
...Jadilah suami yang meratukan istrinya. Jangan pernah menjatuhkan atau menjadikannya pembantu sekaligus pemuas nafsumu saja....
...~Gibran Bara Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
Saat semua orang mulai berkumpul di ruang tamu. Almeera dan Bara pamit untuk meletakkan si kembar ke kamar. Mereka ingin putra dan putrinya tidur dengan tenang tanpa gangguan suara ramai.
Dengan pelan, Mama Tari menyerahkan cucu laki-lakinya pada Bara dan keduanya segera menuju kamar mereka yang baru.Â
"Loh, Mas. Kenapa kok disini?"Â
"Nenek bilang. Mama bakalan tidur di kamar bawah sekarang. Soalnya kasihan Mama yang naik turun sambil gendong adik kembar," celetuk Bia yang ternyata ikut kedua orang tuanya.Â
Almeera tersenyum. Dia tidak menyangka orang tuanya sangat mengerti dirinya. Baik Mama Tari maupun Papa Darren tak pernah membedakan anak-anaknya. Ditambah Kak Kayla pun, letak kamarnya bersebelahan dengan kamar baru Almeera.Â
Dengan penuh perhatian, Abraham membukakan pintu kamar itu. Lalu keluarga kecil dengan enam personil segera masuk ke dalam kamar secara bergantian.
"Wahh. Box bayi Adek, bagus, Ma!" kata Bia dengan heboh.
Ruang kamar itu sudah disulap sedemikian rupa. Terdapat di sudut kamar satu buah box yang cukup untuk tempat tidur dua bayi. Dengan desain berwarna abu-abu serta terdapat kelambu di atasnya sangat terlihat bagus.Â
"Siapa yang beli ini, Mas?" tanya Almeera yang tak tahu apa-apa.
Kejadian kecelakaan itu hingga membuatnya diam di rumah sakit. Membuat Almeera tak tahu persiapan apa saja yang ada di rumahnya. Yang Almeera ingat, dia mengambil kasur bekas milik Bia yang dulu disimpan di dalam lemari khusus pakaian bayi-bayi anaknya.Â
"Papa," ujar Abraham yang membuat Bara menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Almeera menggelengkan kepalanya. Padahal dia yang menolak suaminya membeli hal-hal yang tak digunakan. Menurutnya hanya sebuah box atau kasur bayi bisa menggunakan bekas Bia.
"Jangan marah, Sayang," bujuk Bara sambil mencium pipi istrinya. "Aku hanya ingin memberikan hadiah untuk si kembar."
Almeera merasa bersalah. Apa yang dilakukan suaminya juga untuk merayakan kebahagiaan dalam hatinya.
"Maafin aku ya, Mas. Bukannya aku gak mau atau menolak hadiah kamu. Aku cuma mikir daripada buat ini, lebih baik beli hal yang lebih penting," ujar Almeera mengusap pipi suaminya.
Ternyata perlakuan Almeera membuat bayi mungil dalam gendongannya menggeliat. Hal itu membuat Bara dan Almeera terkekeh.
"Sepertinya Baby Thaya gak mau Papanya dipegang sama, Mama," kata Bara lalu mencium pipi putrinya.
"Mama ayo bawa adik kesini!" ajak Bia yang ternyata sudah duduk di atas ranjang dengan Abraham.
Almeera tak menolak. Dia menidurkan Athaya di atas ranjang dan sebelahnya terdapat Athalla. Dua bayi mungil itu masih asyik memejamkan matanya. Tidur sudah menjadi hobby si kembar kali ini.
"Kapan adik bangun, Ma? Kenapa dia tidur terus?" tanya Bia yang bermain dengan tangan adiknya. "Abis minum susu, tidur lagi. Gitu aja terus. Kapan main sama Mbak Bia?"Â
Bara terkekeh. Dia merebahkan tubuhnya di samping putri keduanya dan memeluk bocah itu.
"Adik belum bisa main, Bia Sayang. Mereka cuma tidur terus dan nangis."
"Jadi adik cuma bisa nangis sama minum aja?"Â
Kepala Bara mengangguk. Dia tertawa cekikikan bisa mengerjai putrinya.
"Mas!" seru Almeera memperingati.Â
"Iya-iya, Sayang."
"Papa bohongin Bia yah!" seru Bia mencubit lengan papanya.
"Aww. Papa dicubit!" adu Bara mengusap lengannya pura-pura sakit.Â
"Ya itu karena Papa berani kerjai Bia."Â
Bara menarik tubuh anaknya lagi. Dia mencium pipi Bia dengan sayang.
"Adik bayi masih harus banyak istirahat, Sayang. Dia juga masih kecil sekali belum bisa main."
"Nunggu sampai adik bisa merangkak baru dia bisa bermain kejar-kejaran dengan, Mbak Bia."Â
...🌴🌴🌴...
Akhirnya waktu perlahan terus merangkak naik. Semua orang sudah saling masuk ke alam mimpinya. Tubuh yang lelah karena terlalu banyak tidur di rumah sakit, membuat mereka dengan mudah tidur dengan nyenyak.
Hingga tak lama, suara tangisan bayi membuat seorang perempuan terbangun. Almeera menghidupkan lampu kamar utama lalu menurunkan kakinya dari ranjang. Ruang kamar memang dia sengaja lampunya redupkan karena takut membuat tidur anaknya kurang nyaman.Â
Dia segera menuju ke tempat box bayinya dengan pelan. Lalu melihat ada apa dengan anaknya.
"Pasti pipis yah?" kata Almeera lalu mengeceknya.
Ternyata benar. Bayi mungil itu merasa tak nyaman dengan popok yang digunakan. Almeera segera menggantinya dengan pelan agar tak menimbulkan suara yang bisa membangunkan putranya dan sang suami.
"Nah. Selesai," kata Almeera setelah membuang bekas kapas dan meletakkan timba kecil berisi air hangat di bawah ranjang.
Dia menatap Bayi Thaya yang tak memejamkan matanya lagi. Bayi itu bahkan memainkan tangan dan kakinya dan membuat Almeera tak tega meninggalkan Thaya sendirian.
Akhirnya dia segera mengambil putrinya itu lalu menggendongnya dengan pelan.Â
"Gak mau tidur lagi yah. Mau main sama, Mama?"Â
Hingga ketidakberadaan Almeera di atas ranjang membuat Bara mulai membuka matanya. Dia menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke dalam matanya.
"Sayang," ucap Bara sambil mendudukkan dirinya.Â
Almeera yang sedang mengajak Baby Thaya berbicara tentu langsung mendongak.
"Apa kita membangunkanmu, Mas?" tanya Almeera dengan perasaan bersalah.Â
Bara menggeleng. Dia berjalan perlahan ke arah istrinya lalu memberikan ciuman di pipi Almeera.
"Apa kamu bangun dari tadi?"Â
Jujur Bara menjadi kasihan pada istrinya. Almeera benar-benar merawat anak-anaknya dengan baik. Bahkan saat masih di rumah sakit. Almeera sudah mau ikut campur dalam mengurus si kembar.
"Nggak, Mas. Aku barusan bangun kok. Thaya nangis karena popoknya basah."Â
Bara mengalihkan pandangannya. Dia menatap anaknya yang heboh menggerakkan tangannya itu. Wajahnya yang menggemaskan, kulitnya yang putih kemerahan serta bulu matanya yang lentik sangat membuat Bara ingin nguyel-nguyel pipinya.
"Dia benar-benar menggemaskan, Sayang," kata Bara hingga Almeera mulai menguap.
Bara tentu lekas menoleh. Dia menatap istrinya yang matanya mulai berat karena mengantuk. Hal itu tentu membuat ayah dari empat orang anak merasa kasihan.
"Kemarikan Baby Thaya, Sayang. Kamu tidurlah!" kata Bara lalu dengan pelan meraih putrinya dalam gendongan.
Almeera mengusap matanya. Dia menatap suaminya dengan perasaan bersalah. Jujur dirinya sangat mengantuk sekali tapi mungkin efek obat yang masih dia minum.
"Tapi, Mas. Besok kamu kerja, 'kan?"Â
Bara tersenyum. Dia mengusap kepala istrinya lalu mencuri kecupan lembut di bibir Meera. Inilah yang membuat Bara selalu merasa bersyukur memiliki istri seperti Meera.
Dia tak pernah egois. Selalu menanyakan pendapat dirinya sebagai kepala keluarga di antara semua masalah yang terjadi.Â
"Udah gak papa. Aku pasti bakalan tidur setelah Baby Thaya tidur. Yang penting sekarang, kamu tidur saja dulu."Â
"Makasih ya, Mas. Meera juga minta maaf mau ninggalin Mas tidur."
Bara mengangguk. Setelah itu Almeera segera naik ke atas ranjang. Meninggalkan ayah dan anak itu yang mulai berjalan menuju ke sudut kamar.
"Thaya belum ngantuk, 'kan? Jadi malam ini kamu begadang sama Papa dulu yah. Biarkan mama tidur karena kasihan udah jagain kamu dari pagi sampai menjelang tidur."Â
~Bersambung
Yuhuu sekarang aku updatenya waktunya gak tak setting. Takut ketahan. Ntun akhir-akhir ini sering nahan bab aku. Apalagi kalau malam.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah.