera mengambilnya dan beranjak berdiri. Kegiatan itu tentu membuat perhatian Reno teralihkan.


"Mau kemana?" 


"Ruangan Pak Bara," sahut Adeeva singkat.


"Untuk apa?" 


Sahabat Almeera itu lekas menghentikan langkahnya. Dia menoleh dan memelototi pria itu dengan lebar.


"Gak lihat! Saya sedang membawa berkas jadi bisa diterka, 'kan? Saya mau ngapain?" ketus Adeeva lalu segera melenggang masuk ke ruangan Bara.


Reno mendengus. Pria itu mengepalkan kedua tangannya. Dia tak menyangka jika Adeeva benar-benar bisa membuatnya mati kutu. Mulut wanita itu sangat beracun dan bisa menyemburnya kapan saja. 


Awas saja kau! Setelah ini jangan panggil aku Reno, jika aku tak bisa membalasmu, gumam Reno dengan tersenyum miring. 


...🌴🌴🌴...


Di tempat lain, di sebuah gedung sekolah yang berdiri khusus untuk anak seusia Bia. Terlihat dua orang perempuan berbeda usia sedang duduk di kursi taman.


Seorang perempuan yang memakai jilbab, mencoba mengajak anaknya mengobrol sejak tadi. Bahkan dengan telaten, dia mengajarkan anaknya untuk bermain bersama teman-temannya.


"Mama disini kok, Sayang," ucapnya untuk kesekian kalinya.


Anak itu menggeleng. Dia memegang tangan mamanya dengan erat. Seakan takut untuk ditinggalkan.


Akhirnya sang ibu tak bisa memaksa. Dia meraih putrinya ke pangkuan dan mengusap kepalanya dengan lembut.


"Halo, Bia. Ayo main!" ajak seorang perempuan berpakaian guru mendekati keduanya. 


Anak itu tetap menggeleng. Dia semakin memeluk lengan mamanya seakan takut dipisahkan. 


"Maaf, Bu. Bia benar-benar belum sembuh dari traumanya," kata Almeera tak enak hati.


Sejujurnya hari ini untuk pertama kalinya Bia mencoba masuk ke sekolah TK. Almeera dan Bara sepakat untuk menghibur dan mengubur trauma yang dirasakan oleh anaknya, dengan menyekolahkan Bia untuk pengenalan sebelum masuk ke sekolah TK dengan benar.


Almeera hanya ingin anaknya memiliki teman. Mencoba berkomunikasi dan mengembalikan keceriaannya lagi. Namun, sepertinya semua itu tetap tak mudah.


Sejak tadi, dia sudah berusaha membujuk Bia untuk ikut bermain dan belajar tapi tetap saja anak itu menolak.


"Tidak apa-apa, Mama Bia," kata Guru itu dengan lembut. "Pertama kali mungkin dia masih takut. Mungkin jika sudah terbiasa, Adek Bia akan berani bermain bersama teman-temannya."


Almeera mengangguk. Dia benar-benar merasa tak enak hati dengan semua guru yang sejak tadi berusaha membujuk anaknya. Akhirnya dia segera pamit undur diri. Mencoba mencari suasana lain yang membuat anaknya mau berbicara.


"Bagaimana kalau kita ke kantor, Papa?" tawar Almeera saat mereka sudah ada di dalam mobil.


Bia lekas menoleh. Matanya berbinar saat mendengar kata Papa yang keluar dari bibir Almeera.


"Mau, Ma."


Almeera tersenyum. Akhirnya keduanya segera menuju gedung tinggi dimana Bara bekerja. Mereka tak memberikan kabar jika akan mengunjungi pria itu, agar menjadi kejutan untuknya. 


Setelah hampir tiga puluh menit berkendara. Perlahan mobil Almeera mulai memasuki parkiran kantor. Keduanya segera turun dan berjalan beriringan.


Banyak sekali karyawan yang menunduk hormat saat melihat kedatangan istri dan anak dari bosnya. Bahkan ada dari mereka yang mencoba menggoda Bia dengan memanggil namanya atau melambaikan tangan.


Saat Almeera dan Bia baru saja menginjakkan kakinya di lantai dimana letak ruangan Bara. Samar-samar telinga ibu dua anak itu mendengar suara yang sangat familiar. 


Dia menajamkan telinganya hingga matanya terbelalak saat melihat sosok sang sahabat tengah berdebat dengan Reno.  


Senyuman dua wanita itu begitu lebar. Adeeva segera keluar dari meja kerjanya dan memeluk Almeera dengan erat.


"Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Almeera setelah pelukan mereka terlepas.


"Kakakmu itu, memintaku datang kesini untuk membantu perusahaan Kak Bara beberapa hari kedepan," ujar Adeeva mengadu. "Tapi orang yang dibantu malah gak tau berterima kasih." 


Adeeva menyindir Reno. Bahkan dia melirik pria itu hingga tatapan keduanya beradu. 


"Siapa yang tak berterima kasih, Va?" tanya Almeera dengan bingung. 


Namun, menyadari suasana tegang di sana membuat bibir Aleera diam-diam tersenyum. Dia baru menyadari jika wajah sahabatnya dan sahabat suaminya terlihat begitu tegang. 


"Ya, ada pokoknya, Ra. Sudah lambat, sok tau lagi," sungut Adeeva makin menjadi. "Bahkan baru ketemu aja udah berani nilai orang." 


"Aku tak lambat!" sahut Reno saat sadar jika sindiran itu untuknya.


"Ya. Hanya sedikit lelet, 'kan?" 


"Kamu!" 


"Udah...udah." Lerai Almeera menengahi. 


Dia menahan senyum tatkala melihat keduanya seperti tom & jerry. Berdebat karena hal sepele dan mengeluarkan wajah galak ketika saling menatap.


"Lebih baik kamu selesaikan pekerjaanmu agar segera kembali ke perusahaanku," kata Almeera yang menyadarkan Adeeva.


"Kamu benar. Aku akan bekerja dengan cepat agar segera angkat kaki dan tak melihat wajah pria sombong itu!" 


...🌴🌴🌴...


Reno benar-benar menahan amarahnya. Rasanya ingin sekali dia mengumpati Adeeva yang memiliki mulut pedas. Bekerja bersamanya tentu sangat membuat Reno harus banyak belajar mengelus dada. 


Dia berusaha agar tidak terpancing dengan segala tindakan Adeeva yang sangat menyebalkan. Reno beranjak menuju dapur khusus yang masih berada satu lantai dengan ruangan Bara. Dia segera mengambil air dingin di dalam kulkas yang tersedia disana. 


Setelah itu, dia berjalan menuju wastafel yang ada di sana. Saat dirinya mulai memutar kran wastafel, sebuah muncratan membuat Reno spontan memutarnya kembali.


"Astaga!" pekiknya terkejut.


Untung saja dia yang tanggap segera menutupnya. Kemejanya tak terkena cipratan air dan membuatnya selamat dari bahaya yang mengancam. Hingga suara mengejutkan seseorang membuatnya berbalik.


"Kalau sudah selesai, lebih baik Anda segera pergi! Apa Anda berganti profesi sebagai penunggu dapur?" tanya Adeeva dengan wajah tengilnya.


"Sembarangan!" pekik Reno dengan menyingkir. 


Dia melirik tangan wanita itu yang membawa gelas bekas kopi. Senyum miring terbit di bibirnya tatkala dia menyadari jika wanita itu pasti hendak mencuci.


"Apa Anda ingin mencuci gelas itu?" 


"Untuk apa Anda bertanya?" semprot Adeeva dengan kesal. "Dasar kepo!" 


Reno mengepalkan kedua tangannya. Namun, sebisa mungkin dia berusaha bersikap biasa saja ketika ide jahil muncul di kepalanya.


"Selamat mencuci gelas, Nona Adeeva." 


Sahabat Almeera itu mengernyitkan alisnya. Dia merasa bingung dengan sikap Reno. Namun, mengingat tujuannya ia segera meletakkan gelas-gelas itu di wastafel dan mulai menaikkan lengan kemejanya.


Setelah rapi, dia segera menyabuni gelas bekas kopinya tersebut. Hingga saat tangannya mulai memutar kran wastafel. Tiba-tiba keluar muncratan air yang besar dan memantul membasahi lengan dan kemeja bagian perut.


"Aghh!" Adeeva berusaha mundur. 


Dia benar-benar terkejut dengan air yang keluar begitu banyak dan deras hingga meluber kemana-mana. Dirinya mendengus merasa kesal saat bajunya basah. Namun, kekesalannya semakin bertambah ketika suara tawa begitu keras terdengar dari belakangnya dan membuat Adeeva berbalik. 


"Syukurin, hahaha." Reno memegang perutnya. Di benar-benar puas setelah berhasil mengerjai wanita itu. "Jika kamu ingin mandi, lebih baik ke kamar mandi. Kenapa malah mandi disini?" 


~Bersambung


Kalau Bang Jimmy dan Zelia, tukang kulkas sama tukanh cerewet. Beda sama Reno dan Adeeva. Dua-duanya sama galak dan keras kepala.


Hihi jadi lucu kek tikus sama kucing.


BTW novel ini udah aku bilangin isinya bukan Almeera sama Bara mulu yah. Alurnya aku campur sama pemeran pendamping biar ada kisah seneng, sedih dan gedegnya. hehe.


Sebenarnya hari ini udah gak crazy up lagi. Udah normal update 2 bab perhari. Tapi karena aku lagi senggang. Aku kasih bab lagi buat malam.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya dan bisa update 3 bab setiap hari.