Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Kemarahan Jimmy



...Satu pukulan, dibalas satu pukulan. Itu akan terus berlaku sampai semuanya impas dan berbekas....


...~Jimmy Harrison...


...🌴🌴🌴...


"Besok! Kita akan membuangnya sejauh mungkin."


"Siap, Bos." 


Baru saja perkataan itu terucap. Sebuah deringan telepon membuat Adnan segera meraih benda itu. Dilihatnya panggilan tanpa nama hingga membuat dahinya berkerut.


"Nomor siapa ini?" gumamnya pelan yang langsung mengangkat panggilan itu.


"Halo?" 


"Adnan! Tolong aku. Tolong, Sayang!" 


Tubuh pria itu menegang. Dia menatap layar ponsel yang menyala untuk memastikan jika suara itu benar-benar suara sang kekasih. 


"Rumi. Apa yang terjadi, Rumi?" 


"Pliss. Tolong aku? Mereka mengikatku disini! Jemput aku, Adnan!"


"Bertahanlah di sana. Aku akan…" 


Klik.


Panggilan itu terputus. Adnan menatap layar itu lagi untuk memastikan jika panggilan itu dari wanitanya. Wajahnya berubah panik. Saat dia hendak beranjak dan keluar dari ruangan. Sebuah notifikasi dari ponselnya lagi membuat Adnan berhenti. 


+637282××××××


Send pict.


+637282××××××


Kalau kau ingin kekasihmu selamat. Bawa Bia bersamamu dan temui aku ke alamat ini.


+637282××××××


Send lokasi. 


Tangan Adnan terkepal kuat. Dia gemetar ketakutan saat melihat foto sang kekasih digantung dengan posisi badan terbalik. Ditambah wajah, tangan dan mulut kekasihnya dilakban semakin membuat pria itu panik luar biasa.


+637282××××××


Aku hanya memberikan waktu 1×24 jam. Jika kau tak membawa Bia ke alamat itu, maka ucapkan selamat tinggal pada kekasihmu ini. 


+637282××××××


Jangan sampai ada bagian lecet pada tubuh keponakanku. Jika aku sampai melihatnya, maka kaki kekasihmu akan aku buat lumpuh selamanya.


Nafas Adnan memburu. Pria itu meremas ponselnya dengan pikiran yang begitu kacau. Dia tak menyangka jika semua rencananya akan hancur seperti ini. Semua yang sudah ia pikirkan dengan rapi, ternyata sudah diketahui oleh mereka.


"Bawa anak itu kemari?" 


Penjahat yang masih menunggu disana, spontan menatapnya dengan bingung. 


"Apa maksudmu, Bos?" 


"Bawa anak itu sekarang, kemari!" seru Adnan penuh penekanan. 


Pemimpin penjahat itu mengangguk. Dia segera membawa Bia yang meronta ketakutan menuju ruangan dimana Adnan berada.  


"Bia gak mau. Lepas, Om! Sakit!" seru Bia dengan berusaha melepaskan cengkraman itu dari tangannya. 


"Diam! Ayo jalan!" seru penjahat itu saat Bia terus menjerit minta dilepaskan. 


"Gak mau!" Setelah mengatakan itu, Bia menggigit tangan pria itu hingga cengkramannya terlepas.


"Dasar, Bocah tengik!"


Plak.


Pria itu menampar Bia sampai tubuh mungil itu terjatuh di lantai. Wajahnya memerah menampakkan bekas tangan. Bia menangis ketakutan dengan memundurkan tubuhnya dan tangan yang memegang bekas tamparan itu.


"Aghh sakit," rintihnya dengan air mata yang terus mengalir.


"Sudah kukatakan jalan, Bodoh! Tapi kau malah menggigitku," sembur pria itu menunjuk Bia dengan wajah garang.


"Ada apa ini?" tanya Adnan yang baru saja datang. 


Mata pria itu terbelalak saat melihat wajah Bia yang memerah dengan darah keluar dari sudut bibirnya. Nafasnya terasa berat, dia menatap ke arah penjahat yang ia perintah untuk menjemput bocah kecil itu. 


"Apa yang kau lakukan, hah?" teriak Adnan menarik kerah baju penjahat itu. "Dasar, Bodoh!" 


"Dia menggigitku, Bos," katanya membela diri. 


Pria itu menunjukkan bekas gigitan Bia. Namun, bukannya mereda, kemarahan Adnan semakin menjadi. 


Pikiran pria itu tentu berputar dengan ancaman pesan yang dikirim kepadanya. Cintanya yang besar pada Narumi, tentu membuat pria itu takut jika apa yang ditulis di sana benar-benar terjadi.


"Apa kau tau! Setetes darah yang dikeluarkan, maka kekasihku yang menjadi santapan disana, hah!" 


Dada Adnan bergemuruh. Pria itu mengepalkan tangannya kuat dan melepaskan cengkramannya dengan kasar. Dia menyugar rambutnya ke belakang. Pandangannya begitu kacau saat melihat anak itu ketakutan.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya lalu mencoba mendekati Bia yang meringkuk di pojokan. 


"Jangan takut, Sayang. Kemari," kata Adnan merayu.


"Nggak! Pergi...pergi. Bia takut!" ucap Bia dengan suara serak sambil menutup telinganya. 


Adnan mulai mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Dia tak tahu harus melakukan apa sekarang. Semuanya begitu kacau. Ditambah keadaan anak itu yang semakin membuat Adnan gelisah bukan main.


...🌴🌴🌴...


Sedangkan di tempat lain. Lebih tepatnya di sebuah ruangan tempat dimana Narumi disekap. Terlihat perempuan itu menggeliat dengan berusaha berteriak. Bibirnya yang dibungkam tentu membuat perempuan itu kesusahan. 


Dia hanya bisa menangis ketakutan. Keadaannya benar-benar berbanding terbalik sekarang. Narumi hanya bisa pasrah menunggu Adnan menyelamatkannya atau hidupnya akan berakhir dengan keadaan mengenaskan. 


Aku takut, gumamnya pelan dalam hati dengan air mata yang menetes. 


Ruangan ini benar-benar gelap. Dirinya digantung dengan posisi terbalik membuat ia kesusahan untuk melihat keadaan sekitar. Entah Narumi tak bisa membayangkan jika tali yang menggantung tubuhnya ditebas, maka ia akan mati dengan kepala jatuh terlebih dahulu. 


Tak lama, suara pintu yang terbuka kasar membuat Narumi spontan menoleh. Lampu ruangan itu dinyalakan hingga membuat matanya menyipit. Dia berusaha menatap siapa sosok yang baru saja datang.


Sebuah tangan yang membuka lakban dibibirnya dengan kasar, membuat Narumi mengaduh. Dia membelalakkan matanya saat melihat jika yang baru saja datang adalah Jimmy dengan wajah memerah seperti menahan amarah.


"Ampuni aku, aku benar-benar menyesal," ucap Narumi dengan penuh ketakutan.


"Kenapa baru sekarang kau menyesal, hah?" bentak Jimmy dengan nafas memburu. "Kenapa kau tak berpikir sebelum melakukan ini?" 


"Aku...aku…" 


"Kau takut kehilangan tambang uangmu, 'kan?" seru Jimmy dengan telak.


Narumi benar-benar tak bisa mengelak. Dia hanya diam saat Jimmy benar-benar bisa membaca pikirannya.


"Wanita sepertimu itu, hanya memikirkan uang. Otakmu hanya berfikir bagaimana mendapatkan uang banyak, hidup enak tanpa memikirkan orang lain." 


"Entah kau menjual diri, memasarkan tubuhmu. Yang penting untukmu hanya uang." 


"Jangan pernah menilaiku jika kau tak tau kehidupanku," seru Narumi mencoba menepis ketakutannya. "Kau tak tau apapun!" 


"Kehilangan ibu yang bunuh diri. Lalu ibumu menjadi istri kedua dari lelaki bersuami? Apa itu masih kurang?" 


Tubuh Narumi menegang kaku. Dia menatap Jimmy dengan pandangan tak percaya.


"Aku sudah katakan, 'kan? Tinggalkan Bara dan kehidupannya. Sebelum aku bertindak lebih!" jeda Jimmy dengan menunjuk wajah Narumi. "Tapi kau mengabaikan ancamanku!"


"Maafkan aku. Kali ini aku berjanji akan menuruti permintaanmu. Aku akan menjauh tapi tolong lepaskan aku," pinta Narumi penuh harap.


"Kau yakin?" tanya Jimmy dengan senyum miring. 


Narumi lekas mengangguk. Matanya semakin berbinar saat Jimmy meminta teman-temannya menurunkan Narumi. 


"Terima kasih banyak, Kak. Terima kasih," ucapnya dengan senyuman lebar. 


"Apa kau pikir aku menurunkanmu agar kau bisa pergi?" 


"Apa maksudmu?" tanya Narumi dengan rasa takut kembali menyerang. 


"Aku menurunkanmu karena ingin membalas apa yang sudah pacarmu lakukan pada Bia," kata Jimmy dengan mata menajam.


"Apa...apa yang dilakukan Adnan?" Narumi memundurkan tubuhnya saat Jimmy terus mendekatinya.


Dia semakin gemetaran saat tangannya dicengkram kuat oleh Jimmy. 


"Aku sudah memperingati kekasihmu. Satu pukulan, dibalas pukulan. Satu tamparan aku balas satu tamparan juga!" bisik Jimmy dengan wajah bengis. 


"Jadi…" 


"Ya. Karena Biaku ditampar maka kau yang akan mendapat balasannya!" seru Jimmy dengan suara dinginnya.


"Jangan!" 


Bagaimanapun Narumi, Jimmy sudah gelap mata. Mendengar segala suara yang ia dengar dari penyadap di baju Bia, sungguh membuat tangannya terkepal kuat. Rintihan dan tangisan anak itu semakin membuat Jimmy marah bukan main. 


Dengan kuat, Jimmy segera menampar Narumi hingga perempuan itu terjatuh ke lantai. Rintihan perempuan itu tak membuat Jimmy merasa iba. Bahkan pria itu memilih mensejajarkan tubuhnya dan menarik dagu mantan istri adik iparnya itu dan mencengkramnya dengan kuat. 


"Ini belum seberapa. Jika kekasihmu melakukan hal lebih gila, aku tak segan-segan membuatmu menyesal telah memilih hidup di dunia ini." 


~Bersambung


Udah dibilangin Bang Jim kalau marah kayak singa. Pada gak percaya sih!


3 Bab hari ini bakalan sampai Bia diselamatkan kok. Jadi sabar yah. Jadwal updatenya Jam 09.00 jam 14.00 dan jam 19.00


Jadi biar kalian ingat dan gak buka-buka NT hehe.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.