
...Perjuangan istriku yang besar membuatku takut untuk menyakiti hatinya. Dia sangat luar biasa, mampu menahan sakit dan memperjuangkan anak kami yang berada di dalam perutnya....
...~Reno Akmal alfayyadh...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya Reno segera menggendong tubuh istrinya. Meski Adeeva hamil, pria itu masih sanggup menggendong tubuh bumil satu ini karena memang tubuhnya yang kekar. Dia mengabaikan tangannya yang mulai basah. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya dia bisa segera sampai ke rumah sakit.Â
Dengan pelan, Reno meletakkan istrinya di kursi tengah. Kemudian dia segera berlari ke ke dalam rumah setelah ibu mertuanya menemani Adeeva di bangku tengah.Â
Setelah itu, Reno berlari ke kamar mereka dan mengambil tas yang berisi baju untuk persiapan mereka melahirkan. Tas itu memang sudah disiapkan jauh-jauh hari oleh Adeeva. Perempuan itu selalu mengatakan agar mereka selalu siaga dan siap.
"Hati-hati menyetirnya, Nak. Jangan ikutan panik," kata Ibu Adeeva saat Reno mulai menghidupkan mesin mobil.
Sahabat Bara itu mengangguk. Dia menghela nafas pelan dan menenangkan perasaannya yang tak karuan. Bagaimana dirinya bisa tenang, sedangkan istrinya tengah mengerang kesakitan.
Melihat bagaimana wajah Adeeva yang berkeringat hebat karena menahan sakit diperutnya membuatnya ingin sekali menyetir dengan cepat. Namun, dia mengingat nasehat ibu mertuanya.Â
Dia harus cepat tapi hati-hati. Bagaimanapun keselamatan mereka di dalam mobil ada di kedua tangannya. Hal itu tentu membuat Reno melakukan tanggung jawab ini dengan baik.Â
Dia menyetir dengan cepat ketika keadaan mulai lenggang. Namun, dia mulai berhati-hati saat keadaan mulai padat.Â
"Ibu sakit," gumam Adeeva yang masih mampu didengar oleh Reno.
Pria itu mencengkram kuat setir kemudi. Dia tak berani menatap istrinya dari kaca di atasnya karena takut akan menjadi panik. Reno terus melafadzkan doa dalam hati agar istrinya diberikan kekuatan.
"Tenang, Nak. Jangan mengejan. Tarik nafas lalu buang!" kata Ibu Adeeva memberikan perintah.
Dengan baik istri Reno itu menuruti semua yang diperintahkan oleh ibunya. Dia mencoba menenangkan dirinya karena mengingat nasihat dokter beberapa minggu yang lalu.
Biasanya bumil yang menunggu kelahiran bayi pertama mereka selalu gemetar takut dan panik. Namun, untuk Adeeva. Perempuan itu mencoba untuk tetap tenang.
Dia juga sangat mengerti jika ia panik, maka suaminya akan terus kepikiran dan membuatnya tak fokus dalam menyetir mobil.Â
Akhirnya perjalanan yang butuh perjuangan itu berakhir. Reno segera turun dan memanggil para suster dan dokter jika istrinya akan melahirkan.Â
Dia segera menggendong tubuh istrinya ketika brankar mulai mendekat. Lalu Reno dengan setia berada di samping Adeeva dengan tangan saling menggenggam tatkala para suster mendorong brankar itu masuk ke dalam gedung rumah sakit ini.
"Berjuang, Sayang. Aku yakin kamu bisa!" kata Reno menyemangati.
Adeeva berusaha tersenyum. Tangannya berkeringat dingin saat sakit itu semakin terasa sekali dan dalam tempo yang mulai teratur.
Kepala gadis itu mengangguk. Dia merasa bahagia memiliki suami seperti Reno. Pria yang mau menemaninya disini, berjuang bersamanya. Menyemangati dirinya sebaik mungkin sehingga membuatnya bersyukur memiliki sosok Reno di sampingnya.
"Tunggu disini dulu, Pak!" kata suster saat Adeeva dimasukkan ke dalam ruang penanganan.Â
Reno menggeleng. Dia bersikeras menemani istrinya bahkan tak mau melepaskan genggaman tangan mereka. Akhirnya keras kepala Reno membuat mereka terpaksa mengajak pria itu masuk.
Sahabat Bara itu benar-benar tak mau meninggalkan istrinya seorang diri. Bagaimana perjuangan Adeeva dan sakitnya perempuan itu membuatnya selalu ingin ada di dekatnya.
Entah apa yang akan terjadi nanti. Dia ingin menemani anak mereka yang lahir sebentar lagi. Anak yang sangat mereka nanti kedatangannya itu ingin dia lihat untuk pertama kali.
Tak lama dokter wanita yang menangani masa kehamilan Adeeva selama ini masuk. Dia menyapa pasangan suami istri itu dengan ramah.
"Saya cek dulu ya, Bu. Sudah pembukaan berapa," kata Dokter lalu mulai mengangkat kaki Adeeva dan membukanya.
Reno menatap perlakuan dokter itu. Dia mengedarkan pandangan karena takut ada suster atau dokter pria yang tiba-tiba masuk.
Bagaimanapun gentingnya keadaan ini. Dia tak mau tubuh istrinya dilihat oleh pria lain. Ia tak akan ikhlas jika sejengkal tubuh Adeeva akan dibuat sebuah pemandangan laknat mata-mata yang nakal.
"Bagus. Ini sudah pembukaan tujuh."
"Apa!" Adeeva terbelalak.
Namun, bagaimana bisa dirinya secepat ini.
"Jangan khawatir, Bu. Pembukaan setiap ibu hamil ini berbeda-beda. Bisa jadi Anda mulai kemarin sudah pembukaan tapi Anda tak mengetahuinya."Â
Adeeva mengangguk. Dia mengingat apa yang dia lakukan kemarin. Memang sejak dua hari yang lalu, perutnya sangat kaku dan pinggangnya sakit. Dia juga merasakan perutnya sakit tapi dalam tempo yang masih tak sering.
Istri Reno itu bahkan menganggap jika sakit itu mungkin seperti kram perut. Mangkanya dia terus melakukan aktivitas tanpa merasa curiga.
"Terus tarik nafas melalui hidung lalu buang melalui mulut ya, Bu. Biar Anda juga berlatih proses mengejan," kata dokter menjelaskan.
Kemudian semua suster mulai menata ruang bersalin. Menyiapkan tempat yang ada menjadi tempat bersejarah pasangan suami istri tersebut.
Dengan setia Reno terus mengusap kepala istrinya. Membisikkan kata-kata penyemangat agar Adeeva kuat dan berjuang untuk melahirkan anak mereka.
Sakit itu semakin lama semakin terasa. Reno bisa merasakan genggaman tangan istrinya semakin kuat. Bahkan wajah cantik itu begitu memerah dengan bibir bergumam sakit dengan pelan.
"Istighfar, Sayang. Minta sama Allah biar dimudahkan!" bisik Reno lalu memberikan ciuman lembut di dahi sang istri.
Perlahan brankar Adeeva mulai dipindah ke ruang bersalin. Para dokter dan suster mulai menyiapkan dirinya. Sedangkan Reno, pria itu tak peduli apapun.Â
Menurutnya pemandangan yang paling indah kali ini adalah wajah cantik Adeeva yang tengah berjuang. Berjuang untuk kelahiran anak mereka.Â
Akhirnya waktu yang dinanti telah tiba. Mereka semua mulai bersiap untuk menyambut bayi cantik atau tampan keturunan Reno. Keduanya memang sengaja tak meminta identitas jenis kelamin anak mereka untuk kejutan semua orang.Â
"Kalau sakitnya datang. Ibu baru mengejan yah," perintah dokter pada Adeeva.
"Iya, Dok!" sahut istri Reno itu dengan lemah.
Pria itu mengusap keringat istrinya yang semakin banyak. Tatapan keduanya bertemu hingga membuat Reno bisa melihat bagaimana perjuangan Adeeva secara langsung.Â
Adeeva menatap suaminya penuh cinta. Dalam sakitnya ini, dia bisa melihat bagaimana Reno yang menemaninya berjuang. Menemaninya merasakan sakit. Pria itu bahkan sejak tadi tak marah ketika sakit itu datang, tangannya diremas, lengannya dicubit tanpa sadar oleh Adeeva.
Suaminya ini benar-benar sangat mengerti akan dirinya.Â
"Semangat, Bu!"Â
Adeeva mulai menggenggam tangan suaminya. Dia menatap kakinya yang sudah diangkat. Dengan sekali tarikan nafas, perempuan itu mengejan tanpa suara.
Nafasnya memberat. Jantungnya berdegup kencang saat rasa lelah itu menyergap.
"Lagi, Bu!"Â
Adeeva kembali berjuang. Dia mengejan sekuat tenaga hingga kukunya memutih. Para dokter terus menyemangati dengan Reno yang terus membisikkan kata cinta di telingannya.
"Bagus, Bu! Kepalanya sudah kelihatan."
Adeeva mulai bersemangat. Dia harus bisa membuat anaknya melihat dunia. Dia tak boleh menyerah. Semua yang ia lakukan demi anaknya yang sangat dinanti oleh keduanya.Â
Akhirnya dalam sekali tarikan nafas. Adeeva kembali mengejan sekuat tenaga hingga akhirnya suara tangisan yang sangat merdu itu terdengar begitu kuat.
Oek…oek…
Reno menangis. Pria itu mencium seluruh wajah istrinya dengan air mata yang menetes. Dia tak peduli apapun sekarang. Tangisan anaknya seakan menjadi bukti bahwa perjuangan istrinya sangat luar biasa.Â
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah berjuang untuk anak kita."Â
~Bersambung
BTW nulis part beginian jadi keinget dulu pas lahiran si bocil. Hahaha sama-sama anak pertama tapi malah aku tinggal main game.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.