
...Sebagai seorang sahabat tentu aku bisa merasakan dan melihat gerak gerik mencurigakan dari sahabatku sendiri....
...~Gibran Bara Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
"Nggak perlu, Mas. Aku bisa mandi sendiri," kata Almeera menolak.
Dia tak bisa menjamin jika kali ini keduanya mandi bersama. Pasti antara dirinya dan sang suami tak bisa lagi menahan. Lebih baik dirinya mengalah dan mandi sendirian tanpa bersama Bara.
Bara tersenyum tipis. Dia memberikan kecupan lembut di bibir Almeera hingga semburat kemerahan kembali muncul di pipinya.Â
"Jangan lama-lama ya, Sayang. Aku udah pengen banget, ah," bisik Bara di telinga Almeera yang membuat tubuh wanita itu meremang.
Perlahan Bara menjauh. Dia menatap istrinya yang seperti tak rela ketika dilepaskan.
"Aku turun dulu ke Syakir ya, Sayang. Kalau udah selesai, panggil aku!"Â
...🌴🌴🌴...
Akhirnya Bara segera menemui sahabatnya yang ternyata sedang berbicara dengan Humaira. Namun, Bara menghentikan langkahnya ketika melihat bagaimana Syakir yang seperti marah dan menunjuk wajah Humaira dengan matanya yang melotot.Â
Hal itu tentu membuat Bara tak meneruskan langkahnya. Dia menatap dari kejauhan bagaimana sepertinya dua orang itu terlibat pertengkaran.
Samar-samar suara Syakir yang mulai tinggi membuat Bara bisa mendengar setiap kalimat yang ucapkan.
"Perlu kau ingat! Jauhi sahabatku dan anak-anaknya. Jangan pura-pura sok baik karena kau adalah wanita busuk!" seru Syakir dengan kejamnya.
Humaira tak membalas. Wanita itu hanya menunduk dengan tubuh gemetaran. Terlihat sekali jika wanita itu sangat amat ketakutan pada kemarahan Syakir kali ini.Â
"Iya, Kak. Aku…"Â
"Aku bukan kakakmu!" sembur Syakir dengan tatapan tajamnya. "Meski aku sudah menikahimu dan kau menjadi istriku. Tetap saja, aku tak akan mengakuimu sebagai istriku! Kau itu hanya perempuan pembawa sial!"Â
Bara lekas menaiki tangga lagi. Pria itu benar-benar terkejut dengan fakta yang ia dengar. Ternyata benar apa yang ia pikirkan. Antara Syakir dan Humaira, keduanya terdapat sesuatu hubungan.
Karena bagaimanapun, Bara sangat mengenal betul watak dari Syakir. Pria itu adalah cap playboy kelas kakap. Wanita yang dulu ada di sekitarnya selalu cantik dan seksi. Hingga saat melihat Humaira yang kalem dan berjilbab, tentu membuat Bara sudah menebak jika keduanya pasti ada sesuatu.Â
Saat tak terdengar pertengkaran lagi. Akhirnya Bara berdehem sejenak menenangkan keterkejutannya. Dia segera mulai menuruni tangga dan berjalan ke arah ruang tamu.Â
Dari jauh, Bara bisa melihat bagaimana Syakir yang sedang menyandarkan tubuhnya dengan tangan memijat kepalanya. Sudah tak ada Humaira di sana. Entah wanita itu kemana yang pasti Bara hanya melihat keberadaan sahabatnya.
"Kir!"Â
"Hah!" Syakir lekas menoleh.
Wajahnya langsung tegang saat melihat sahabatnya sudah berdiri di depannya.
"Kenapa Lo kesini? Bukannya istirahat kek," kata Syakir memaksakan tersenyum.Â
"Istri gue masih mandi. Mangkanya gue keluar," sahut Bara ikut duduk di depan Syakir.
"Tumben gak ikut, Lo!" sindir Syakir pada sahabatnya.
"Gue takut nanti jeritan gue sama istri gue bikin Lo berdiri," jawab Bara dengan raut muka menyebalkan.
"Sialan, Lo!" Syakir melempar bantal sofa itu di muka sahabatnya.
Sejak dulu Bara tak pernah berubah. Selalu berpikiran mesum ketika bersama istrinya. Hubungan ranjang keduanya memang selalu panas.
Baik Almeera dan Bara. Mereka saling menggebu-gebu ketika berduaan. Tak ada batasan apapun di antara keduanya. Karena menurut Almeera dan Bara, hubungan ranjang mereka hanya untuk kenikmatan yang akan keduanya rasakan.Â
Tak berpengaruh apakah istrinya berjilbab atau tidak. Yang pasti kepuasan batin keduanya sama-sama terpenuhi.Â
Bara menatap Syakir dengan intens. Hal itulah yang membuat pria itu merasa tak nyaman dan gugup.Â
"Kemana aja Lo selama ini, Kir. Lo belum jelasin apapun sama gue!" ujar Bara menatap lekat sahabatnya itu.
"Gue gak kemana-mana. Gue disini aja," sahut Syakir berusaha setenang mungkin.
"Lo yakin?" tuding Bara menatap sahabatnya tajam. "Gue tau bener Lo gak punya saudara di Malang, Kir."
"Bukannya gue sok tau tapi hubungan kita, persahabatan kita bukan seumur kacang," balas Bara melemparkan bantal itu balik. "Hubungan Lo, gue dan Reno itu udah mulai sekolah SMA anjir. Gue tau gimana bentuk tubuh Lo, burung Lo aja gue juga tau."Â
"Asyuuu!" Syakir mendelik tak suka pada sahabatnya.
Pria itu benar-benar membuka aib mereka. Perkataan Bara memang benar adanya. Ketiganya pernah mandi bersama ketika dulu ikut serta kegiatan pramuka di SMA. Bahkan mengukur milik ketiganya saja, mereka juga pernah.
Jadi jangan katakan sok tau untuk hubungan persahabatan macam mereka. Ini bukan hanya 1 bulan atau 1 tahun. Tapi sudah bertahun-tahun.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bara mendesak Syakir.
Pria itu mulai menghela nafas berat. Seakan dalam dirinya tersimpan banyak masalah yang menimpa. Wajah Syakir yang lelah dengan kantung mata menghitam membuat Bara yakin sahabatnya tak tidur dengan benar.Â
"Gue belum siap nyeritain ini sama Lo, Bar! Beri gue waktu dulu buat mikir," kata Syakir menatap sahabatnya. "Gue bener-bener masih kaget sama semuanya. Gue belum bisa berdamai sama diri gue sendiri?"Â
Jika sudah begini, Bara tak memaksa. Pria itu menganggukkan kepalanya menatap sahabatnya khawatir.Â
"Yang harus Lo tau! Gue ada disini dan siap buat dengerin semua cerita Lo!"
"Thankyou, Bar! Lo sama Reno emang sahabat gue yang bener-bener pengertian.
Sebelum Bara menjawab. Suara wanita yang muntah-muntah membuat Bara dan Syakir saling menatap. Semakin lama suara itu semakin keras yang membuat Bara menuju ke asal suara diikuti Syakir.
Disana lebih tepatnya di wastafel dapur. Terlihat Humaira tengah muntah-muntah. Namun, bukan itu yang membuat Bara khawatir.Â
Melainkan saat tubuh wanita itu mulai oleng dan siap jatuh. Dengan cepat Syakir ternyata menangkapnya sebelum terjatuh ke lantai.
"Humai...Humai!" panggil Bara melihat wanita itu tak sadarkan diri.
Tanpa kata Syakir menggendong wanita itu. Bersamaan dengan Almeera yang baru saja turun hendak memanggil suaminya.Â
Mata wanita itu terbelalak. Dia segera menyusul keduanya yang memasuki salah satu kamar yang ada di lantai satu.
"Ada apa ini?" tanya Almeera yang baru datang.
"Humaira pingsan, Sayang. Dia habis muntah-muntah!" kata Bara apa adanya.
Akhirnya Almeera mendekat. Dia meraih tangan Humaira dan mulai menggosoknya agar hangat.
"Ambilkan minta kayu putih, Mas. Aku akan mengoleskannya dulu!" kata Almeera pada Bara.
Pria itu segera menuju kamar. Sedangkan Syakir, dia tetap berdiri di dekat ranjang dengan pandangan datarnya.Â
"Bisa minta tolong, Kir?"Â
"Apa, Ra?"Â
"Tolong buatin teh buat saudaramu ini sekarang yah!"Â
Akhirnya Syakir mulai keluar. Tak lama Bara datang dan dengan tanggap ibu dua anak itu meminta suaminya keluar dulu karena dia akan mengolesi minyak itu di seluruh tubuh Humaira.Â
Akhirnya perjuangan Almeera berhasil. Humaira mulai kembali sadar dan dirinya terkejut dengan kehadiran Almeera disana.Â
"Aku kenapa, Mbak?"Â
Almeera tak menjawab. Dia menerima uluran teh itu dari tangan Syakir dan memberikannya pada Humaira.
"Minumlah dulu!"Â
Humaira menerima gelas tersebut. Meminum air berwarna coklat itu setengahnya hingga perutnya hangat.
Almeera terus menatap Humaira dengan lekat hingga gadis itu salah tingkah. Â
"Kamu kenapa, Hum? Kata suamiku kamu habis muntah-muntah. Apa kamu…!Â
"Aku masuk angin, Kak. Ya masuk angin!"Â
~Bersambung
LALALALA KALIAN KEPO GAK YA APA CERITA SYAKIR? Bisa nebak gak?
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar aku semangat ngetiknya.