Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Mulai Curiga



...Sosok seorang papa seharusnya menjadi cinta pertama untuk anak-anaknya, tetapi kesalahan yang dilakukan, membuatku tak percaya dengan cinta pertamaku lagi....


...~Abraham Barraq Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


"Cepat pergi atau aku semakin membencimu," ancam Abraham menatap marah.


Tak ada yang berani menegur putra pertama Almeera itu. Semua orang meninggalkan ayah dan anak itu ke dalam. Mereka yakin Abraham pasti memiliki alasan melakukan itu pada Papanya.


"Papa hanya ingin menemui Mama sebentar saja, Bang. Tolong bantu Papa," pinta Bara memohon.


Mata pria itu berembun. Dia benar-benar tak tahu harus melakukan apa. Tak ada dukungan apapun kepadanya. Seakan semua orang benar-benar membencinya hari ini.


"Untuk kali ini Abraham ada di pihak Mama. Jangan pernah masuk atau aku akan meminta Mama mengurus surat perceraian denganmu."  


Setelah mengatakan itu, Abraham segera menutup pintu ruang rawat mamanya. Tubuhnya menyandar dengan mata terpejam. Tanpa sadar setetes air mata mengalir di sudut matanya. 


Dirinya benar-benar berada di keadaan yang sulit. Dua orang yang sangat dia cintai, berada di ujung tanduk. Dia berada di tengah-tengah antara mereka. Harus lari kemana dia?


Ikut Mama atau Papanya?


Abraham pernah mendengar cerita dari temannya. Menjadi anak dari keluarga broken home atau tinggal dengan orang tua tunggal bukanlah hal yang mudah. Akan ada rasa iri ketika melihat temannya bahagia bersama keluarga yang utuh.


Namun, melihat Mamanya menangis, apa mampu dia menjadi anak yang egois?


Bisakah Tuhan membantuku kali ini? Gumamnya dalam hati. 


Tiba-tiba sebuah elusan di kepalanya membuat mata Abraham terbuka. Disana ada sosok kakek yang selalu ada untuknya sedang menatapnya dengan sendu.


"Kakek aku…" 


"Kakek paham, Nak. Kamu pasti begitu sulit, 'kan?" 


Darren, ayah dari Almeera memeluk cucunya dengan erat. Jujur dia juga sedih melihat keadaan rumah tangga anaknya. Pria yang dibayangkan bisa menggantikan posisinya, menyayangi putrinya dengan baik. Ternyata hanya sosok yang memberikan luka begitu mendalam. 


"Aku menyayangi Papa, Kakek. Tapi melihat Mama menangis, Abraham merasa sakit hati." 


Pria tua itu mengangguk. Dia mengelus punggung cucunya dengan lembut dan membawanya duduk di sofa yang ada disana.


"Minum." Darren menyodorkan sebotol minuman pada cucunya.


Dengan cepat, Abraham menerima dan meneguknya sampai tinggal setengah. Perasaannya sedikit tenang dan dia meletakkan botol itu di atas meja.


"Jangan terlalu dipikirkan. Percaya sama Papa dan Mamamu, Nak. Apa yang terjadi hari ini, pasti ada jalan terbaik dari Tuhan," kata Darren begitu bijaksana.


Abraham mengangguk. Lalu tak lama, perhatian semua orang mulai tertuju pada Almeera yang mulai membuka mata. Wajah wanita itu begitu pucat, dia meminta minum yang langsung dibantu oleh Mama Tari.


Suara helaan nafas terdengar begitu berat. Almeera menatap semua keluarga yang mengelilinginya. Dia seolah mencari sosok yang sangat ingin dia lihat keadaannya. 


Ternyata aku sudah tak berarti untukmu, Mas. Lalu kenapa kamu membuat kekacauan di restaurant?  gumam Almeera dan mulai memegang kepalanya yang berdenyut.


"Kenapa, Nak?" tanya Darren khawatir.


Almeera menggeleng. Lalu dia menatap sosok Fadly yang berada di dekat ranjangnya.


"Kakak baik-baik saja?"  


Fadly memaksakan senyumnya. Walau terkesan tipis tapi menandakan jika dia baik-baik saja.


"Pikirkan keadaanmu, Shanum. Aku baik-baik saja." 


"Tapi wajah, Kakak…" 


"Wajahku masih tetap tampan, 'kan?" goda Fadly sambil mengedipkan salah satu matanya.


"Muka bonyok begitu, dibilang tampan," sahut Jonathan meledek. "Tampan tuh kayak ponakan aku nih!" 


"Lah mukanya mulus gitu. Coba kalau bonyok kek gini? Pasti lebih tampan aku. Iya, 'kan, Bia?" tanya Fadly menatap anak kedua dari pasangan Bara dan Almeera. 


"Iya dong."


Darren dan Mama Tari melongo. Mereka tak menyangka jika cucu perempuannya sudah begitu akrab dengan Fadly. Namun, tanpa mereka sadari. Sejak tadi Almeera hanya bisa diam. Dia menatap semua keluarga yang berusaha menghibur hatinya saat ini.  


Aku masih memiliki mereka untuk bahagia, Mas. Jika aku menyerah, tolong maafkan aku, bisik Almeera dan hati.


...🌴🌴🌴...


Sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Bara terus memikirkan semua yang terjadi hari ini. Dirinya merasa banyak kenyataan menampar hatinya cukup kuat. Apalagi ketika melihat bagaimana istrinya disentuh tanpa sengaja oleh pria lain, sesuatu dalam hatinya sudah terasa begitu panas.


Jika ditanya bagaimana Bara bisa berada di restaurant itu. Semalam setelah Almeera pergi ke kamarnya. Dia melupakan ponsel yang masih tergeletak diatas meja. Bara yang saat itu berusaha menenangkan emosinya, spontan membuka mata saat mendengar bunyi notifikasi.


Keningnya berkerut saat melihat benda milik istrinya itu. Entah kenapa, hari itu dirinya ingin sekali melihat ponsel milik istrinya tanpa izin. Ternyata, sebuah pesan dari nomor bernama Fadly sangat membuatnya terpancing.


Isi pesan chat itu memang sederhana. Namun, rasa penasaran yang ada dalam diri Bara membuatnya nekad mengikuti istrinya.


"Maafkan aku, Sayang. Seharusnya aku percaya padamu," lirih Bara menjatuhkan kepalanya di stir kemudi saat lampu lalu lintas berwarna merah. 


Hingga tak lama Bara mengingat perkataan Almeera semalam. Apa yang terjadi di kantornya, Bara diminta bertanya langsung pada Narumi.


"Aku harus bertanya pada Rumi tentang kejadian kemarin. Entah kenapa aku merasa, Almeera tak mungkin berbohong." 


Sesampainya di rumah, Bara langsung menurunkan kakinya. Dia segera masuk dan mencari dimana ostri keduanya itu berada.


"Rumi!" seru Bara dengan decakan lidah yang menandakan pria itu sedang kesal. 


"Iya, Mas?" Bara menoleh.


Disana, dia melihat istri keduanya berjalan ke arahnya sambil memegang ponsel di tangannya.


"Aku ingin bertanya padamu, Rumi." Suara Bara yang dingin tentu membuat adik madu Almeera itu mendongak.


Narumi merasa gugup saat suaminya itu memandang dirinya dengan lekat. 


"Apa, Mas?" 


"Apa yang sudah kamu lakukan di Ruangan Meera sampai dia marah besar?" tanya Bara langsung.


"Apa maksudmu, Mas? Aku sudah mengatakan padamu, 'kan! Dia menghinaku terus-terusan," seru Narumi dengan ekspresi sungguh-sungguh. "Dia mencaci maki aku karena aku bukan ibu kandung Bia dan Abraham.


"Serius kamu, Rumi? Jangan berani berbohong padaku!"  


Narumi merasa udara di ruangannya sesak. Dia bahkan bisa melihat wajah Bara yang menahan amarahnya.


Jangan sampai Mas Bara tak percaya padaku, gumamnya saat melihat tatapan Bara yang tajam


"Nggak, Mas. Aku mana berani berbohong?" rengek Narumi dengan duduk di pangkuan Bara. 


Wanita itu melingkarkan tangannya di leher sang suami. Dia berusaha mengambil hati Bara yang sedang kalut. Dirinya tak boleh menyerah untuk hati suaminya. Bara adalah miliknya dan selamanya akan tetap seperti itu. 


"Jangan seperti ini, Rumi," ucap Bara melepaskan lilitan tangan istri keduanya dan menurunkan tubuhnya di atas sofa. "Aku ingin beristirahat."


 


Setelah mengatakan itu, Bara lekas pergi menuju kamarnya. Entah kenapa setelah mendengar kenyataan dari kakak ipar tentang istri pertamanya. Ada perasaan sedikit tak percaya pada Narumi.


"Aku bersama Almeera 15 tahun. Aku juga mengenal bagaimana luar dalamnya wanita itu. Aku yakin istri pertamaku tak akan berani berbohong," kata Bara dengan menutup pintu kamarnya. "Aku akan menyelidiki semua ini sendirian. Aku tak mau menyesal dan ditinggal oleh istri sebaik Almeera."


~Bersambung


Loh mbok ya mulai biyen ngene mas. Sing pinter unu huh.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.