
...Memiliki calon mertua yang menganggap kita sebagai anaknya sendiri adalah sebuah keistimewaan yang patut kita syukuri....
...~Zelia Qaireen...
...🌴🌴🌴...
Setelah membereskan semua keperluan mamanya. Akhirnya Zelia segera pamit untuk ikut sang kekasih. Ya, hari ini Jimmy akan pulang ke rumahnya setelah beberapa hari menemani Zelia dan mamanya.
Dia tak pernah meninggalkan Zelia sedikitpun. Pria itu berusaha mengganti waktunya yang selama ini ia tinggalkan untuk sang kekasih. Pria itu berusaha menemani Zelia dan menghiburnya.Â
"Kamu beneran mau ikut ke rumah?" tanya Jimmy saat mereka sudah ada di samping mobilnya.Â
Pria itu benar-benar tak mau memaksa kekasihnya. Jimmy sangat tahu betul bagaimana perjuangan kekasihnya selama di rumah sakit. Wanita itu tak pernah meninggalkan mama dan papanya. Dia benar-benar mengabdikan dirinya merawat mamanya seorang diri.Â
"Iya, Sayang. Kenapa?" tanya Zelia dengan kening berkerut. "Kamu gak mau?"Â
Jimmy lekas menggeleng. "Aku mau banget. Aku cuma takut kamu ngerasa capek aja."Â
"Nggak kok. Aku sudah janji buat nemenin kamu, 'kan? Jadi aku gak bakal ingkar janji."Â
Akhirnya mereka segera memasuki mobil Jimmy. Keduanya melesat menuju rumah dimana orang tua Bara berada. Ya, pria itu akan mengajak Zelia kesana.Â
Meski dirinya sendiri sudah tahu bahwa mama dan papanya sudah dekat dengan Zelia. Hubungan kekasihnya dengan orang tuanya yang sangat dekat membuat Jimmy begitu bangga.
Bangga memiliki kekasih yang santun. Bangga memiliki wanita yang sangat menerima dirinya dan keluarganya.Â
"Kakak kapan balik?" tanya Zelia sambil memiringkan tubuhnya.
Dia menatap pahatan sempurna yang Tuhan berikan kepada kekasihnya. Wajah tampan, rahang tegas dengan beberapa bulu halus di sana membuat Jimmy terlihat sangat keren.
Sikapnya yang tegas serta suaranya yang seksi selalu mampu menghipnotis Zelia.Â
"Aku menunggu kamu mengizinkan aku pulang," kata Jimmy dengan menatap kekasihnya sekilas.
"Maksud, Kakak?"Â
"Aku tak akan pulang tanpa restumu, Lia. Aku tak mau menyakiti hatimu lagi," ungkap Jimmy dengan jujur.
Sungguh pria itu begitu takut. Takut bila sikapnya yang menelantarkan kekasihnya akan turun kepada Almeera atau anak-anaknya. Dia tak mau semua orang menerima hasil perbuatannya yang jahat ini.Â
"Tapi kamu harus bekerja, Kak. Aku tak mau egois," kata Zelia dengan pemikiran dewasanya.
Jimmy mulai menghentikan mobilnya ketika melihat lampu lalu lintas berwarna merah. Dia menggeser tubuhnya agar bisa berhadapan dengan kekasihnya.Â
"Aku tak mau menyakitimu lagi, Lia," kata Jimmy dengan tulus. "Aku benar-benar menyesali semuanya dan aku mau berubah."
Zelia termenung. Dia menatap lekat kedua bola mata Jimmy. Berusaha menerka apa yang sedang pria itu pikirkan. Tatapan yang menunjukkan kejujuran dan tanpa keraguan itu mampu mengusir ketakutan dalam dirinya.
"Aku percaya, Kak. Aku percaya Kak Jim gak bakal ngecewain Lia."Â
...🌴🌴🌴...
Kepulangan Jimmy tentu membuat sepasang suami istri itu menunggu kehadiran putranya di depan pintu rumah. Keduanya sudah diberikan kabar oleh putri ketiganya bila Kak Jim akan pulang.
Almeera sudah jujur dan cerita pada Papa Darren dan Mama Tari bila kakaknya sudah kembali. Hanya saja, Jimmy sedang ada di rumah sakit menemani Zelia.
"Dasar anak nakal!" seru Mama Tari menjewer telinga Jimmy. "Bukannya pulang atau kasih kabar sama Mama. Malah ngilang!"
"Aduh ampun, Ma," ujar Jimmy menahan telinganya yang ditarik. "Sakit."
"Biarin. Salah siapa pulang gak kasih kabar. Kamu kira Mama sama Papa ini patung? Yang gak mau tau kabar kamu gitu?" kata Mama Tari sambil melepaskan jewerennya.
Jimmy meringis. Pria itu mengusap telinganya yang panas. Jeweran Mamanya benar-benar meninggalkan bekas merah di telinganya.Â
Sedangkan Zelia, wanita itu terlihat tak enak hati. Karena dirinya dan keluarganya lah, Jimmy memilih ke rumah sakit. Karena dia lah, Jimmy sampai tak memberikan kabar pada Mama dan Papanya.Â
"Oh. Kamu bersama calon menantu Mama, Jim," kata Mama Tari saat menyadari keberadaan Zelia. "Apa kabar, Nak?"Â
Mama Tari memeluk gadis itu. Gadis yang sangat ia sukai dan sayangi layaknya anak sendiri.Â
"Zelia baik, Tante," katanya dengan sopan. "Lia juga mau minta maaf karena Lia dan keluarga, Kak Jim gak pulang."Â
"Kamu gak salah kok, Nak. Tante malah seneng Jimmy pulang buat nemenin kamu."
Akhirnya pembicaraan mereka berakhir tatkala Papa Darren mengajak mereka semua masuk ke dalam rumah. Mama Tari sudah memasakkan makanan kesukaan putranya itu.
"Mama masak sendiri?" tanya Jimmy dengan wajah sumringah.
"Papa ikut membantu," ujar Mama Tari menatap suaminya.
"Terima kasih, Ma, Pa. Kalian memang orang tua terbaik."Â
Zelia yang melihat bagaimana interaksi keluarga kecil di depannya itu ikut tersenyum. Dia bisa melihat bagaimana kasih sayang kedua orang tua sahabatnya yang begitu tulus seperti orang tuanya juga.Â
Tak memandang anak-anaknya sudah dewasa atau tidak. Mereka tetap memanjakannya. Memperlakukan anak-anaknya bak anak kecil yang selalu mereka manja setiap hari.Â
"Ayo, Lia! Lia makan juga, Nak," pinta Mama Tari dengan ramah.Â
"Ah iya, Tante," sahut Lia dengan tersenyum.
"Jangan malu-malu, Nak. Ayo makan yang banyak!" kata Papa Darren mendekatkan tempat nasi ke arah sahabat putrinya itu.
"Kalau Zelia makan banyak. Nanti Kak Jim bisa berpaling dong, Om," kata Zelia bercanda.
"Ya gak papa. Habisin aja, Sayang. Badan kurus begini."
"Apa!" Mata Zelia membulat penuh.Â
Dia memicingkan alisnya menatap kekasihnya itu. Tangannya merayap lalu memberikan cubitan kecil di paha Jimmy.
"Aww."Â
"Aku udah pas begini. Dibilang kurus?"Â
"Ya emang kurus, Sayang. Kurang gemuk dikit," kata Jimmy menatap kekasihnya.
"Nggak. Ini sudah pas menurut aku. Aku gak mau gendut terus kamu kabur cari cewek lain."Â
Papa Darren dan Mama Tari terkekeh. Dia tak menyangka tingkah pasangan kekasih di depannya ini mengingat mereka saat masih muda.Â
"Mama dulu suka gitu, 'kan?" bisik Papa Darren pada istrinya.Â
"Iya. Bedanya kamu bilang aku gendut."Â
Bisikan pasangan suami istri itu terdengar di telinga Jimmy dan Zelia. Mereka spontan terdiam dan menguping pembicaraan keduanya.
"Wah wah. Nostalgia terus!" kata Jimmy mengerlingkan matanya pada sang kekasih. "Kita kalah, Sayang."Â
"Iya, Kak. Kita kalah jauh!"Â
"Kalau kalah. Saingi dong!" kata Papa Darren melingkarkan tangannya di bahu Mama Tari. "Bener, 'kan, Ma?"Â
"Iya lah."Â
Mama Tari mengangguk. Dengan sengaja dia mencium pipi Papa Darren yang membuat Jimmy dan Zelia membulatkan matanya. Kedua pasangan kekasih itu saling menatap tak percaya dengan kemesraan pasangan lapuk ini.
"Papa!" seru Jimmy saat papanya hendak mendekatkan wajahnya. "Kalau Papa mau cium Mama, sana di kamar!"
Papa Darren mendengus. Dia melepaskan tangannya dari bahu sang istri.Â
"Ganggu aja!"Â
"Jimmy gak ganggu!" balas Jimmy tak mau kalah. "Kalau Papa mau Jimmy hamili Zelia dulu. Ya gak papa Papa cium Mama disini!"Â
~Bersambung
Jadi udah tau, kan?
Sikap ganasnya Mbak Meera ikut siapa? haha
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetik.