Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Pelakor



...Ternyata bangkai yang kusimpan, bisa tercium di permukaan karena ulah mereka sendiri....


...~Almeera Azzelia Shanum...


... ...


...🌴🌴🌴...


"Mas temani aku belanja, 'yah?" pinta Narumi kesekian kalinya.


Saat ini perempuan itu sedang duduk di pangkuan Bara. Dia memainkan leher suaminya itu dengan memberikan kecupan-kecupan lembut yang membuat Bara menggeram. Jujur jiwa laki-lakinya selalu ingin ada didekat Almeera. Namun, istrinya itu selalu menolaknya dan semakin jauh.


Hubungan keduanya yang renggang tentu sering membuat Bara merasa sakit kepala. Bahkan pikiran pria itu tak fokus ketika berada di kantor sendirian. Dia selalu memikirkan istri pertama dan kedua anaknya. Bara berpikir dia harus melakukan apa, agar Almeera tak semakin jauh darinya.


"Mas," bisik Narumi dengan tangan mulai nakal.


Begitu lihainya jari jemari itu turun dan memasuki area terlarang yang membuat Bara terpejam. Pria itu semakin merasa pusing hingga sekali gerakan, tubuh Narumi ada di dalam gendongannya.


"Berikan aku servisan terbaik, baru aku mau menemanimu belanja." 


"Pasti, Mas. Aku akan memanjakanmu, Sayang." 


Maafkan aku Narumi, kali ini kamu hanya pelampiasanku. Di kepalaku saat ini hanya ada Almeera...Almeera dan Almeera.


...🌴🌴🌴...


"Wahhh memang bener yah. Kalau punya suami ganteng dan kaya, pasti auranya bakalan keluar," celetuk Zelia sambil menatap wajah sahabatnya di depan cermin.


Ya, saat ini istri dari Bara itu berdiri di depan cermin. Lebih tepatnya dia sedang mengamati wajahnya yang baru saja di facial dan dilakukan perawatan oleh sahabatnya langsung. Zelia benar-benar melakukannya sendiri. Bahkan ketika pegawainya ingin membantu, dia menolak dengan alasan ingin memberikan yang terbaik untuk Almeera. 


"Kamu beneran makin cantik, Ra," ujar Adeeva menambahkan.


Percuma aku cantik, bila cantikku ini tak bisa menjamin suamiku untuk tetap setia.


"Ya. Perawatan Zelia benar-benar ampuh," kata Almeera memaksakan senyumnya sambil menatap kedua sahabatnya dari kaca. 


Dia berbalik lalu menatap penampilan Adeeva yang benar-benar berbeda. Rambut hitam milik perempuan itu, sudah berganti dengan coklat. Dari yang lurus, dia rombak menjadi bergelombang. Benar-benar sahabatnya itu begitu memanjakan dirinya meski belum memiliki tambatan hati.


Almeera tersadar akan sesuatu. Dia harus mulai merawat penampilannya. Menurutnya tak menjamin pria sudah menikah atau tidak, dia tetap akan berkhianat bila tak bersyukur atas apa yang dimilikinya.


"Aku lapar," kata Adeeva dengan mengelus perutnya yang berbunyi.


"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" tawar Zelia dengan cepat.


"Boleh. Emm tapi aku izin telfon anak-anakku dulu yah. Nanti?"


"Siap Ibu muda yang cantik," jawab keduanya bersamaan.


"Aku juga pengen lihat wajah putramu itu, Ra. Selama kita bekerja, aku belum bertemu dengannya," kata Adeeva dengan wajah penasaran.


"Hah serius?" sahut Zelia tak percaya.


"Iya. Abra memang tak terlalu suka dengan orang baru. Jadi, agak sulit buat bujuk dia," ungkap Almeera tak enak hati.


"Mirip banget sama bapaknya, 'yah," ucap Zelia yang langsung mendapatkan anggukan kepala oleh Adeeva.


Tapi semoga sifat dan sikapnya tak mirip dengan Mas Bara. Aku ingin dia setia pada satu wanita.


Akhirnya ketiganya segera keluar dari salon. Waktu yang terus bergerak dan perut kian meronta, membuat mereka segera memilih salah satu tempat makan yang ada di dalam mall. Lebih tepatnya, sebuah restaurant yang dulu menjadi tempat favorit mereka setelah pulang dari kampus. 


Mereka segera duduk berhadapan dan memesan makanan favorit mereka yaitu nasi goreng seafood. Ah makanan itu, tentu menjadi sebuah sajian enak untuk ketiganya. Tak ada kata bosan untuk makanan yang bahan utamanya nasi tersebut. Dimanapun mereka berada, maka nasi goreng itulah yang akan ketiganya cari.


Sambil menunggu pesanan, Almeera melakukan panggilan di nomor putra pertamanya. Tak menunggu deringan ketiga, panggilan itu tersambung dan muncullah sosok buah hati yang sangat dirindukan.


"Halo, Mama," sapa Bia begitu heboh dengan lambaian tangan.


"Hay, Princess. Apa kabar?" tanya Meera dengan mata berkaca-kaca. 


"Baik. Bia gak nakal disini, Ma," sahut anak itu dengan semangat. "Kenapa Mama menangis?" 


Almeera menghapus air mata yang menetes. Entah kenapa ketika melihat wajah dua anaknya, dia selalu merasa sakit. Menurutnya, semesta tak berlaku adil pada anak-anaknya itu.


"Bia hanya menginap satu hari, Mama. Besok pagi udah pulang," kata Bia dengan yakin.


Almeera mengangguk. "Abang kemana?" 


"Ituh." Bia menggerakkan ponsel di tangannya.


Dia menunjukkan sosok sang Abang yang sedang bermain game di laptopnya.


"Abang jangan lupa makan," kata Almeera saat putranya menatap layar ponsel.


"Iya, Mama."


"Yaudah. Kalian lanjutkan bermainnya. Nanti Mama telfon lagi yah." 


Setelah panggilan itu terputus. Almeera segera meletakkan ponselnya. Lalu dia menatap Adeeva dan Zelia yang menatapnya dengan intens. 


"Ada apa?" tanya Almeera dengan gugup.


"Suara putramu, kenapa seksi banget?" 


"Astagfirullah." Almeera memukul jidatnya dengan pelan. 


"Beneran, Ra. Kenalin sama aku aja, gimana?" tawar Zelia sambil mengangkat alisnya.


"Sembarangan," seru Adeeva tak mau kalah. "Sama aku aja, Ra."


Almeera geleng-geleng kepala. Dia tak mengira jika kedua sahabatnya bisa bersikap hal segila ini.


"Anakku masih SMP dan kalian…." tunjuk Almeera pada dua sahabatnya. "Udah tuir umurnya." 


"Ya Allah." Adeeva dan Zelia mengelus dadanya.


"Itu mulut, kalau ngomong sangat jujur sekali," kata Adeeva mendrama.


Almeera hanya terkekeh. Dia sangat tahu betul jika dua sahabatnya tadi sama-sama bercanda dengannya. Lalu pembicaraan mereka akhirnya berakhir saat pelayan datang membawa makanan mereka.


"Ini namanya, surga dunia," kata Zelia sambil menghirup aroma nasi goreng yang begitu menggiurkan.


Adeeva dan Almeera hanya terkekeh. Lalu ketiganya segera menyantap nasi goreng itu sampai tandas. Mereka benar-benar begitu kelaparan sampai tak butuh lama, makanan itu sudah pindah ke dalam perut mereka. 


"Ah aku hampir lupa, Ra," kata Zelia tiba-tiba. 


"Ada apa?" tanya almeera mengerutkan keningnya.


"Kamu tau kabar Narumi, gak?" 


Jantung Almeera berpacu cepat. Dia bahkan kesulitan menelan ludahnya saat mendengar nama itu. Nama yang menjadi sumber masalah antara dia dan suami. Nama yang menjadi perebut kebahagiaan kedua anaknya di dunia ini.


Almeera sampai kesulitan merangkai kata untuk menjawab pertanyaan sahabatnya. Hingga suara pekikan Zelia dan Adeeva, membuat Almeera menoleh.


"Narumi." 


Sakit.


Almeera menatap ke arah pintu masuk. Disana, terlihat sepasang suami istri yang baru saja memasuki restoran dengan begitu mesra. Tangan sang pria yang memegang pinggangnya dengan erat, dan menandakan jika wanita itu miliknya.


Sedangkan sang pemilik nama yang dipanggil, tentu saja menoleh. Tubuh keduanya mematung di tempat saat melihat ketiga sosok yang begitu mereka kenali ada disana. 


"Itu kan, Kak Bara?" 


Almeera memejamkan matanya. Aib yang selama ini dia simpan akhirnya terbuka di hadapan sahabatnya. Keburukan yang selama ini ditutupi, akhirnya harus terlihat langsung oleh mata kepala Adeeva dan Zelia. 


"Jangan bilang kalau Narumi itu…." jeda Zelia menatap Almeera dengan tatapan menuntut. "PELAKOR."


~Bersambung


Iya, istri kedua berkedok Pelakor, Mbak Ze. Jambak aja rambutnya, Mbak. Aku dukung!


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.