
...Kita tak bisa mengulang kejadian yang sudah terjadi. Namun, kita bisa menjadikannya sebagai sebuah pelajaran hidup yang sangat berarti....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Di kamar rawat yang lain. Terlihat seorang perempuan tengah berusaha untuk duduk. Dirinya tak bisa melihat apapun karena matanya tertutupi oleh sesuatu.Â
Dahinya berkerut diiringi rintihan di bibir saat tangannya tanpa sengaja memegang wajahnya sendiri. Semuanya terlihat gelap. Bahkan tak ada sedikitpun cahaya yang bisa dilihatnya.Â
Bukan itu saja, dia merasa ada yang kurang dari dirinya. Sesuatu yang membuat dia susah untuk duduk sendiri. Perlahan tangannya meraba bagian bawahnya, dengan tangan yang lain memegang pinggiran brankar agar bisa mengangkat sedikit tubuhnya dari posisi berbaring.Â
"Kemana kakiku?" ucapnya dengan kepanikan yang luar biasa.
Dia kembali menggerakkan tangannya. Mencari dua kakinya yang biasa digunakan untuk berjalan. Kepalanya menggeleng, ketakutan-ketakutan itu mulai hinggap di pikirannya hingga membuatnya menjerit.Â
"Kakiku...mana kakiku!" teriaknya dengan amarah yang membuncah.
Dia menangis kesakitan. Membuang selimut yang menutupi kakinya dengan kasar.
"Aghhh! Kakiku mana!"Â
Suaranya yang kencang tentu membuat para suster yang tak sengaja lewat pun masuk. Dia membelalakkan matanya saat pasiennya mengamuk.Â
"Dokter...dokter!" panggilnya dengan memencet bel untuk memanggil dokter yang menangani perempuan itu.
"Kakikku...hiks...kemana kakiku!" serunya dengan air mata yang mulai menangis. "Aku tak mau cacat! Aku tak mau!"Â
"Sabar, Bu Narumi. Sabar!" ucap seorang dokter perempuan yang baru saja datang.
"Nggak! Saya gak mau cacat. Kaki saya kemana. Hah! Siapa yang mengizinkan Anda mengambil kedua kakiku!" serunya mengamuk.Â
Tiba-tiba Narumi tersadar akan sesuatu. Apakah pikirannya ini benar. Dia memegang wajahnya lalu memegang kasa yang menutupi matanya.
"Jangan, Bu. Jangan dibuka!"
"Lepas!" seru Narumi menggila.Â
Akhirnya dia berhasil menarik kain kasa yang menutupi matanya. Ketakutannya semakin besar, saat berusaha membuka mata, dia merintih kesakitan.Â
"Aghh sakit!" serunya memegang matanya.
"Lepaskan, Bu! Lepaskan!"Â
"Kau apakan aku, hah!" seru Narumi memegang pakaian dokter itu.Â
"Kenapa mataku tak bisa melihat! Kakiku juga kau ambil!" serunya semakin mengamuk.
Akhirnya untuk membuat pasien menjadi tenang. Dokter menyuntikkan obat penenang hingga cengkraman yang mulanya kuat perlahan mengendur. Tubuh itu perlahan berbaring dengan bibir yang masih meracau walau hanya berupa lirihan.
"Aku gak mau cacat! Aku gak mau cacat!" lirihnya dengan air mata yang menetes.Â
"Tutup kembali matanya dan jaga pasien ini agar tidak mengamuk lagi," Perintah Dokter yang mendapat anggukan dari dua orang suster.Â
...🌴🌴🌴...
"Karena pecahan kaca itu masuk ke dalam matanya. Jadi pasien mengalami kebutaan," ujar Dokter kesekian kalinya menjelaskan keadaan Narumi pada kedua orang dihadapannya.Â
"Itu permanen atau sementara, Dok."Â
"Kalau itu saya belum bisa menjawab. Pasien masih belum menerima kenyataan bahwa kakinya diamputasi dan matanya tak bisa melihat. Nanti kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut," ucap Dokter dengan detail.
"Kalau ada sesuatu yang dibutuhkan Dokter bisa hu…"Â
"Jangan hubungi kami lagi, Dok!" ucap sang pria dengan tegas yang membuat wanita disampingnya menatap tak percaya.Â
"Mas."
"Dia bukan saudara kita, Ra. Dia adalah wanita yang menghancurkan hubungan kita dan anak-anak. Aku tak mau dia kembali hadir di antara kita berdua dan merusak semuanya," seru Bara dengan emosi yang mulai memuncak.
Almeera mengangguk. Dia mengelus lengan Bara agar pria itu sedikit lebih tenang.Â
Setelah mengatakan itu. Bara segera pamit keluar dan menarik tangan istrinya. Dia benar-benar serius dengan ucapannya barusan. Tak ada lagi kebaikan dalam dirinya untuk Narumi.
Tak ada lagi yang harus dilakukan untuk membantu wanita itu. Sudah banyak sekali kebaikan yang mereka berikan tapi dibalas kejahatan oleh mantan istri keduanya.
Apalagi saat mengingat putrinya yang harus menjalani terapi di psikolog karena mentalnya mulai terganggu. Membuat Bara begitu membenci apapun yang berhubungan dengan Narumi.Â
"Mas," panggil Almeera lembut saat suaminya terus menarik tangannya dengan lembut.Â
"Tidak ada bantahan, Ra," kata Bara menghentikan langkahnya.Â
"Tak ada lagi yang harus kita lakukan untuk wanita itu," ujar Bara menarik kedua bahu istrinya hingga mereka berhadapan. "Dia sudah terlalu jahat pada keluarga kita. Melihatnya saja, membuat Mas menyesal pernah menyakiti kalian. Bayang-bayang kejadian masa lalu itu terus berputar di pikiran Mas."Â
Bara menyampaikan segala kegundahan hatinya. Dia benar-benar ingin istrinya mengerti apa yang ia rasakan. Melihat kondisi Bia saja membuat dirinya terus merasa sakit yang luar biasa. Apalagi jika merawat Narumi di rumah yang sama dengan mereka. Bayang-bayang itu akan terus menghantuinya.Â
"Aku mengerti. Tapi kali ini dia benar-benar sendirian, Mas. Keadaannya memprihatinkan. Aku hanya ingin merawatnya selama dia di rumah sakit."Â
"Tak ada perawatan apapun. Cukup dua perawat yang kita sewa untuknya."Â
"Mas."Â
"Hanya menjenguk, oke?" tawar Bara menatap lekat bola mata istrinya.
Almeera tersenyum. Dia tahu suaminya masih memiliki hati yang baik di balik sikap kerasnya ini.Â
"Baiklah. Kita akan menjenguknya?"Â
"Aku menunggu di luar," ucap Bara dengan keputusannya.Â
Akhirnya Almeera tak memaksa. Dia mengajak suaminya ke ruangan Narumi dengan hati yang benar-benar lapang. Tak ada dendam apapun dalam diri Almeera. Perempuan itu sudah ikhlas memaafkan mantan istri kedua suaminya.Â
"Kalau ada apa-apa cepat panggil aku yah?" kata Bara mengelus pipi istrinya.
"Iya, Mas."Â
Perlahan Almeera membuka pintu itu. Dia menatap sosok Narumi yang sedang terbaring di atas ranjang. Keadaannya benar-benar menyedihkan. Bahkan Almeera sampai menahan napas saat melihat beberapa luka goresan di wajahnya.Â
"Siapa?" tanya Narumi dengan pelan.Â
Almeera belum bersuara. Dia hanya berdiri di dekat ranjang dalam diam.Â
Tak mendapatkan jawaban. Narumi hanya diam sambil memainkan tangannya. Air mata perempuan itu terlihat mengalir hingga membuat Almeera benar-benar kasihan.Â
"Rumi," panggil Almeera yang membuat tubuh wanita itu terlihat menegang.Â
"Meera!" seru Rumi dengan suara agak meninggi.
"Lekas sembuh," ucap Meera dengan tulus.
"Kau kesini ingin menertawaiku, 'kan?" seru Narumi berusaha untuk duduk. "Kau ingin mengejekku karena aku buta dan cacat. Kau bahagia, 'kan? Kau sudah bahagia?"Â
Narumi berteriak. Walau ia tak bisa melihat. Raut wajah tak suka tentu sangat bisa dilihat oleh Almeera.
"Aku kesini hanya ingin menjengukmu, Rumi. Tak ada niatan aku ingin menertawaimu."Â
"Bohong! Pergi kau! Pergi!" seru Narumi mulai mengamuk.Â
Melihat kondisi yang tak kondusif membuat Almeera lekas keluar. Bersamaan dengan itu datanglah dua perawat yang diperintahkan untuk menjaga Narumi segera masuk ke dalam.
"Kamu baik-baik aja, 'kan?" tanya Bara saat mendengar suara amukan Narumi.
Almeera mengangguk. Dia benar-benar merasa kasihan dan iba pada keadaan Narumi.
"Sudah Mas katakan jangan menjenguknya. Ini untuk yang terakhir kalinya kamu datang kemari. Tidak ada yang kedua, ketiga dan keempat untuk bertemu dengannya lagi."
~Bersambung
Yang kemarin tanya Narumi diurus sama siapa. Dah kejawab di bab ini yaw.
Mas Bara mulai belajar dari pengalaman. Dia gak mau jatuh di lobang yang sama lagi.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Mantep kan hari keempat masih 3 bab yuhuuu.