Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Hadiah dari Pasangan Terpanas



...Aku tak bisa memberikan hadiah yang sangat mewah. Namun, semoga hadiah ini sangat amat digunakan dengan baik dan bermanfaat untuk kalian. ...


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Pagi-pagi sekali, Almeera sudah selesai memasakkan makanan untuk suami dan kedua anaknya. Mereka sudah kembali ke rumah yang dibeli oleh Almeera. Bara tentu mengalah ketika istrinya tak mau diajak pindah ke rumah baru.


Bara hanya ingin istri dan anak-anaknya tinggal dengan nyaman. Tanpa paksaan atau merasa tertekan. Hingga jika pilihan mereka tinggal disini, Bara pun akan mengikuti kemauan mereka semua.


"Kamu jadi ke kantor, 'kan, Mas?" tanya Almeera setelah mengambilkan suami dan anak-anaknya sarapan.


"Iya, Sayang. Kenapa?" tanya Bara sambil menatap istrinya.


"Aku boleh numpang mobil kamu gak? Aku diajak cari gaun pengantin sama Adeeva," ucap Almeera menjelaskan.


"Boleh. Ke apartemen Reno, 'kan?" 


"Iya, Mas." 


"Yaudah. Sekalian antar Abang dulu terus baru antar kalian berdua bidadariku," kata Bara mengelus kepala istrinya yang tertutupi hijab. 


Akhirnya mereka mulai sarapan dengan lahap. Suasana seperti ini sangat mereka rindukan. Liburan ternyata mampu membuat keempatnya rindu akan suasana di rumah sendiri. 


Setelah selesai sarapan. Mereka segera memasuki kendaraan milik Bara. Pria itu memilih menyetir sendiri karena memang sekaligus mengantar putranya bersekolah.


"Kapan Reno menikah, Sayang?" tanya Bara saat mobil mereka mulai keluar dari halaman rumah.


"Menurut Adeeva masih seminggu lagi," kata Almeera menjawab.


Adeeva memang bercerita bahwa mereka harus mengurus beberapa berkas terlebih dahulu. Belum lagi gaun pengantin yang akan dipakai oleh calon istri Reno.


"Kita akan memberikan hadiah apa, Sayang?" tanya Reno yang baru mengingat masalah kado.


Ah dia tak mungkin memberikan hal receh pada sahabat sekaligus tangan kanannya yang dengan setia bekerja dengannya secara jujur, tanggap dan cekatan. Kinerja Reno yang terbaik mampu membuat pekerjaan Bara tertangani dengan baik. 


"Sebenarnya aku sudah menyiapkan sesuatu, Mas. Bagaimana kalau ini." Almeera mulai memajukan tubuhnya. 


Dia berbisik di telinga Bara saat mobil mereka berhenti di lampu. Wajah Bara berbinar cerah. Dia tak menyangka istrinya memiliki ide seperti itu.


"Aku hanya bisa menurut, Sayang. Kamu siapkan saja semuanya," kata Bara pada Almeera. "Yang terpenting jangan terlalu capek. Lalu harganya biarkan aku saja yang membelinya." 


"Mas beneran? Mas setuju?" tanya Almeera tak percaya.


Sebenarnya ide ini ingin dia bayar dengan uangnya sendiri. Namun, melihat bagaimana suaminya berantusias untuk ikut serta membuat Almeera bersyukur. 


Dia akan membuat kejutan yang terbaik untuk sahabat terbaiknya. Sahabat yang mampu mengusir segala pemikiran traumanya. Menyingkirkan ketakutan pada dirinya sendiri dengan membuka lembaran baru dan hatinya.


"Tentu saja. Suami Adeeva adalah Reno, sahabatku. Kebahagiaan mereka juga kebahagiaanku dan kamu. Jadi apa salahnya memberikan kejutan indah di pernikahan mereka." 


Almeera memekik bahagia. Tanpa sadar dia memberikan kecupan singkat di pipi Bara yang membuat kedua anaknya langang memejamkan mata.


"Mama!" seru Abraham pura-pura marah. 


"Ingat ada kami disini," sahut Bia ikut menjawab.


Almeera terkekeh pelan. Dia malu karena melupakan keberadaan anak-anaknya. Namun, kemesraan keduanya semakin membuat Bia dan Abraham bahagia.


Tingkah laku papa dan mamanya kembali seperti dulu. Seperti sebelum badai datang menerpa keduanya.


Akhirnya kendaraan Bara mulai berhenti di depan sekolahan Abra. Dengan santai, Almeera turun dan menunggu putranya yang masih bersalaman pada papanya.


"Hati-hati sekolahnya ya, Sayang," kata Almeera saat Abraham mencium punggung tangannya. 


"Siap, Mama. I  love you." Lalu Abraham memberikan kecupan singkat di kedua pipi wanita yang sudah melahirkannya itu. 


Sejak dulu Abraham tak pernah malu melakukan hal seperti itu ketika berpamitan sekolah. Entah kenapa menurutnya, ketika dia memberikan kecupan pada mamanya seakan harinya saat itu terasa lebih ringan. Pelajaran lebih mudah diresapi dan membuatnya semangat belajar. 


"I Love You Too." 


Akhirnya Bara melanjutkan perjalanan sampai mereka berada di depan gedung apartemen Reno. Tiga orang itu segera turun dan menuju nomor kamar yang sangat Bara ingat betul.


"Assalamualaikum," sapa Meera setelah pintu itu terbuka.


"Waalaikumsalam," sahut Adeeva dengan bahagia.


Gadis itu segera menyingkir dan memberikan jalan pasangan suami istri itu masuk. Hingga saat mereka sudah ada di dalam keduanya berpapasan dengan Ibu Adeeva yang sedang menyiapkan makanan.


"Bagaimana kabar, Ibu?" tanya Almeera memeluk wanita paruh baya di depannya dengan hangat.


"Baik. Meera sendiri bagaimana?" 


"Almeera baik juga, Bu," sahutnya dengan cepat.


"Ibu minta maaf yah. Rumah kalian…" 


Almeera menggeleng. Ibu dua anak itu menggenggam tangan Ibu Adeeva lalu menciumnya. 


"Semua masih baik-baik saja, Bu. Kapanpun Ibu mau tinggal disana lagi. Keluarga Meera izinin." 


Mata Ibu Adeeva berkaca-kaca. Dia tak menyangka jika didunia ini masih ada orang baik seperti keluarga Almeera. Orang yang bukan keluarga kandungnya dibantu bahkan diberikan kepercayaan yang besar.


"Semoga Tuhan yang membalas kebaikanmu dan keluargamu, Nak." 


"Aamiin." 


Almeera segera menyusul suaminya yang sudah duduk duluan. Mereka mulai duduk berhadapan dengan Bara yang terus berada di samping istrinya. 


"Jadi sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku dan Mas Bara sampaikan pada kalian berdua," kata Almeera memulai pembicaraan.


Adeeva dan Reno sama-sama membenarkan tempat duduknya. Mereka merasa ada sesuatu penting yang akan dibahas oleh pasangan suami istri itu. 


"Sesuatu apa, Ra?" tanya Adeeva mulai penasaran.


"Gih, Mas! Mas aja yang bilang," bisik Meera pada suaminya.


Bara mengangguk. Dia menatap calon pengantin itu dengan serius.


"Aku dan Meera memiliki hadiah untuk kalian berdua," kata Bara memulai. "Ya itung-itung sebagai hadiah pernikahan kalian." 


Adeeva dan Reno saling menatap. Jantung keduanya mulai berpacu dengan praduga yang semakin penasaran.


Bara segera mengambil sesuatu di tas sang istri. Sebuah kotak berwarna merah dengan pita berwarna hitam menghiasi. Adeeva menatap kotak itu dengan seksama. Seakan berusaha melihat apa isi di dalamnya.


"Bukalah. Kami berharap semoga kalian suka," kata Almeera sambil tersenyum ke arah suaminya.


Tanpa menunda Adeeva segera membuka kotak itu. Matanya membulat penuh saat melihat sebuah kunci ada di sana.


"Itu…" jeda Reno yang membuat Adeeva, Bara dan Almeera menoleh.


"Kunci apa ini, Sayang?" tanya Adeeva tak sabaran.


Reno belum menjawab. Dia menatap Bara dan Almeera bergantian.


"Hadiah itu terlalu besar untukku dan Deeva. Terlalu mahal juga!" tolak nya menggeleng. 


Bara memajukan tubuhnya. Dia membalas tatapan Reno dengan yakin.


"Apa yang kamu dan istrimu lakukan untuk kami itu melebihi arti bangunan ini. Kami membelinya dengan ikhlas. Bahkan rasanya aku sudah tak sabar melihat kalian kalian menerima hadiah ini." 


Adeeva masih belum paham. Bangunan apa yang dimaksud memangnya?


"Memangnya ini kunci apa?" tanyanya dengan wajah polosnya.


"Kunci rumah. Ya, rumah impian untuk kalian berdua." 


~Bersambung


Mas Bar sama Mbak meera kalau kasih hadiah gak main-main. Bikin melongo aja.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya. BTW aku lagi batuk dan pilek sekarang. Doain masih bisa ngetik dengan lancar yah.